07
Feb
08

Pileuleuyan Pa Ading

raf.jpg

DAN, Tuhan pun memanggilnya. Rabu 6 Februari 2008, Rahmatullah Ading Affandi (RAF), selepas magrib pergi dengan wajah cerah berseri. Jawa Barat pun kehilangan satu lagi putra terabaiknya. Tokoh multitalenta yang berangkat dari nafas pesantren, dunia seni, lalu karya dan kiprahnya merambah menjalari perkembangan seni budaya tatar Pasundan.

Ia bisa bicara lantang mengenai kesenian, politik, bahkan olahraga. Ia tidak sekadar bicara, tapi juga menulis. Tak cuma menulis naskah drama, sendratari, gending karesmen, tapi juga roman, cerita pendek, puisi, esai, dan analisis.

Membicarakan RAF adalah menatap kembali perkembangan panggung seni pertunjukan di tanah air, karena pikiran, kiprah, dan gagasan-gagasannya kemudian tidak hanya jadi ikon, tetapi jadi patron.

Para seniman Sunda mungkin masih bisa mengingat dengan segar, bagaimana ketika awal tahun 1960-an ia tiba-tiba memunculkan konsep yang sama sekali baru bagi Tembang Cianjuran.

Kala itu di Bandung sudah berkembang 3-4 paguyuban Tembang Cianjuran, tentu semua bersandar pada mamaos. Nah, RAF menghadirkan konsep tembang berbasis puisi. Boleh jadi, karena dia berasal dari ranah itu, ranah sastra.

Selepas Perang Dunia II, dia mulai melahirkan karya-karya dalam bentuk naskah/skenario drama. Sebut saja di antaranya, Dakwaan, Sangkuriang, dan Yaomal Qiyamat yang kemudian mengilhaminya menggubah drama yanng dikemas dalam bentuk “seperti” opera sebagaimana tampak pada Leuwi Sipatahunan (1963).

Untuk ukuran pergelaran pada masa itu, Leuwi Sipatahunan bisalah disebut sebgai pentas kolosal pertama gending karesmen yang melibatkan 25 penembang, 13 kru dan penata artistik.

Dari sini pula titik awal RAF bersama sejawatnya melahirkan Lingga Binangkit, lingkung seni yang memelopori pembaruan tidak saja di bidang seni tembang, tapi merambah ke seni kasidah. Bisa dipahami, karena dalam kiprahnya RAF selalu meniupkan nilai-nilai religius pada karya-karyanya.

Selain memajukan seni Cianjuran, terobosan penting Lingga Binangkit adalah penggunaan alat-alat musik barat seperti gitar dan keyboard dalam seni kasidah. Pada 1970-an.

Penggabungan dua alat musik modern dengan rebana tradisional tersebut sempat memicu kontroversi, terutama dari kalangan pesantren pada masa itu.

Toh, dalam perjalanannya, penggabungan itu bisa diterima masyarakat dan menjadi ciri khas kasidah modern yang terus berkembang hingga sekarang. RAF bersama Lingga Binangkit-nya bisa disebut sebagai pelopor kasidah modern.

April 2005, Pa Ading masih sempat menulis naskah gending yang dijudulinya Wiwitan Indit-inditan. Naskah ini dipentaskan pada perayaan 42 tahun Lingga Binangkit di Gedung Asia Africa Culture Center (gedung Majestic), di Jalan Braga Bandung. (lihat http://linggabinangkit.wordpress.com).

Ia pun membangun komunitas seni Patria yang boleh dikata menjadi wadah persemaian para pelaku seni pertunjukan dan belakangan merambah ke seni peran di Bandung. Hingga kini, rumahnya di komplek Guruminda, Cisaranten –setelah pindah dari jalan Bawean– tak pernah sepi dari aneka kegiatan. Berbagai acara televisi dan hiburan, diproduksi dari “komplek RAF” ini.

Tak pernah secara formal membuka sanggar atau semacamnya, RAF bersama keluarga ibarat magnet yang menyedot para peminat dan penggiat seni untuk selalu bergabung, berinteraksi dan berkarya.

Boleh jadi, ini tak lepas dari prinsip yang selalu ditekankannya sejak lama, bahwa cukup satu syarat saja bagi orang yang memang mencintai seni, yaitu resep (senang/suka), baik pada lingkungan duduluran (kekeluargaan), maupun keindahannya.

Konsep duduluran inilah yang membuat RAF bukan saja merupakan sosok individu, tapi melebar dan menjalarkan spirit menjadi sebuah komunitas persaudaraan. Ke rumahnya, siapa pun yang datang, disambut dengan sukacita.Cag!

Ka hareup neukteuk sajeujeuh
ka tukang nilas saregang
ka hareup seukeut pangjeujeuh
ka tukang awas nyoreang ….

(yusran pare)

***

Perginya Sang Inohong

BUDAYAWAN yang juga tokoh pers, seniman, sastrawan Sunda sekaligus pengamat sepakbola, Rahmatullah Ading Affandie (RAF) wafat pada usia 79 tahun, di RS Advent Bandung, Rabu (6/2) pukul 18.51.

RAF dikenal sebagai penggagas sekaligus penggarap sinetron Sunda Inohong di Bojongrangkong yang ditayangkan TVRI Bandung, itu meninggalkan seorang istri, Ineu Priatnakusumah (78) serta lima anak Niki, Luki, Yogi, Eri, dan Dicki, beserta sembilan orang cucu.

Pria kelahiran Banjarsari, Ciamis 2 Oktober 1929 itu juga menelurkan karya-karya sastra Sunda terbaiknya, antara lain novel Sunda Pipisahan, Nu Kaul Lagu Kaleon, Bentang Lapangan serta Dongeng ti Pasantren.

Ditemui wartawan Tribun di kediamannya di Komplek Guruminda Blok C No 3 Kota Bandung tadi malam, Eri, anak kelima RAF, menuturkan, ayahnya itu menderita kanker kelenjar sejak Juli 2007. RAF sempat beberapa kali dirawat di RS Hasan Sadikin.

Menurut Eri, ayahnya itu diopname di Ruang Anggrek Katalina RSHS sejak Senin (28/1). Bahkan Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan sempat membesuknya, Jumat (1/2).

Pada Senin (4/2) RAF diizinkan pulang ke rumah. Namun Rabu (6/2) subuh RAF mengalami sesak nafas dan dilarikan kembali ke RSHS.

Sayangnya, karena ruang Anggrek RSHS penuh, RAF dilarikan ke Ruang ICU RS Advent. Namun Yang Maha Kuasa menentukan lain. Setelah mendapat perawatan intensif, akhirnya mantan pengurus Persib pada era Omo itu tutup usia hanya beberapa saat setelah azan magrib selesai berkumandang.

Jenazah RAF dikebumikan di Taman Makam Keluarga di Cilanggeng Rancaekek, Kamis (7/2) sekitar pukul 10.00. Sebelumnya, jenazah RAF akan disalatkan di Mesjid Ar Rohmat di Komplek Guruminda. (tor)

Iklan

4 Responses to “Pileuleuyan Pa Ading”


  1. 1 pupung
    Februari 7, 2008 pukul 7:41 am

    Innalillahi wa innaillaihiraaji’uun….
    Mugi-mugi ditampi sagalarupi amal ibadahna, dicaangkeun alam kuburna
    Amiiin….,ya… Rabbal alamiiin…

  2. Februari 8, 2008 pukul 11:51 am

    Ngiring sungkawa ku pupusna Pa RAF. Mugia dihapunten kalepatanana, ditampi iman islamna ku Alloh SWT. Amien. Sim kuring salah sawios nu teu weleh kataji ku karya-karyana. Nuhun kang, parantos ngamuat ieu warta. Wassalam.

  3. 4 yusranpare
    Februari 8, 2008 pukul 2:02 pm

    Amiiiin, sami-sami Pa Nazar. Mugia Gusti Nu Maha Suci maparin tempat anu mulia ka anjeunna, luyu sareng amal-ibadahna. Wilujeng tepang, Pa Nazar. Kitu oge ka Pa Pupung. Hatur nuhun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: