Arsip untuk Oktober, 2007

21
Okt
07

Pendekar Mabuk

 

kupang.jpgSabtu 20/10/07 malam, guru saya Romo Dion DBP menelepon dari Kupanng. Beliau minta komentar saya yang akan disertakan timnya ke dalam buku 15 Tahun Pos Kupang. Aduh! Saya memang pernah di Kupang (1995/1996), berguru kepada Romo Dion dan Pater Damyan Godho, namun untuk berkemontar tentang Pos Kupang tentulah saya bukan maqom-nya. Saya tak pernah memberikan apa-apa kepada Pos Kupang, kecuali menyerap ilmu yang dengan murah hati mereka tebar dan semai di sanubari saya. Selain ilmu, saya juga memperoleh banyak kenangan. Misalnya, kisah di bawah ini:

“PASANGAN” itu selalu datang bersama-sama, setidaknya dua kali dalam sepekan. Keduanya sama-sama tampak tua meski umurnya mungkin masih paro baya, antara 40-50-an. Keduanya selalu berjalan sejajar –jarang sekali beriringan– menyusuri jalan kecil agak menanjak di depan kantor kami, menuju pasar di pusat kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Biasanya mereka muncul antara pukul 07.00 sampai pukul 09.00 dan selalu kembali melintas untuk pulang pada lepas tengah hari ketika matahari memanggang demikian teriknya, membuat isi kepala seperti mendidih.
Beberapa kali saya berpapasan dengan “pasangan” ini, atau melihatnya dari balik kaca pintu. Menurut teman saya, Dion, Mereka dari dusun, di hutan sana. Datang untuk jualan hasil bumi, dan uangnya mereka belikan beras serta sepotong-dua lauk pauk dan kebutuhan lain, kata teman saya sekantor.
Yang luar biasa di mata saya adalah, setiap pulang dari pa¬sar itu keduanya selalu berjalan sempoyongan. Kaki mereka seperti kehilangan belulang. Goyah.
Keduanya pasti berjalan terseok-seok ke kiri dan ke kanan. Sesekali, sambil berjalan dua orang ini saling bertumpu pundak, baku sangga. Yang satu miring ke kiri, pundaknya bertumpu pada rekannya yang doyong ke kanan. Kali lain, keduanya ambruk, menggelosor begitu saja di emperan kantor kami. Lalu mendengkur.
“Wah, drunken master baru pi tidur…!” kata satpam di kantor kami sambil terkekeh. Ia tak bisa berbuat banyak untuk menghalau dua lelaki yang hanya “bercelana” lilitan kain tenun ikat –tanpa kolor– itu. Sekitar satu atau dua jam kemudian, barulah ia bisa membangunkan pasangan pendekar mabuk ini dan dengan mudah menyuruhnya pergi.
Dari rekan-rekan sekantor, saya dapat gambaran bahwa kedua lelaki paro baya itu warga kampung yang cukup jauh dari kota. Mereka pergi dini hari membawa ha¬sil bumi dan hasil hutan untuk dijual di pasar.
Dengan uang yang diperolehnya dari ‘bisnis’ itu mereka belanja kebutuhan sehari-hari, dan pasti membeli sopi di warung pasar. Minuman keras dari fermentasi air lontar itulah yang membikin mereka sempoyongan. Minuman yang diproduksi secara tradisional itu memang relatif murah, bahkan dibanding bir.
Sukar dibayangkan, bagaimana rasanya menggelontori perut dengan bergelas-gelas minuman berkadar alkohol sampai lebih dari 45 persen itu di bawah udara terik sengangar, di atas lahan kering karang berdebu yang jadi ciri khas kota di ujung barat Pulau Timor itu.
Absurd, memang. “Sudah miskin, cari uang susah, eh setelah dapat dipakai mabuk. Bagi kita, mungkin aneh. Tapi hanya itulah cara yang mereka tahu untuk berusaha melarikan diri dari tekanan hidup sehari-hari,” kata seorang rekan.
Minuman keras memang nyaris jadi minuman sehari-hari –selain air– bagi sebagian penduduk di daerah itu. Di samping secara tradisional sudah merupakan kebiasaan turun temurun, juga karena relatif murahnya harga minuman yang kadar alkoholnya bisa menyambar api geretan itu. Kalau pun tak punya duit, orang toh bisa mengolah sendiri melalui proses yang tak terlalu rumit.
Boleh jadi, dengan mabuk, lantas tertidur, mereka melupakan sejenak kesulitan hidupnya. Tapi kebiasaan itu juga menyeret dampak buruk lain, yakni tingginya angka kriminalitas. Kalau orang itu mabuk untuk diri sendiri, dan langsung mendengkur begitu teler, tak jadi soal.
Yang repot dalah para drunken tanggung yang gentayangan lalu ngoceh sana-sini dan tindakannya kurang terkontrol. “Kacau sudah, bisa-bisa perang antarkampung, gara-gara orang mabuk berantem,” ujar rekan saya.
Nah, di kota tempat saya tinggal saat ini pun, mulai banyak drunken “tanggung” master gentayangan di jalanan, terutama di simpang-simpang jalan tengah kota yang ramai kendaraan. Apalagi di malam liburan, seperti malam tahun baru misalnya. Bahkan di malam lebaran, di sela-sela orang berpawai menabuh bedug.
Mereka gentayangan dengan langkah goyah, mendekati mobil-mobil yang terhenti oleh lampu merah. Kadang sambil membawa ecek-ecek dari tutup botol yang dirangkai, atau sekadar bermodalkan tepuk tangan. Maksudnya mungkin mengamen. Para pengemudi biasanya ngeri berhadapan dengan teror macam itu, sehingga dengan terpaksa menyodorkan sekeping dua keping uang.
Boleh jadi, mereka sengaja mabuk –atau setidaknya tampil seperti sedang mabuk– karena tak cukup punya keberanian untuk menekan orang lain itu dalam keadaan sadar, sehingga perlu menyetengahsadardirikan. Yang jelas, para pengemudi mobil apalagi kaum perempuan, akan dengan mudah merasa diteror. Dan, keping-keping uang logam pun menggelinding dari balik jendela mobil.
Begitulah. Jika drunken master yang saya temukan di Kupang itu cari uang untuk mabuk agar melupakan kenyataan betapa sulitnya cari uang, maka di kota tempat tinggal saya saat ini para anak muda itu justru mabuk (setengah mabuk, ‘kali) dahulu, untuk mencari uang. Dua hal yang tampaknya bertolak belakang.
Mana yang lebih terhormat? Entahlah, sebab kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, kita juga bisa dengan mudah menemukan drunken master yang lain.
Orang-orang ini tidak berasal dari kalangan miskin seperti di Kupang atau para pemuda sempoyongan di jalanan kota, melainkan dari kalangan yang secara intelektual, sosial, dan ekonomi relatif lebih ‘tinggi’ sehingga minuman keras yang dikonsumsinya pun boleh dikata “berkelas”.
Minuman jenis ini tentu harus dibeli dengan bergepok-gepok uang yang sekali duduk minum bisa menghanguskan senilai dua atau tiga kuintal beras kelas satu.
Sepanjang duduk minum itu, bisa berkembang aneka percakapan, mulai dari soal bisnis, saham terlaris, sampai urusan esek-esek dengan selingkuhan atau bahkan siapa saja. Selesai minum, bisa langsung pulang, atau meneruskan ‘bisnis’ lain sambil rehat di hotel mana saja yang bisa dijangkau dalam tempo serba kebelet.
Anehnya, makin banyak saja tempat untuk kongkow mcam itu dibuka meski dengan kedok rumah makan, resto, kafe, dan sebangsanya. Dan, pengunjungnya tetap ramai, bahkan makin meriah saja tampaknya. Artinya, saban malam jutaan rupiah mengalir ke tempat-tempat macam ini.
Para drunken master dari kelas ini jelas tidak sedang melupakan sulitnya hidup dan mencari, atau perlu topeng keberanian untuk mencari uang. Tampaknya para master ini termasuk pada kalangan orang-orang yang sudah kehabisan cara menghabiskan uang.
Tentang bagaimana cara mereka mendapatkannya, itu lain soal.
Kadang, hidup memang tampak absurd.* (yusranpare, Bandung, 291201)
Iklan
19
Okt
07

Untuk Laras

dunialelaki1.jpg

SAYA terusik pertanyan anak kedua, Laras Sukmaningtyas. Dalam sebuah tulisannya yang berapi-api membela kaum perempuan, ia menggugat “realitas kelelakian”. Mengapa, katanya, dunia ini seperti secara alamiah telah meminggirkan kaum perempuan? Nah, siapa tahu tulisan di bawah ini bisa menambah wacana diskusinya.

Perkakas, Perkasa

BOLEH jadi dunia ini dicipatakan untuk laki-laki. Bukan perem­puan. Atau, kaum lelaki menganggap dirinya sebagai sang pengu­asa dunia. Wanita tidak. Atau lagi, kaum lelakilah yang paling patut berkuasa atas bumi, karena lelakilah manusia pertama diciptakan, dan dibuang ke pla­net ini gara-gara skandal buah khuldi dengan perempuan pertama. Entahlah, mana yang paling tepat.

Sejak munculnya kesadaran akan diri dan ling­kungan per­­adaban, tam­paknya manusia memang menganggap lela­kilah yang paling menen­tu­kan. Lihat saja, mitos Yunani –yang disebut-sebut sebagai awal per­­a­daban– bahkan menganggap para dewa yang di atas manusia itu juga dikuasai dewa berkelamin pria. Zeus sang perkasa, dewa di atas dewa.

Bacalah semua kitab suci. Semuanya menempatkan perempuan selalu sebagai subordinasi. Malah ada yang jelas-jelas meminggirkannya. Simak pula aneka hukum dan undang-undang bikinan manusia, bah­kan dalam dogma-dogma yang dikenal manusia pun, peran lelaki selalu lebih me­nonjol, meski secara fisik –di mana pun– para perem­puanlah –kecu­ali lelaki semacam Ade Rai– yang lebih banyak me­miliki tonjolan.

Jika masih kurang yakin, lihat pula jejak-jejak sejarah pe­ning­­galan peradaban kuno mulai dari para Pharaoh, hingga raja-raja –satu dua saja ratu– Jawa. Dari Yunani dan Romawi hingga Aztek, dari Piramid hingga Borobudur, semua menggambarkan betapa lelaki didudukkan pada singgasana lebih tinggi.

Singkatnya, lelaki adalah simbol kekuasaan. Atau, lelaki harus me­re­­presentasikan kekuasaan. Mungkin karena itu pula, orang ribut ke­­tika ada prempuan yang akan marak jadi presiden. Kaum lelaki kha­watir akan terkepit di ketiak subordinasi sang wanita. Perem­puan berkuasa! Wah, itu membalikkan mitos.

Tak begitu jelas, apakah suratannya memang begitu, atau per­­­kembangan yang memperkembangkan dan diperkembangkan komunitas ma­nusia telah membentuk tatanan sedemikian rupa, sehingga seolah lelakilah warga bumi nomor wahid. Perempuan tidak. Bahkan ada yang menganggap perempuan tak lebih dari segumpal daging yang bisa di­per­jual belikan, dilecehkan, diinjak, dan dicampakkan.

Padahal, kecuali manusia pertama, lelaki-lelaki berikut yang menghuni planet ini ada karena ada perempuan yang melahirkannya. Toh, tetap saja, kaum lelaki selalu menepuk dada bahwa dirinyalah sang penguasa segalanya.

Kaum ini, sejak berhimpun dalam komunitas Neanderthal maupun sejak era Homo Soloensis, tampaknya memang sudah tampil sebagai sim­bol keperkasaan. Dengan keperkasaannya itu ia menciptakan aneka perkakas untuk memerkokoh dominasinya, baik atas kekuasaan maupun atas –siapa lagi kalau bukan– lawan jenis.

Perkakas, keperkasaan, kekuasaan dan lawan jenis, tampaknya tak bisa dipisahkan dari sosok seorang lelaki. Bahkan –seperti dalam mitos Yunani– sejak semesta ini masih dihuni para dewa dan dewi-dewi.

Entah mengapa pula, keperkasaan tak cuma diterjemahkan da­lam kemam­puannya mempergunakan perkakas perang untuk memperkukuh ke­kuasaan dan menaklukkan serta mengangkangi lawan, tetapi juga dalam memperlakukan kaum perempuan.

Boleh jadi, apa yang disimpulkan Foucault benar. Bahwa tingkah laku seorang lelaki dalam memperlakukan lawan jenis­nya, akan mem­beri cermin pada pola peri­laku­nya dalam menjalankan kekuasaan dan tingkah laku politiknya. Freud malah lebih dahulu me­lontar kesim­pulan, justru pada titik hubungan lawan jenis itulah motivasi segala pola perilaku manusia terletak.

Nah, mungkin karena di titik itu semua impuls tingkahlaku ber­mula, maka dengan cara itu pula sang lelaki merepresentasikan keku­asaannya.

Jika di medan perang atau di arena bisnis, keper­kasa­an di­ukur oleh sejauh mana dia mendayagunakan segala perkakasnya untuk meraih ke­menangan dan keuntungan, maka ia pun lantas meng­anggap pada ‘per­kakas’nya pula keperkasaannya tercermin.

Padahal, jika tidak waspada dan terlalu mudah menggunakan per­ka­kas pun risikonya bisa mencelakakan diri. Sudah ba­nyak contoh, bagaimana sang perkasa mengumbar perkakasnya secara mem­babibuta hingga ia kehilangan kekuasaan atau bahkan kena tulah se­perti Oedi­pus dari Thebes sebagaimana dilukiskan dengan dramatik oleh Sopho­cles. Atau Sangkuriang (Oedipus dalam versi mitologi Sunda).

Dalam dunia nyata, banyak pula contoh bagaimana para lelaki per­­kasa jatuh karena terlalu mengikuti kemauan daging, eh perkakas keperkasaannya. Raja-raja Jawa bisa berperang gara-gara berebut per­empuan. Segarang-garangnya Adolf Hitler, bertekuk lutut –mung­kin lebih tepat, bertekuk pinggang– pada Eva Braun. Begitu flamboyannya Clinton, toh terpeleset oleh kelicinan tubuh Monica Lewinsky.

Orang bilang, tahta bisa rontok karena wanita. Tapi yang se­be­narnya –mungkin– karena sang perkasa tak bisa mengen­dali­kan per­kakasnya dengan proporsional, sehingga perlu mencari-cari wanita untuk dijadikan media penguji keperkasaannya. Sekaligus media untuk menunjukkan betapa ia bisa menguasai sang lawan (jenis).

Soal ini pun tampaknya sudah berlangsung juga sejak komunitas manusia ini tumbuh. Pada peninggalan-peninggalan kuno, perkakas sang perkasa seringkali disimbolkan secara verbal dan terang-te­rangan, seolah untuk menunjukkan demikian pentingnya peran perkakas itu dalam kelangsungan hidup peradaban.

Lihat saja candi-candi peninggalan raja-raja purba. Relief atau patung-patung melukiskan secara khusus bagaimana perkakas itu digu­nakan dan dirawat demi kelangsungan hidup generasi berikut. Sementara ‘relief’ kontemporer muncul dalam bentuk buku teks sejenis Kama Sutra.

Lingga, demikian perkakas itu dinamakan. Patungnya, kadang cuma dalam bentuk sederhana –persis aslinya– tertancap menonjok langit di pelataran sekitar kompleks candi, atau di tempat khusus yang –mungkin dahulu– merupakan tempat ritus yang berkaitan dengan urusan itu.

Kalau pun ada kelompok kasidah bernama Lingga Binangkit di Jawa Barat –yang arti­nya, maaf… ereksi– ten­tulah karena grup itu berasal dari ke­lompok kesenian spesial peng­iring upacara per­kawinan Sunda. Upacara meng­antar lingga yang akan memasuki sarang­nya, yoni — media di mana ‘kehidupan’ manusia bermula.

Jadi, bisa dipahami jika kemudian banyak di antara para le­laki melakukan berbagai upaya untuk agar perkakasnya bisa tetap perkasa da­lam perang tanding dengan lawan jenis. Sebab pada perang je­nis inilah, mungkin, keperkasaannya dipertaruhkan dan dengan demi­kian ia bisa tetap dominan sebagai sang penguasa.

Tampaknya dalam upaya perburuan keperkasaan ini pula, kemudian para ahli farmasi AS menyusun formula Viagra, yang semula diniatkan un­tuk membantu mereka yang memang betul-betul terganggu secara fi­sik, tapi kenyataannya jadi komoditi pasar gelap sebagaimana ekstasi.

Dalam model lokal, para lelaki kita sudah lama mengenal pasak bumi (dan bangunan…. hehehe), kuku-bima, dan macam-macam ramuan ta­naman dan dedaunan yang diyakini bisa bikin greng. Bahkan lebih dari itu, mereka pun rela merawat perkakas perang ranjangnya ini secara khusus lewat tangan-tangan dukun, atau melalui resep-resep tradisional hingga cara modern.

Kita tak tahu persis, apakah dengan cara itu keperkasaan se­orang lelaki sungguh-sungguh diukur. Sebab, kecenderungan yang pa­ling terlihat dari gejala seperti ini adalah, seakan-akan sang lela­ki baru dianggap perkasa jika bisa ‘menaklukkan’ lawan jenisnya berkat kehandalan perkakas perangnya.

Lagi-lagi terlihat, betapa perempuan seakan memang cuma jadi objek penderita dalam proses ‘penegakkan kepercayaan diri’ para pria ini. Padahal, urusan keperkasaan tak melulu berkisar seputar selangkangan, melainkan juga terletak pada kepala alias otak.

Tapi tampaknya dunia — bahkan semesta ini memang telanjur diyakini diciptakan oleh dan merupakan milik para lelaki.

Mungkin itu terjadi karena tuhan pun berjenis kelamin lelaki.

Jika tidak, bagaimana mungkin Maria hamil!

***

19
Okt
07

Sebuah Kelas

ENTAH siapa yang memulai menggunakan ‘ekonomi’ sebagai istilah untuk ke­las paling rendah dalam tingkatan layanan bagi publik. Tak per­caya? Silakan gunakan jasa angkutan umum di darat dan laut.

Duduk di kelas ekonomi rasanya hampir sama dengan kedudukan seekor kam­bing. Apalagi di saat-saat musim libur seperti men­je­lang lebaran dan tahun baru.

Pada moda angkutan tersebut, penghuni ke­las ini ham­pir dise­tarakan dengan barang, tanpa jiwa tak bere­mosi. Mari tengok dan rasakan ‘ekonomi’ di kapal-kapal motor yang mem­belah laut menjembatani pu­­­lau-pulau lain di bentangan zambrud (ya, zambrud. Betapa indah dan cemerlangnya!) khatulistiwa.

Atau, cobalah sesekali naik ke­reta ‘ekonomi’ dari Jakarta ke Surabaya atau ke mana sajalah jurusannya. Di sinilah sesungguhnya kita merasakan arti “kebersamaan dalam kesengsaraan” sebuah negeri mak­mur dari barat hingga ke timur.

Di kelas ‘ekonomi’ ini pula kita bersama-sama berpeluh, ber­desak, berebut ruang untuk sekadar bernapas, sambil menyak­sikan da­ri balik jendela berkarat, bertapa biru dan luasnya laut. Be­tapa hijau dan permainya ladang, sawah, kebun dan gunung di kiri­-kanan jendela –tanpa kaca– kereta.

Di kelas ‘ekonomi’ pula, kita akan merasakan bagaimana seng­saranya kebersamaan dalam kelaparan dan kehausan terpanggang suhu tanpa berpengatur, antre mendapatkan sepiring nasi dan sepotong ikan entah apa, sementara di bawah kita di kedalaman samudera berjuta-juta ikan menanti dikelola.

Orang bilang, pembagian kelas dalam hal pelayanan kenyamanan adalah sah-sah dan wajar saja. Orang berhak memilih mau dilayani secara mewah, atau secara alakadarnya, terserah, sebab masing-ma­sing memberi konsekuensi sendiri-sendiri.

Namun dalam hal kea­man­­an, tidak ada tawar menawar. Kelas Ve­ry Very Important Person (V­VIP), kelas Very Impor­tant Person (VI­P), kelas eksekutif, kelas bin­sis, kelas ekonomi, semua berhak mem­peroleh layanan dan ja­minan keamanan yang sama.

Soalnya, musi­bah dan kecelakaan tak mengenal kelas. Ketika Boeing 737 menabrak gedung kembar WTC di New York, penumpang di kelas eko­nomi sama sialnya dengan kelas eksekutif atau bisnis.

Begitu pula ketika Garuda terbakar saat mendarat di Yogya tempo hari, atau ketika Adam Air nyemplung ke pwrairan Sulawesi Selatan. Ketika Kapal Motor Egon kandas di perairan Barito beberapa waktu lalu pun penumpang kelas geladak sama sialnya dengan pe­num­pang kelas I, meski kenyamanan mereka berbeda. Ketika Tampomas II terbakar dan karam di perairan Masalembo, maut tak memilih-milih penumpang kelas mana dahulu yang akan “diambil”.

Tapi ba­gaimana kita bisa mengharap jaminan ke­amanan yang utama jika la­­yanan kenyamanan saja belum kita dapat­kan sesuai dengan ‘kelas’ yang kita ambil? Jika penumpang berstatus ek­se­kutif saja bisa me­nik­mati layanan ketaknyamanan yang sungguh tak selaras dengan ke­las yang didudukinya, apalagi penumpang ke­las “ekonomi.”

Selain mendapat layanan kenyamanan yang sama dengan kambing atau ikan sarden, perlin­dung­an keamanan dan keselamatannya pun sangat alakadarnya. Bahkan ka­dang nyaris tanpa perlindungan sama sekali.

Di pesawat terbang ko­­mersial mungkin kita akan mendapatkannya, tapi hampir pasti tak akan kita peroleh pada moda angkutan darat dan laut. Jika dalam pengelolaan hal angkutan udara kita bisa mengikuti atau mendekati layanan kenyamanan dan keamanan stan­dar seperti yang diberlakukan secara umum di dunia, mengapa pada angkutan darat dan laut tidak?

Boleh jadi, itu sebabnya warga kita cenderung berlomba me­miliki dan menggunakan kendaraan pribadi. Di samping penting un­tuk melengkapi simbol status –agar tidak di kelas “ekonomi” te­rus– juga karena angkutan darat tidak menjanjikan keamanan.

Ada baiknya para wakil rakyat dan para pejabat, se­sekali berada bersama rakyatnya duduk di kelas “ekonomi”. Apakah di ka­pal, di kereta api, atau di bus umum. Tentu saja tanpa mengenakan seragam dan atribut mereka. Coba! (yusran pare – 020102)

** Fotografer Persda Network, Bian Harnansa mengirim foto-foto aktivitas pulang kampung warga ibu kota. Di antaranya, foto “berkelas” yang saya pilih untuk ilustrasi percikan pikiran di bawah ini. Terima kasih, bos Bian.

19
Okt
07

Pasar Airmata

pasarwadai

pasarMAGRIB masih hampir satu jam lagi, saya gopoh-gapah turun dari kantor Banjarmasin Post. Saya ajak seorang rekan untuk ‘berburu’ kue di Pasar Wadai, di sepanjang jalan tak jauh dari depan Mesjid Raya Sabilal Muh­tadin, tepi Sungai Martapura. Hari-hari ini , untuk kesekian kalinya saya mengalami suasana Ramdan di Banjarmasin, Kota Seribu Mesjid.

BOLEH jadi, paduan antara hasrat mengumbar nafsu (makan) de-ngan suasana eksotis Pasar Wadai, telah membuat suasana depan mesjid terbesar Banjarmasin itu jadi sangat spesifik.

Riuh rendah orang menawarkan dagangannya bercampur dengan padatnya lalu-lalang –untuk belanja atau sekadar cuci mata buang waktu me-nunggu buka — sementara udara disesaki karbon monoksida dari ra-tusan knalpot mobil dan sepeda motor. Di sisi lain, raungan mesin klotok, sesekali ikut meningkahi senja yang penuh warna itu.

kuejajan1Bagi saya, suasana inilah yang menarik. Bahwa sambil jalan-jalan kemudian mampir ke satu dua kedai penjual wadai, itulah yang barangkali diharapkan oleh para pedagang. Berkat Pasar Wadai, saya mengenal dan menikmati rasa putri selat dan bingka kentang serta bingka tapai. Karena perburuan di pasar itu pula, saya sempat mencicipi nangka susun bahkan sari muka yang menurut saya, rasanya gimana … gitu.

Suasananya persis seperti yang saya rasakan ketika untuk pertama kalinya mengalami Bulan Ramadan di Palembang. Hampir tiap menjelang magrib, saya mengajak –lebih tepat minta diantar– teman untuk berburu makanan di Pasar Beduk.

Sama dengan Pasar Wadai yang pernah –entah apa sebabnya– diinggriskan jadi Ramadhan Cake Fair, maka Pasar Beduk (ini sih nggak diterjemahkan ke bahasa Inggris) digelar di tanah lapang juga di sekitar komplek Mesjid Sultan Badaruddin II, Palembang.

Situasinya mirip, mulai dari aneka makanan tradisional yang langka, hingga ayam goreng ala Kolonel Sanders dari Kentucky lengkap dijaja.

kuejajan4Empek-empek sudah pasti ada. Tapi, makanan ini sudah terlalu populer dan dengan mudah bisa kita dapat di kota sendiri, meski memang –setelah diicip-icip betul– rasanya jauh berbeda dengan yang asli Palembang.

Toh, lewat Pasar Beduk saya kenal apa yang disebut burgo yang gurih, lembut dan nyaman di perut. Atau kue model, bahkan cincau kucur yang ternyata tak jauh berbeda dengan es cincau.

Makanan-makanan khas macam ini, di kota tempat tinggal saya kini, di Bandung, juga ada. Tapi tidak dijaja di pasar khusus di sekitar Mesjid Agung sebab tempatnya memang sudah habis oleh pedagang kaki lima. Sementara di Yogya, saya memburu makanan-makanan khas ini di sekitar komplek Kauman.

Namun perburuan yang paling terasa menantang adalah perburuan makanan khas buka puasa di Kupang, Pulau Timor. Di samping makanan-makanan khas itu memang sangat jarang didapatkan pada hari lain, suasana kota itu sendiri sangat ‘menggoda’ mereka yang menjalankan ibadah puasa.

kuejajan2Selain udara kota yang panas sengangar –pada pukul 17:00 pun matahari masih terasa melotot garang dan sinarnya menusuki ubun-ubun– secara umum komunitas Muslim amatlah sedikit sehingga tidak cukup mewarnai suasana Ramadan.

Toh, seperti di Banjarmasin dan Palembang, di Kupang pun ada pekan kue selama Ramadan. “Pasar” ini berpusat di sekitar Mesjid Raya Baitul Qadim. Mesjid pertama — didirikan tahun tahun 1806– dan terbesar di Kupang ini terletak di Kampung Airmata. Karena itu, pasar wadai –eh, bursa kue Bulan Ramadan– di sini pun kemudian dikenal sebagai Pasar Airmata.

Pasar, sengaja saya beri tanda kutip (“) karena memang berdiri begitu saja di beranda atau di depan rumah-rumah penduduk. Mungkin hanya dengan memajang satu meja kecil, atau bahkan kursi, sebagai tempat kue-kue dan makanan dijajakan. Belakangan, sudah banyak orang menggunakan gerobak dorong, dan lokasi penjualan meluas ke tepi jalan raya depan kediaman Walikota.

Teman saya, Dion, bilang, Airmata diambil sebagai nama kampung dari sungai kecil (lebih tepat disebut kali) yang bermuara di Teluk Kupang. Konon sih, daerah itu dahulu merupakan tempat pembuangan para tahanan politik yang sering memberontak terhadap penjajah. Bahkan seorang pejuang asal Kalimantan, Sultan Abdurrachman Al Qadri dari Pontianak, disebut-sebut dibuang hingga wafat di sini.

Berkat Pasar Airmata inilah saya mencicipi kalesong, lopis, dan serabi kua. Atau, kue bendera, dan bajongko. Tapi, tentu saja tak ada orang jual sopi atau moke, sebab minuman khas setempat ini mengandung alkohol yang kadarnya relatif tinggi. Setidaknya, langsung menyambar jika disodori korek api yang menyala.

kuejajan3Seperti biasa, begitu menjelang mag-rib, saya ajak seorang teman ke Airmata untuk berburu. Seperti di Pasar Wadai dan di Pasar Beduk, sambil menyusuri jalan yang di kiri kanannya ada kedai-kedai dadakan itu, kami mencari makanan-makanan tradisional yang menurut saya aneh untuk dimakan pada saat berbuka puasa kelak.

Namanya orang puasa, pada jam-jam kritis –antara lepas tengah hari hingga menjelang senja– itu rasanya segala makanan hendak ditampung, disiapkan untuk berbuka. Nafsu purba begitu serakah memandu tangan memilih aneka kue, makanan kecil, sampai ‘makanan berat’ seolah semua akan bisa ditampung lambung yang sudah tipis digosok sakit maag ini.

Tampaknya begitu pula yang dilakukan oleh banyak pemburu wadai lain. Oleh kita semua. Kita cenderung kemaruk pada suatu saat, misalnya pada saat berpuasa, sehingga seolah-olah hanya kita sendirilah yang lapar, dan kelaparan itu akan tuntas ditutup oleh jejalan aneka makanan yang kita cari dan kita siapkan, kalau perlu bahkan sejak matahari terbit.

Puasa, juga menunjukkan, bahwa pada kala tertentu orang tampil sebagaimana aslinya dengan kerakusan purbakalanya, sehingga bukan dirinya yang mengendalikan hawa nafsu –sebagaimana dimaksudkan oleh nilai puasa– melainkan nafsunyalah yang mengendalikan dia sehingga menyebabkannya jadi serakah. Lupa pada sesama di sekitarnya. Lupa bahwa orang lain juga menderitakan hal sama, merasakan kelaparan yang sama, merasakan kesakitan dan kesedihan yang sama dengan yang bisa kita rasakan.

Mungkin karena keserakahan macam itu pula bangsa kita tak juga kunjung reda dirundung masalah. Belum selesai satu persoalan, muncul soal baru yang lebih rumit dan menyengsarakan rakyat kecil.

Kita menikmati buka puasa dengan hidangan dan kue-kue yang berlimpah yang dibeli di Pasar Wadai, di Pasar Beduk dan di Pasar Airmata, di Food Court di mall-mall, di restoran cepat saji, dan sejenisnya, sementara banyak anggota masyarakat kita yang justru sahur pun tak sempurna karena makanan mereka tak cukup.

Seakan memang sudah lazim bahwa kita cenderung lebih mencitnai harta benda duniawi dan bernafsu untuk menguasainya sendiri tanpa peduli orang lain. Kita cenderung ingin menikmati sendiri kelezatan-kelezatan duniawi macam itu, sehingga macam-macam pasar tetap ramai. Pusat-pusat belanja tetap sesak dikunjungi meski –kata orang– bangsa kita sedang dilanda krisis.

Puasa memberi pelajaran sangat berharga pada saya, bahwa sebanyak apa pun wadai dan kue yang saya beli dengan penuh hasrat di Pasar Wadai, Pasar Beduk dan Pasar Airmata, ternyata tak pernah bisa saya habiskan sendiri.

kuejajanLapar dan dahaga –yang tampaknya membuat nafsu terangsang untuk berbuat tamak– sepanjang siang hingga senja pada bulan puasa, ternyata sudah cukup dipenuhi hanya oleh segelas air hangat dan sepotong kecil kue. Sesudah itu, makanan-makanan lain tampaknya tidak lagi menarik.

Setiap menyantap hidangan berbuka, saya selalu gelisah dan diam-diam memaki diri karena belum juga bisa berbuat banyak pada orang lain.

Saya sadar, sementara saya bersukacita menikmati buka puasa, di tempat lain ada banyak saudara saya yang dirundung duka dan berlinangan airmata karena hidup mereka demikian sengsara. Apakah dilanda bencana, diharu-biru amuk massa, dinodai, dilecehkan dan diintimidasi sesama.  (yusran pare))

19
Okt
07

PERANG

RAMADAN, umat Islam memandangnya sebagai bulan yang sarat rahmat dan maghfirah. Bulan penuh rahmat dan berlimpah pahala. Bagi para pebisnis, bulan ini pun memberinya berkat dan bayang-bayang keuntungan yang berlipat.

TENGOK saja pusat perbelanjaan, pasar swalayan, toko-toko baik yang merupakan jaringan usaha multinasional maupun yang digerakkan saudagar lokal. Begitu memasuki – dan selama bulan Ramadan- mereka berlomba menyedot sebanyak mungkin pembeli. Orang pun berbondong-bondong menggelontorkan duit yang mungkin saja merupakan hasil tabungan selama setahun.

Ramadan dijadikan bungkus bisnis oleh para pelaku usaha untuk mengisap sebanyak mungkin keuntungan dari kegairahan sebagian warga yang bersiap menyambut suka cita hari raya di akhir Ramadan nanti.

Kegairahan untuk memasuki pertempuran rohani, telah dimanfaatkan dengan begitu baik oleh kalangan pebisnis untuk merangsang pola konsumtif yang meledak-ledak. Para saudagar dengan enteng mengiming-imigi aneka kemudahan dan ‘kemurahan’ dan para peminat dengan rakus menyerbunya.

Fenomena seperti ini boleh jadi tak sekadar menunjukkan tingkat kemakmuran, melainkan lebih ke kesungguhan ummat manusia untuk menunaikan seluruh kewajiban agamanya sebagai bukti penghambaan diri secara total kepada Sang Khalik.

Mungkin benar kata Anthony de Mello, bahwa pada titik tertentu kebahagiaan manusia tak terkait dengan faktor-faktor dan segala hal yang berada di luar jiwanya. Orang yang menyangka bahwa kebahagiaan bisa dicapai lewat kedudukan, kepakaran, kemakmuran, kepopuleran, bersiaplah untuk kecewa.

Soalnya, kata William Fogel, ketika kemakmuran diraih oleh sekelompok masyarakat, yang terjadi bukannya efek otomatis berupa semakin tingginya indikator kebahagiaan masyarakat bersangkutan, melainkan justru melahirkan deprivasi spiritual.
Kemakmuran ternyata juga melahirkan kesepian dan kondisi lain di mana manusia merasa dirinya telah tiba pada suatu puncak pencapaian. Setelah itu, ia kembali mencari-cari asal dirinya.

Jika problem semacam itu dibiarkan berlarut, maka peradaban masyarakat itu sendiri tengah berada dalam ancaman ambruk. Mengapa? Karena inti atau pilar penopang nilai-nilainya -yakni manusia-manusia yang berada di dalamnya- sedang berada dalam situasi rapuh, mudah terancam rongrongan.

Untuk mengatasi hal inilah lembaga-lembaga dan institusi keagamaan akan tampil sebagai pemberi dorongan moral dan spiritual bagi ornag-orang yang jadi rapuh justru karena kemakmuran yang dicapainya itu.

Dalam lingkup yang lebih konkret, peningkatan kemakmuran juga bisa berarti peningkatan amalan moral seseorang. Logikanya, bagaimana manusia bisa mengembangkan kemampuan spiritualitasnya lebih optimal jika kesanggupannya untuk menolong mereka yang sedang membutuhkan tidak ada sama sekali.

Nah, bagi umat Islam, Bulan Puasa adalah saat-saat yang tepat untuk mengembangkan kemampuan spiritualitas itu. Bulan puasa bukanlah sekadar ritus besar hari-hari penebusan dosa dan pembersihan diri, melainkan jauh lebih dari itu.

Ia juga merupakan kesempatan besar untuk membuktikan kemampuan manusia berperang melawan dirinya sendiri. Inilah perang yang paling sulit dilakukan dan dimenangkan oleh siapa pun yang merasa diri sebagai manusia. Selamat!***

19
Okt
07

Spirit Iblis

yusran.gif 

MUNGKIN ada yang masih ingat, saat kanak-anak kita sering diintgatkan bahwa setan dan iblis senantiasa dibelenggu pada bulan puasa. Sangat boleh jadi, dalam banyangan nalar kecil kita, yang berseliweran di senatero bumi pada bulan puasa itu, semata para malaikat penebar berkah, pembawa kebaikan, dan pemelihara kedamaian.

Tentu saja bayangan itu kini telah terganti oleh semacam pemahaman bahwa pada Bulan Ramadan manusialah yang dikondisikan untuk membelenggu dan mengendalikan diri dari bisikan dan bujuk-rayu para iblis, konco serta kroninya. Toh, para iblis –bahkan mungkin sekadar antek-anteknya– selalu saja berhasil menggoda manusia.

Lihat saja, selama dua pekan memasuki Ramadan ini kita menyaksikan, membaca, menyimak, dan mendengar, ada saja orang yang terbius bisikan iblis. Di Cibatu, Garut, misalnya. Sangat boleh jadi atas pengaruh iblislah, seorang pemuda tega menghabisi tiga anak beranak. Di Bandung, seorang lelaki menghabisi lelaki lain yang pernah jadi suami istrinya, lalu ia bunuh diri.

Di Ternate, Maluku Utara, polisi dan tentara bentrok. Korban pun jatuh dari kedua belah pihak, Ada yang meninggal, banyak pula yang cedera. Ini bukan yang pertama. Bentrokan demi bentrokan yang terjadi antara prajurit TNI dan Polri ini, sebenarnya makin memperkuat persepsi publik bahwa hingga kini pemahaman sekaligus kultur demokrasi belum tumbuh di kedua institusi tersebut.

Dalam kerangka demokrasi, segala sesuatu diselesaikan secara hukum. Kalau aparat TNI merasa dirugikan secara hukum oleh aparat Polri, sebaiknya TNI menempuh prosedur yang berlaku. Begitu pula sebaliknya. Kalau mereka masih menggunakan cara kekerasan, berarti keduanya belum siap berdemokrasi. Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, maka bukan tidak mungkin bentrokan antara aparat TNI-Polri masih akan berulang dan berulang lagi.

Di Jakarta, menjelang buka puasa, mahasiswa –yang mestinya mengedepankan nalar ketimbang otot– terlibat dalam bentrokan sangat kasar yang berlanjut hingga lepas buka puasa. Di pihak lain, seorang petinggi Komisis Yudisial diberitakan tertangkap tangan menerima sogokan, padahal selama tiga dekade ia dikenal sebagai tokoh bersih.

Percikan-percikan peristiwa ini mungkin bisa dianggap menggambarkan, betapa kekerasan dan permusuhan –yang dianggap sebagai bagian dari karakter iblis– masih selalu menampilkan wajah aslinya. Betapa spirit iblis masih saja mengoyak ketenteraman dan ketenangan rohaniah warga kita yang sedang berusaha terus membangun kehidupan yang lebih baik dan meningkatkan derajat kemanusiaan.

Para ulama bilang, sebagai makhluk yang paling sempurna dari sekian banyak makhluk, manusia punya dua tempat yang saling bertolak belakang. Ia akan menduduki peringkat tertinggi yang bisa mengungguli kedudukan para malaikat, bila mampu menampatkan dirinya pada derajat ketinggiannya itu. Namun ia akan terpuruk ke tempat paling hina bila melalaikan fitrahnya sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya.

Dengan kemampuannya berbuat dan kemampuan berolah pikir, manusia tentu bisa mengatasi serbuan iblis dalam berbagi dimensinya, sehingga bisa menciptakan kedamaian dalam hidup ini.
Itu yang semestinya. Sedangkan yang terjadi dalam kenyatan, acapkali justru bertolak belakang dengan apa yang semestinya itu.

Di berbagai tempat dalam berbagai situasi, selalu saja ada orang yang menggunakan kemampuan berbuat dan kemampuan berolahpikirnya justru untuk membenarkan dan menghalalkan tindakannya yang jelas-jelas bertolak belakang dengan kemestian normatif yang berlaku di lingkungannya.

Kita tentu sepakat bahwa kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Semangat silaturahmi yang dilandasi cinta kasih antarsesamalah yang mestinya jadi perekat utama pergaulan sosial masyarakat kita, kapan dan di mana dan dalam situasi apa pun. Terlebih pada bulan Ramadan, saat-saat yang diyakini berlimpah rahmat kemuliaan. Karena, untuk kemuliaan itulah kita hidup. Gloria Dei homo vivens. (yusran pare)

19
Okt
07

PERUBAHAN

Kekayaan informasi menjadi aset berharga dan akan memenangkan pertarungan. Kenapa hanya diam?” (achmad subechi)

PERUBAHAN berjalan amat sangat cepat. Jarum jam terus bergerak seiring dengan pergulatan manusia dalam menghidupi dirinya. Persaingan antar perusahaan tidak hanya terjadi di level tataran kelas (pemain) bawah dan menengah. Pemain atas semakin gila –super cepat– dalam membuat dan menciptakan inovasi. Pengambilan keputusan pun juga tidak bertele-tele. Model baru dari desain organisasi bakal menggantikan skema birokratis dan hierarkhis yang sudah dianggap kuno

ORGANISASI bisnis –bergerak di bidang informasi– dan masih menggunakan gaya lama yang selama ini tidak mampu mengelola pengetahuan (informasi) dengan baik karena cara-cara yang dipakai konvensional, bakal tertelan bumi alias tidak laku lagi. Sebesar apapun perusahaan yang mereka kelola, niscaya bakal lewat (ketinggalan kereta) karena kurangnya kesiapan dalam mengantisipasi datangnya era informasi dan era digital.

Banyak perusahaan cukup ternama dan mampu bertahan puluhan tahun, akhirnya tumbang di tengah jalan karena memang tidak mampu menjawab tantangan yang setiap hari terus berubah. Selain sistem manajeman yang mereka buat terlalu bertele-tele, ternyata perusahaan tersebut tidak disiapkan jauh-jauh hari dalam menjawab tantangan di era informasi. Mereka cenderung memfokuskan diri pada produk semata dan sibuk menyusun strategi yang monoton –mengandalkan kemampuan SDM secara fisik (otot), bukan intelektual serta siasat yang dibangun berbau klasik.

Gaya manajemen semacam itu kini sudah tidak laku lagi. Bahkan kedepan, kekuatan mesin –alat produksi— secara bertahap akan digantikan oleh kekuatan daya pikir manusia. Maknanya, ilmu pengetahuan akan menjadi hal yang sangat penting dalam revolusi ekonomi, karena peranannya akan mendominasi perekonomian dunia. Konkritnya ilmu pengetahuan bakal menjadi sumber daya ekonomi paling unggul dibandingkan bahan mentah.

Kadang kita agak terlambat dan sangat terlambat dalam menangkap dan memprediksikan peluang-peluang bisnis yang berbasis ilmu pengetahuan dengan menggunakan kekuatan intelektual sebagai modalnya.

Saya secara pribadi salut dengan manusia-manusia yang cerdas –selalu berinovasi– dan sudah lari sekian puluh ribu kilometer, dibanding diri kita sendiri yang masih berdiam di sini tanpa berbuat sesuatu. Bayangkan, ketika era digital sudah semakin menggeliat di negeri ini –fenomena handphone—kita cenderung hanya sebagai penonton atau penikmati dari muncul sebuah tekhnologi yang inovasinya nyaris tak pernah berhenti.

Indonesia sendiri menjadi lahan subur bagi perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di dunia tekhnologi komunikasi. Pasar yang jelas dan pola atau gaya hidup konsumen yang cenderung mudah berubah –mengikuti trend kekinian– membuat perusahaan tekhnologi (raksasa) di dunia tekhnologi melempar produknya ke Indonesia.

Di tengah perang inovasi itu, ternyata ada juga kelompok manusia yang pandai membaca peluang bisnis. Misalnya, fenomena SMS yang sudah cukup lama merebak di negeri ini. Dengan menjual konten (informasi), mereka setiap hari meraup uang berpuluh-puluh miliar. Saya mendapat kabar dari seorang teman, bahwa pendapatan dari SMS kuis berhadiah yang dipasang di media elektronik cukup menggiurkan. Dalam satu kali tayang (satu jam) ternyata jumlah pengirimnya mencapai 60.000 orang. Jika kita kalikan, 60.000 X Rp 2000, maka uang yang nasuk mencapai Rp 120 juta. Itu baru satu stasiun televisi. Kalau pihak penyelenggara memasang di 10 televisi, berarti perjamnya mereka mampu meraup uang Rp 1,2 miliar per hari. Saya tidak bisa membayangkan kalau dalam sehari mereka mampu membooking lima jam. Pasti penghasilan atau revenue yang diterimanya berlipat-lipat.

Belum lagi SMS yang menyangkut (konten) berita, informasi terkini, ramalan bintang, doa, lagu, solusi, pengobatan dan lain-lain. Mereka rupanya lebih jago daripada kita yang selama ini selalu terjebak pada rutinitas. Kunci keberhasilan mereka adalah bagaimana mempromokan program acaranya sehingga informasi itu bisa diketahui publik lalu masyarakat ikut terlibat di dalamnya. Sebuah cara yang cerdas… Kerja sedikit, uang yang masuk berlimpah. Kuncinya dimana? Ya… terletak pada kekuatan olah pikir manusia yang terus melakukan inovasi dengan memanfaatka kemajuan tekhnologi.

Jadi dengan berbasiskan ilmu pengetahuan dan informasi, maka ujung-ujungnya akan menjadi sebuah kekuatan yang terus mengalir ke bawah menuju pelanggan (market), kemudian menghasilan kapital yang berlipat. Apalagi, selama ini pengetahuan dan informasi, sangat dominan dalam mempengaruhi konsumen. Diprediksikan, pengetahuan akan menjadi faktor produksi tunggal. Itu artinya, kita harus siap bekerja dengan kepala (intelektual) dan bukan lagi dengan otot atau bokong (duduk di kursi).

***

ASET intelektual, selama ini memang tidak pernah diidentifikasi oleh para akuntan, kecuali aset-aset perusahaan (mobil, mesin, gedung dan lain-lain). Padahal sudah dapat dipastikan, kemampuan intelektual sumber daya manusia (SDM) sangat menentukan maju dan mundurnya sebuah perusahaan.

Kalau dulu perusahaan tidak mengelola daya pikir SDM dan organisasi di perusahaan berjalan lambat (bertele-tele karena terbentur masalah birokrasi), kini cara-cara seperti itu tidak bisa lagi dipakai atau diterapkan. Kalau dulu pemimpin bisnis lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membangun sistem manajemen, sekarang mereka lebih baik mencari cara untuk menghapuskan sistem tersebut. Dan model baru dari desain organisasi dipastikan menggantikan skema birokratis dan hierarkhis yang dianggap kuno.

Selain itu, ekonomi berbasis pengetahuan akan mempengaruhi karier dan strategi baru bagi perusahaan yang berbasis informasi untuk mencapai kunci kesuksesan. Dan kemampuan intelektual pimpinan serta karyawan merupakan aset paling berharga di era informasi sekarang ini. Dengan modal intelektual, maka perusahaan akan mendapatkan laba cukup dramatis.

Akibat masuknya era informasi dan digital, maka mereka-mereka yang selama ini merasa nyaman menduduki kursi-kursi tertentu, jangan harap bisa bertahan lama. Kemapanan akan lenyap seiring dengan berjalannya waku yang kian cepat. Begitu juga perusahaan-perusahaan besar yang selama ini belum siap, bahkan tidak pernah secuil pun memikirkan datangnya sebuah perubahan (era informasi), dapat dipastikan akan kehilangan pengaruhnya.

Celakanya lagi, di banyak perusahaan di negeri ini, masih ada pimpinan dan karyawan yang hanya menjadi penonton atas datangnya sebuah pembaharuan dan perubahan di dunia tekhnologi. Bukannya mereka tidak tahu, tetapi rata-rata di antaranya mereka memang kurang melek tekhnologi. Sementara ada juga karyawan yang sudah mengantisipasi datangnya perubahan –era informasi—tapi mereka tidak berani menyampaikan informasi itu kepada pimpinan untuk disikapi. Mereka cenderung diam dan tak mau berbuat apa-apa karena keburu skeptis.

Akibatnya, ketika kompetitor sudah berlari teramat kencang, maka semangat atau spirit untuk bersaing justru tenggelam karena mereka tidak menguasai ilmu pengetahuan dan tak memiliki SDM yang handal –melek tekhnologi.

Kabar terakhir dari kawan saya, pemerintah Malaysia saja sampai saat ini masih membutuhkan puluhan ribu tenaga karyawan di bidang tekhnlogi informasi (TI). Begitu juga Singapura dan beberapa negara yang sedang berkembang lainnya. Mereka rupanya sudah dan tengah menyiapkan antisipasi dalam menghadapi era informasi.

Entah sudah berapa banyak tenaga TI asal Indonesia yang lari ke sejumlah negara tersebut untuk menjawab tantangan. Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan? Perubahan macam apakah yang harus kita perbuat? Lalu bagaimana perubahan itu bisa membawa sukses menuju pintu kemenangan di era informasi? Dan bagaimana caranya mengelola pengetahuan dan memanfaatkan modal intelektual yang bisa menghasilkan keuntungan besar? Jawabnya ada pada diri kita masing-masing…. (achmad subechi)