19
Okt
07

PERANG

RAMADAN, umat Islam memandangnya sebagai bulan yang sarat rahmat dan maghfirah. Bulan penuh rahmat dan berlimpah pahala. Bagi para pebisnis, bulan ini pun memberinya berkat dan bayang-bayang keuntungan yang berlipat.

TENGOK saja pusat perbelanjaan, pasar swalayan, toko-toko baik yang merupakan jaringan usaha multinasional maupun yang digerakkan saudagar lokal. Begitu memasuki – dan selama bulan Ramadan- mereka berlomba menyedot sebanyak mungkin pembeli. Orang pun berbondong-bondong menggelontorkan duit yang mungkin saja merupakan hasil tabungan selama setahun.

Ramadan dijadikan bungkus bisnis oleh para pelaku usaha untuk mengisap sebanyak mungkin keuntungan dari kegairahan sebagian warga yang bersiap menyambut suka cita hari raya di akhir Ramadan nanti.

Kegairahan untuk memasuki pertempuran rohani, telah dimanfaatkan dengan begitu baik oleh kalangan pebisnis untuk merangsang pola konsumtif yang meledak-ledak. Para saudagar dengan enteng mengiming-imigi aneka kemudahan dan ‘kemurahan’ dan para peminat dengan rakus menyerbunya.

Fenomena seperti ini boleh jadi tak sekadar menunjukkan tingkat kemakmuran, melainkan lebih ke kesungguhan ummat manusia untuk menunaikan seluruh kewajiban agamanya sebagai bukti penghambaan diri secara total kepada Sang Khalik.

Mungkin benar kata Anthony de Mello, bahwa pada titik tertentu kebahagiaan manusia tak terkait dengan faktor-faktor dan segala hal yang berada di luar jiwanya. Orang yang menyangka bahwa kebahagiaan bisa dicapai lewat kedudukan, kepakaran, kemakmuran, kepopuleran, bersiaplah untuk kecewa.

Soalnya, kata William Fogel, ketika kemakmuran diraih oleh sekelompok masyarakat, yang terjadi bukannya efek otomatis berupa semakin tingginya indikator kebahagiaan masyarakat bersangkutan, melainkan justru melahirkan deprivasi spiritual.
Kemakmuran ternyata juga melahirkan kesepian dan kondisi lain di mana manusia merasa dirinya telah tiba pada suatu puncak pencapaian. Setelah itu, ia kembali mencari-cari asal dirinya.

Jika problem semacam itu dibiarkan berlarut, maka peradaban masyarakat itu sendiri tengah berada dalam ancaman ambruk. Mengapa? Karena inti atau pilar penopang nilai-nilainya -yakni manusia-manusia yang berada di dalamnya- sedang berada dalam situasi rapuh, mudah terancam rongrongan.

Untuk mengatasi hal inilah lembaga-lembaga dan institusi keagamaan akan tampil sebagai pemberi dorongan moral dan spiritual bagi ornag-orang yang jadi rapuh justru karena kemakmuran yang dicapainya itu.

Dalam lingkup yang lebih konkret, peningkatan kemakmuran juga bisa berarti peningkatan amalan moral seseorang. Logikanya, bagaimana manusia bisa mengembangkan kemampuan spiritualitasnya lebih optimal jika kesanggupannya untuk menolong mereka yang sedang membutuhkan tidak ada sama sekali.

Nah, bagi umat Islam, Bulan Puasa adalah saat-saat yang tepat untuk mengembangkan kemampuan spiritualitas itu. Bulan puasa bukanlah sekadar ritus besar hari-hari penebusan dosa dan pembersihan diri, melainkan jauh lebih dari itu.

Ia juga merupakan kesempatan besar untuk membuktikan kemampuan manusia berperang melawan dirinya sendiri. Inilah perang yang paling sulit dilakukan dan dimenangkan oleh siapa pun yang merasa diri sebagai manusia. Selamat!***

Iklan

0 Responses to “PERANG”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: