GEMA adalah rubrik khusus remaja usia SMA di harian Bernas edisi minggu. Bermula dari gagasan untuk menyapa dan berinteraksi dengan komunitas remaja. Maka saya dan Mas Trias Kuncahyono dan kemudian Mas Agoes Widhartono, menyusun semacam program pendidikan dan latihan bagi anak-anak SMA dan sederajat.
Agar lebih efektif, program ini dikembangkan sebagai laboratorium jurnalistik bagi anak sekolah yang melibatkan langsung mereka ke dalam praktek. Tidak sebatas teori. Kebetulan, banyak SMA dan sederajat yang memasukkan jurnalistik ke dalam program ekstra kurikuler (ekskul) mereka.
Maka, kami pun menawarkan program itu ke berbagai sekolah. Agar efektif, kami tawarkan magang selama setahun pelajaran (52 edisi), dengan syarat pesertanya adalah pelajar SMA kelas 1 dan kelas 2. Kelas 3 kami anggap terlalu sibuk menghadapi ujian akhir. Kami pun memilih sekolah-sekolah yang kami anggap bisa mewakili keragaman yakni sekolah umum, sekolah kejuruan, dan sekolah yang diselenggarakan lembaga berlatar belakang agama.
Gayung bersambut. Sejumlah sekolah mengirimkan delegasi mereka, masing-masing dua sampai tiga siswa. Toh ada juga yang mengirim lima siswanya. Semua tentu dengan catatan, bahwa program tersebut tidak boleh menyebabkan aktivitas belajar siswa terganggu, dan tidak boleh membuat para pelajar berorientasi finansial.
GEMA angkatan pertama pun lahir. Mereka berasal dari SMAN I, SMAN III, SMA Muhammadiyah I, SMA Bopkri I, SMA Kolese de Britto, MAN I, STMN 1, SMA Santa Maria, SMA Santo Thomas, SMA Stella Duce, Yogyakarya, dan MAN Bantul. Tapi ada juga anak SMP –kelas 3 pula– yang memaksa ikut prgram ini atas kemauan pribadi.
Program ini berlanjut sampai bertahun-tahun kemudian. Ketika saya dipindahtugaskan ke Palembang, Mas Agoes dan Mas Ignatius Sawabi (Abi), menemani anak-anak GEMA, sampai rubrik ini berakhir bersamaan dengan selesainya kerja sama Bernas-KG.
Namun cikal bakal GEMA saya semaikan pula di Sriwajaya Post (Palembang). Mulai tahun 1994, kami membuka LEPASS (Lembaran Pelajar Sumatera bagian Selatan), dengan pola pendekatan dan prgram yang sama dengan yang dikembangkan di Bernas. Hingga kini, LEPASS masih hadir sebagai rubrik khusus pada Siriwijaya Post edisi minggu.
Hal yang mengesankan adalah, anak-anak SMA yang pernah aktif di GEMA sebagian di antaranya kemudian berhasil membangun kehidupannya sendirim dan boleh dibilang sukses.
Ada yang jadi penulis dan editor buku (AA Kunto/Yk dan Femi Adi/Jkt), ada wartawan (Luki Aulia, Emmy Kuswandari/Jkt, Ruri Hargiono/Btm), ada fotografer profesional (Kristupa W Saragih/Jkt-Solo), ada ahli IT (Valens Ryadi/Yk), ada aktivis LSM (Jullya Vignesvara/Aceh, Florence I Pattipeilohi/Dili - Timor Leste, Rosita Yuwanasari/Dps), ada pebisnis (Henky Dewanto/Jkt, Firman Marpaung/Solo, David R Adhi/Yk, Vierna Suryaningsih/Jkt) , ada akademisi (Punto), ada pula yang jadi dokter (Yuditya Purwosunu/Tokyo), dan calon diplomat (Esti Rahayu/Washington DC), ada sastrawan seperti Satmoko Budhi Santoso. Masih ada nama-nama Alvonsa Kristiani, Dewi, Dimas Novriandi, Nana, Yosefa, MMZ Damar Pandu, Emmy Nursanti, Eko Susanto, Ria Susanti (? - Hongkong) , Radiant, Dida, Fitri, dan masih banyak lagi.
Akan menarik jika mereka yang pernah bersentuhan dengan GEMA (dan kebetulan membuka blog ini), bersedia memberi masukan. Begitu pula kalau ada teman-teman alumni LEPASS. Ayo!!
Hallo Mas Yusran,
apa kabar?
Aku mengetahui blog ini dari Ruri (Batam) yang “curiga” karena namaku tersebut sebagai alumni Gema. “Pertemuanku” dg Ruri sendiri tak sengaja karena aku tertarik dengan liputannya soal Indonesia-Tionghoa. Aku di Hong Kong dan dia di Batam. Kami hanya berhubungan via email dan YM. Kami tak pernah menyangka bahwa kami adalah alumni sama dari Gema.
Bagiku, Gema selalu menjadi kisah menarik. Selain belajar hal teknis tentang menulis, yang paling membekas di ingatanku tentang Gema justru soal bagaimana membangun budaya egaliter. Di tengah segala keterbatasan ingatanku tentang masa lalu, hal yang masih kuingat adalah saat mas Yusran bicara soal kultur perusahaan “saat itu”. Bahwa tak ada hirarki ketat dalam sebuah perusahaan pers. Seorang reporter bisa mengkritik redaktur, redpel, bahkan pimred dan bisa ngobrol laiknya kawan.
Di usia remajaku, kata-kata yang diucapkan mas Yusran sambil duduk di atas meja, itu membekas.
Kuputuskan untuk menjadi jurnalis, berpindah dari Media Indonesia ke Astaga.com, dan kemudian ke Sinar Harapan, lalu hijrah ke Hong Kong.
Waktu mengasah kemampuan menulisku. Tapi ada yang tinggal tetap, kegelisahanku untuk melihat ruang egaliter yang lebih luas, di berbagai bidang, di sebuah negeri bernama Indonesia. Sebuah ruang dimana manusia sepenuhnya dihargai sebagai manusia.
Dan kegelisahan itu, salah satunya, bermula dari sebuah ruang kecil di ruas Jl.Sudirman, Yogyakarta.
Terimakasih telah berbagi.
salam,
Fransisca Ria Susanti (santi)
Aduh… santi! Kamu terlalu berlebih. Justru teman-teman di GEMA lah yang jadi guru bagi saya. Terus terang, saya banyak menyerap ilmu mengenai bagaimana seharusnya kita secara tulus saling berbagi, bagaimana kita bisa hidup berdampingan dalam keragaman tanpa saling curiga. Gudang kecil GEMA, ternyata jadi laboratorium yang menjalarkan makna yang jauh lebih besar menerobos batasan ruang dan waktu. Itu saya rasakan sampai sekarang. Kudengar, bukumu cukup sukses dan sempat jadi bahan diskusi yang menraik. Sudah dua hari ini aku mencarinya di toko buku, tapi belum juga nemu. Ok… selamat berkarya. Sukses.
“Kecurigaanku” yang membuahkan sebuah bukti kalau dunia memang benar-benar sempit. Cuma ketemu di milis ternyata konco dhewe alias jape methe ya mas…
Ketika hujan tak boleh menjadi halangan, ketika lelah tak boleh meraja, ketika gelap mengajari kecermatan, ketika kesempatan harus direbut!!!
Hanya wartawan-wartawan sinting yang waktu itu nekad membuang 1 (satu) halaman penuh, halaman 4 Bernas Minggu, untuk sebuah laboratorium jurnalistik untuk anak-anak sekolah. Mestinya halaman itu menghasilkan rupiah bagi perusahaan. Jika dijual untuk iklan, uang segar niscaya menambah kesejahteraan karyawan.
Namun, wartawan-wartawan sinting itu tak merelakan halaman itu untuk dijual. Mereka lebih memilih “ngopeni” bocah-bocah ingusan untuk belajar hidup, belajar mengenali kehidupan.
Bersyukur, aku menyelinap di waktu dan ruang yang persimpangan yang sama. Lalu bertemu dengan mereka. Menjadi wartawan pelajar, aduh bangganya kala itu. Aku masih merasakan betul pusaran energinya. Pulang sekolah terhuyung-huyung ke Sudirman 52 untuk rapat redaksi, membuat TOR (term of reference), membagi tugas KOLAP (koordinator laporan) dan KOLIP (koordinator liputan), menelepon calon narasumber, wawancara ke sekolah-sekolah, mencetak foto di kamar gelap atau mampir nyuci di jalan solo, transkrip wawancara, menulis laporan, piket nungguin paste-up di malam minggu, dan di minggu pagi berdebar-debar menanti koran beredar.
Menjadi layaknya wartawan profesional, tiada ampun atas ketiadaan tulisan. Tiada ampun untuk tulisan jelek.
Di Gema, aku belajar bertanya. Belajar berani menyelidik kasus. Berani berpendapat. Dan akhirnya berani memutuskan pilihan profesi: menjadi jurnalis, penulis, editor! Wow, dunia begitu mengagumkan. Wow, begitu banyak yang bisa aku ceritakan. Sinting betul laboratorium itu!!!
Thx Mas Yusran…
Mas, kok fotoku gak ada? *halah* hehe…
GEMA, pengalaman hidup luar biasa untuk seorang anak bercelana pendek biru seperti aku. Dunia yang baru dengan teman-teman di sekeliling yang memiliki binar ketertarikan yang sama, menulis. Sungguh pengalaman yang tak tergantikan dengan apa pun. Satu keluarga yang memberi aku pelajaran arti dari kata SEMANGAT. Sayang, anak muda sekarang tidak mempunyai kesempatan yang sama seperti kami dulu…
Aku bangga menjadi salah satu bagian dari GEMA, yang membuka seribu pintu kesempatan. Bertemu dengan teman-teman, kakak-kakakku yang sampai saat ini selalu membuatku bangga akan kiprah mereka.
Terima kasih Mas Yusran
dimas novriandi
- full time student / part time blogger -
ya ampun mas yusran … sudah ngeblog neeeh! congrats ya! jujur saja, saya nggak pernah ngebayangin wartawan-wartawan senior mau ngeblog. apalagi sekelas mas yusran. hihihi … ternyata …
uhm. GEMA. waktu SMP, nilai bahasa indonesiaku jadi melejit karena sering nulis di GEMA dulu. serunya, apalagi jadi bangga setengah mati karena tulisan selalu dipamerkan bu yuni, guru bahasa indonesia, pada teman-teman.
kliping tulisan GEMA juga bak tiket emas untuk masuk SMA van lith. walau toh akihirnya DO juga, tapi tetap laku tuh buat sekolah gratis 4 tahun di atmajaya. horeeee !!!
satu halaman GEMA, memang sungguh ajaib!
ikut-ikut dimas ah:
full time blogger, part time journalist (lhoo??)
catt:
protes! fotonya mbakku kok ada, sedangkan fotoku kok ndak ada!
Buat Femy: hehehehehe….. kamu salah duga. Saya tidak termasuk wartawan senior, maka boleh-boleh saja ngeblog. Namanya juga belajar, kan? Mediumnya bisa macam-macam, termasuk blog. Untuk aku yang gaptek, bisa mengisi blog pun sudah lumayan, Fem. Blog ini pun dibikinkan teman, sekaligus guru saya, Mas Achmad Subechi.
paaaaak…
yaelah…salamin ke tante ria susanti…
pengen bukunya dunk…
susah amat nyari kembang2 genjer,,sampe harus pesen di nalar..
hehehe….
memanfaatkan relasi ayah…
wakwaww
ikutan juga ah
full time mahasiswa part time nangkringer
forever book addict
Kapan reuni?
Ayo! Mas Trias konon sudah siap juga. Coba kontak Luki, Hengky, Emmy dan teman-teman yang ada di Jakarta. Lha, tempo hari kan kamu yang diserahi togkat reuni…. heheheheh
GEMA Bernas ya? Bangga juga loh waktu itu, karena aku bisa gabung ke komunitas wartawan itu. Curhat dikit ne, sebenernya dulu pertama kali alasan daftar ke GEMA adalah………. Kok kayanya keren kalo namaku nampang di koran… Hahahahahahaha!!!! Eh, ga disangka, waktu itu aku ketrima di GEMA Bernas (angkatan VIII alias tahun 1998), dan jadi anak yang paling muda waktu itu. (yang lain SMA semua, aku masih kelas 1 SMP!). Lambat laun, ternyata asyik juga menulis.
Justru kalau boleh jujur, dengan diberikan kesempatan untuk menulis di GEMA ini, aku jadi mendapat banyak sekali pelajaran tentang menulis dibandingkan apa yang ditawarkan oleh institusi formal. Atau mungkin malah bisa dikatakan kalau menulis di GEMA itu justru mengasah naluriku menulis. Boleh dikatakan, GEMA ini sudah mencuci otakku untuk terus menulis……
Kalau mau berterima kasih, karena pernah menulis di GEMA ini juga, akhirnya ada tawaran dari Gramedia untuk menerbitkan 2 buah novel (yang sudah terbit!! Hore!!!). Got to admit, I owe it all to GEMA……
Fasilitas yang diberikan GEMA waktu itu, TIKET GRATIS ke konser2 yang disponsori BERNAS n DISKON 10-20% di Gramedia!! Hahahahahahaha!!!!!
Sidha…? Chris…? Aduh, mohon maaf. Terus terang, saya mati-matian tak berhasil mengingat nama dan wajahmu. Angkatan 1998 ya? Bisa jadi kita pernah bertemu. Tahun 1996-1998 saya kembali ke Yogya (Bernas), hanya saja memang tidak lagi secara langsung terlibat dengan teman-teman di GEMA. Lagipula pada kurun itu suasana tengah panas-panasnya. Beberapa teman GEMA dan para “veteran” seibuk dalam aksi-aksi demonstrasi. Malah, seringkali markas GEMA dijadikan tempat mangkal para pelajar dan mahasiswa aktivis. Selamat atas buku-bukuny!! Aduh, saya disalip lagi oleh taman-teman GEMA.