22
Jan
08

Berlari di Kampung Sendiri

agum.jpg

CALON Gubernur Jawa Barat yang diusung tujuh partai, antara lain PDIP dan PPP,  Agum Gumelar dan Numan Abdul Hakim melakukan kunjungan ke media cetak yang terbit di Bandung, Senin (21/1).

Dalam kunjungannye ke kantor redaksi Tribun Jabar, selain didampingi cawabugnya,  Agum Gumelar juga didampingi oleh beberapa anggota tim suksesnya. Di kantor Tribun, Agum disambut Pemimpin Redaksi Yusran Pare, Pemimpin Perusahaan Pitoyo, Redaktur Pelaksana Hasanah Samhudi, serta beberapa redaktur dan wartawan. Acara tersebut berjalan dalam suasan santai dengan penuh selingan humor segar.

Calon gubernur dari PDIP mengaku sudah memastikan untuk bertarung dalam pilgub April mendatang. Kedatangannya ke Tribun pun sekalian untuk ketuk pintu, bukan untuk mendikte pemberitaan media. Bahkan Agum terus terang meminta kritik dari media, karena selama ini ia mengannggap media sebagai alat kontrol yang efektif.

Agum juga menginginkan sebuah proses demokrasi pemilihan kepala daerah di Jawa Barat yang berjalan aman, tertib dan lancar tanpa ada kerusuhan. Alasannya, suhu politik menjelang pilkada Jabar akan semakin memanas. Dengan kondisi itu, ekses pilkada bisa berakibat pada kerusuhan seperti yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Namun ia tak berharap proses pilkada di Jabar tmbul ekses tersebut.

“Demokrasi harganya sangat mahal. Oleh karenanya, saya berharap pada pilkada nanti bisa berjalan aman, tertib dan lancar, sehingga tercapai sasaran demokrasi dan pemerintahan yang didambakan,” kata Agum Gumelar.

Alasannya menggandeng Numan, karena ia tak ingin merangkak jika kelak  terpilih  menjadi gubernur Jabar. Numan yang pernah duduk dalam kursi birokrasi, dinilai sudah sangat mengenal Jawa Barat. Dengan demikian, jika memimpin Jabar, Agum bisa langsung melaksanakan program-programnya.

“Mengapa Numan? Karena kalau terpilih, saya sudah harus berlari mengejar ketertinggalan dari daerah lain. Karena ekspektasi masyarakat Jabar sangat besar, seperti mengatasi kemiskinan, antrean minyak dan sebagainya,” lanjut Agum.

Menurutnya, Jabar secara komparatif sangat unggul. Namun, pada kenyataanya belum mampu bersaing dengan daerah lain. Bahkan kasus masyarakat miskin yang susah berobat masih banyak.

Oleh karenanya, paradigma Jabar harus berubah menjadi provinsi yang mampu bersaing. Caranya, kata Agum, pemerintah tidak lagi menjadi juragan, melainkan menjadi fasilitator dan pelayan masyarakat.

“Jadi kalau terpilih, jangan jadi juragan. Silahkan Tribun mengontrol,” katanya.
Sementara itu, Numan mejelaskan mengapa mau berpasangan dengan Agum. Katanya, ia menghendaki perubahan di Jabar dengan mencari pemimpin yang berpengalaman dalam berorganisasi, tegas dan mampu mewujudkan harapan masyarakat.

Agum dan Numan pun berharap kepada media untuk tetap menjaga idealismenya, tidak memihak kepada partai manapun. (dia)

heryawan.jpg

Petarung Muda

HARI berikutnya, datang calon gubernur (cagub) Jawa Barat H Ahmad Heryawan Lc. Ia mengaku sudah siap berkompetisi dengan para kandidat lainnya yang lebih senior usianya. Meskipun usia masih muda, 41 tahun, ia siap mengabdikan diri untuk melakukan perubahan di Jawa Barat ke arah lebih baik.

Hal itu diungkapkan cagub dari PKS saat berkunjung ke Tribun Jabar, di jalan Malabar, Kamis (24/1). Ahmad datang tidak disertai pasangan cawagubnya, Dede Yusuf.
“Kami ingin ada perubahan di berbagai hal, khususnya konsep Jawa Barat 25 tahun ke depan,” ujar Ahmad yang datang bersama tim suksesnya.

Kehadiran Ahmad di Tribun selama satu jam setengah diterima Pemimpin Redaksi Yusran Pare, Redaktur Pelaksana Hasanah Samhudi dan beberapa redaktur dan wartawan.

Ahmad Heryawan tak menampik kalau popularitas dan pengalaman serta umur kalah dibandingan pasangan Dai (Dani- Iwan) dan Aman (Agum-Numan). Namun hal itu bukan rintangan untuk terus maju dan memenangkan Pilgub, karena masih ada celah dan peluang mendulang suara di kantong-kantong basis PKS dan PAN, termasuk akan membidik pemilih rasional.

Apalagi, Ahmad cukup kenyang dalam berorganisasi, bahkan sudah 18 tahun memimpin ormasi Islam, yakni Persatuan Umat Islam (PUI). Jadi, bagi Ahmad, walau usia muda ia sudah berani untuk jadi pemimpin.

“Mudah-mudahan yang terpilih benar-benar suara terbanyak dan terbaik dari masyarakat yang rasional dan cerdas, bukan memilih  yang terpopuler,” ujar Ahmad.
Menurut Ahmad, Allah SWT sudah tahu dan menuliskannya siapa yang terpilih jadi gubernur Jabar tahun 2008,  tetapi masih ghaib bagi kita dan harus digapai dengan ikhtiar yang bersih jangan membohongi rakyat.

Jika terpilih jadi Gubernur Jabar, Ahmad berjanji akan membangun wilayah yang selama ini terpinggirkan khususnya wilayah selatan. “Saya warga Jabar dari Sukabumi, jelas mengenal wilayah Jawa Barat, jadi tahu daerah mana yang tidak tersentuh pembangunan dan sudah saatnya Jabar dipimpin orang muda,” ujar Ahmad.

Selain harus memperhatikan pembangunan daerah terpencil, yang harus diberikan kepada masyarakat yaitu jaminan keamanan, investasi dan kepastian hukum. “Paradigma pelayanan yang sering menyulitkan harus diubah dengan memberikan kemudahan perizinan bagi masyarakat dan pengusaha serta  aminan keuntungan,” ujarnya.

Meskipun kiprahnya banyak di luar Jabar, yakni di DKI Jakarta, Ahmad mengaku sangat mengetahui persoalan yang terjadi di Jawa Barat, termasuk apa yang menjadi aspirasi masyarakat Jabar.  “Pendidikan, kesehatan, itu akan menjadi prioritas saya kalau kelak terpilih,” katanya. (tsm)

Ya, deh!!!

Iklan

0 Responses to “Berlari di Kampung Sendiri”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: