Arsip untuk September, 2008

26
Sep
08

Kembali ke Titik Udik

MUDIK. Hari-hari ini, itulah yang menandai kesibukan di berbagai kota. Apalagi pemerintah memberi dispensasi cuti bersama –termasuk dua libur resmi– yang pada prakteknya mungkin bisa sampai 10 atau 15 hari. Atau malah seperti diramalkan banyak pihak, situasi akan betul- betul “pulih” baru selepas pergantian tahun nanti.

Hari-hari ini Semua potensi, berbagai sarana dan fasilitas pendukung dipersiapkan sedemikian rupa oleh pemerintah agar mereka bisa melayani masyarakat yang akan mudik dan kembalinya lagi nanti. Meski memang jadi tampak agak lucu, di saat rakyat butu pelayanan prima, pada saat yang sama para pegawai negeri menikmati libur panjang.

Bahkan presiden turun langsung ke Nagreg –jalur paling rawan antara Bandung- Garut/Tasikmalaya– mengecek kesiapan lapangan. Belakangan, mantan presiden juga ikut- ikutan meninjau lapangan. Alasannya sih –konon– untuk melihat berbagai kemungkinan karena pihaknya akan memberangkatkan pemudik dengan ratusan bus dari Jakarta.

Demikianlah, sekali dalam setahun penduduk Indonesia yang sudah telanjur bertumbuh kembang di hilir, mengalir balik ke arah hulu, ke titik udik. Entah untuk sekadar kangen-kangenan, atau memang memerlukan semangat baru dari pelataran budaya asal, dari negeri asal-usul, sebelum kembali melanjutkan perjuangan di kota besar tempat selama ini mereka berjibaku.

Kampung halaman, tempat di mana kultur kaum urban berakar, mungkin memang menyimpan nilai-nlai luar biasa besar pengaruhnya sehingga bisa membuat orang rela berdesak-desakan antre untuk sekedar mendapatkan tiket kereta api, bus, atau lainnya. Atau nekat bertarung dengan garangnya situasi jalanan demi menembus kerinduan ke sutgu titik di udik sana.

Ritus kembali ke kampung halaman ini kadang-kadang memunculkan fenomena yang bertentangan dengan akal sehat. Saban tahun kita selalu melihat bagaimana orang justru sudah tidak lagi peduli pada yang lain. Saling sikut, saling injak, berebut kesempatan lebih dulu di jalanan, atau saat masuk bus, kereta api, kapal laut, dan pesawat.

Di sisi lain, kegairahan mereka yang merayakan hari kemenangan pertempuran rohani lewat puasa sebulan penuh, dimanfaatkan dengan begitu baik oleh kalangan pebisnis untuk merangsang pola konsumtif yang meledak-ledak.

Suasana lebaran tampaknya selalu jadi ajang di mana orang merasa harus meningkatkan arus belanjanya secara berlipat. Tak cuma toko makanan dan pakaian yang mendadak laris setiap bulan ramadan, bahkan para penjual mobil, sepeda motor, alat elektronik yang kadang kegunaannya dalam hidup keseharian tidak berada pada urutan kebutuhan primer, mendadak jadi barang yang laris.

Inilah fenomena yang selalu terpampang di depan mata setiap saat ramadan hingga menjelang lebaran di sejumlah kota besar di negeri kita, yang selama ini membanggakan diri sebagai negeri dengan mayoritas penduduk muslim.

Bayangkan, jika saja potensi dana pemerintah dan dana dari masyarakat mayoritas yang begitu berlimpah ini dikelola dengan baik lalu dialirkan untuk pengembangan dan pembangunan masyarakat, hasilnya tentu akan sangat fantastis.

Tapi tampaknya yang namanya manusia tetap saja selalu terkurung oleh naluri dasar manusiawi kemanusiaannya yang kadang sangat tak peduli pada manusia lain. Bahkan pada saat tertentu, kalau perlu, memakan dan menindas manusia lain demi kepuasan duniawi sendiri.

Karena itulah hari-hari ini kita masih menyaksikan, bagaimana orang-orang kecil yang sudah tertindas justru makin berkembang jumlahnya dan makin terimpit keadaan. Bahkan sekadar untuk menerima belas kasihan orang kaya yang ingin berzakat pun, ia harus berada di celah pagar antara hidup dan mati sebagaimana terjadi di Pasuruan.

Atau bagaimana ribuan orang tertipu oleh iming-iming arisan lebaran sebagaimana terjadi di Bogor, Cimahi, dan Bandung sementara di senayan wakil mereka pating pelengos malu-malu (sekaligus memalukan), megakui atau menepis atau pura-pura tidak tahu ada uang milyaran rupiah mengalir ke pundi-pundi mereka.

Di tempat lain, jika rakyat baku himpit berebut sedekah puluhan ribu perak, atau bantuan langsung tunai ratusan ribu perak, maka para pembawa acara dini hari di televisi –sambil cengangas-cengenges– membagi-bagi uang jutaan rupiah lewat pertanyaan-pertanyaan bodoh.

Aneh atau tidak, itulah sepotong parodi di tanah air di antara segala tetek-bengek kesibukan menuju titik udik. (*)

Iklan
26
Sep
08

Hidup Persib… Lah!

Persib vs Pelita

Persib vs Pelita

BANDUNG, TRIBUN – Maung Bandung meraih hasil sempurna saat menjamu Pelita Jaya di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Kamis (25/9) malam. Gol semata wayang Lorenzo Cabanas pada menit ke-65 bertahan hingga akhir pertandingan sehingga skor 1- 0 untuk Persib.

Gol menentukan itu berawal dari sebuah kerjasama apik Eka Ramdani, Hilton Moreira dari sektor kiri pertahanan Pelita Jaya. Lolos dari kawalan pemain belakang Pelita, Hilton Moreira menembak bola ke gawang Pelita yang dijaga I Made Wardana.

Tendangan keras Hilton diblok, bola muntah ke depan Cabanas yang langsung menyambar bola hingga merobek jala Pelita Jaya. Stadion Si Jalak Harupat yang jadi kandang Pelita Jaya bergemuruh seperti hendak runtuh.

Sorak sorai dan standing ovation dilakukan sekitar 30 ribu bobotoh yang menyesaki setiap sudut stadion kebanggaan warga Kabupaten Bandung itu. Beberapa penonton bahkan nekat menyulut petasan guna menyambut kemenangan prestisius pada tarung derbi kemarin.

Kemenangan dan nilai sempurna ini mendongkrak posisi Persib ke urutan 9 klasemen sementara Liga Super Indonesia (LSI) 2008. Sebelumnya klub kebanggaan Jabar ini menduduki peringkat 11, satu tingkat di atas Pelita Jaya.

Dari 10 kali bertanding, Persib kini mengumpulkan 16 poin. Grafik permainan Persib pun semakin membaik setelah dalam laga kandang Senin (22/9) menekuk tim tamu PSIS dengan skor meyakinkan, 3-1.

Tim Pangeran Biru akan kembali menjalani laga tandang di Bontang melawan Pupuk Kaltim pada 6 Oktober 2008. Pertandingan berikutnya akan dijalani di Samarinda pada 9 Oktober melawan Persiba Balikpapan. (Tribun Jabar)

26
Sep
08

Arisan Tipu-tipu

UANG selalu menggiurkan. Apalagi jika ada “bisnis” perputaran uang atau semacamnya yang disertai iming-iming keuntungan berlipat sebagai buah kecanggihan sang operartor memutarkan uang nasabah. Sudah banyak contoh getir ketika para nasabah atau “investor” akhirnya justru jadi korban. Toh, selalu ada dan ada lagi praktek serupa, dan masih ada saja orang yang tergiur yang akhira ya tertipu.

SEORANG perempuan yang mengelola tabungan Lebaran menyerahkan diri ke Unit Reserse Ekonomi Polresta Bandung Timur, Rabu (24/9) sore. Ia diuber-uber ratusan nasabah karena tak bisa mengembalikan tabungan mereka. Total kerugian nasabah mencapai Rp 80 juta.

Dengan kejadian ini, berarti di wilayah Bandung Raya sudah ada tiga dugaan penipuan dan penggelapan dalam sepekan terakhir. Akhir pekan lalu ribuan nasabah CV De Sam San meradang karena uang tabungan senilai Rp 4 miliar tak bisa dibayarkan.

Kemudian pada Rabu (4/9) sore puluhan karyawan pabrik tekstil PT Adimitra juga mengadu ke Polwiltabes Bandung karena uang tabungan mereka yang disetorkan ke pemilik Es Krim Marindo juga tak tentu rimbanya.

Peristiwa paling menggemparkan adalah “arisan lebaran” yang dikelola De Sam San. Sabtu 20 September 2008 sore, puluhan kolektor De Sam San mendatangi Mapolresta Cimah. Mereka mengadukan Direktur CV dengan dugaan penipuan. Mereka mengaku ketakutan karena di rumah masing-masing ratusan nasabah sudah menanti.

Menurut seorang kolektor, Ny Tini (42), warga Babakan Cianjur, Gunung Batu, hal ini bermula dari pihak CV yang berjanji akan mencairkan tabungan lebaran sepuluh hari sebelum lebaran. Tabungan lebaran itu diberikan nasabah dengan jumlah yang bervariasi.

“Ada yang setor Rp 2.500 per hari, atau Rp 3.000, atau Rp 5.000. Ada juga yang setor Rp 200.000 per bulan,” katanya kepada wartawan. Uang tersebut kemudian diambil setiap minggu oleh pegawai CV.

Masalah muncul ketika kolektor mencoba mengambil uang yang akan diberikan kepada nasabah. Sabtu pagi, mereka mencoba menanyakan uang tersebut kepada pihak CV yang berkantor di Jalan Ciawitali. Di sana mereka mencoba menemui Dewi N yang disebut-sebut sebagai pemilik CV.

“Saat ditanyakan, katanya uang akan cair jam tiga sore. Tapi engga ada,” tambahnya. Saat kolektor semakin tak sabar, Dewi yang keluar rumah mendadak tak sadarkan diri. Ia kemudian dibawa oleh keluarganya ke Rumah Sakit Dustira. “Tapi ketika dicek oleh kolektor ke rumah sakit, engga ada. Saya juga engga tahu ke mana,” ujar Tini.

Dalam kondisi keberadaan uang semakin tidak jelas, ratusan nasabah para kolektor juga menagih uang tabungan mereka. “Nasabah sekarang berkumpul di rumah saya dan kolektor lain. Mereka mau mengambil uang,” ujarnya.

Sebelumnya, ia mendengar, uang tabungan yang akan diberikan pihak CV hilang karena dirampok. “Katanya dirampok oleh adiknya. Terus minta tambahan waktu dua bulan,” jelasnya.
Karena merasa tidak ada kejelasan, mereka kemudian mendatangi Mapolresta Cimahi. Mereka mengadukan dugaan penipuan atau penggelepan atas kasus ini.

Hingga pukul 21.00, sebagian kolektor memilih berdiam diri di Mapolresta dengan alasan takut kepada nasabah. “Saya punya 120 nasabah. Mereka ada di rumah,” katanya. Kepada 120 nasabah itu, ia harus menyerahkan uang tabungan sebesar Rp 112,5 juta.

Ia mengatakan, CV De Samsan mempunyai sekitar 60 kolektor dengan 4.000 nasabah. Total uang milik nasabah menurut para kolektor mencapai Rp 4 miliar. “Satu kolektor ada yang harus menyerahkan uang Rp 300 atau 350 juta kepada nasabah,” ujarnya. (Tribun Jabar).

23
Sep
08

“Cepat-cepat…..!”

stafford ward

stafford ward

“HA? Cepat-cepat!!” Stafford A. Ward terpekik. “Cepat-cepat…. ya, cepat-cepat!” gumamnya berulang-ulang sambil tak henti mengamati surat kabar “edisi cepat” Tribun Jabar yang sudah dibingkai dan baru saja diserahkan kepadanya sebagai tanda mata.

Ward adalah wakil Atase Pers Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Jumat 19 September 2008 dia bersilaturahmi ke kantor kami di Jalan Malabar, Bandung. Ia didampingi sataf lokal Kedubes AS, Adhitya Chandra Maas.

Sebagai “orang pers” di Kedubes, Ward tampaknya memang wajib berkenalan dengan para pemimpin media terutama di Jakarta, Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah, juga Kalimantan, (Wilayah Sumatera dan Indonesia Timur, diserahkan kepada Konsul di Medan dan di Surabaya).

Ward tampak terpesona oleh liputan kilat wartawan Tribun mengenai kunjungan kerjanya itu. Meski bukan hal yang luar biasa –apalagi sekarang era digital– tetap saja ia merasa mendapat kejutan ketika melihat fotonya saat berdiskusi di ruang rapat terpampang sebagai master berita utama Tribun edisi khusus itu.

Dalam kunjungan sekitar setengah jam itu, kami ngobrol dan berdiskusi mengenai beberapa hal. Mulai dari keberadaan Tribun di tengah dinamika pers di Jawa Barat, sampai masalah-masalah seputar kebebasan pers pascareformasi.

Selain itu ia juga sedikit menjelaskan tentang pemilihan umum di tanah airnya, terutama tentang “pertarungan” singa tua McCain dengan jagoan muda Obama. Bagi publik Indonesia, nama Obama juga tak kalah populer oleh selebritas maupun politikus.

Wilujeng sumping, tuan Stafford! (*)

Giliran Banjarmasin Dikunjungi

Atase Pers ASDARI sekian banyak warga negara asing yang pernah bertandang ke kantor    Banjarmasin Post Group di Jalan AS Musyafa 16 Banjarmasin, Paul Belmont yang bertamu pada Kamis (5/11), termasuk yang paling istimewa.

Pasalnya dia adalah Atase Kedutaan Besar Amerika Serikat Bidan g Pers. Kedatangannya ke Kalsel, khususnya BPost Group, merupakan bagian dari agenda tugasnya di Indonesia tahun ini.
Meski diterima Pemimpin Redaksi BPost Group, Yusran Pare, Pemimpin Perusahaan A Wahyu Indriyanta dan Manajer Redaksi, Irhamsyah Safari lewat sebuah acara sederhana, namun Belmont langsung terkesan.

“Wow, kue apa ini? Rasanya enak dan manis sekali,” katanya dengan rona wajah keheranan, saat mencicipi hidangan ringan yang telah disediakan di ruang pertemuan di lantai IV.
“Ini namanya bingka mister. Kalau Anda lama tinggal di Kalsel, akan sering menikmati kue seperti ini,”  jelas Yusran Pare.

Pertemuan yang berlangsung sekitar 1 jam tersebut diawali dengan pemutaran film dokumenter tentang sejarah berdirinya  Banjarmasin Post.  Belmont antusias merespons dan beberapa kali bertanya dengan bahasa Indonesia yang terdengar kaku.

Tak hanya aktif bertanya, Belmont sempat menanyakan apakah masyarakat Banjar mengenal Presiden AS, Barack Obama yang dikenal dekat dengan masyarakat Indonesia.  Pada bagian lain dia meminta informasi mengenai aktivitas masyarakat Kalsel. Termasuk tentang kebudayaan yang berkembang di Bumi Lambung Mangkurat ini.

“Mata pencaharian warga Kalsel itu mayoritas apa ya? Kok kehidupannya tenang sekali,” katanya.
Belmont juga sempat menanyakan mengenai kerusakan lingkungan, khususnya hutan yang menjadi isu internasional.  (coi)

Atase Pers AS

Atase Pers AS

23
Sep
08

Parodi Pasuruan

SENIN 15 September 2008 mestinya jadi hari hitam, hari berkabung, tidak saja bagi warga Pasuruan Jawa Timur, melainkan bagi siapa pun penduduk negeri ini yang punya hati nurani. Ya, di tengah terik siang hari bolong, sang maut menderu-deru mencabuti nyawa orang-orang miskin yang sedang berharap dapat percikan sedikit harta dari seorang dermawan.

Hari itu, juga menandai parodi paling dramatis di tanah air, ketika rakyat harus baku desak hingga jatuh bergelimpangan dan satu persatu meregang ajal demi uang Rp 30.000 rupiah, sementara di Jakarta, Gedung Parlememen tempat wakil-wakil raykat bercokol “basah kuyup” oleh semburan uang sogok, bernilai miyaran rupiah!!

Jika rakyat harus mati tergencet luapan massa hanya untuk tiga lembar puluhan ribu perak, maka wakil mereka paling pelengos malu-malu (sekaligus memalukan), megakui atau menepis ataui pura-pura tidak tahu ada uang mengalir ke pundi-pundi .. eh, rekening mereka.

Jika rakyat baku himput berebut sedekah puluhan ribu perak, atau bantuan langsung tunai empat ratusan ribu perak, maka para pembawa acara dini hari di televisi –sambil cengangas-cengenges- – membagi-bagi uang jutaan rupiah lewat pertanyaan-pertanyaan bodoh. Aneh atau tidak, itulah sepotong parodi di tanah air kita hari-hari ini.

Tersentuh dan mungkin “tersakiti” oleh insiden itu, seorang sahabat saya, Adityas Annas Azhari wartawan Tribun Jabar menulis begini:

Tragedi Kemiskinan

KITA baru saja melihat tragedi kemiskinan di bulan suci ini. Niat baik seorang pengusaha kaya raya untuk menyebarkan zakat kepada orang tak berpunya justru menjadi mimpi buruk bagi si miskin yang akan menerimanya. Sedikitnya 21 orang (miskin) tewas terinjak-injak atau kurang oksigen akibat berebut zakat dari pak haji di Pasuruan.

Pascareformasi ini sebenarnya badan-badan amil zakat telah membuat berbagai fasilitas untuk membayar zakat. Lembaga-lembaga seperti rumah zakat, dompet dhuafa, dan sebagainya telah membuat program jemput zakat dan transfer zakat.

Orang kaya cukup memindahkan sejumlah uang dari handphone-nya melalui phone banking ke rekening lembaga zakat. Atau mereka tinggal minta lembaga zakat itu mendatanginya untuk mengambil uang. Urusan pembagian zakat serahkan saja pada lembaga itu karena mereka pasti sudah tahu sasaran mana saja dan bagaimana mengelola zakat itu.

Masalahnya sekarang adalah ketidakpercayaan, kesombongan, ketidaktahuan (kebodohan) dari si kaya terhadap lembaga zakat itu, dan mungkin juga lembaga zakat dengan teknologi yang memudahkan belum menjangkau kota kecil semacam Pasuruan. Hal ini yang membuat tragedi orang miskin berdesak-desakan untuk mendapat uang/bantuan menjadi pemandangan setiap tahun menjelang lebaran di hampir setiap kota di negeri ini.

Persoalan lainnya adalah mental mengemis alias ingin selalu diberi. Mental ini kemudian cenderung dipupuk para elite sehingga membiarkan orang miskin menjadi pengemis di mana-mana, khususnya di kota-kota besar. Para orang miskin itu pula dengan mudah digiring untuk beramai-ramai menerima sumbangan yang ujung-ujungnya dipolitisasi demi kemenangan politik atau bisnis dari elite atau parpol.

Coba saja, mengapa tak ada ketegasan dari pemerintah pusat atau daerah yang mengeluarkan aturan, “Dilarang keras membagi-bagikan sembako, uang, atau zakat secara massal kepada orang-orang miskin.” Atau ada aturan, pembagian zakat, bantuan, dan sumbangan harus disalurkan melalui lembaga resmi yang terdaftar dan teraudit.

Akibat tidak ada aturan tegas ini mental saweran terus terjadi di mana-mana. Ini menjadikan masyarakat miskin sangat bergantung pada pola bantuan yang didistribusikan secara massal. Pola bantuan seperti itu justru tidak efektif mengentaskan kemiskinan.

Ironisnya lagi, para politisi dan saudagar kaya negeri ini tetap saja tak malu menghambur-hamburkan uang demi meraih kursi kekuasaan di parlemen atau sekadar memopulerkan namanya.

Mental feodal yang ingin disembah-sembah dan dianggap penting oleh para jelata masih menghinggapi para elite negeri ini. Banyak tokoh ingin dianggap dermawan di mata masyarakat atau bawahannya.

Akhirnya, Tragedi Pasuruan, Senin (15/9), membuat kita harus mengkritisi paparan pemerintah yang menyebut angka kemiskinan cenderung turun berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS). Di saat minyak tanah dan gas elpiji langka, harga bensin naik, dan harga-harga sembako makin menggila menjelang lebaran, pantaskah kita yakin bahwa kemiskinan terus menurun? (*)

14
Sep
08

Generasi “Oplos”

BERITA mengejutkan itu datang dari ujung timur Jawa Barat, Indramayu. Empat belas orang tewas, belasan lain dirawat di rumah sakit setempat. Mereka bertumbangan setelah meminum minuman keras yang dicampur bahan-bahan lain. Sebagian terbesar dari korban itu anak-anak muda, satu lelaki paro baya, dan satu perempuan muda.

Disebut mengejutkan, karena jumlah korbannya demikian banyak. Malah terlalu banyak, kerena sehelai pun nyawa manusia sangatlah berharga. Lebih mengejutkan, karena baru dua tahun silam, insiden serupa di Indramayu merenggut nyawa tujuh anak muda.

Rupanya peristiwa itu tak cukup jadi cambuk untuk mengingatkan masyarakat dan aparat setempat betapa berbahayanya minuman keras beredar tanpa kontrol dan kendali. Apalagi di lingkungan masyarakat yang tingkat pendidikan dan pengetahuannya belum memadai secara merata di tengah kondisi sosial ekonomi yang tidak seimbang.

Indramayu sesungguhnya daerah kaya. Setidaknya kabupaten berpenduduk 1,6 juta jiwa ini merupakan lumbung padi besar yang menyangga dan memberi sumbangan penting bagi ketersediaan pangan secara nasional. Ia juga memiliki Balongan, kilang yang memproduksi 10.500-an barrel bahan bakar minyak setiap hari (data 2003), yang mestinya juga memercikkan kemakmuran bagi penduduk sekitarnya.

Namun kekayaan Indramayu ternyata belum mampu menyejahterakan warganya. Jika tidak, tak mungkin ada sekitar 1 juta penganggur di daerah itu (data 2006). Tak mungkin pula 90.000 warganya terpaksa mengais-ais rejeki di negeri orang sebagai tenaga kerja Indonesia. Sekitar 75 persen dari jumlah itu adalah para perempuan yang kebanyakan bekerja di sektor domestik. Kata lain untuk jongos.

Jika daerah itu sudah memberi peluang memadai bagi warganya untuk menyejahterakan diri, tak mungkin pula ribuan perempuan Indramayu melata-lata di keremangan dunia malam kota besar di berbagai pelosok di Tanah Air, dan itu tidak pernah terpantau jumlah maupun mobilitasnya.

Apakah kondisi seperti itu juga yang kemudian merangsang segelintir penduduknya untuk mengakrabi kebiasaan mabuk-mabukan? Belum jelas benar. Yang jelas, kemiskinan memang seringkali dianggap sebagai akar dari sejumlah masalah sosial. Satu di antara masalah itu adalah kebiasaan mabuk-mabukan.

Boleh jadi, dengan mabuk –lantas tertidur– orang “melupakan” sejenak kesulitan hidupnya. Tapi kebiasaan itu juga menyeret dampak buruk lain, yakni tingginya angka kriminalitas. Kalau orang itu minum untuk diri sendiri sampai mabuk sekali pun, dan langsung mendengkur begitu teler, tak jadi soal. Yang repot dalah para peminum tanggung yang gentayangan lalu ngoceh sana-sini dan tindakannya kurang terkontrol sehingga kadang memancing keributan.

Bagi sebagian penduduk di suatu daerah miskin di bagian timur Indonesia di mana minuman keras -olahan tradisional- sudah jadi minuman sehari-hari, banyak warga yang memang minum sampai mabuk. Biasanya, mereka membeli minuman setelah barang hasil bumi mereka laku di pasar. Selain digunakan untuk membeli keperluan hidup keluarga, mereka juga menyisihkannya untuk membeli minuman lokal, dan meminumnya sampai mabuk dan tertidur, (https://yusranpare.wordpress.com/2007/10/21/pendekar-mabuk/).

Di kota-kota besar, ada kecenderungan pada sebagian orang jalanan meminum minuman keras semata untuk stimulan. Mereka sengaja mabuk -atau setidaknya tampil seperti sedang mabuk- untuk meningkatkan efek teror terhadap sasaran yang akan dipalak atau diperasnya.

Dalam kasus Indramayu, tampaknya para peminum itu bukan semata untuk dirinya sendiri agar sekejap bisa melarikan diri dari ralitas, melainkan sudah sampai pada tahap memburu kepuasan maksimum secara bersama-sama dengan cara cepat, mudah, dan murah, karena memang sebatas itulah yang mereka mampu.

Ketidaktahuan dan keterbatasan pemahaman yang mungkin disebabkan kurangnya pendidikan -yang konon karena kemiskinan- di tengah kendornya pengawasan antarsesama warga, telah membuat orang gegabah mencampuradukkan bahan-bahan untuk dikonsumsi, sehingga jadi cairan maut yang menewaskan lebih selusin orang.

Ini harus jadi bahan renungan dan pelajaran bagi segenap pihak, sebab ini bukan peristiwa yang bisa dibiarkan berlalu begitu saja. Kejadian seperti ini tak pantas terus terulang, di Indramayu atau di manapun di wilayah tanah air. (*)