21
Feb
08

Bertemu Dua Iwan

kiri-iwan-ridwan-sulanjana-kanan-iwan-ridwan-abdulrachman.jpg

PERTAMA datang ke kantor kami, Januari 2005, untuk pamit. Tiga tahun kemudian, Rabu 20 Februari 2008, datang untuk sampurasun. Dulu, ia pamit karena jabatannya sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) III Siliwangi habis. Kini, ia “datang lagi” sebagai calon wakil gubernur Jawa Barat. Ia mendampingi Danny Setiawan –gubernur Jabar 2003-2008– diusung koalisi partai Golkar dan Partai Demokrat.

Disebut “datang lagi” karena ia sebenarnya memang bukan orang luar. Sunda pituin pelahiran tanah Pakuan Pajajaran (Bogor) tahun 1951. Ia adalah sosok prajurit bersahaja dan rendah hati. Saat jadi Panglima Siliwangi, rumah dinasnya tak pernah sepi, terutama tiap Kamis malam. Pintunya terbuka lebar menerima warga, sambil ia menggelar pengajian.

Jika pada kedatangan pertama ia hanya didampingi seorang sopir dan ajudan, maka kedatangannya yang kedua “dikawal” agak istmewa. Setidaknya, pendampingnya adalah orang-orang istimewa di bidang masing-masing.

Ada Tjetje Hidajat Padmadinata, politikus ulung, dan boleh dibilang tokoh besar Jawa Barat lintas generasi, progresif. Ada Herman Ibrahim, tentara kritis yang lebih dikenal sebagai analis dan penulis. Ada Budi Radjab, sosiolog. Terus, Ipong Witono, tokoh muda, pengusaha yang lebih komit pada aktivitas budaya dan politik.

Lalu, ada lagi Iwan Ridwan Abdurrachman. Komponis yang memberi warna kokoh pada Trio Bimbo di masa-masa awal. Pencipta Melati dari Jayagiri dan Hymne Siliwangi , pendiri Wanadri –perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunug pertama di Indonesia– dan “guru” Kopassus.

Iwan Abdurrachman tentu bukan orang asing. Setidaknya, ia sudah dikenal gubahan-gubahannya sejak saya remaja (SMP-SMA dulu) juga pada masa-masa gerakan mahasiswa tahun 1977/1978 di Bandung. Kini, ia jadi satu di antara think tank tim sukses Danny-Iwan.

“Saya jadi pendukung Iwan (–dan Danny) bukan karena apa-apa. Lebih karena nama kami sama. Ya, sama-sama Iwan Ridwan. Sama-sama berkumis,” katanya berseloroh. Namun, kata dia, ada yang lebih penting lagi yang tampak dari munculnya pasangan Danny-Iwan ini, yakni kesungguhan dan kesediaan militer berada di bawah pemerintahan sipil. Ya deh!

Kedatangan “dua Iwan” dan para tokoh Jabar di kantor kami tentu saja dimanfaatkan untuk berdiskusi. Maka, hampir tiga jam kami terlibat perbincangan hangat diselingi canda di sana-sini. Suasana pun jadi cair dan santai, sehingga pernyataan-pernyataan Iwan sabagai cawagub terlihat mengalir apa adanya, meskipun ada hal-hal yang masih dirahasiakannya.

Iwan tidak ragu saat mengungkapkan soal alasannya bersedia mendampingi Danny Setiawan dalam Pilgub Jabar 2008.

“Saya sejak dulu hanya ingin jadi pendamping. Dan sekarang ini jelas, Pak Danny membutuhkan pendamping yang bisa mengawasi agar arah kebikajannya tidak melenceng. Karena kalau pengawasnya orang partai lagi, Pak Danny menilai tidak akan bisa berlari cepat. Karenanya Pak Danny memilih mantan militer,” papar Iwan Sulandjana. Ya deh! Lagi.

Namanya juga tebar pesona menjelang pemilihan.***
Iklan

0 Responses to “Bertemu Dua Iwan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: