12
Mei
08

Wisata Rasa Ala Pelukis

ADA lagi yang istimewa pada kunjungan saya ke Yogya kali ini. Mas Hari Budiono dan istrinya, mBak Titiek yang cantik, sejak hari pertama sudah ikut jadi repot. Gopoh-gapah kedua pasangan ini melayani kami habis-habisan, sampai saya dan mamanya anak-anak tak kuasa lagi harus bilang apa.

Jumat 9/5/2008 mereka memboyong kami ke Pakem – terletak di antara Kota Yogya dan Kaliurang– untuk makan siang. Di situ ada sebuah kedai sederhana di tepi jalan. Namanya, Sego Abang Lombok Ijo. Luar biasa! Menunya sederhana tapi membuat selera terpacu.

Nasi dari beras merah disajikan hangat, ditemani kuah pedas lodeh tempe dengan potongan-potongan lombok hijau masih melotot. Pendampingnya “salad”  daun pepaya yang –entah megapa— terasa begitu gurih dan tak sedikit pun ada rasa pahit. Sambal pedas dan empal goreng serta krupuk kampung membuat kami tambah lahap.

Siang berikutnya, saya diajak ke sebuah tempat dekat stadion baru Yogyakarta, tak jauh dari kawasan Ambarukmo agak ke atas. Kali ini santap siangnya istimewa bagi saya,  karena untuk pertama kali itulah saya mencicipi rujak cingur. Dan, ternyata enak betul.

Rujak cingur sudah sangat populer, namun saya tak pernah berani mencicipi karena membayangkan cingurnya itu. Ternyata, Mas Hari sang pelukis yang karya-karyanya saya kagumi itu membalik kesan saya. Rujak cingur ternyata mengugah selera.

Malam berikutnya, bersama Mas Agus saya diajak Mas Hari dan mBak Titiek santap malam di tengah pasar Jejeran, Wonokromo, Pleret, Bantul (kira-kira 12 Km dari Yogya). Di dalam pasar itu ada beberapa warung sate klatak yang buka.  Satu di antaranya adalah tempat  yang biasa dikunjungi Mas Hari, dan tampaknya merupakan yang paling ramai pengunjungnya.

Sate klatak sangat sederhana. Irisan-irisan daging kambing muda ditusuk dengan sebilah kawat baja jeruji sepeda. Tanpa bumbu apa-apa, daging ini dipanggang setelah dilumuri serbuk garam dan merica. Saat dipanggang di atas bara, bubuk garam yang berjatuhan dan terbakar menimbulkan bunyi gemeretak, klatak…klatak..klatak!!. Konon, karena itulah ia disebut sate klatak.

Satenya empuk sekali, dan sama sekali tak menguarkan bau kambing. Hebat, dan… enaaaak…!! Malam itu kami habiskan di rumah  Mas Hari di kawasan Jambusari. Rumah yang asri dan menyatu dengan lingkungan. Nyaman sekali. Terima kasih, Mas Hari. Terima kasih mBak Titiek. (*)

Iklan

0 Responses to “Wisata Rasa Ala Pelukis”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: