04
Jul
09

Membaca Vonis Pohan

palu

dan, vonis pun jatuh

MAJELIS hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, menghukum Aulia Pohan dengan pidana penjara 4,5 tahun. Sementara Bun-bunan Hutapea dan Aslim Tadjudin diganjar masing-masing empat tahun penjara. Majelis hakim menganggap ketiga orang itu terbukti bersalah.

Ketiga pejabat tinggi Bank Indonesia itu dianggap telah memperkaya orang lain dengan uang Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia sebesar Rp 100 miliar. Uang itu dialirkan untuk membiayai bantuan hukum pejabat BI yang kena perkara korupsi, dan menyuap anggota DPR untuk memuluskan proses pembahasan Rencana Undang-undang Bank Indonesia.

Dari peristiwa hukum itu, kembali masyarakat memperoleh gambaran bahwa praktik korupsi telah menjalar sedemikian rupa, kait mengait, melibatkan orang-orang yang seharusnya bersih dari noda korupsi.

Ketiga terpidana –yang kemudian naik banding– itu merupakan mata rantai dari kasus korupsi yang sebelumnya telah diungkap, disidangkan, dan sudah pula divonis. Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat, terbukti menerima suap untuk melancarkan proses legislasi yang berkaitan dengan kepentingan Bank Indonesia.

Terlepas, apakah vonis itu memenuhi rasa keadilan masyarakat atau tidak, pada satu sisi merupakan angin segar sekaligus dukungan terhadap spirit pemberantasan korupsi yang dari hari ke hari selalu saja tampak ada yang berusaha meredamnya dengan berbagai cara.

Dengan menghukum orang-orang yang dianggap terlibat dalam jaring kejahatan korupsi, tanpa pandang bulu (bahkan besan presiden), rezim yang sedang berkuasa terkesan betul-betul memegang komitmennya untuk menegakkan hukum.

Langkah penegakan hukum itu tentu saja patut diapresiasi dan terus didukung agar bangsa kita segera terbebas dari ‘kultur” korup. Tentang seberapa besar atau seberapa jauh hasil yang dicapai kemudian, itu soal nanti.

Pemberantasan korupsi membutuhkan dukungan politik yang kuat, infrastruktur yang kokoh, komitmen yang bisa dipercaya, karena yang dihadapi bisa saja kawan sendiri. Contoh nyata, penanganan dugaan suap dan korupsi terkait dengan dana dari BI yang melibatkan pejabat tingginya dan wakil rakyat.

Pemberantasan korupsi di Indonesia sungguh suatu upaya luar biasa sulit, bahkan terkesan mustahil, sekalipun bukan berarti tak ada jalan keluar. Langkah dramatik KPK belakangan ini telah memberi harapan baru yang lebih baik, karenanya jangan sampai harapan itu padam lagi.

Korupsi di negeri ini memang sudah tidak bisa dilawan dengan cara biasa. Tantangan terberat pemerintah adalah membersihkan dahulu institusinya sebelum menyapu bersih seluruh praktik korupsi.

Salah satu caranya adalah mereformasi mental pegawai negeri, karena di situlah titik pokok korupsi di jajaran pemerintah. Mulai level paling rendah, hingga ke tingkat departemen. Sedemikian sistemik, terorganisir rapi, dan biasanya di antara ‘tikus-tikus’ itu terjalin komitmen tahu sama tahu.

Rakyat tentu saja boleh memandang dengan kacamata keraguan mengenai keseriusan pemerintah memberantas korupsi, meski sejumlah pejabat dan petinggi negara telah dipenjarakan karenanya.

Soalnya, segala upaya yang dilakukan untuk memberantas korupsi selama ini seolah tak berbekas. Jaring-jaring korupsi justru seperti kian melebar dan makin alot, menjalari segala aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.

Dan, perlu diingat, isu pemberantasan korupsi itu bukan isu baru. Sudah digembar-gemborkan amat kencang sejak era Soekarno, di masa Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, hingga era Yudhoyono yang tinggal berbilang hari.

Nyatanya, korupsi tetap merajalela. Bahkan –dalam beberapa bentuk– sudah diterima sebagai kelaziman dan keharusan yang tak perlu dipertanyakan lagi. Masyarakat sendiri seperti sudah tak berdaya menghindarinya, bahkan cenderung ikhlas melarutkan diri di dalam praktik yang seharusnya diperangi itu. Mungkin karena itu pula korupsi sulit diberantas. ***

Iklan

0 Responses to “Membaca Vonis Pohan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: