29
Jul
08

The Silence of Ryan

BISA dipastikan Verry Idam Henyansyah alias Ryan tak punya hubungan apa pun dengan Francis Dolarhyde, Jame Gumb, dan Doktor Hannibal Lecter. Kecuali kalau dia mengikuti trilogi karya Thomas Harris, Red Dragon, The Silence of the Lambs, dan Hannibal.

Hannibal adalah gabungan dari semua ‘kekejaman yang dingin dan cerdas’. Ia ditiru, dijadikan panutan, dipelajari, dan jadi patron bagi orang semacam Dolarhyde. Ia pun jadi rujukan bagi Clarice Starling dan Will Graham, agen FBI yang ketiban tugas memecahkan kasus pembunuhan berantai yang disertai kanibalisme Dolarhyde (Red Dragon), dan Gumb (The Silence of the Lambs).

Ya, Hannibal adalah ikon kekejaman modern.

Itu dalam novel dan di film.

Di dunia nyata, orang pun bertanya-tanya, benarkah ada sosok kriminal yang sedemikian kejam, keji, dingin, cerdas, dan suka memakan sesama seperti Lecter, Gumb, dan Dolarhyde?

Ternyata memang ada. Hannibal Lecter adalah gambaran dari tokoh seperti William Coyne. Pembunuh berantai ini melarikan diri dari penjara berpengamanan maksimum di Claveland tahun 1934. Coyne dikenal sebagai penjagal yang bahkan tak segan-segan menyantap korban yang dibunuhnya.

Dari sisi lain, karakter Lecter juga ada miripnya dengan Jaffrey Dahmer, pembunuh berantai yang suka mencicipi daging korbannya. Atau dengan dengan Tsutomu Miyazaki dari Tokyo yang antara tahun 1988-1989 menculik, membunuh, dan menyantap anak-anak prasekolah.

Di tempat terpisah pada masa yang berbeda, Ted Bundy menghabisi perempuan-perempuan yang jatuh iba kepadanya –karena cacat (pura-pura). Kadang, ia mengenakan ‘wig’ dari kulit kepala dan rambut asli korbannya. Dua karakter ini seperti mengilhami Harris menciptakan Jame Gumb dalam The Silence of the Lambs dan Dolarhyde dalam Red Dragon.

Coyne, Bundy, dan Dahmer dan tokoh-tokoh penjagal itu hanyalah sebagian di antara ratusan, mungkin ribuan orang yang tercatat dalam arsip kriminal dunia sebagai pembunuh berantai dengan kekejaman tingkat tinggi.

Melalui buku-bukunya Harris seolah ingin mengatakan, kekejaman bisa muncul begitu saja dan menjalari karakter seseorang di antara sekelompok manusia. Perilaku macam itu bisa diidap siapa pun yang dalam kehidupan sehari-hari adalah sosok manusia normal menurut pandangan umum.

Sangat boleh jadi, di sinilah “persinggungan” Ryan dengan tokoh-tokoh fiktif dan tokoh-tokoh nyata di atas. Lelaki asal Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang ini seakan jelmaan Dahmer, dan mirip Gumb dalamthe Lambs.

Masyarakat pun geger. Publik seakan bertemu dengan monster, makhluk aneh yang dengan dingin menghabisi sesama lalu menanamnya di halaman belakang rumah. Atau mencincangnya dan memasukkannya ke dalam koper lalu meletakkannya begitu saja di sembarang tempat. Orang boleh saja bergidik, ngeri dan jijik. Bisa pula takut. Jangan-jangan ada juga orang di dekatnya yang berperilaku seperti Ryan.

Tapi bila coba menelusuri agak ke belakang dan mencoba menatap realitas kekinian, rasanya kita tak perlu kaget benar. Apalagi takut. Bukankah di dalam diri tiap manusia pun ada unsur genetik yang mewarisi kecenderungan hewani seperti itu? Hanya saja, kekejian dan spirit membunuh tidak dipraktekkan langsung dengan mencincang sesama, melainkan dengan “membunuh” peluang dan memakan hak-haknya.

Kenyataan sehari-hari menunjukkan dengan jelas, bahwa makin hari kita melihat kian banyak saja orang yang rakus dan buas. Mereka tak segan-segan “membunuh” kawan, menipu teman, memeras orang lain, dan menghisap hak- hak mereka.

Jadi, Ryan mungkin belum apa-apa dibanding sebian di antara kita yang kadang ternyata lebih keji dan lebih kejam. Entah itu di kamar-kamar birokrasi, di gedung bursa, di kantor penegak hukum, di gedung wakil rakyat, di jalan, di pelabuhan, di pasar, dan tempat-tempat lain.

Sebagian di antara kita yang bertabiat jagal itu seringkali tampil sedemikian elegan di balik jas dan dasi berkelas, bermobil mengkilap, beristri (dan selingkuhan) cantik, molek, dan seksi. Lebih hebat lagi, seringkali orang-orang macam itu merasa tidak sedang melakukan kekejaman dan kekejian, meski hampir saban waktu dia “memakan” sesama.

Hiyyy!!! ***

Iklan

4 Responses to “The Silence of Ryan”


  1. Juli 31, 2008 pukul 12:53 pm

    waduh

    manusia ini mahluk yang benar benar kompleks
    banyak hal yg membuat kita berpikir
    dan berpikir. bahkan manusia bisa jadi monster yang mengerikan
    dengan otak, tangan, mata dalam penyamaran yg sempurna
    waspada lah

  2. 2 yusranpare
    Juli 31, 2008 pukul 5:11 pm

    Betul, Lae…. kadang kita sendiri terheran-heran. Bukankah ada masa-masa di mana kita pun bahkan tak mengenal diri kita sendiri. ya, kan?

  3. Agustus 11, 2008 pukul 8:54 pm

    Renungan yang luar biasa. Beta suka. Terima kasih kaka…

  4. 4 yusranpare
    Agustus 11, 2008 pukul 9:07 pm

    Ah… ade bisa sa! Thx sudah sudi baca be pung tulisan. Be son bisa bikin lebe bae lai. Salam!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: