27
Des
07

“Kembali” ke Kupang

bildad11.jpg

IKAN BAKAR — Menikmati ikan bakar di pantai Kupang (1997) bersama Bildad (paling kiri), Paul Bolla dan pasangannya, kemudian Ana Jukana, Peter A Rohi, dan Hans Christian Louk. Ikan termasuk murah di Kupang, terutama kalau kita mau beli langsung dari nelayan pas mereka naik dari laut. Ikan segar itu langsung dibersihkan dengan air laut, dibakar, disantap. Gurih sekali.

Buku Kiriman Dion

KAKA.. Ini be kirim buku 15 Tahun Pos Kupang. Baca sudah! Tapi jang bilang-bilang orang laen. Be cuma bawa beberapa sa untuk ketong pung teman yang perna di Kupang, na!”

ITULAH yang dibisikkan Dion Dosi Bata Putra, Pemimpin Redaksi Pos Kupang di sela-sela Rapat Kerja pimpinan koran-koran daerah Persda di Ciater, Subang, Jawa Barat, 5 Desember 2007. Ia merogoh ransel, mengeluarkan buku bersampul biru.

Saat membacanya kemudian, saya tersedot kembali ke Kupang. Kembali ke masa-masa belajar dari para guru, mulai dari Bildad sampai Pius Rengka. Dari pendeta Paul Bolla, sampai Pater Jan Menjang (alm). Dari Daniel Rattu sampai guru besar Damyan Godho, dan masih banyak nama lagi yang harus saya sebut dengan rasa hormat karena telah begitu bermurah hati membagikan ilmu mereka.

Saya teringat kembali ketika untuk pertama kali menjejakkan kaki di Pulau Karang itu pertengahan tahun 1995. Apa yang disaksikan lewat jendela pesawat, tanah tandus kecoklatan dengan tonjolan-tonjolan karang, jadi lebih nyata beberapa saat setalah mendarat di bandara El Tari.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, Domu Warandoy dan Evi H Pello yang menjemput saya, menunjukkan tempat-tempat di kiri kanan jalan yang kami lalui. Aduh! Tak terbayangkan bagaimana sulitnya mengembangkan koran di tempat seperti ini. Tempat di mana beli dan baca koran entah jadi prioritas keberapa dalam kehidupan sehari-hari warganya.

Pertama terbit 1 Desember 1992, sampai saat itu (1995) Pos Kupang terbit teratur sebagai koran harian berformat tabloid delapan halaman. Ya, tabloid. Ya, cuma 8 halaman. Atau setara dengan selembar koran broadsheet! Dicetak hitam-putih, dengan logo POS KUPANG di kiri atas. Jadi, meskipun “setebal” delapan halaman, koran ini jadi tipis jika selesai dibaca langsung kita lipat-lipat, masuk saku.

Sekarang, setelah berusia 15 tahun, tentu saja Pos Kupang tidak seperti dulu lagi. Ia terbit dalam bentuk broadsheet 16 halaman, dengan empat halaman warna. Ia pun sudah melakukan cetak jarak jauh di Ende dan di Maumere (Flores) di seberang laut. Nah, buku kiriman Dion itu antara lain berkisah tentang jejak langkah perjalanan Pos Kupang.

Ada testimoni dari pada pelaku, maupun mantan pelaku (banyak yang sudah berhasil di berbagai bidang, baik di NTT maupun di ibu kota dan di daerah lain), dan lebih banyak lagi berisi telaah mengenai peran Pos Kupang pada berbagai sisi kehidupan masyarakat di provinsi itu. Tokoh masyarakat, ilmuwan, kaum rohaniwan, kalangan birokrat, mantan pejabat dan lain sebagainya menuliskan pandangan kritis mereka terhada surat kabar ini.

Dus, meski buku ini diterbitkan menandai 15 tahun surat kabar itu, ia terhindar dari kesan sebagai kecap dapur yang biasanya lebih banyak berisi puji-pujian atas diri sendiri. Ia sekaligus jadi referensi yang cukup bernas mengenai perkembangan pers dan perannya di dalam kehidupan masyarakat setempat.

Tapi, bagi saya, buku itu seakan membawa saya kembali ke Kupang. Melalui buku ini, saya “bertemu” lagi dengan para guru yang luar biasa gairahnya membangun koran di negeri kering dan serba minim. Saya “bertemu” lagi dengan Pius Rengka yang kata-katanya luar biasa tajam, kokoh, dan indah.

“Bertemu” lagi dengan Hans Ch Louk yang ramah, suaranya pelan dan seperti tak pernah punya marah, namun tulisan-tulisannya lugas dan menyentak. “Betemu” lagi dengan pak pendeta, Yulius O Lopo yang kini jadi direktur pemberitaan Top TV Papua. Kepada merekalah –tentu pula dengan Dion dan Om Damyan Godho yang jadi tokoh sentral Pos Kupang— saya belajar banyak bagaimana gairah, ruh, spirit, bahu-membahu untuk menjalankan sebuah niat, membangun koran. Dan, mereka berhasil.

di-bandung-nasi-pun-berpayung-kaka.jpg

Santap malam sebelum rapat kerja: “Ai Kaka… di Bandung, nasi pun berpayung ko?

***

SAYA masih ingat betul, bagaimana sulitnya merekrut tenaga wartawan. Ketika itu, Pos Kupang baru saja ditinggal “bedol desa” oleh sejumlah wartawan dan redakturnya yang ikut Valens Goa Doy yang diberi kepercayaan mengelola Berita Yuda versi baru. Belakangan, proyek Berita Yuda itu tak berlanjut.

Rekrutmen pertama, berhasil menghimpun kemudian menyaring calon wartawan. Empat orang! Kami melatihnya secara penuh, kelas dan lapangan. Sampai akhir masa pelatihan, tak ada satu pun yang memadai. Bisa dipaksakan, tapi akan menyiksa mereka sendiri dan mungkin mengganggu sistem. Maka, buka lagi rekrutmen. Hasilnya, nihil lagi.

Toh, akhirnya dapat juga. Itu setelah berlangsung rekrutmen “ronde” ketiga. Dari sejumlah pelamar yang masuk dan lulus testing, kali ini tampak bibit-bibit yang sangat potensial. Dan terbukti, sebagian di antara mereka kini menduduki posisi-posisi penting di Pos Kupang. Satu dua lainnya, juga jadi tokoh jurnalis di luar Pos Kupang.

Itu dari satu sisi, SDM. Sisi lain, infrastruktur, jalur distribusi, persebaran penduduk di puluhan pulau, adalah tantangan lain yang hanya akan bisa diterobos dengan gairah yang dimiliki para awak Pos Kupang. Jika tidak, koran itu mungkin kini tinggal nama, bukan lagi jadi satu pilar yang kokoh dalam kehidupan demokrasi dan bisnis di NTT sebagaimana sosoknya yang tampak hari-hari ini.

Sebelum belajar ke Pos Kupang, saya sudah “sekolah” di Bandung (Bandung Pos, Mingguan Pelajar, Salam, dan kemudian Mandala – saat koran ini digandeng Kelompok Kompas-Gramedia), di Yogya (Bernas), di Palembang (Sriwijaya Post). Sarana, fasilitas dan infrastruktur di koran-koran itu boleh dibilang termasuk sederhana untuk ukuran sebuah industri koran di Jawa dan Sumatera saat itu. Tapi, begitu masuk ke Pos Kupang, saya seperti sedang menyaksikan dan ikut dalam sebuah gegar tekonologi (jika istilah ini ada).

Sampai pada proses pracetak, infrastruktur Pos Kupang tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang digunakan di Bernas. Tapi begitu masuk proses cetak, ya ampun. Saya seperti terlontar ke masa silam. Masa sekitar tahun 70-an, manakala saya sering ngintil paman saya mengantarkan naskah untuk korannya ke percetakan Ganaco NV di Bandung. Itu pun, mesinnya sudah agak lebih “modern” dibanding dengan yang digunakan Pos Kupang.

Sebagai ilustrasi, untuk mencetak 3000-4000 Pos Kupang saat itu, kami membutuhkan waktu antara 6-7 jam! Selain mesin, puluhan orang –tetangga sekitar– juga terlibat dalam penerbitan surat kabar ini. Tiap pagi, mulai pukul 03.00 belasan orang berderet di meja lipat di sisi lain percetakan. Ya, mereka jadi juru lipat dan juru sisip koran tabloid “setebal” delapan halaman itu!

Itu jika mesin tidak ngadat. Namanya mesin sepuh yang “berpengalaman” panjang, tentu pula acapkali macet. Ada saja gangguannya. Sampai-sampai pernah Om Damy meminta khusus pastor memberkati mesin itu. Menyembahyangi, kemudian memercikkan air suci.

Toh, mesin tak jua mau kompromi, sesekali penyakitnya datang lagi. Sampai sekali waktu, Om Damy mendatangkan paranormal untuk –jika ada– mengusir demit penyakit yang ngendon di itu mesin. Upacara pun digelar di lantai pelat baja sisi mesin. Potong ayam dan mengucurkan darahnya di lantai. Lalu ditaruhlah telur di atas genangan kecil darah itu. Beberapa saat kemudian, darah terserap entah ke mana!

Paranormal itu bermeditasi, merapal mantra, lalu bangkit bergerak ke arah mesin. Ia menunjuk sebuah titik hitam di sisi luar dinding mesin itu. Mengorek-ngoreknya sebentar, dan…. seperti ujung rambut, sepotong kawat mencuat. Ditariklah kawat itu, ternyata panjang. Seperti terkait ke suatu mekanisme di dalam mesin.

Dan ternyata, mesin itu tetap saja dengan sifat tuanya. Sesekali masih ngadat dan ogah mencetak. Jika sudah begini, tak ada jalan lain kecuali memindahkan cetakan ke Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) milik Deppen setempat.

Tapi, bagi saya, “pastor” maupun “pawang” mesin itu yang sesungguhnya adalah Ign Setya Mudya Rahartono (kini mengepalai unit cetak Pos Kupang). Putra Yogya inilah yang dengan telaten ngopeni mesin peninggalan zaman “purba” itu hingga mampu mengantar Pos Kupang menuju masa-masa kejayaan.

Tokoh lain yang menurut saya berpedan besar adalah Bildad yang berhasil memegang kunci pengelolaan infrastruktur teknologi informatika Pos Kupang. Yang mengagumkan saya dari Bildad, adalah dia belajar secara otodidak mengenai IT. Pada masa itu, di Kupang belum ada lembaga, bahkan sebatas, kursus mengenai komputer/IT. Ilmu yang berhasil dikuasasinya ternyata menjadi tulangpunggung kelancaran proses kerja penerbitan surat kabar di Tanah Timor itu.

Selain  soal mesin dan keterbatasan infrasutrktur pendukung,  kertas juga jadi masalah utama, karena sangat tergantung pada pengriman dari Surabaya. Kapal pengirim, tergantung cuaca. Pernah sekali waktu, proses pracetak sudah rampung, tapi percetakan tak bisa bergerak karena kertas habis. Kiriman belum masuk karena kapal tertahan jauh dari pelabuhan. Belum bisa merapat.

Maka, menjelang tengah malam, Om Damy dan Domu melesat ke seantero pojok kota Kupang, menggedori toko yang menjual kertas ukuran plano. Dapat! Beberapa rim, cukup untuk oplaag hari itu. Mesin cetak pun bergerak. Dan hari itu Pos Kupang terbit warna warni. Kertasnya, yang warna warni! Ada yang warna telur-asin, hijau muda, kuning muda, putih, ada yang gabungan antara kertas putih dan warna lain!

Hebatnya, koran itu tetap laris dibeli orang!

***

borong-abis-na.jpg

ayo-foto-bersama-yang-melirik-nona-sendiri.jpg

Usai rapat kerja, 6 Desmber 2007, singgah ke Tribun Jabar. Ayo foto bersama! ajak Dion. Klik, dan di antara “kebersamaan” itu, cuma satu orang yang melirik ade nona! Hehehehehe…. Atas: Sempat pula pi pesiar sambil borong abis macam-macam barang. Saya diapit Dion dan Daud (Pemimpin Perusahaan Pos Kupang)

***

ITU cuma sekelumit dari gambaran nyata keadaan saat itu. Kini cerita itu tentu tinggal kenangan. Para kerabat kerja Pos Kupang telah mulai mereguk hasil kerja keras mereka yang tiada henti. Koran ini sudah mendarah daging dan jadi bagian hidup warga NTT, menjadi ruh informasi mereka, menjadi penerang, jadi penggerak opini publik, jadi pengontrol yang awas dan dipercaya.

Dion yang kini jadi pemimpin redaksi koran itu selalu bersemangat saat menceritakan, membandingkan dan menggugat, jika kami sedang rapat kerja, setidaknya setahun sekali. Keadaan sekarang, mungkin sudah jauh berubah. Setidaknya, sarana, fasilitas, dan infrastruktur pendukung, mungkin sudah lebih baik dibanding 12-15 tahun silam.

Tapi, tentu segalanya masih jauh tertinggal oleh perkembangan yang terjadi di daerah-daetah lain di luar NTT, terutama di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Toh Dion Cs tetap dalam spiritnya, tetap dalam gairah yang sama dengan saat-saat saya mulai berguru kepada mereka 12 tahun silam. Hebat!

Buku yang dihadiahkannya itu sedikit mengobati kerinduan saya untuk menghirup kembali udara Kupang. Setidaknya, lewat buku itu saya bertemu dan “mendengar ” pembicaraan mereka, tidak saja mengenai Pos Kupang, melaikan mengenai hal-hal lain yang ingin saya ketahui dalam konteks kekinian.

Terimakasih, Dion. Terimakasih Om Damyan Godho. Terimkasih para guru besar saya di Kupang !! **

orang-bandung-makan-daun-ko.jpg

“Orang Bandung cuma makan daun ko, Kaka?”

Iklan

17 Responses to ““Kembali” ke Kupang”


  1. Desember 27, 2007 pukul 1:02 pm

    Sonde ada kata lain selain TERIMA KASIH untuk Yusran Pare, kaka, guru, seniorku. Dia ikut membangun Pos Kupang pada masa sulit. Memberi spirit yang masih terwariskan hingga kini. Pos Kupang sungguh jatuh dan bangun. Hidup di tanah berbatu karang. Sungguh dibutuhkan tekad dan semangat baja untuk tetap survive di tengah arus zaman. Luar biasa memori kaka tentang Kupang. Saya sungguh terharu.

  2. Februari 4, 2008 pukul 4:00 pm

    Wah saya juga jadi teringat dengan masa SMU dulu. Saya dulu lumayan sering nulis Opini Remaja dan Puisi ke Pos Kupang. Waktu itu saya, sekelas dengen Vinsen Budi Bata Putra, yang adik kandung Kae Dion, kami berdua sama-sama suka ngirim naskah ke Pos Kupang. Dan kami sangat bangga, ketika tulisan kami dimuat, meski kami tak pernah dibayar, hehehe.

  3. April 17, 2008 pukul 2:51 am

    Salam kenal Bung Yusran. Cerita Pos Kupang ini sangat indah…

    salam,
    el

  4. 4 yusranpare
    April 17, 2008 pukul 3:52 pm

    Senang sekali berkenalan dengan Bung El, bertambah pula guru tempat saya menyerap pengetahuan, nanti. Kupang seakan tanah kelahiran kedua bagi saya. Seatahun saya sekolah di sana, para gurunya luar biasa!

  5. 5 Rihi Here Wila
    Mei 3, 2008 pukul 8:52 pm

    Selamat malam Bung Yusran, senang membaca memori anda tentang Pos Kupang; saya pencinta Pos Kupang sejak masih bertugas di Kupang tahun 1992-1999 dan pernah menulis masalah kesehatan di Pos Kupang. Sampai sekarang saya terus mengikuti NTT lewat Pos Kupang online; Sukses dan salam untuk keluarga di Bandung; demikian juga untuk Pos Kupang, maju terus, Tuhan memberkati.

  6. 6 yusranpare
    Mei 3, 2008 pukul 9:22 pm

    Terima kasih. Beta banyak belajar kepada para guru besar di Kupang. Sungguh, kenangan sangat indah yang sonde beta jumpa di tempat-tempat lain. Salam balik. Senang berkenalan dengan Anda.

  7. Mei 4, 2008 pukul 8:45 pm

    Salam untuk semuanaya dari negri sebrang.

    Begitu baiknya membaca cerita yang penuh inspirasi dan terus berkembang untuk pelayanan media informasi yang sekarang bukan hanya untuk komunitas komunitas warga Kupang tapi menjangkau world wide communities.

    My respect for your efforts and perseverence. Ucapan terimakasih untuk Pos Kupang & crew.

    Francesca Von Reinhaart
    http://www.raijua.com
    http://www.von-reinhaart.com

    Ps. Hello Papa Rihi R.W
    How are you? It’s been a long time I have not been able to get in touch with you Papa. My kind regards and kind thoughts I send Papa and family. Banayak slalam sejahtera dari Australia. Ina Tali.

  8. 8 yusranpare
    Mei 4, 2008 pukul 10:17 pm

    Terima kasih. Saya terharu dan merasa mendapat kehormatan dapat berkenalan dengan seniman multitalenta seperti Bu Francesca. Betul, ienternet telah mempertemukan kita dan membuat jarak antarbenua menjadi hampir tak berarti lagi. Aduh, lukisan dan karya grafis Anda luar biasa!! Begitu pula karya foto. Film pendeknya bagus. Selamat. Terima kasih telah berkunjung. Salam dari Banjarmasin.

  9. 9 Ondy Siagian
    Juli 10, 2008 pukul 1:39 pm

    Haloo Bang Yusran!!
    Seneng baca cerita anda, sepertinya saya terkenang kembali masa-masa di Pos Kupang dulu. Betul kata anda, bahwa banyak guru yang telah menempa saya. Ok selamat dan sukses untuk anda.

  10. 10 yusranpare
    Juli 10, 2008 pukul 9:17 pm

    Terima kasih Bung Ondy. Maafkan kalau saya lupa Anda. Tak apa, internet telah mempertemukan kita tanpa harus bertatap muka. Ya, saya banyak mendapatkan guru di Kupang. Salam.

  11. 11 paul bolla
    Oktober 16, 2008 pukul 11:44 pm

    Hai kaka….kaka pung cerita bikin beta inga kembali ke masa-masa awal pos kupang. Kaka pung batin su tapo’a deng bae…tapi beta tau bolom samua kaka carita. Itu yang beta suka dari kaka…sambunyi yang lain biar ko orang penasaran ko cari tau…
    Kaka mesti akui bahwa Kupang memang kota karang dan gersang, tapi karangnya sonde keras…masih ada rongga-rongga….artinya batong pung tampang kantara ke kras deng mau bakalai sa kalo mata bakatumu…tapi di batong pung hati selalu ada ruang supaya akar-akar kearifan, bakusayang deng sonde lupa balas budi bebas menancap dalam-dalam…Jadi kalao pohon tumbuh di atas tanah itu biasa…tapi di Kupang umumnya kaka musti bilang kalo pohon-pohon tumbuh di atas karang….
    Terima kasih kaka, kapan bisa bakatumu lai, bukan di Bandung tapi di Kupang…kaka pung “minuman” kesayangan nanti beta siapkan….salam untuk keluarga ow…

    Pasti bingung baca tulisan campur bahasa Kupang ya…biar supaya ingat kupang terus..

    paul “tapaleuk” bolla

  12. 12 yusranpare
    Oktober 17, 2008 pukul 2:01 pm

    Puji Tuhan!Akhirnya Pak Pendeta sudi pula singgah.Senang sekali baca “tapaleuk” versi bapak kandungnya. Itu sudah, be su rindu mati pengen pi kupang lai. Tapi Pa’ tahu sendiri be pung kondisi, to? Kermana kabar Ama To’do deng Ina Feok? Aduh… be su son sabar menghirup lai sopi kapala rote, O!

  13. 13 yulius lopo
    Mei 3, 2010 pukul 8:29 pm

    Mas Yusran,begitulah saya biasa memanggil beliau.Saya cukup dekat dengan orangtua Mas Yusran, kenangan tak terlupakan adalah makan ikan pepes. Kami sama-sama orang Bandung, karena mertua saya juga daerah cantik-cantik ini. Pantasan Pemred POS KUPANG melirik ha ha ha ha ….. Tulisan ini kembali mengingatkan saya tentang kenangan2 indah bersama POS KUPANG. Makhlum sekarang saya sudah menjadi orang Papua. Walau pun demikian, kenangan tentang POS KUPANG yang membuat saya menjadi orang seperti sekarang tak terlupakan. Kenangan lain yang tak terlpakan adalah sama-sama mendirikan Metro Bandung yang kini berubah menjadi TRIBUN JABAR. Sukses selalu untuk Mas Yusran, salam untuk papa dan mama di Bandung. (salam mike tyson ha ha ha)

  14. Mei 17, 2010 pukul 9:01 pm

    hai,be numpang do,bisa ba kenal ko….?b pung nama broken

  15. 15 Anita
    September 11, 2010 pukul 4:52 pm

    Hai,, Profisiat buat Pos kupang.. Smoga sllu jdi yg trbaikk…Membaca ini bta seperti terbawa kenangan belasan tahun yg lalu .. punya pengalaman dgn pos kupang yg ta mngkn terlupakan entah samapaikpan.. papa ketika cuma seorng guru tpi suka baca koran .. setiap hari biar mama hnya bsa msak kangkyung di dapur tpi papa snd bleh lewatkan satu edisi pun..heheheh .. dan ktka usia 4 thun ktika pertama kali bljar mmbaca ,,, Pos Kupang lah yg saya Bca… ! Bravo.. Kerja keras dan keuletan serta Dedikasi Tlah dan akn terus mmbawa mu ke puncak.. !

  16. Desember 7, 2010 pukul 5:52 pm

    hallo Bung Yusran, beta tiba-tiba baca blog ini. Lama nian gak ada kontak, mungkin semua sudah pada lupa. Kabar sekarang gimana?

    • 17 yusranpare
      Januari 7, 2011 pukul 10:58 pm

      aduh..beta minta maaf juga, baru sempat buka-buka lagi beta puya blog. beta sekarang di banjarmasin post. Kapan ktong bisa bakatumu lai ya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: