Arsip untuk Juli 8th, 2008

08
Jul
08

Polisi Kehormatan

KEPOLISIAN  Wilayah (Polwil) Priangan di Garut, Selasa (1/7), menganugerahkan penghargaan gelar Polisi Kehormatan kepada 117 tokoh dari berbagai kalangan di Jawa Barat. Sesepuh Jawa Barat Solichin Gautama Purwanegara (GP) atau yang akrab dipanggil Mang Ihin, merupakan satu di antara tokoh yang dianugerahi gelar itu.

Penghargaan diserahkan langsung Kapolwil Priangan Komisaris Besar Polisi Drs Anton Charliyan MPKN pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-62 Bhayangkara di halaman Mapolwil Priangan, Jalan Jenderal Sudirman, Garut.

Tokoh-tokoh dan pejabat Jabar yang menerima penghargaan sebagai Polisi Kehormatan antara lain mantan gubernur H Danny Setiawan dan mantan wakil gubernur Nu’man A Hakim, Bupati Bandung H Obar Sobarna, dan Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim.

Kemudian Bupati Sumedang Don Murdono, Danrem 062 Tarumanagara Kolonel Inf Adang Rahmat Sujana, Kepala Bakorwil Priangan Dedi Gurnadi, Dandim 0611 Garut Letkol Inf Urip Wahyudi, serta sejumlah pengusaha serta tokoh masyarakat lainnya.

Anugerah serupa diberikan kepada para pemimpin media massa di Bandung dan wilayah Priangan, termasuk di antaranya Pemimpin Redaksi Tribun Jabar Yusran Pare.

Seusai apel, Kombes Pol Anton Charliyan mengatakan, pemberian anugerah Polisi Kehormatan kepada sejumlah tokoh dimaksudkan sebagai tanda terima kasih Polri terhadap jasa-jasa mereka yang selama ini telah ikut serta membantu tugas polisi dalam menciptakan lingkungan yang aman atau kondusif.

Menurutnya, polisi tidak akan bisa secara sendiri-sendiri melakukan tugasnya untuk menciptakan lingkungan aman dan tertib tanpa bantuan masyarakat. Tugas itu bukan hanya mutlak menjadi kewajiban polisi, tapi juga merupakan tugas bersama antara masyarakat dan aparat kepolisian.

“Karenanya kami menilai, sangatlah pantas kalau dalam peringatan hari ulang tahun Bhayangkara ini kami bisa memberikan penghargaan kepada masyarakat yang sudah banyak membantu tugas polisi,” ujar Anton.

Anton kemarin juga memberikan penghargaan Polisi Kehormatan kepada pemimpin adat Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Selain menitipkan tongkat komando, Kapolwil juga minta sejumlah anak Kampung Naga menjadi polisi. (Tribun Jabar)

08
Jul
08

Beast and The Beauty

APA yang terjadi jika the beast seperti saya ditugasi menilai  15 perempuan yang beauty, cerdas dan elegan? Bingung lah! Lha wong semuanya cantik, semuanya berotak cerdas, semuanya (tampak) berperilaku baik.

 

Ya, kami sebagai juri grand final Pemilihan Putri Indonesia (PPI) Riau tahun 2008 diberi mandat oleh panitia penyelenggara untuk memilih dan menetapkan satu saja sebagai yang terbaik dan satu lagi sebagai pendamping (runner up).

 

Ada 16 –dari 25 orang— peserta yang ditetapkan sebagai finalis. Para peserta ini putri-putri cantik berusia antara 18 sampai 25 tahun, berasal dari kabupaten  dan kota di Provinsi Riau.

 

Kami –setidaknya saya– tidak tahu dan tidak mengikuti proses penilaian itu dari awal. Panitia telah memilih juri-juri tersendiri untuk  menyeleksi para peserta yang merupakan duta dari daerah masing-masing itu, dan memilihkan untuk kami 15 yang terbaik.

 

Nah, tugas kami sebagai dewan juri babak akhir, adalah memilih satu saja sebagai pemenang utama, satu pendamping dan satu lagi pemenang ketiga. Caranya, melalui wawancara mendalam. Kami, lima anggota dewan juri, dan seorang sekretaris bertindak sebagai panel penguji. Peserta sebagai subjek yang menjalani ujian itu.

 

“Ujian akhir” ini tampaknya sangat menentukan untuk menggali faktor brain dan behavior (faktor beauty sudah dinilai oleh tim juri awal). Itu sebabnya dewan juri di babak akhir pun bukan orang-orang sembarangan (kecuali saya, kalee!!  hehehehe..).

 

Mereka adalah pakar-pakar di bidangnya. Sebut saja, Drs Azfauri Aziz MBA (General manager Export – PT Mustika Ratu) yang mewakili Yayasan Putri Indonesia sebagai pemegang hak penyelenggaraan PPI. Peserta yang terpilih sebagai  putri Indonesia, sekaligus jadi duta RI ke pemilihan Miss Universe.

 

Pak Aziz –kami menyapanya demikian– lah yang “mengukur” kepatutan dan kelayakan seorang peserta untuk PPI. Mulai dari tinggi badan (mutlak minimal 170 Cm) bobot ideal dan ukuran-ukuran fisik lain, juga tingkat pengetahuan.

 

Untuk menguji bobot intelektual sekaligus wawasan kepariwisataan, adalah bagian Prof Dr H Detri Karya SE MA, akademisi Riau  yang juga jadi staf pengajar di sejumlah perguruan tinggi negeri di Tanah Air dan di Malaysia.

 

Ada lagi juri lain, yakni Rozalita Nasution, tokoh sekaligus perempuan aktifis yang brilyan putri Riau jebolan untiversitas di London, Inggris. Ia sangat teliti, cermat, dan memiliki pengamatan yang tajam. Lalu ada Eva Leoniza, pakar kecantikan di Pekanbaru yang sangat tegas namun penuh sikap keibuan.

 

Jadilah Jumat 27 Juni 2008 itu merupakan hari yang padat, baik bagi para peserta maupun dewan juri. Wawancara berlangsung dari pagi sampai malam.  Bagi saya sendiri, 15 dari 16 finalis itu semuanya memenuhi syarat Putri Indonesia (yakni memiliki (intelektualitas, kecantikan, dan perilaku layak).

 

Namun, pilihan memang harus dilakukan karena tak mungkin Riau mengirim seluruhnya –15 peserta—ke ajang pemilihan di tingkat nasional.

 

Usai sesi wawancara itu, sebenarnya dewan juri bisa dikatakan sudah mengantongi ancar-ancar tiga pemenang utama, tinggal saja peneguhan melalui penilaian pada saat mereka tampil di panggung di depan publik.

 

Dari 15 peserta, kami menyeleksi lagi menjadi tinggal 10, kemudian diseleksi lagi jadi tinggal lima, dan akhirnya kami memilih tiga. Dari tiga inilah, kami menetapkan satu yang paling baik di antara yang (sebenarnya semua sudah) terbaik, yang akan mewakili Riau.  (*)

 

08
Jul
08

Kisah Citra dan Yaumi

CITRA Ratu Pratama (20), finalis berjilbab asal Pekanbaru, akhirnya dinobatkan sebagai Duta Riau pada malam final Pemilihan Putri Indonesia (PPI) wilayah Riau di di Ballroom Hotel Pangeran, Pekanbaru, Sabtu (28/6) malam.

Di tiga besar, Citra menyisihkan Yaumil Syah Melia (Pekanbaru) dan Indah Paramita (Bangkinang). Dengan mata berkaca-kaca, mahasiswi teknik biocthemical Universiti Kebangsaan Malaysia itu menerima selempang bertuliskan Duta Riau dari juri Yayasan Putri Indonesia (YPI) Pusat, Asfauri Aziz.

“Saya terharu sekali, ucapan syukur pertama tentunya kepada Allah. Terima kasih Citra sampaikan kepada mama. Beliau selalu mendukung Citra,” ujarnya dengan suara lembut.

Citra pada malam penobatan nampak anggun memakai gaun pink. Dia berhasil meyakinkan kelima juri saat menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan solusi kelangkaan bahan bakar minyak.

“Ada solusi lain untuk menghemat bahan bakar, yaitu melalui blue ernergy, dengan menggunakan air sebagai sumber energinya. Di Jepang penemuan ini mulai digalakkan,” ujar putri dari Nursida Dewi Kartika.

Sebagai Duta Riau, Citra berhak ikut Pemilihan Putri Indonesia (PPI) 2008 di Jakarta, Agustus mendatang. Gadis yang pernah memenangkan juara 1 lomba cepat tepat ilmu lingkungan tingkat nasional tahun 2005 itu berjanji akan memperkenalkan songket Riau ke kancah nasional.

putri riau

putri riau

“Saya akan makin sering memaki songket Riau, selain tentunya saya akan memperkanalkan budaya Melayu dan pariwisatanya yang serba unik,” ujar Citra, pemilik tinggi 170 centi meter.

Sebagai juara, Citra pun berhak atas sepeda motor Yamaha Mio dan uang tunai Rp 3 juta. Sedangkan Yaumil (runner up 1) meraih uang Rp 2,5 juta dan Indah Paramita (runner up) berhak atas uang Rp 2 juta. Sementara itu pemenang harapan II, Desi Yulia, dinobatkan sebagai Putri Yaris.

Malam penobatan Duta Riau di Ballroom Hotel Pangeran kemarin malam berlangsung meriah dengan dihadiri ratusan undangan. Pentolan Kla Project, Katon Bagaskara menyanyikan 6 lagu untuk menyemarakkan suasana. (Tribun Pekanbaru/nng)

08
Jul
08

Lima Belas Terbaik

JUMAT 26 Juni 2008  merupakan hari yang sangat mendebarkan bagi 15 finalis Pemilihan Putri Indonesia (PPI) wilayah Riau. Usai melewati masa karantina selama tiga hari, mereka harus menghadapi 5 juri independen yang siap menguji wawasan.


Sejak pukul 10.00 WIB, para gadis cantik yang Sabtu, 28/6/08 akan dinobatkan sebagai Duta Budaya Riau sudah berkumpul di sebuah ruangan. Terlihat berbagai ekspresi para finalis yang terlihat gelisah. Ada yang mulutnya komat-kamit tak henti berdoa sambil memejamkan mata, ada pula yang memilih membaca buku.

Indah Paramitha misalnya. Finalis asal Bangkinang itu tak henti-hentinya bernyanyi sambil bergoyang. Sementara Citra Ratu Pratama lebih memilih membaca majalah. “Nervous sekali, makanya saya berusaha menghibur diri dengan membaca. Dari tadi malam, kalau nggak nonton Metro TV, ya baca majalah lingkungan biar nambah wawasan,” ujar si cewek berjilbab tersebut.

Irma Fariza Putri mendapat kesempatan pertama menghadapi dewan juri yang terdiri dari dua perwakilan dari Yayasan Putri Indonesia Pusat, Asfauri Aziz, dan Prof Dr Detri Karya SE MA. Selain itu juga ada tokoh perempuan Rozalita Nasution, pengurus Kelompok Sosial Masyarakat Tunas Bangsa.
Juri lainnya adalah perwakilan media yakni Yusran Pare, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar . Terakhir adalah Eva Leomiza, mewakili tokoh kecantikan di Riau.

“Lebih rumit daripada saat sidang skripsi. Saya disuruh mempresentasikan dengan memakai bahasa Inggris tentang aktivitas saya sekarang sebagai karyawan BP Migas dan berbagai pertanyaan lainnya,” ujar Noviani Fauzer, finalis yang bekerja pada BP Migas Sumbagut.

Berbeda dengan Novi yang keluar ruangan dengan tersenyum, Irma Fariza yang mengahabiskan waktu 15 menit di depan juri, begitu keluar ruangan terlihat syok. Mahasiswa Universitas Riau itu menangis dan tak mampu berkata-kata. Bahkan untuk menenangkan diri dia terpaksa beristirahat di kamarnya. 

“Mereka semua sangat tegang dan tidak rileks sehingga pertanyaan ringan dan sederhana menjadi teramat sulit karena mereka tidak konsentrasi. Satu hal lagi yang kurang, kemampuan mereka tentang pariwisata Riau masih minim sehingga tidak bisa meng-explorer secara dalam tentang keunggulan Riau,” ujar Eva Leomiza, wakil juri. 

Hingga pukul 17.00 WIB wawancara belum berakhir. Namun, agenda pawai peserta calon Putri Indonesia itu tetap dilangsungkan. Dengan menaiki Toyota Yaris, para finalis itu diajak berkonvoi mengelilingi jalan-jalan protokol.

Rombongan start dari halaman depan Hotel Pangeran. Puluhan anggota komunitas motor Yamaha juga ikut serta menjadi leader konvoi. Aksi ini ikut menyita perhatian pengguna jalan sehingga sejumlah titik jalan sempat macet.

“Ini salah satu bentuk sosialisasi calon Putri Indonesia kepada masyarakat Pekanbaru. Diharapkan masyarakat pun bisa memberi spiritnya, saat malam penobatan nanti,” ujar Pradonggo, panitia dari Jendela Promotion.

Penobatan Duta Budaya Riau yang akan dikirim ke Pemilihan Putri Indonesia 2008 di Jakarta berlangsung Sabtu malam mulai pukul 19.00, di Ballroom Hotel Pangeran Pekanbaru. (Tribun Pekanbaru/nng)