Arsip untuk Desember, 2007

27
Des
07

Maafkan Saya, Mang!

awan2.jpg

BERITA duka itu datang sesaat setelah saya mengaktifkan telepon genggam begitu turun dari Lion Air di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin, Senin (17/12/2007). “Mang Cepi telah pergi siang ini. Innalillahi wainna ilaihi rajiun” demikian pesan singkat dari istri saya di Bandung.

Tjeppy Rachmansyah, kami memanggilnya Mang Cepi, boleh jadi merupakan orang yang pertama memperkenalkan saya –secara tidak langsung– ke dunia jurnalistik. Saya ingat betul, ketika masih di SMP (di Ujungberung), saat liburan biasanya saya habiskan di Cijagra, Buahbatu, di Komplek Wartawan.

Mang Cepi sudah bekerja sebagai wartawan Gala (saya lupa, apakah saat surat kabar itu sudah terbit harian atau masih mingguan). Seringkali ia mengajak saya ke kantornya di sebuah gedung tua di Jalan Asia Afrika, berseberangan dengan Gedung PLN, tak jauh dari Gedung Merdeka. Sering saya menungguinya mengetik. Sering pula dibonceng sepedanya mengantar kope (maksudnya, copy, naskah hasil ketik yang sudah dicorat-coret kode editing), ke percetakan.

Melalui dia pula, perlahan-lahan saya mengerti bagaimana seorang jurnalis bekerja. Ia sering mengajak saya untuk menemaninya dalam perjalanan mencari bahan tulisan. Dengan sepedanya — tentu saya dibonceng– kami menelusuri pojok-pojok Bandung. Sekali waktu, misalnya, dia mengajak saya menyusuri jalan setapak sampai tiba di sebuah ceruk yang oleh penduduk setempat dinamai Leuwi Goong.

Di situ ada jembatan yang di atasnya membentang rel kereta api (jurusan Bandung Ciwidey — jalur ini sudah tidak aktif). Di bawah jembatan beton itu terdapat sebuah lorong melengkung, yang ternyata dihuni seorang perempuan tua. (Sekarang, jembatan itu masih ada, lorongnya juga digunakan penduduk untuk semacam pos ronda), tapi kiri-kanan, depan-belakang sudah padat-dat-dat oleh permukiman).

Bandung pada tahun 1971-72 belum sepadat hari-hari ini, belum banyak tuna wisma. Jadi, mungkin (menurut pikiran saya saat ini) agak mengherankan jika ternyata ada seorang perempuan yang bertahun-tahun hidup di kolong jembatan kereta, di pinggiran kota, jauh dari kepadatan perkampungan. Karena itu, Mang Cepi menemuinya.

Saya menemani Mang Cepi ngobrol panjang lebar dengan perempuan tua itu, sampai kemudian dirasanya cukup. Lalu ia memotretnya. Beberapa hari kemudian, kisah ibu ini –lengkap dengan potretnya– muncul di halaman 1 GALA, bagian bawah (saya mengenalnya kemudian sebagai tulisan feature yang ditempatkan sebagai anchor/angker halaman).

Saya ingat, ketika ngobrol dengan perempuan tua itu Mang Cepi tidak menulis (apalagi merekam — alat macam ini belum populer) apa pun, karena tidak membawa catatan. Anehnya –bagi saya– cerita yang ditulisnya di koran persis sama dengan apa yang jadi topik obrolan antara dia dengan perempuan tua itu. Saya masih kanak-kanak, jadi tidak menimbrung percakapan. Cuma pendengar dan penyaksi.

Begitulah, pertemanan antara paman dan keponakan ini berlangsung terus sampai masa-masa sesudahnya. Baik ketika saya di SMEA (Sumedang), maupun setelah jadi mahasiswa. Di waktu-waktu luang, Mang Cepi seringkali mengajak saya jalan, menemaninya ke kantor, dan menungguinya bekerja. Atau menemaninya Jumatan di mesjid yang berbeda-beda pada setiap Jumat.

Sebagai wartawan, pergaulannya luas. Yang saya tangkap, Mang Cepi bukan termasuk wartawan salon yang lebih sering keluar masuk kantor pemerintah dan mengutip pernyataan-pernyataan birokrat. Ia adalah orang lapangan tulen, yang selalu menjelajah untuk menemukan bahan-bahan yang kemudian dilalorkannya di koran.

Tulisannya enak dibaca. Deskripsinya kuat. Jika membaca tulisannya, kita seolah jadi bagian dari cerita, seperti sedang menyaksikan dan turut serta hadir dalam peristiwa yang dikisahkannya. Pergaulan lapangannya yang luas membuat dia akrab dengan berbagai orang di dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari tentara hingga birokrat, mulai dari preman, perempuan terpinggirkan, hingga waria.

gala-gala-anSaya ingat, dia pernah membuka rubrik tetap pada harian GALA, isinya mirip-mirip Jakarta Undercover-nya Bandung versi akhir tahun 70-an. Rubrik itu dijudulinya Dunia Lain Wanita Kita berisi kisah-kisah manusiawi yang sarat human interest, dari kehudupan remang-remang yang terpaksa dijalani sebagian kaum perempuan.

Kecerdikannya menggunakan data-data dan fakta-fakta, serta memanfaatkan jaringan pergaulannya yang luas, membuatnya mampu menuliskan kisah-kisah kaum perempuan yang terpinggirkan itu tanpa ia harus “ambil bagian” sebagai pelaku di dalamnya. Ceritanya jadi kisah yang humanis. Tidak terjebak pada sensasi selera rendah.

Terus terang, banyhak hal yang diam-diam saya serap dari dia yang kemudian –tanpa saya sadari– saya gunakan manakala menulis. Karena terpicu olehnya saat-saat saya di SMP, maka ketika di SMEA saya menerbitkan GEMA, majalah sekolah (stensilan) tiga bulanan. Di perguruan tinggi (Uninus), saya mengaktifkan majalah kampus (WARTA) yang kemudian jadi penyemangat berdirinya Fakultas Ilmu Komunikasi di universitas itu, hingga kini.

Dengan jurus-jurus menulis yang saya serap dari Mang Cepi pula, saya menulis feature kisah lucu mengenai dua mahasiswi Malaysia yang jadi anggota rombongan kunjungan ke kampus ke Unpad.

Tulisan itu merupakan karya pertama saya (bukan sebagai wartawan), yang ketika dikirim ke redaksi Bandung Pos, langsung dimuat kesokan harinya tanpa ada perubahan editing satu titik pun. Mulai dari judul, “Nama Saya Kamsiah! Gerrr… Mahasiswa Unpad Pun Tertawa” hingga titik akhir tulisan!

Jadi, bisa di bilang, Mang Cepi telah menuntun saya ke dunia jurnalistik. Disadarinya atau tidak, dia telah menjadi inspirasi dan mengajari tanpa menggurui. Ia jadi patron di awal-awal saya memasuki dunia kepenulisan.

***

awan11.jpg

AKHIR November 2007 tiba-tiba saja saya dikejutkan kabar bahwa ia terkena stroke dalam perjalanan dari Garut. Padahal, ketika terakhir kami berjumpa saat lebaran, ia masih seperti biasa, ceria dan ramai berkisah. Ia pencerita yang ulung, tidak saja dalam tulisan, tetapi juga dalam bertutur.

Begitu mendapat kabar tersebut, kami buru-buru menuju rumah sakit MMC di ujung tol Padaleunyi, Cileunyi. “O, Pak Cepi baru saja pulang, tadi pukul empat,” kata perawat. Kami datang sekitar 30 menit lebih lambat. Berarti, sudah pulih. Tak terlalu parah, begitu pikir saya.

Beberapa hari kemudian saya kontak Dani, adik saya. Mengajaknya bersama-sama menjenguk Mang Cepi di rumahnya. Kami sepakat menjenguk pada hari Minggu 9 Desember. Hari-hari itu, sejak tanggal 6 Desember, saya dan istri sedang bolak-balik ke Rumah Sakit Immanuel Bandung, menjenguki rekan sekerja, Lina Maliana, yang kritis digerogoti kanker.

Minggu pagi, datang kabar, mang Cepi dirawat di RS Al Islam, Jalan Soekarno Hatta. Kami buru-buru ke rumah Dani (tak jauh dari RS itu) menjemputnya untuk sekalian menjenguk Sang Paman. Ternyata, keliru. Mang Cepi bukan dirawat di RS Al Islam, tapi di RS Al Ihsan, Baleendah.

Ketika kami menengoknya Minggu siang itu, dia sudah tak berdaya. Tubuhnya terbaring di ruang ICCU Rumah Sakit Al Ihsan, Baleendah, Bandung. Matanya kosong seperti menatap lorong ketiadaan. Selang penopang hidup bersaling-silang. Tak ada yang bisa kami lakukan.

Esoknya, muncul kabar dari dr Tessa –putri sulung Mang Cepi– bahwa kondisinya sudah stabil. Tinggal pemulihan. Hari-hari itu, kami sedang larut dalam kesedihan. Lina, sahabat saya di kantor, dan akrab dengan istri saya, pergi untuk selamanya Minggu senja menjelang magrib. Hari-hari berikutnya saya masih sempat mendapat dua kabar via SMS dari Tessa mengenai pekrembangan sang ayah.

Senin pagi 17 Desember, saya berangkat dari Bandung menuju Banjarmasin via Jakarta. Tiba di Banjarmasin menjelang sore (WIB kira-kira pukul 14.00), saat saya turun dari Boeing 737 900 ER itulah sms kabar duka mengenai Mang Cepi masuk.

Inna lillahi wainna ilaihi rajiun. Segala yang berasal dariNYA, semua kembali kepadaNYA. Deg! Ada rasa bersalah, karena tak bisa menengoki dan menungguinya kala ia terbaring sakit. Bahkan, saat ia pergi pun saya yak bisa mengantarnya. Maafkan saya, Mang. ***

Iklan
27
Des
07

“Kembali” ke Kupang

bildad11.jpg

IKAN BAKAR — Menikmati ikan bakar di pantai Kupang (1997) bersama Bildad (paling kiri), Paul Bolla dan pasangannya, kemudian Ana Jukana, Peter A Rohi, dan Hans Christian Louk. Ikan termasuk murah di Kupang, terutama kalau kita mau beli langsung dari nelayan pas mereka naik dari laut. Ikan segar itu langsung dibersihkan dengan air laut, dibakar, disantap. Gurih sekali.

Buku Kiriman Dion

KAKA.. Ini be kirim buku 15 Tahun Pos Kupang. Baca sudah! Tapi jang bilang-bilang orang laen. Be cuma bawa beberapa sa untuk ketong pung teman yang perna di Kupang, na!”

ITULAH yang dibisikkan Dion Dosi Bata Putra, Pemimpin Redaksi Pos Kupang di sela-sela Rapat Kerja pimpinan koran-koran daerah Persda di Ciater, Subang, Jawa Barat, 5 Desember 2007. Ia merogoh ransel, mengeluarkan buku bersampul biru.

Saat membacanya kemudian, saya tersedot kembali ke Kupang. Kembali ke masa-masa belajar dari para guru, mulai dari Bildad sampai Pius Rengka. Dari pendeta Paul Bolla, sampai Pater Jan Menjang (alm). Dari Daniel Rattu sampai guru besar Damyan Godho, dan masih banyak nama lagi yang harus saya sebut dengan rasa hormat karena telah begitu bermurah hati membagikan ilmu mereka.

Saya teringat kembali ketika untuk pertama kali menjejakkan kaki di Pulau Karang itu pertengahan tahun 1995. Apa yang disaksikan lewat jendela pesawat, tanah tandus kecoklatan dengan tonjolan-tonjolan karang, jadi lebih nyata beberapa saat setalah mendarat di bandara El Tari.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, Domu Warandoy dan Evi H Pello yang menjemput saya, menunjukkan tempat-tempat di kiri kanan jalan yang kami lalui. Aduh! Tak terbayangkan bagaimana sulitnya mengembangkan koran di tempat seperti ini. Tempat di mana beli dan baca koran entah jadi prioritas keberapa dalam kehidupan sehari-hari warganya.

Pertama terbit 1 Desember 1992, sampai saat itu (1995) Pos Kupang terbit teratur sebagai koran harian berformat tabloid delapan halaman. Ya, tabloid. Ya, cuma 8 halaman. Atau setara dengan selembar koran broadsheet! Dicetak hitam-putih, dengan logo POS KUPANG di kiri atas. Jadi, meskipun “setebal” delapan halaman, koran ini jadi tipis jika selesai dibaca langsung kita lipat-lipat, masuk saku.

Sekarang, setelah berusia 15 tahun, tentu saja Pos Kupang tidak seperti dulu lagi. Ia terbit dalam bentuk broadsheet 16 halaman, dengan empat halaman warna. Ia pun sudah melakukan cetak jarak jauh di Ende dan di Maumere (Flores) di seberang laut. Nah, buku kiriman Dion itu antara lain berkisah tentang jejak langkah perjalanan Pos Kupang.

Ada testimoni dari pada pelaku, maupun mantan pelaku (banyak yang sudah berhasil di berbagai bidang, baik di NTT maupun di ibu kota dan di daerah lain), dan lebih banyak lagi berisi telaah mengenai peran Pos Kupang pada berbagai sisi kehidupan masyarakat di provinsi itu. Tokoh masyarakat, ilmuwan, kaum rohaniwan, kalangan birokrat, mantan pejabat dan lain sebagainya menuliskan pandangan kritis mereka terhada surat kabar ini.

Dus, meski buku ini diterbitkan menandai 15 tahun surat kabar itu, ia terhindar dari kesan sebagai kecap dapur yang biasanya lebih banyak berisi puji-pujian atas diri sendiri. Ia sekaligus jadi referensi yang cukup bernas mengenai perkembangan pers dan perannya di dalam kehidupan masyarakat setempat.

Tapi, bagi saya, buku itu seakan membawa saya kembali ke Kupang. Melalui buku ini, saya “bertemu” lagi dengan para guru yang luar biasa gairahnya membangun koran di negeri kering dan serba minim. Saya “bertemu” lagi dengan Pius Rengka yang kata-katanya luar biasa tajam, kokoh, dan indah.

“Bertemu” lagi dengan Hans Ch Louk yang ramah, suaranya pelan dan seperti tak pernah punya marah, namun tulisan-tulisannya lugas dan menyentak. “Betemu” lagi dengan pak pendeta, Yulius O Lopo yang kini jadi direktur pemberitaan Top TV Papua. Kepada merekalah –tentu pula dengan Dion dan Om Damyan Godho yang jadi tokoh sentral Pos Kupang— saya belajar banyak bagaimana gairah, ruh, spirit, bahu-membahu untuk menjalankan sebuah niat, membangun koran. Dan, mereka berhasil.

di-bandung-nasi-pun-berpayung-kaka.jpg

Santap malam sebelum rapat kerja: “Ai Kaka… di Bandung, nasi pun berpayung ko?

***

SAYA masih ingat betul, bagaimana sulitnya merekrut tenaga wartawan. Ketika itu, Pos Kupang baru saja ditinggal “bedol desa” oleh sejumlah wartawan dan redakturnya yang ikut Valens Goa Doy yang diberi kepercayaan mengelola Berita Yuda versi baru. Belakangan, proyek Berita Yuda itu tak berlanjut.

Rekrutmen pertama, berhasil menghimpun kemudian menyaring calon wartawan. Empat orang! Kami melatihnya secara penuh, kelas dan lapangan. Sampai akhir masa pelatihan, tak ada satu pun yang memadai. Bisa dipaksakan, tapi akan menyiksa mereka sendiri dan mungkin mengganggu sistem. Maka, buka lagi rekrutmen. Hasilnya, nihil lagi.

Toh, akhirnya dapat juga. Itu setelah berlangsung rekrutmen “ronde” ketiga. Dari sejumlah pelamar yang masuk dan lulus testing, kali ini tampak bibit-bibit yang sangat potensial. Dan terbukti, sebagian di antara mereka kini menduduki posisi-posisi penting di Pos Kupang. Satu dua lainnya, juga jadi tokoh jurnalis di luar Pos Kupang.

Itu dari satu sisi, SDM. Sisi lain, infrastruktur, jalur distribusi, persebaran penduduk di puluhan pulau, adalah tantangan lain yang hanya akan bisa diterobos dengan gairah yang dimiliki para awak Pos Kupang. Jika tidak, koran itu mungkin kini tinggal nama, bukan lagi jadi satu pilar yang kokoh dalam kehidupan demokrasi dan bisnis di NTT sebagaimana sosoknya yang tampak hari-hari ini.

Sebelum belajar ke Pos Kupang, saya sudah “sekolah” di Bandung (Bandung Pos, Mingguan Pelajar, Salam, dan kemudian Mandala – saat koran ini digandeng Kelompok Kompas-Gramedia), di Yogya (Bernas), di Palembang (Sriwijaya Post). Sarana, fasilitas dan infrastruktur di koran-koran itu boleh dibilang termasuk sederhana untuk ukuran sebuah industri koran di Jawa dan Sumatera saat itu. Tapi, begitu masuk ke Pos Kupang, saya seperti sedang menyaksikan dan ikut dalam sebuah gegar tekonologi (jika istilah ini ada).

Sampai pada proses pracetak, infrastruktur Pos Kupang tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang digunakan di Bernas. Tapi begitu masuk proses cetak, ya ampun. Saya seperti terlontar ke masa silam. Masa sekitar tahun 70-an, manakala saya sering ngintil paman saya mengantarkan naskah untuk korannya ke percetakan Ganaco NV di Bandung. Itu pun, mesinnya sudah agak lebih “modern” dibanding dengan yang digunakan Pos Kupang.

Sebagai ilustrasi, untuk mencetak 3000-4000 Pos Kupang saat itu, kami membutuhkan waktu antara 6-7 jam! Selain mesin, puluhan orang –tetangga sekitar– juga terlibat dalam penerbitan surat kabar ini. Tiap pagi, mulai pukul 03.00 belasan orang berderet di meja lipat di sisi lain percetakan. Ya, mereka jadi juru lipat dan juru sisip koran tabloid “setebal” delapan halaman itu!

Itu jika mesin tidak ngadat. Namanya mesin sepuh yang “berpengalaman” panjang, tentu pula acapkali macet. Ada saja gangguannya. Sampai-sampai pernah Om Damy meminta khusus pastor memberkati mesin itu. Menyembahyangi, kemudian memercikkan air suci.

Toh, mesin tak jua mau kompromi, sesekali penyakitnya datang lagi. Sampai sekali waktu, Om Damy mendatangkan paranormal untuk –jika ada– mengusir demit penyakit yang ngendon di itu mesin. Upacara pun digelar di lantai pelat baja sisi mesin. Potong ayam dan mengucurkan darahnya di lantai. Lalu ditaruhlah telur di atas genangan kecil darah itu. Beberapa saat kemudian, darah terserap entah ke mana!

Paranormal itu bermeditasi, merapal mantra, lalu bangkit bergerak ke arah mesin. Ia menunjuk sebuah titik hitam di sisi luar dinding mesin itu. Mengorek-ngoreknya sebentar, dan…. seperti ujung rambut, sepotong kawat mencuat. Ditariklah kawat itu, ternyata panjang. Seperti terkait ke suatu mekanisme di dalam mesin.

Dan ternyata, mesin itu tetap saja dengan sifat tuanya. Sesekali masih ngadat dan ogah mencetak. Jika sudah begini, tak ada jalan lain kecuali memindahkan cetakan ke Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) milik Deppen setempat.

Tapi, bagi saya, “pastor” maupun “pawang” mesin itu yang sesungguhnya adalah Ign Setya Mudya Rahartono (kini mengepalai unit cetak Pos Kupang). Putra Yogya inilah yang dengan telaten ngopeni mesin peninggalan zaman “purba” itu hingga mampu mengantar Pos Kupang menuju masa-masa kejayaan.

Tokoh lain yang menurut saya berpedan besar adalah Bildad yang berhasil memegang kunci pengelolaan infrastruktur teknologi informatika Pos Kupang. Yang mengagumkan saya dari Bildad, adalah dia belajar secara otodidak mengenai IT. Pada masa itu, di Kupang belum ada lembaga, bahkan sebatas, kursus mengenai komputer/IT. Ilmu yang berhasil dikuasasinya ternyata menjadi tulangpunggung kelancaran proses kerja penerbitan surat kabar di Tanah Timor itu.

Selain  soal mesin dan keterbatasan infrasutrktur pendukung,  kertas juga jadi masalah utama, karena sangat tergantung pada pengriman dari Surabaya. Kapal pengirim, tergantung cuaca. Pernah sekali waktu, proses pracetak sudah rampung, tapi percetakan tak bisa bergerak karena kertas habis. Kiriman belum masuk karena kapal tertahan jauh dari pelabuhan. Belum bisa merapat.

Maka, menjelang tengah malam, Om Damy dan Domu melesat ke seantero pojok kota Kupang, menggedori toko yang menjual kertas ukuran plano. Dapat! Beberapa rim, cukup untuk oplaag hari itu. Mesin cetak pun bergerak. Dan hari itu Pos Kupang terbit warna warni. Kertasnya, yang warna warni! Ada yang warna telur-asin, hijau muda, kuning muda, putih, ada yang gabungan antara kertas putih dan warna lain!

Hebatnya, koran itu tetap laris dibeli orang!

***

borong-abis-na.jpg

ayo-foto-bersama-yang-melirik-nona-sendiri.jpg

Usai rapat kerja, 6 Desmber 2007, singgah ke Tribun Jabar. Ayo foto bersama! ajak Dion. Klik, dan di antara “kebersamaan” itu, cuma satu orang yang melirik ade nona! Hehehehehe…. Atas: Sempat pula pi pesiar sambil borong abis macam-macam barang. Saya diapit Dion dan Daud (Pemimpin Perusahaan Pos Kupang)

***

ITU cuma sekelumit dari gambaran nyata keadaan saat itu. Kini cerita itu tentu tinggal kenangan. Para kerabat kerja Pos Kupang telah mulai mereguk hasil kerja keras mereka yang tiada henti. Koran ini sudah mendarah daging dan jadi bagian hidup warga NTT, menjadi ruh informasi mereka, menjadi penerang, jadi penggerak opini publik, jadi pengontrol yang awas dan dipercaya.

Dion yang kini jadi pemimpin redaksi koran itu selalu bersemangat saat menceritakan, membandingkan dan menggugat, jika kami sedang rapat kerja, setidaknya setahun sekali. Keadaan sekarang, mungkin sudah jauh berubah. Setidaknya, sarana, fasilitas, dan infrastruktur pendukung, mungkin sudah lebih baik dibanding 12-15 tahun silam.

Tapi, tentu segalanya masih jauh tertinggal oleh perkembangan yang terjadi di daerah-daetah lain di luar NTT, terutama di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Toh Dion Cs tetap dalam spiritnya, tetap dalam gairah yang sama dengan saat-saat saya mulai berguru kepada mereka 12 tahun silam. Hebat!

Buku yang dihadiahkannya itu sedikit mengobati kerinduan saya untuk menghirup kembali udara Kupang. Setidaknya, lewat buku itu saya bertemu dan “mendengar ” pembicaraan mereka, tidak saja mengenai Pos Kupang, melaikan mengenai hal-hal lain yang ingin saya ketahui dalam konteks kekinian.

Terimakasih, Dion. Terimakasih Om Damyan Godho. Terimkasih para guru besar saya di Kupang !! **

orang-bandung-makan-daun-ko.jpg

“Orang Bandung cuma makan daun ko, Kaka?”

16
Des
07

Lina, Selamat Jalan..

lina-marliana.jpg

SOSOK supel dan pekerja keras itu akhirnya pergi untuk selamanya. Lina Marliana, meninggalkan keluarga, kerabat dan teman-temannya di Tribun Jabar dalam usia 34 tahun, di Rumah Sakit Immanuel, Minggu (9/12) pukul 17.49 WIB.

Lina yang bergabung bersama Tribun Jabar sebagai Manajer Keuangan sejak Desember 2004, itu masuk Immanuel sejak Rabu (5/12). Sejak dua tahun lalu, wanita kelahiran Garut 30 November 1973 ini digerogoti kanker. Beberapa kali ia sempat dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Sepanjang dalam pengawasan medis, Lina selalu berusaha masuk kantor dan menyelesaikan pekerjaannya. Seringkali rekan-rekannya mengingatkan agar ia segera pulang dan jangan terlalu memaksakan diri bekerja.

Yang menonjol dari Lina memang semangat hidup yang tinggi. Ia tak pernah mengeluh, bahkan sering bersenda-gurau ketika sedang rileks. Namun kegigihan Lina harus berakhir setelah kanker yang dideritanya itu merenggutnya, Minggu (9/12) pukul 17.49, disaksikan ibunda tercinta, Liu Tjung Ing, kakaknya Edy Hermanto, dan dua adiknya, Andri dan Anton Hilman, serta beberapa kerabatnya.

Mereka menangis dan berdoa. Duka juga meliputi semua rekan kerjanya, mulai pimpinan dan anak buahnya, yang ikut menyaksikan detik-detik akhir hidup Lina.

Sentriyanto, Wakil Direktur Kelompok (Wadirkel) Persda, perusahaan yang menaungi harian pagi Tribun Jabar, tak kuasa menahan tangis saat tiba dari Jakarta dan melihat Lina sudah dikafani. Sebulan lalu, saat ia menjenguk Lina ke rumahnya, Lina sempat menyatakan ingin curhat.

“Namun urung dilakukan, karena tak mau didengar maminya,” katanya. Sentri, sapaan akrab Sentriyanto, sangat menyesal karena tak pernah mendengar apa sebenarnya yang ingin diungkapkan Lina itu.

Di mata Pemimpin Perusahaan Tribun Jabar, Pitoyo, Lina adalah sosok pekerja keras dan selalu mengerjakan pekerjaannya hingga tuntas, sehingga sering kali rapat sampai larut malam. Ketika tengah sakit pun selalu memaksakan diri, namun sebagai pimpinan, Pitoyo selalu mencegah dan mengingatkannya.

“Dia itu selalu memberi pertimbangan dengan angka dan data, dan selalu melihat dalam skala jangka panjang, sehingga saya sangat terbantu dalam mengambil keputusan,” ujar Pitoyo yang kemarin ikut mengantar ke Rumah Duka Bumi Baru II di Jalan Holis.

Begitu pula di mata Yusran Pare, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar. “Saya sangat kehilangan, sulit mencari pengganti seperti dia. Ulet,” katanya. Menurut Yusran, Lina sosok yang lebur ketika ia sudah keluar dari ruangan keuangan, bergaul bersama siapa pun tidak kaku.

Yoba, Manajer Iklan Tribun Jabar, merasakan kepedihan begitu sahabatnya meninggalkan alam fana ini, terlebih karena ada rencana yang belum terlaksana. “Dia mengajak berlibur ke Bali dan ke Pulau Umang, tapi Tuhan menghendaki lain,” ujarnya dengan suara tercekat.

Di mata semua rekannya di Tribun Jabar, yang paling terlihat dari Lina memang kegigihannya dalam menyelesaikan pekerjaan di bagian Keuangan. Saat ia sudah berbaring di ranjang rumah sakit pun, Kamis (6/12), masih saja ingat soal pekerjaan.
“Dia itu sungguh-sungguh dalam bekerja, tapi baik dalam memimpin, sehingga kami sebagai anak buahnya merasa sangat kehilangan,” ujar Yuli, staf Bagian Keuangan.

Keluarga melakukan upacara tutup peti Senin (10/12) pukul 19.00, dan esoknya, Selasa (11/12) pukul 08.00 diberangkatkan ke Cirebon untuk kemudian diperabukan di krematorium Mundu, Cirebon. Abunya ditabur di Laut Jawa. (Cecep Burdansyah Manager Produksi Tribun Jabar)

****

 

16
Des
07

Back to Malioboro

p1010019-copy1.jpgp1010018-copy1.jpgdavid-kunto.jpg

REUNI kecil itu terjadi tanggal 4 November 2007. Bertemu Kunto yang sudah jadi bos di Galang Press dan David yang jadi ekesekutif muda di pabrik susu terkenal, Sarihusada. Luar biasa menyenangkan. Gabung Mas Agoes Widhartono. Lengkaplah untuk sementara. Setidaknya, kerinduan agak terpenuhi.

Saya juga berkesempatan “reuni” dengan istri saya, dan adik sepupu, Nurul yang kuliah di Gajah Mada. Disebut reuni, karena hari-hari itu saya sedang bertugas di Banjarmasin. Tanggal 3 November bertolak ke Semarang via Surabaya, untuk menghadiri resepsi pernikahan putri Mas Pramono BS, pada 4 November. Sedangkan istri saya dari Bandung dengan kereta. Kami bergabung di Semarang.

Usai resepsi, langsung bertolak ke Yogya, karena saya harus berangkat ke Banjarmasin lagi keesokan harinya via Adisutjipto. Itu sebabnya, saya bisa “reuni” dengan teman-teman dan guru-guru saya di Yogya. Jadi, selesai “reuni” istri saya pulang ke Bandung, saya pulang ke Banjarmasin.

Tempat yang paling pas untuk bertemu lagi dengan para guru itu tentu saja di Malioboro, tempat dahulu kami biasa berkumpul di warung lesehannya Mas Yoyok, yang ternyata tak banyak berubah. Tetap awet muda, tetap ramah.

Dulu, nyaris tiap malam, sepulang kantor saya singgah di warung Mas Yoyok. Lewat tengah malam, biasanya para musisi Malioboro satu persatu bergabung, setelah mereka “berdinas” dari ujung ke ujung jalan.

Reuni jadi lengkap ketika teman-teman lama, para pengamen yang sebagian besar kini sudah jadi pengisi acara di hotel-hotel, ikut bergabung. Ada Pras, Gareng, nDut, Andi, juga Yanes jagoan gitar asal Manggarai Flores, dan lain-lain. Belakangan muncul si Biola Maut, Kitri yang juga saksofonis handal. Tiupannya tak kalah oleh Dave Koz.

Luar Biasa!!

16
Des
07

Syair dari Masa Silam

syair.jpg

Pesona yang Luruh

 

Senandung sang pesona
Lirih sendu dalam desah sunyi
Terjaga mimpi dan bulan yang syahdu
O, di mana citra
Yang terhampar di angin
Hanya debu menyesakkan dada
Di kerimbunan hijau yang luruh
Teriknya hari-hari
Datang, menjelmalah lagi
Sejuta pesona, harumnya persada
Datang, tepislah nestapa
Hari-hari terancam
Bencana, duka jiwa……..

iman.jpgSYAIR di atas langsung mengalir keluar dari ingatan masa silam saya, ketika Iman Handiman memposting komentarnya pada blog ini. Tak cuma syair, melainkan juga iramanya yang begitu melodius.

Ya, Iman adalah satu di antara guru saya menulis. Ia tak hanya piawai menuliskan cerita berupa laporan jurnalistik, melainkan juga ahli menulis syair, sekaligus memetik gitar.

Suatu hari, di awal 1980-an dia menunjukkan kepada saya sebuah kaset. Kaset ini berisi sejumlah lagu. Sebagian di antara lagu-lagu itu, syairnya dia yang tulis. Kaset itu bukan sembarang kaset, karena merupakan kaset dengan 12 lagu yang siap diproduksi. Produsennya, PT Musica Studio.

Kaset itu berisi rekaman awal (semacam dummy/praproduksi). Isinya masih berupa musik dasar yang mengiringi vokal penyanyinya. Belum dilengkapi ilustrasi lain. Vocal pengisi lagu itu adalah Rafika Duri.

Rupanya, Iman bersama rekannya, Cecep Ahmad Sudradjat, seorang muisi Bandung waktu itu, berkolaborasi. Iman banyak menulis syair, Cecep mencipta lagu. Cecep membawa lagu-lagu mereka ke Jakarta, dan Musica menerimanya. Dua belas lagu!! Termasuk Pesona yang Luruh, yang syairnya saya kutip di atas.

Dari segi melodi, Pesona dianggap paling menjual. Namun kata Iman saat itu, produsen meminta agar liriknya diubah karena terlalu “nyosial” tidak ada sentuhan cinta. Itu sebabnya, Cecep mengirim satu kopi kaset musik dasar itu kepada Iman, agar jadi panduan saat mengubah syairnya.

Maka sibuklah Iman. Beberapa kali dia mengajak saya mendengarkan lagu itu berulang-ulang sambil mencoba mencorat-coretkan kata, mengganti lirik Pesona –yang bernapaskan lingkungan– menjadi lagu dengan lirik bersuasana cinta. Berhari-hari, kami coba mencoar-coret mencari kata yang tepat, kemudian mengetiknya.

fikabw1Sekali waktu, dengan gapah-gopoh Iman bercerita bahwa syair hasil perubahan itu ditunggu siang itu juga di Jakarta karena lagunya dipastikan dijadikan judul album. Apa boleh buat, syair baru hasil rombakan itu pun dikirim, meski belum sempurna betul.

Persoalan lain muncul, yaitu bagaimana cara mengirimkan syair dengan cepat? Tak mungkin mendiktekan syair via telepon interlokal (duit pasti tak cukup, hehehe!!). Jalan tercepat dan paling tepat adalah mengirim lirik itu via …. telegram.

Beberapa minggu kemudian, album baru Rafika Duri pun beredar. Betul saja, lagu yang liriknya dikirim via telegram itu dijadikan judul album. Lagu itu kemudian sangat terkenal dan menjadi hit di berbagai stasiun radio, kasetnya laris, bahkan sempat dijadikan tema dasar film dengan judul yang sama: Tirai

Kita telah bersama
Sekian lama dalam cita cinta
Namun tiada jua rasa saling itu
Seia sekata
Selayakanya kau coba
Menyingkapkan tirai kasih kita
Begitu jauh kurengkuh hatimu
Di seberang jalanku
Lelah, lelah hati ini
Menggapai hatimu tak jua menyatu
Lelah, lelah hati ini
Bagaimana kelak kuakan melangkah di sisimu
 
https://www.youtube.com/watch?v=d0z0NujeLtY