Arsip untuk Februari 1st, 2009

01
Feb
09

Spirit Baru dari Utara

tribunmanadoterbit2

AKHIRNYA.…. bayi itu lahir!! Senin 2 Februari 2009 Tribun Manado terbit. Hari Minggu, kesibukan teman-teman di Manado meningkat pesat dan mencapai puncaknya menjelang dini hari ketika seksen akhir surat kabar itu naik cetak. “Maaf, kami sedang sibuk benar Kang,” tulis Mas Febby Mahendra, membalas pesan singkat saya.

Sibuk, sudah pasti. Tentu tegang pula. Saya turut merasakan gelenyarnya meski berada nun jauh di seberang pulau, karena sudah beberapa kali turut dalam proses kelahiran surat kabar baru di lingkungan Persda.

Apalagi dengan Tribun Manado. Meski sesaat dan pasti tak ikut memberikan apa-apa, saya merasa (ge-er kan boleh-boleh aja, to? hehehe) pernah terlibat saat pelatihan bersama teman-teman calon wartawan. Setidaknya, secara emosi saya merasa terlibat.

edisiperdanatribunmanado“Tadi sore ada syukuran kecil dan doa bersama. Diiringi mars Tribun, kami mulai produksi,” tulis Mulyadi Danu Saputra, wartawan Banjarmasin Post, yang mendadak di-BKO-kan ke Manado.

“Dengan bantuan doa dan tenaga dari Tribun dan mabes koran lain, bayi Tribun Manado lahir dengan sehat dan sempurna,” tulis Aswin Lumintang, putra asli Kawanua yang memperkokoh barisan redaktur Tribun Manado.

Ya, saya bisa membayangkan dinamikanya. Menyiapkan surat kabar baru dan melepasnya ke pasar yang sudah diwarnai koran-koran terdahulu, tentu saja sangat menggairahkan dan menantang. Sebagai produk baru, ia harus berbeda dengan yang sudah ada. Harus lebih baik, lebih lengkap, dan lebih menarik. Jika tidak, tewaslah.

Saya bisa membayangkan Krisna, Richard, Alvi dan lain-lain yang menggawangi sekaligus menata halaman-halaman Tribun. Saya juga bisa membayangkan mengkilapnya kepala Mas Febby saat jidatnya berkerut tegang, menyiapkan edisi awal produk terbaik untuk masyarakat Sulawesi Utara.

jalan-2685-anaktanggaBagi saya rangkaian ketegangan itu mungkin bisa diibaratkan dengan pendakian ke Bukit Kasih.

Monumen lintas-keyakinan yang terletak di desa Kanonang, Kabupaten Minahasa –sekitar 50 km arah selatan Manado– yang indah permai ini memberikan tantangan bagi setiap orang untuk melihat dirinya sendiri di tengah pluralitas kehidupan. Demikian pula pers. Begitu halnya Tribun Manado.

Mempersiapkan Tribun Manado mulai dari tahap awal hingga terbit edisi perdana, ibarat bersiap-siap mendaki Bukti Kasih. Kita memasuki pelataran kasadaran tetang adanya perbedaan, suku, agama, ras, dan lain sebagainya, yang di kompleks Bukit Kasih disimbolkan melalui tugu lima agama.

Lalu memulai pendakian, tahap demi tahap meniti anak tangga yang makin lama kian tinggi sekaligus makin menguras energi, memerlukan kesetiakawanan yang tinggi. Soalnya, situasi tanjakan menuntut masing-masing bisa mengatur napas dengan baik agar tak jatuh pingsan di jalan. Jika pingsan ia akan membebani orang lain yang sudah terbebani dirinya sendiri, heheh…!

denganopung1Setelah meniti 2.685 anak tangga –mudah-mudahan saya tak salah hitung– kita akan sampai ke puncaknya, dan menarik napas lega. Menatap keindahan Tanah Minahasa yang permai, nun di bawah sana. Berdiri di bawah salib yang menjulang 42 meter dari permukaan tanah puncak bukit, seperti sedang menusuk awan dan melesatkan spirit manunggaling (transendensi) manusia dengan Sang Maha Pencipta.

Proses pelahiran surat kabar mestinya juga begitu. Dilandasi keyakinan dan idealisme bersama yang asalnya berbeda-beda itu, ia dikerjakan secara kolektif melalui pendakian aneka masalah dan kesulitan, untuk satu tujuan yang sama.

tribun_manado1Ia hadir tidak hanya untuk menyampaikan informasi, melainkan sampai pada memberi manfaat prkatis, emosi, intelektual, bahkan manfaat spiritual bagi masyarakat. Begitu terbit edisi perdana, semua kerabat kerjanya pasti mengembuskan naps lega, seperti ketika Opung Richard tiba di atas Bukit Kasih dengan susah payah…. toh tiba juga di puncak.

Selamat datang Tribun Manado!!

ceo-tribun-manado

Bahkan CEO KOMPAS-GRAMEDIA Agung Adi Prasetyo ikut terjun langsung masarkan Tribun Manado di hari pertama terbit. (foto-foto dani permana)
01
Feb
09

Politik Gasing dan Yoyo

yoyo-gasing_adaptasi_foto_donny_sophandi

SAMBIL meladeni sindiran politik Megawati yang mengibaratkannya bermain yoyo, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyenggol Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan tentu juga Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Jika kepada Megawati pihak Yudhoyono mengumpamakannya bermain gasing yang bikin rakyat pusing, maka kepada TNI dia melontarkan rumor tentang adanya sejumlah perwira yang menggalang kekuatan anti-Yudhoyono.

Megawati –presiden sebelum Yudhoyono– adalah calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Pemilu 2009. Sedangkan TNI dan Polri –yang oleh undang-undang harus berada pada posisi netral– sejauh ini adalah lembaga yang paling siap melahirkan kader-kader politik, termasuk untuk menduduki kepemimpinan dari pusat hingga daerah.

Yudhoyono sendiri adalah satu di antara kader yang dihasilkan lembaga itu. Demikian pula sejumlah tokoh yang hari-hari ini digadang-gadang sebagai calon presiden, di samping calon-calon dari kalangan sipil.

Ketika meladeni sindiran Megawati, yang disebut-sebut akan menjadi rival paling potensial pada pemilihan presiden Juli nanti, banyak pihak menilai Yudhoyono sebagai emosional sehingga mudah terpancing.

Sedangkan tudingannya kepada para petinggi TNI dan Polri, dinilai pengamat sebagai tindakan yang sembrono, panik, dan menunjukkan ketidakpercayaan namun sekaligus ingin mengesankan sebagai pihak yang dizalimi dan dikhianati.

Di satu sisi, pernyatanya mengenai TNI –jika tudingannya itu betul-betul didasari kenyataan– bisa ditafsirkan bahwa pemerintahan Yudhoyono gagal mengangkat harkat TNI sebagai kekuatan pertahanan yang profesional. Akibatnya, muncul ketidakpuasan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk pembelotan sikap politik di balik seragam kenetralan.

Pada sisi lain, pernyataan Yudhoyono tersebut bisa juga dilihat sebagai manuver politiknya untuk mencari perlindungan pada TNI atau Polri, mengingat muncul beberapa nama perwira bertaburan bintang yang akan mencalonkan diri sebagai calon presiden.

Sebagai orang militer, Yudhoyono pasti sadar betul ‘kemampuan tempur’ tiap individu dan keterampilan mengoperasikan dan mengelola jaringan demi kemenangan, sebagaimana yang dilakukannya sendiri ketika maju ke ‘medan laga’ Pemilihan Presiden 2004.

Terlepas dari semua perdebatan itu, ketika pemilu makin dekat, seharusnya para elite politik mengurangi atau bahkan menghentikan tingkah laku mereka yang bisa membuat masyarakat mengalami kelelahan politik.

Jika rakyat sudah lelah, mereka akan ‘istirahat’ yang berarti demokrasi tak akan berjalan sempurna. Bagaimana rakyat tidak letih jika hampir saban hari mendengar dan menyaksikan elite saling terkam, saling tendang dan baku sodok lewat pernyataan-pernyataan.

Polemik berkembang dan meletup-letup namun tak pernah mencapai titik akhir berupa kesimpulan rasional yang bisa melegakan semua pihak, karena belum selesai satu perkara diperdebatkan dan diributkan, muncul lagi problem baru yang tak kalah seru.

Ujung-ujungnya, rakyat makin bingung. Padahal yang terpenting dari pertarungan politik di tahun 2009 adalah semua pihak mampu mengedepankan kepentingan bangsa dan negara ini daripada kepentingan kelompok, apalagi kepentingan pribadi.

Para elite itu seharusnya makin sadar bahwa kini rakyat sudah letih dan jenuh dijadikan alas kaki mereka. Mestinya mereka lebih berhati-hati, karena rakyat pun bisa bergerak. Kita tentu sangat tidak berharap bahwa besok lusa terjadi ‘arus balik’ yang melawan para elite.

Perlawanan itu bisa dalam berbagai bentuk, mulai dari menarik kepercayaan dan mandat yang selama ini telah diberikan kepada para wakil mereka. Atau melawan secara diam: Tak peduli lagi urusan politik, tak lagi mau berpartisipasi secara politik. Itu yang berbahaya bagi kelangsungan demokrasi.**