01
Des
08

Bukan “Intel Melayu”

adam_malik_tim_weiner1

HEBOH meledak menyusul terbitnya Legacy of Ashes: The History of CIA yang di Indonesia diterbitkan di bawah judul Membongkar Kegagalan CIA. Ditulis oleh Tim Weiner wartawan kawakan The New York Times, buku ini mengungkap peran CIA dalam peta politik Indonesia terutama seputar periode Gerakan 30 September 1965.

Hal yang paling mengejutkan banyak pihak di tanah air adalah pengungkapan fakta bahwa Adam Malik –mantan wartawan yang jadi Menteri Luar Negeri kemudian jadi Wakil Presiden di era Soeharto– disebut-sebut sebagai kaki tangan dinas rahasia AS (CIA – Central Intelligence Agency).

Weiner mendasarkan tulisannya pada wawancara dengan pejabat tinggi CIA Clyde McAvoy pada 2005. McAvoy mengaku bertemu Adam Malik pada 1964. “Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik,” ujar McAvoy sebagaimana dikutip Weiner.

Kontroversi meledak menyusul terbitnya buku ini. Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Weiner bertanggung jawab karena telah menuding Adam Malik –tokoh nasional Indonesia– sebagai agen Amerika. Pihak keluarga marah dan berniat menyusun buku tandingan.

“Saya sebagai wapres menyesalkan tulisan itu. Saya tidak percaya, dan tidak mungkin Pak Adam Malik menjadi seperti apa yang ditulis itu,” kata Kalla setelah di Jakarta, Senin (24/11/08 ).

Apakah pemerintah perlu menarik peredaran buku setebal 832 halaman karya pemenang Pulitzer itu? Kalla bilang, “Sekarang bukan saatnya tarik-menarik. Kalau perlu, kita pelajari, dan kita minta pertanggungjawaban penulis buku, apa alasannya itu.”

Putri Adam Malik yang jadi anggota DPR RI, Antarini Malik, marah. Antarini, Senin (24/11) kemudian meminta kepada negara untuk bisa turun tangan membersihkan nama baik bapaknya dari tudingan Tim Weiner.

“Weiner di sana dikenal sebagai wartawan yang senang mencari sensasi. Supaya bukunya laku, dia memang suka menulis soal CIA. Saya kemudian menjadi bertanya, jangan-jangan yang diwawancarai dia itu sudah tidak ada lagi,” kata Antarini.

Membongkar Kegagalan CIA ditulis berdasarkan 50.000 dokumen, khususnya arsip CIA, arsip Gedung Putih, dan arsip Departemen Luar Negeri Amerika, ditambah 2.000-an bahan dari para perwira intelijen Amerika, tentara, dan diplomat. Weiner juga melakukan 300 lebih wawancara dengan para perwira dan veteran CIA, termasuk dengan 10 direktur intelijen pusat.

Pada pengantarnya, Weiner menyatakan “Buku ini bersifat on the record — tidak ada sumber tanpa nama, tidak ada kutipan buta, tidak ada gosip.” Mungkin karena itu pula buku ini mendapat penghargaan antara lain National Book Award 2007 untuk nonfiksi terbaik di Amerika. Selain itu, tak kurang dari 12 majalah ternama di dunia memasukkannya sebagai buku terbaik 2007.

Di tanah air, majalah Tempo edisi 1-7 Desember 2008 mengangkatnya sebagai laporan utama, dilengkapi wawancara tertulis dengan Weiner, dan wawancara dengan tokoh- tokoh nasional termasuk Rosihan Anwar dan Joesoef Isak, kawan dekat Adam Malik.

Benarkah Adam Malik jadi tangan-tangan CIA, entahlah. Yang jelas, dunia intelijen — sebagaimana sifatnya– senantiasa tertutup, serba rahasia. Ia bisa “merekrut” seorang tokoh diplomat, ekonom, wartawan, ilmuwan, atau bahkan bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Sosok yang “bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa” pun bisa dibangun melalui berbagai pendekatan dan pasokan informasi serta peran jaringannya yang kemudian mampu membangkitkan kepribadian sang agen, sementara yang bersangkutan sama sekali tak menyadarinya.

Jika pun ada yang secara sadar resmi direkrut sebagai agen dan digaji, tentu saja dia tak akan membuka mulut atau bahkan pamer diri bahwa dirinya agen rahasia. Beda dengan “intel melayu” yang meskipun dalam penyamaran atau operasi tertutup, gerak- geriknya gampang sekali dikenali dan dibaca. Wong, mereka sendiri sering kali setengah pamer seperti ingin dikenali.

Baik operasi intelijen maupun kontra intelijen, seringkali menampilkan pola dan wajah yang sama: Sama canggihnya, sama kejamnya, sama liciknya, sama biadabnya, sama- sama tak pandang bulu, kadang sama-sama tak berperikemanusiaan, sama-sama tak bermoral, dan…. entah apa lagi. ***

Liihat: curah

Iklan

0 Responses to “Bukan “Intel Melayu””



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: