11
Feb
09

Haree genee… pelonco!

peloncoa1

BERITA duka itu muncul lagi dari Bandung. Kali ini seorang mahasiswa Institut Tekonolgi Bandung (ITB) meninggal saat mengikuti rangkaian kegiatan pengukuhan anggota ikatan mahasiswa geodesi. Kegiatan itu berlangsung di luar arena kampus, yakni di dataran tinggi Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (8/2).

Sejauh ini belum jelas benar apa yang menyebabkan kematian mahasiswa tersebut. Polisi setempat menyelidikinya secara intesif. Pihak institut pun bertindak cepat, mencopot ketua program studi geodesi yang dinilai lalai memantau aktivitas mahasiswanya.

Dugaan yang berkembang, korban tewas karena fisiknya tak tahan mengalami tekanan dan gojlogan para seniornya dalam proses pengakuan dan pengukuhan sebagai anggota komunitas himpunan mahasiswa program studi tersebut.

Pihak kampus berkelit dengan menyatakan telah melarang kegiatan orientasi program studi dan pengenalan kampus (Opspek) dan sejenisnya, demikian pula terhadap kegiatan himpunan ini. Bahkan sejak sepekan lalu sudah enam kali menegur panitia karena menyelenggarakan kegiatan itu di lingkungan kampus.

Meski secara resmi sejak 1979 perpeloncoan telan dilarang secara nasional. Bahkan di ITB, pada 2005 pihak institut menerbitkan aturan yang mempertegas larangan itu, menyusul jatuhnya korban tewas pada kegiatan sejenis di luar kompleks kampus.

Pada prakteknya kegiatan-sejenis itu tetap berlangsung, tidak hanya di ITB tapi hampir di setiap kampus. Sebagian ada yang memang jauh dari bentuk perpeloncoan fisik, tapi tak kurang pula yang menjadikan kegiatan macam itu sebagai ajang unjuk kuasa dan pamer kepongahan senioritas.

Persitiwa paling menghebohkan tentu saja terbongkarnya rangkaian kekerasan di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) yang kemudian diubah namanya menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), yang ternyata tak banyak mengubah kultur kekerasan terhadap mahasiswa-mahasiswa barunya.

Perlakuan kasar semacam perpeloncoan fisik yang merendahkan hak- hak dan martabat manusiawi manusia sebenarnya sangat tidak sesuai dengan prinsip-pripnsip dasar kehidupan kampus ebagai lembaga inetelektual dan wadah pemuliaan moral.

Tahun demi tahun korban selalu saja jatuh, dari kampus yang satu ke kampus yang lain. Kampus negeri atau kampus partikelir, kadang sama saja, para senior seringkali tiba-tiba merasa berhak menindas adik-adiknya yang akan masuk ke dalam keluarga besar mereka.

Akibatnya, kegiatan bagi mahasiswa baru tetap saja jadi arena mentradisikan kekerasan, sebab mereka yang merasakan nasib buruk sebelumnya akan berusaha mempraktekkan hal yang sama pada tahun ajaran berikutnya.

Dendam selalu muncul setiap pelaksanaan penyambutan warga baru di kampus, bersamaan dengan itu feodalisme makin dikokohkan dengan tetap bertahannya dikotomi senior-yunior, dengan superioritas berada pada pihak senior.

Mahasiswa baru tak diberi hak bersuara, apalagi beda pendapat dengan senior. Wadah pengasah intelekual itu justru dibuka dengan parade kekerasan, penindasan, dan unjuk kekuasaan yang seolah tanpa batas dan tanpa kontrol. Kita tidak bisa membayangkan manusia macam apa yang akan dilahirkan wahana seperti ini kelak di kemudian hari.

Ketika kehormatan tidak ada lagi harganya, ketika kemanusiaan tidak ada lagi nilainya, ketika itu pula barisan kampus itu berteriak: tegakkan demokrasi. Dan, mereka mengunyah kata-kata itu sambil kakinya menginjak kepala mahasiswa baru, menekan mahasiswi baru, dan memekikkan kemerdekaan hak-hak manusiawi manusia.

Tak ada yang tahu mengapa tradisi keras dan brutal itu terus saja dilakukan oleh para insan di sejumlah kampus yang katanya menjunjung tinggi hahrkat martabat manusia dan peradaban.

Kampus adalah ajang untuk membuka pintu ke semesta pengetahuan yang tak terbatas, bukan tempat untuk menindas. Meski kita tahu saja bahwa isntitusi kampus pun –dan para dosen– kadang tak bisa menhindarkan diri “menindas” pada para mahasiswanya.

Di masa depan akan lebih baik lagi jika semua pihak, terutama para mahasiswa baru, sepakat dan bersatu padu menolak kegiatan apa pun yang tidak selaras dengan porsi akademik.

Menolak segala bentuk pelecehan, penindasan, dan perlakuan yang merendahkan hak asasi serta martabat manusia. Jika perlakuan seperti itu tetap dipaksakan, berontak saja: Lawan! ***

Iklan

0 Responses to “Haree genee… pelonco!”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: