07
Jul
08

Pekanbaru, Wow…!!!

TELEPON bergetar. “Kang, ke Pekanbaru ya! Jumat 27 Juni 2008, rangkaian grand final Pemilihan Putri Indonesia (PPI). Anda jadi satu di antara lima juri,” kata Rosa Dharmasari, dari seberang sana. Perempuan energik ini, pemimpin perusahaan Tribun  Pekanbaru, dan koran itu jadi partner penyelenggaraan PPI 2008 untuk wilayah Riau.

 

Ups! Untuk kesekian kali, kembali saya harus turut menilai orang. Berat, memang. Apalah hak awak ini menilai cantik tidaknya seseorang, cerdas tidaknya orang lain, dan sebagainya. Saya sempat menolak dengan berbagai alasan.

 

Tapi, Rosa –seperti biasa—dengan cerdik mematahkan berbagai argumen. Maka saya pun tak bisa bilang apa-apa lagi selain oke. Jadilah, Kamis ( 26/6/08 ) sore saya bertolak dari Jakarta setelah bertemu dengan bos untuk suatu urusan.

 

Penerbangan sedang padat karena memasuki masa liburan. Untung masih dapat kursi di Batavia Air. Lumayan, meski agak deg-degan juga. Yang jelas, hari itu untuk pertama kali saya menginjakkan kaki di Pekanbaru.

 

Luar biasa. Bersih! Itu kesan pertama yang muncul ketika kami –saya dijemput Mas Piyanto dari Tribun Pekanbaru— keluar dari bandara menyusuri jalan memasuki kota. Pepohonan rindang meneduhi jalan. Tepi-tepi jalan terlihat rapi. Nyaris tak ada sepotong pun sampah yang tampak.

 

Aduh, saya jadi malu hati! Tinggal di Kota Bandung yang sudah telanjur terkenal sebagai Parijs van Java, dan Kota Kembang, tapi nyaris tak pernah lagi merasakan kenyamanan dan keindahan. Apalagi kebersihan. Jauh sekali dengan Pekanbaru.

 

Daripada studi banding jauh-jauh ke luar negeri (ke Jerman, ke Cina, dll), mestinya para pejabat dan wakil rakyat Kota Bandung itu datang saja ke Pekanbaru untuk mempelajari bagaimana membuat kota selalu bersih.

 

Selain bersih dan segalanya terasa seperti tertata rapi, simbol-simbol kultur lokal juga terasa sangat kuat, meski tetap saja kultur urban –sebagaimana yang menjalari kota besar di mana pun di tanah air—turut mewarnai kehidupan keseharian.

 

Malah, dalam beberapa segi, Pekanbaru tampaknya jauh lebih “berani” dibanding Bandung, atau bahkan Jakarta, mungkin. Ini saya tangkap dua hari kemudian, ketika seorang rekan menyodorkan selembar surat kabar lokal.

 

Pada salah satu halaman, Koran itu memuat “iklan baris” yang khusus menawarkan jasa pijat plus-plus. Aduh…. Iklan itu terkesan dipasang oleh pemberi jasa, dengan menjanjikan layanan “wanita, muda, cantik, bersih…. Pasti memuaskan, dst..” Lalu, “on call 24 jam.  Wawww..!!

 

Di Jakarta dan di Bandung saja yang relatif lebih terbuka dan lebih “sekuler” saya tak menemukan iklan yang seberani itu. Apakah itu tanda keterbuakan dan kemajuan Pekanbaru dibanding kota lain, atau sebaliknya. Saya tak tahu.

 

Yang jelas, di antara simbol-simbol kultur Melayu yang (ingin) dikesankan sebagai kuat dan sangat kental nilai-nilai religi, kota ini tampaknya juga sangat permisif menerima unsur subkultur lain yang lahir dari pola hidup perkotaan dengan berbagai eksesnya.

 

Dua-duanya berusaha berdampingan, ya masing-masing seakan “tahu sama tahu lah!”  Begitu kira-kira. (*)

Iklan

2 Responses to “Pekanbaru, Wow…!!!”


  1. April 17, 2010 pukul 7:39 pm

    salam kenal dan selamat Ulang tahun TP ke 3 kunjung balik ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: