15
Okt
08

Suatu Malam di UGD

MALAM lebaran tahun ini rada istimewa. Bukan di mesjid, tidak pula di rumah, melainkan di Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Santo Yusup, Bandung. Ya, sudah empat hari menjelang lebaran Laras kambuh sakit asmanya. Pas malam lebaran tambah parah. Akhirnya, pukul 11 malam lewat dikit, kami boyong dia ke rumah sakit.

Ruang UGD relatif tenang. Ada tiga pasien yang mendahuli Laras. Seorang ibu meringkuk di tempat tidur di sebelah kiri Laras. Di seberang, dua perawat sedang sibuk menangani pemuda gempal. Mereka sedang berusaha menjahit dada kanan pemuda itu yang robek. Katanya sih, dibacok/ditusuk. Ia bersebelahan dengan seorang pemuda yang terbaring dengan cedera di kepala.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, suasana berubah jadi super sibuk. Seorang remaja digotong. Matanya membeliak. Badan kaku. “Tolong….. tolong. Tak bisa bernapas, sus…!” kata orang yang mengantarnya.

“Habis minum ya?” Kata suster yang dengan sigap menangani pasien baru ini. Tak terlihat perdarahan. Namun tampaknya cedera di dalam. Menurut pengantarnya, anak ini korban kecelakaan tunggal. Naik sepeda motor kencang, mau masuk halaman rumah, malah menabrak benteng. Bisa jadi, karena mabuk, pandangannya jadi nggak beres. Dinding beton, mungkin terlihat kosong…..

Baru saja para perawat mempersiapkan penanganan lanjut, raungan sirene di luar menandai tibanya ambulan. “Empat korban!!” pekik satpam dari luar UGD. Maka, kesibukan pun meledak bersamaan dengan tibanya empat pemuda di atas kereta dorong. Semua berdarah-darah. Dua di antaranya masih mengenakan helm. Tapi wajahnya sudah tertutup darah.

Kontan bau minuman keras bercampur dengan bau kreolin dan bau amis darah memenuhi ruang UGD. Rupanya, empat orang ini korban tabrakan sepeda motor yang mereka kendarai. “Adu bagong, keras sekali..” ujar seorang yang mengantar mereka. Maksudanya, tabrakan frontal antarsepeda motor.

“Waahh… kalian baru pada minum-minum ya…!” kata suster yang menangani satu korban. Ada luka menganga di jidatnya. Darah tampak merembes dari balik baju dan celana jinsnya.

“Tidak bu…. Ini kan malam lebaran, masa saya minum-minum” kata si korban dengan suara merintih. “Tidak? Oke, soalnya obatnya pun beda kalau kalian habis minum. Berapa botol…? Kata suster. “Tidak, bu….. Cuma dua botol..” katanya dengan suara engantuk. “Euhhhhhh……!” Dasar.

Belum selesai satu pasien, tiba-tioba muncul lagi seormbongn orang menggotong seorang remaja. Juga berdarah-darah. Sisi kanan belakang kepalanya meganga seperti bekas bacokan. Darah tak henti mengalir. “Dikeroyok dan dibacok…” kata lelaki paro baya yang mengantarnya.

Astaga, lagi! Suasana lebaran rupanya tak membuat orang riang gembira dan berhati lapang serta berkepala dingin. Amarah dan kekerasan dijadikan panglima untuk menyelesaikan persoalan.

Di sisi lain, entah apa pula makna lebaran bagi para pemuda yang kemudian bergelimpangan dengan luka-luka serius akibat kecelakaan lalu lintas, gara-gara memacu sepeda motor sambil mabuk minuman keras. Satu di antara pemuda yang tadi tabrakan itu, tampaknya gawat betul karena segera dirujuk ke ruang rawat intensif.

Selang sesaat ruang UGD bertambah sibuk oleh datangnya para polisi. Beberapa di antaranya berseragam. Selebihnya, berpakaian sipil. Dari percakapan mereka tertangkap kesan, para reserse ini sedang mengusut kasus kriminal, pengeryokan dan penusukan. Dan, di antara yang dirawat itu terdapat korban (mungkin juga di antara pelakunya)…

Malam lebaran, euy!!

Iklan

5 Responses to “Suatu Malam di UGD”


  1. Oktober 15, 2008 pukul 11:59 pm

    Nasib Laras bagaimana, Mas?
    Sudah sembuh?

    Apakah para pemuda yang masuk UGD itu sadar bahwa mereka mestinya jaga diri untuk shalat Ied esok hari dan bersilaturahmi ke keluarga dan kolega (jika ada)?

  2. 2 yusranpare
    Oktober 16, 2008 pukul 1:59 pm

    Terima kasih Kris… apa kabar? Laras memang cuma malam itu di UGD, sampai menjelang subuh. Selanjutnya berobat jalan ke dokternya. Tapi Sabtu 11 oktober lalu, kondisinya ngdrop lagi, sehingga harus dirawat inap. ndilalah… neneknya sejak sehari sebelumnya juga harus dirawat. Jadilah Laras satu kamar dengan sang nenek. Syukurlah, Rabu (15/10), laras sudah boleh pulang. Kapan ke Bandung, Kris? singgah dong.

  3. Oktober 17, 2008 pukul 9:21 pm

    “aku baik baik sajaaaaaaaa…” (ala pinkan mambo…)

  4. 4 yusranpare
    Oktober 17, 2008 pukul 10:04 pm

    Hehehe…. ya, ya, ya… mudah-mudahan seterusnya baik-baik aja. Jangan lupa, jaga kesehatan ya.

  5. Oktober 29, 2008 pukul 2:27 am

    Saya jadi teringat kang, ketika pernah bertugas di kriminal dengan ngepos di UGD. Macam2 orang dan usia dengan berbagai sebab yang masuk UGD. Jadi teringat juga ketika harus mengenakan kostum perawat atau dokter untuk menyamar agar bisa mencari data atau memotret korban.

    Semoga keluarga sehat selalu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: