Arsip untuk Juli 23rd, 2008

23
Jul
08

Jovi, 17 Tahun Kemudian

          

“MAS, aku udah di kantormu…” suara Jovi di seberang telepon.Eh, 13 meteran dari tempat saya duduk. Saya langsung menghambur ke lift dan meluncur ke lobi. Astaga! Dia masih seperti 17 tahun lalu, saat masih berseragam putih-abu. Tetap kinyis-kinyis. 

Sebelumnya, kami sudah kontak-kontak. Telpon dan SMS. Rupanya, Senin ( 21/7/08 ) itu sebenarnya kami berada di tempat yang sama pada waktu yang bersamaan. Saya di terminal B Soekarno-Hatta. Dia –dan temannya– di terminal A.

Waktu keberangkatan ke Banjarmasin, juga hanya berselisih beberapa menit. Beda pesawat. Kami mendarat di Syamsuddin Noor, malam hari pukul 20-an waktu setempat. Kalau saja kami saling kontak lebih siang, mungkin pertemuan bisa terjadi lebih cepat di Cengkareng.

Maka reuni kecil pertama setelah 17 tahun itu pun terjadi di ruang tamu kantor Banjarmasin Post. Ya, Jovi –nama pendek dari Jullya Vigneshvara — adalah satu di antara alumni GEMA-Bernas  ( https://yusranpare.wordpress.com/gema/ ) yang saya asuh bersama mas Trias Kuncahyono dan mas Agoes Widhartono di Yogya, duluuu.. sekali.

Beberapa menit sebelumnya, Ria (Fransiska Ria Susanti rekan seangkatan Jovi), nongol di messenger, dengan “bangga” melaporkan bahwa dua hari sebelumnya ia reuni kecil –setelah 17 tahun– dengan Kristupa Saragih (http://www.kristupa.com). Maka, tak mau kalah, saya pun balas pesannya di kotak messenger itu, “sori… aku pun mau reunian dengan Jovi. Ini sedang menunggu dia.”

Ria sudah beberapa tahun terakhir ini mukim di Hongkong. Kris mungkin dalam perjalanan pulang dari Beijing dan singgah ke koloni itu. Lalu mereka kontak-kontakan, lalu bertemu. begitu pula Jovi. Begitu pula yang biasa dilakukan teman-teman lain para “pensiunan” Gema.

Kalau komunikasi sih, rasanya relatif sering lah. Setidakya via messenger atau pesan pendek. Tapi pertemuan tatap wajah langsung mah, iraha teuing…Maka, jika ada kesempatan, meskipun itu sangat sempit, biasanya para veteran Gema selalu mengusahakannya untuk bertemu.

Demikian pula Jovi. Selama ini kami kontak-kontakan via sms. Kadang –dan sangat jarang– telepon. Termasuk ketika dia bilang mau bertugas di Aceh. Kini, ia sedang cuti dari tempat kerjanya di USAID, dan memilih Banjarmasin sebagai satu di antara kota-kota yang ada dalam rencana kunjungannya. Ia memang  senang jalan-jalan. Perjalanannya ke Tahiland, Laos dan kamboja< sempat dicatat dan dikirim ke Tribun Jabar (http://www.tribunjabar.co.id/post/postView.php?id=97).

Karena saya tak bisa menemaninya, maka saya mita bantuan Apung, redaktur foto yang kebetulan puya waktu dan tahu betul seluk-beluk kota kelahirannya ini. Selain itu, Jovi pun bersama temannya Fauzan, redaktur foto AMI (Aceh Masa Kini) sekaligus kontrobutor foto Asociated Press (AP). Jadi klop lah!

Sebenarnya dalam dua hari itu terjadi reuni pula dalam bentuk lain, via messenger dan sms. Selain dengan Ria di Hongkong, Emmy Kuswandari yang mukim di Jakarta ujug-ujug pula masuk di kotak pesan. Seperti biasa, pesannya muncul satu kata satu kata.

Intinya, mengabarkan hari itu (23 Agustus) Hengky ulang tahun. Jadilah kami saling kontak. Hengky cerita sempat ketemu Vierna Suryaningsih, beberapa hari sebelumnya. Ia juga menyesal tak bisa hadir di pernikahan AA Kunto A di Solo akhir Juni 2008.

Jadi, meski secara fisik saya cuma “reuni” dengan Jovi, hari-hari itu saya juga bertemu kembali dengan teman-teman yang pada tahun 90-an memberi saya pelajaran tentang bagaimana berhadapan dengan anak-anak usia SMA. Pelajaran itu sungguh sangat berguna sammpai kini.

Terima kasih, Jovi, Kris, Emmy, Ria, Hengky “Saruman”, Vierna, Kunto, dan lain-lain. (*)

23
Jul
08

Bobotoh, Aduh…!!!

AKHIRNYA Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi. Mereka melarang bobotoh (suporter) Persib menggunakan atribut Persib dalam semua laga klub legendaris dari Bandung ini, baik kandang maupun tandang. Larangan itu berlaku selama setahun!

Sanksi diputuskan Selasa ( 22/7/08 ) menyusul aksi anarkis yang dilakukan ribuan bobotoh di dalam maupun di luar Stadion Siliwangi ketika Persib menjamu Persija, Minggu (20/7) malam. Pertandingan berakhir 3-2 untuk keunggulan tim tamu berjulukan Macan Kemayoran itu.
Selain pelarangan penggunaan atribut Persib, Komdis PSSI juga mengeluarkan larangan penggunaan segala atribut, kaus, poster, stiker, pamflet, spanduk, yang bertuliskan kata-kata yang menghina, rasis, dan bernada permusuhan dengan pendukung lain.
Jika dalam waktu enam bulan ke depan masih tetap ditemukan pelanggaran atas larangan penggunaan atribut klub dan keberadaan atribut bernada permusuhan ini, klub akan didenda Rp 200 juta.
Pelarangan berlaku sejak pertandingan away ke kandang Persipura di Jayapura, Minggu (27/7). “Meski wasit tidak melihat kejadian tersebut tapi berdasarkan rekaman, Haryono memang terlihat menginjak Robertinho,” kata Hinca seusai sidang di Sekretariat PSSI, kemarin.
Di pihak lain, bobotoh menampik tudingan bahwa mereka memicu kerusuhan yang merusak pertandingan Persib-Persija itu. Sebaliknya bobotoh menunjuk wasit Alil Rinenggo sebagai biang keladi kerusuhan karena dinilai tidak adil dalam memimpin pertandingan.

Yana Bool, salah seorang pendiri Viking, meminta semua pihak tidak terlalu menyalahkan bobotoh terkait kerusuhan tersebut. “Kita ini sudah sabar tapi karena wasitnya kurang ajar, maka terjadi lah kerusuhan itu. Kalau kita mau rusuh mah, mungkin sejak awal kita hajar aja pemain Persija, tapi kan ini tidak dilakukan,” kata Yana, Senin (21/7).

Ketua Viking Heru Joko menyesalkan terjdinya kerusuhan itu. Namun Heru menggaris bawahi bahwa wasit yang diturunkan untuk pertandingan Persib-Persija, adalah wasit yang harus mengetahui atmosfir pendukung sepakbola di Bandung.

“Bukan berarti kami meminta wasit memberi kemenangan kepada Persib. Tapi wasit harus lebih jeli pada pertandingan big match seperti Persib lawan Persija,” ujar Heru. Ketua The Bomber Asep Abdul yang saat pertandingan Persib-Persija menonton di tribun selatan bersama anggotanya mengatakan, selain buruknya kepemimpinan wasit, kerusuhan itu juga diakibatkan tidak nyamannya menonton di dalam stadion.

“Geus mah tiketnya mahal, nyarinya susah., terus di dalam stadion pasedek-sedek (berdesakan, Red),” ujar Asep. Menurut Asep, di tribun selatan, ia sudah berusaha meredam emosi penonton. Asep menurutkan, dia dan rekan-rekannya dari Bomber akhirnya memilih keluar Stadion karena penonton justru makin beringas, demikian diberitakan Tribun Jabar.

Jika disimak dari apa yang tersirat pada berita itu, panitia pun tidak terlalu siap mengelola pertandingan “panas” tersebut sehingga muncul peluang-peluang yang lebih memicu emosi dan mendidihkan amarah. Apa boleh buat. Hukuman telah dijatuhkan. (*)