12
Jun
08

Tung, dan Fenomena Lihan

HARGA bahan bakar meroket. Rakyat menjerit. Pemerihtah bagi-bagi bantuan langsung tunai. Banyak yang protes, tak setuju. Tapi para penerima tetap antre. Demontrasi nyaris tanpa henti, setiap hari, menolak kenaikan harga BBM. Seiring dengan itu meledak pula heboh “temuan” energi alternatif, blue energy, bahan bakar berbahan baku air!

Di Bandung, muncul Ahmad Zaini yang tiba-tiba jadi perbincangan banyak kalangan. Tokoh ini tanpa tedeng aling-aling mengaku memiliki harta warisan yang nilainya brpuluh kali lipat dari nilai anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Harta itu dalam bentuk emas lantakan tersimpan di sejumlah bank di luar negeri. Dia merelakan hartanya untuk dijadikan modal usaha. Syaratnya para pengusaha harus mengajukan proposal proyek, dia akan mengucurkan dana.

Maka orang pun berbondong-bondong mengajukan proposal, lalu menanti penjelasan teknis yang kemudian disampaikan dalam sebuah forum di sebuah kawasan wisat di Cihideung, Bandung. Berita pun meluas, diikuti pro-kontra yang ramai. Tapi belakangan surut sendiri, seperti berlalu begitu saja. Mungkin melanjutkan mimpi memperoleh dana secara cepat dan mudah.

Di Kalimantan Selatan, dalam dua tahun terakhir ini kalangan pebisnis sedang terkaget-kaget oleh munculnya seorang pengusaha muda (baru 32-an tahun), yang namanya berkibar sebagai pengusaha lintas-bidang.

Pria asal Martapura ini, mulai berbisnis dalam perdagangan permata, intan, dan berlian. Belum lama ini dia membeli tunai sebutir intan temuan penambang di sana, dengan harga tiga milyar, tanpa proses berbelit, seperti orang beli sepotong pisang goreng saja layaknya.

Kini dia mengklaim menguasai jaringan bisnis tidak saja di Kalsel, melainkan juga di Jawa dan Sumatera. Disebut-sebut dia memiliki persewaan helikopter di Jakarta, menguasai bisnis perkapalan di Tanjungpriok, perkebunan di Lampung, properti di Yogyakarta.

Belakangan, dia mengejutkan kalangan bisnis kelas tinggi Kalimantan, ketika mendadak ikut menanamkan modal di Merpati Nusantara Airlines yang sedang megap-megap. Keinginanya sederhana saja, agar Merpati bisa lagi mengisi rute Jakarta-Banjarmasin-Jakarta.

Tidak –atau setidaknya, belum– ada yang tahu persis profil dan anatomi bisnis yang dikelola Lihan ini. Yang jelas,  banyak orang turut berinvestasi dan menyerahkan modalnya untuk dibiakkan Lihan. Ia juga tergolong sangat dermawan. Aneka kegiatan sosial, selalu disokongnya.

Di tengah hiruk-pikuk ini, muncul pula Tung Desem Waringin, seorang praktisi pemasaran yang mengundang orang pada seminarnya dengan cara menabur uang dari atas langit Jakarta. Untung saja, loksi tabur duit itu digeser ke kawasan Banten. Kalau tidak, tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.

Soalnya, pada hari yang dijadwalkan itu, di kawasan Monas dan sekitarnya sedang berlangsung unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM, juga aliansi kebebasan kehidupan beragama (AKBB) yang kemudian dikepruk massa gabungan Komando Laskar Islam yang dipimpin Munarman.

Mantan ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) ini memobilisasi massa untuk bertindak keras terhadap kelompok lain yang hari itu berhimpun, berkumpul untuk merenung, menyatukan diri dalam spirit perdamaian.

Begitulah, negeri ini memang aneh. Absurd! (*)


16 Tanggapan ke “Tung, dan Fenomena Lihan”


  1. Agustus 23, 2008 pukul 5:19 pm

    bahwa segala sesuatu akan berjalan diatas relnya bila kita berjalan lebih cepat juga mempunyai resiko lebih cepat..semoga pa yang telah dilakukan oleh ustad kita… tetap on track bila tidak maka akan sangat banyak juga yang kena imbasnya paling tidak para Investor investor lainnya.

  2. Oktober 24, 2008 pukul 3:01 pm

    Apa yang saya lihat dari dekat setelah bersilaturrahmi dengan Ustadz Lihan dirumahnya, saya lihat tidak ada mobil mewah, rumahnya biasa saja, menghormati tamu yang datang. Saya menanyakan tentang Intan Putri malu yang beliau beli dengan sangat mahal dibanding penaawaran yang lain, beliau menjawab bahwa nilainya adalah karena keunikan yang terdapat pada Intan tersebut, dan beliau sangat yakin Intan tersebutlah yang menjadi aset beliau berbisnis, kata-kata positip beliau terhadap intan trsebut . Semoga apa yang beliau kerjakan selalu mendapat bimbingan dari Allah, karena beliau menjalankan amanah orang banyak.

  3. Desember 19, 2008 pukul 12:18 pm

    Tulisan Anda menarik sekali, terutama mengenai Lihan. Tapi sayang tetap tidak menjelaskan profil dan anatomi bisnisnya. Saya tertarik mempelajari bisnis beliau, saya coba buka webnya (lihan dot net), saya baca bukunya, juga baca publikasi-publikasi mengenai beliau. Tapi saya belum juga mendapat “hidayah” berupa pemahaman mengenai bisnisnya itu.

  4. 4 mr. MA
    Februari 9, 2009 pukul 11:31 am

    perlu saya katakan di awal bahwa saya bukan PR lihan atau karyawan atau bawahannya. tapi hanya orang yang sedikit tahu tentang dia dan pernah bertemu dan ngobrol. sepanjang yang saya tahu dia tidak seperti yang anda tulis.
    tulisan anda mau menjelaskan seluk-beluk tentang lihan, tapi kayaknya anda belum tahu banyak tentang dia, makanya tulisan anda disamping tidak valid juga tidak ada analisis yang tajam. maunya memberi pencerahan alih-alih malah menyesatkan atau menjerumuskan. dalam menyuguhkan data saja anda tidak benar, misalnya lihan membeli intan seharga 1 milyar, padahal yang benar 3 milyar. catatan kedua saya adalah anda telah melakukan generalisasi dan simplifikasi persoalaan. tidak semua yang anda lihat itu absurd, dan tidak semua yang tidak mampu jangkau dengan hitung-hitungan anda itu adalah sebuah masalah. tulisan yang baik, setahu saya, diawali dengan data yang valid lalu dianalisa berdasarkan pendekatan ilmu tertentu. menurut saya tulisan anda tidak berdasar data yang vaid dan tidak menggunakan pisau analisis yang jelas. jadi bicaralah yang anda tahu saja.

  5. 5 pecinta indonesia
    Februari 18, 2009 pukul 1:33 pm

    kesasar ke sini,
    cari kata lihan kok ke sini,

    tulisannya sangat bagus sekali,
    anda sangat pintar dan cerdas meng-generalisir permasalah.
    walaupun nggak ada data valid sampai-sampai bisa membuat kesimpulan yang amat sangat valid.

    sumber: sampah
    pengolahan: tidak jelas
    hasilnya: ya sampah lah, masa berlian.

    berbuatlah yang terbaik untuk negeri ini, jangan cuman omdo.

  6. 6 mr.AM
    Februari 18, 2009 pukul 5:11 pm

    Bagi saya, tulisan bung Yusran merupakan suatu refleksi yang menarik. Banyak terjadi proses “pembodohan” di tengah masyarakat kita. Absurd, absurd, absurd! mr.MA kok sepertinya geram betul ya? Akan sangat fair dan elok kalau Anda memberikan sedikit penjelasan yang Anda tahu tentang bisnis ini, tentu dengan data yang valid sehingga argumentasi Anda tentang tulisan bung Yusran pun valid. Saya percaya mr.MA akan membedah dengan pisau analisis yang tajam betul dan menjadi pencerahan bagi saya dan yang lain.

  7. Maret 2, 2009 pukul 5:14 pm

    Bisnis adalah bagai pisau bermata dua tinggal bagaimana anda memilihnya tergantung jalan anda menangkap setiap permsalahan, Lihan cs figur orang kaya yang menmapilkan kesederhanaan utk mengimbangi yang nama harta harus menguatkan iman sehingga yang namanya sombong, serakah dll bisan diminimalisasikan. Lihan investman yang unik bagi setiap orang yang jadi pertanyaan bagaiman dengan kita apakah kita diam atau mau belajar bagaimana lihan mengelola bisnisnya dengan baik. apakah kita sekarang pelaku usaha atau pengamat usaha atau juga penggembira serta penonton saja. just do it dont afraid

  8. Maret 14, 2009 pukul 12:16 am

    SUDAH – SUDAH DEBATNYA
    Lakukan yang terbaik yang bisa anda lakukan bagi anda dan orang lain.
    Berusaha
    Kerja Keras
    Bukan hanya komentar

    Semoga sukses Assalamualaikum

  9. Maret 18, 2009 pukul 8:18 am

    Dalam realitanya, masyarakat berbondong-bondong melakukan investasi uang dengan janji mendapatkan imbalan sebesar 10% per bulan, misalnya A investasi 1 juta, maka setiap bulan A akan mendapat imbalan investasi Rp 100.000,-, dan kemudian dipotong 10.000 untuk “chanel” investasi, sehingga imbalan bersihnya Rp 90.000.
    Tetapi dalam media massa koran setempat dengan BANNER BESAR, Lihan tidak mengijinkan investasi, bisnis apa ini ? Apa akan digunakan sebagai alat cuci tangan jika terjadi bisnisnya ambruk ? Kita lihat saja nanti. Dan bukankah dalam undang-undang perbankan tidak dibenarkan seseorang mengumpulkan dana masyarakat selain Bank dan Koperasi ?
    Trus, kalau memang yang dijalankan adalah berdasarkan syariah Islam bagi hasil, maka sistem yang dijalankan Lihan dkk tidaklah berbeda dengan sistem bunga, karena mematok keuntungan sejak awal sebesar 10%. Karena setau saya yang namanya bagi hasil, ada nisbah bagi hasil yang dihitung dari keuntungan bersih investasi.
    Salam

  10. 10 Jangan asal bicara
    Maret 22, 2009 pukul 6:44 am

    melihat komentar diatas saya jadi sedih orang asal bicara tanpa tanya kepada sumbernya dalam agama islam tidak boleh asal bicara sebelum tabayyun ,jadi tanya dulu lihan benar nggak jangan hanya mendengar dari sana sini lalu kesimpulan .Ini saya sebagai orang yang tahu seluk beluk lihan dan saya tahu betul bisnis beliau karena saya tetangga beliau. sejak tahun 2001 beliau memang tidk pernah mengajak sering ada yang mau menanm modal beliau tolak dengan tegas karena ragu ragu .saya pernah kerumah beliau dan menyaksikan sendiri belaiu mengembalikan uang yang udah masuk dari orang yang mau menanam modal karena udah tutup belaiu kembalikan walaupun jumlahnya cukup banyak beliau kembalikan .Jadi kesimpulan nya beliau tidak selalu menerima invest karena sudah tutup beliau tdk akan meenerima lagi.Terus masalah yang 10 % itu salah yang benar 40 % dari keuntungan tapi sayang masyrakat tidak pernah membaca surat perjanjian hanya begitu dapat langsung menyimpulkan .bisnis yang lihan jlankan adalah kontrak setahun yang dalam setahun sama hasilnya tapi kalau setahun berikutnya bisa naik bisa turun dan bisa tetap .jadi berubahnya bukan sebulan tapi setahun.Jadi buat amanah bumi jangan asal bicara kalau tdk tahu .tlg tanyakn ke sumber langsung gimana itu yang terbaik terima kasih a

  11. Maret 22, 2009 pukul 7:49 am

    Buat amanah bumi jangan asal tulis .Saya sering menolak orang yang invest bahkan saya tutup investnya sejak bulan kemaren dan benar saya tidak mengajak atau mengiming imingi sejak tahun 2001 saya nggak pernah mengajak bahkan ada yang menangis nangis minta masukkan uangnya tidak saya terima jadi jangan asal bicara mendingan anda kerumah saya saya jelaskan sejelas-jelasnya jadi tidak prasangka buruk yang akan berbuah dosa .tentang yang 10 % persen itu orang yang ikut tdk pernah membaca dengan seksama surat perjanjian disitu tertulis 40 % dari keuntungan kontraknya setahun jadi selama setahun sama tapi tahun berikutnya hasil tdk pasti lagi mungkin naik mungkin turun mungkin juga tetap jadi untuk amanah bumi alangkah baiknya diam kalau tdk tahu dengan jelas jangan asal bicara atau temui saya tanyaka dengan benar banyak lho yang begitu ketemu baru paham dan akhirnya minta maaf karena asal bicara saya kira itu supaya jangan terjadi fitnah ,dan saya umumkan bahwa investasi udah say tutup karena modal cukup sejak sebulan yang lalu itu juga masih banyak yang transfer akhirnya saya kembalikan dan banyak juga yang menangis nangis minta uangnya dimasukkan juga saya tolak walau seribu rupiah saya tolak apalagi milyaran demikian agar menjadi kejelasan dan tidak menjadi dosa bagi yang tidak tahu tapi asal ngomong.

    • Mei 22, 2009 pukul 10:26 am

      tidak usah kebakaran jenggot bos…. apa yang diutarakan amanah bumi adalah sangat wajar… krn dalam dunia investasi adalah high risk high return dan no pian no gain….

    • 13 peduli umat
      Juni 17, 2009 pukul 11:40 am

      Sdr Lihan, tolong tunjukkan mana prinsip-prinsip syariat dalam bisnis investasi anda? Atau, karena Anda seorang ustadz lalu bisnis anda dinamai bisnis islami?

  12. April 13, 2009 pukul 12:48 pm

    Kalau mau datang, melihat sendiri ke rumah Pak Lihan alamatnya dimana ya?

    Terima kasih

  13. 15 enang
    April 15, 2009 pukul 8:18 am

    saya dengar kedermawanan pak lihan dari bos di kantor saya, saya boleh tahu alamat e mail pak lihan, saya lebih suka bicara kepada orang yang sering infaq, ketimbang orang yang berfikir negatif, biasa nya yang berfikir negatif, maaf, kebanyakan orang fuqoro wal masakin, yang masih di masakin mertua atau orang tua.

  14. 16 irwanto
    April 23, 2009 pukul 9:13 pm

    buat amanah bumi jangan asal jeplak kalo bicara…..


Tinggalkan Balasan