12
Jul
09

Dengan Hati

trias* Trias Kuncayhono – Pengantar untuk kumpulan tulisan Gigo Gigo

Humanas actiones non ridere, non lugere,
neque destari, sed intelligere
(Kehidupan manusia itu jangan ditertawakan, jangan diratapi,
dan jangan dikutuk, tetapi hendaknya dimengerti )
Pepatah Latin

DUNIA konsumsi dan komunikasi massa merupakan dunia mimpi yang menjadi kenyataan. Komunikasi massa menuntut kecepatan, instan. Komunikasi massa hanya kenal satu dimensi waktu yakni urgensi. Informasi yang terlambat adalah komunikasi yang sudah basi. Sudah tidak enak lagi dikunyah-kunyah, apalagi ditelan. Karena itu, ia-informasi yang terlambat itu-tidak memiliki nilai aktualitas lagi.

Budaya urgensi , menurut Haryatmoko (BASIS, Nomor 05-06, Tahun Ke-58, Mei-Juni 2009) inilah yan menyebabkan sulitnya membedakan antara yang pokok dan yang sekadar tempelan. Semua seakan serba urgen, mendesak, penting, dan bahkan seakan harus dikerjakan dalam waktu segera.

Orang tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengambil jarak atas apa yang dilakukannya. Tidak mungkin lagi bertanya, apalagi memberi makna atas tindakannya atau mencoba kritis atas kegiatannya (apalagi terhadap tindakan dan kegiatan orang lain). Orang ditempatkan selalu dalam situasi instan terus-menerus. Padahal, di balik kejadian selalu ada makna atau sekurang-kurangnya dapat dimaknai.

Memberi makna. Itulah yang telah dilakukan oleh Kang Yusran lewat tulisan-tulisannya yang dijadikan satu menjadi buku yang sekarang tengah Anda baca ini. Lewat tulisan-tulisan ini, Kang Yusran memaknai atau sekurang-kurangnya berusaha memaknai fakta di lapangan, fakta di sekitar, fenomena yang ada di tengah masyarakat. Ia tidak membiarkan peristiwa berlalu  begitu saja.

Ia juga tidak membiarkan fakta yang ditemui di lapangan diam dan mati tak berarti. Tetapi, semuanya berusaha dihidupkan, semua berusa diberi makna sehingga menjadi berarti bagi semua orang, sehingga tidak begitu saja berlalu dilupakan orang, dan tidak membekas dalam hati dan pikiran orang.

Dengan imajinasinya, Kang Yusran menghidupkan dan member makna fakta dan fenomena yang ditemuinya. Imanjinasi-meminjam pendapat Emanuel Kant-adalah penghubung antara kategori-kategori pengertian yang abstrak itu dengan sense-impressions. Dengan kata lain, imajinasi berada di antara pengertian dan sensasi. Imajinasi hanyalah alat untuk membuat sebuah konsep menjadi grafis (menjadi skema) agar konsep itu dekat dengan kenyataan.

Daya imajinasi itulah yang telah membuat fakta dan fenomena yang ditemui Kang Yusran di lapangan menjadi bermakna. Makna butuh pengambilan jarak. Itu berarti mengandaikan perlu waktu. Hal itu tentu saja bertentangan denga komunikasi massa yang menuntut kecepatan, instan, urgensi.

cover_gigogigoMengapa hal itu bisa terjadi? Karena Kang Yusran menulis dengan hati. Ia tidak sekadar menuangkan apa yang ada dalam pikirannya tanpa lewat sebuah perenungan, tanpa lewat sebuah pengendapan.  Tetapi, semua tulisan yang ada dalam kumpulan tulisan ini adalah hasil dari sebuah perenungan yang mendalam.

Dengan kata lain, saya hendak mengatakan bahwa Kang Yusran menulis dengan hati nuraninya. Apakah hati nurani itu?

Dengan sengaja saya meminjam pendapat Gerson Poyk-sastrawan dari Pulau Rote-untuk menjawab pertanyaan di atas. Gerson Poyk berpendapat, hati nurani kemanusiaan adalah wadah spiritual bagi suatu roh yang paling suci, roh Tuhan, roh cinta kasih. Apakah ini iman? Mungkin saja.

Yang jelas, saya menangkap dan merasakan bahwa nurani kemanusiaan sangat terasa dalam tulisan-tulisan yang dikumpulkan menjadi buku ini. Kumpulan tulisan ini mengungkapkan atau menjadi bukti bahwa penghargaan Kang Yusran terhadap nilai-nilai kemanusiaan begitu kuat.

Inilah yang sering dilupakan orang. Ketika orang sudah mengejar pragmatisme, maka yang namanya nilai-nilai kemanusiaan itu dikesampingkan. Ke bahagiaan pribadi cenderung menggantikan tindakan kolektif atau bahkan kebahagiaan kolektif. Kita saksikan apa yang sekarang ini di depan mata kita, orang cenderung mengejar kepentingan diri di dalam semua aspek kehidupan. Contoh yang paling mudah adalah di dunia politik. Dengan uang orang mengejar segala-galanya, termasuk kedudukan, dan dengan uang orang dibuat tak berdaya, menjadi makluk yang bisa dibeli.

Di zaman seperti sekarang ini, orang cenderung sulit untuk memahami penderitaan orang lain; memahami manusia lain. Memahami penderitaan berarti membangun kedekatan dengan “yang lain”. Bagaimana mungkin memahami “yang lain” kalau yang diutamakan adalah kepentingan diri. Lewat buku inilah, Kang Yusran, berusaha memahami “yang lain.”

Pada akhirnya, lewat tulisan pendek ini, saya ingin mengatakan apa yang ditulis Kang Yusran ini hasil dari sebuah kreativitas yang dilandasi hati. Daya kreativitas, sifat kreatif adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari wartawan. Ia menyatu dalam diri. Seorang wartawan yang sudah tidak kreatif lagi, sudah kehilangan daya kreativitasnya, ia sudah kehilangan “kewartawanannya.”

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin pula mengutip pendapat banyak orang selama ini bahwa mahkota seorang wartawan adalah buku. Dan, inilah mahkota Kang Yusran. Dengan buku ini, Kang Yusran berusaha memahami kehidupan manusia di sekitarnya.

Selamat Kang.

Palmerah Selatan, 29 Juni 2009

Iklan

2 Responses to “Dengan Hati”


  1. Agustus 5, 2009 pukul 9:48 pm

    Pengantar yg menggoda, Mas Trias. Tak sabar utk segera mengunyah Gigo-Gigo Akang Yusran…

    • 2 yusranpare
      Agustus 5, 2009 pukul 10:11 pm

      Hahahaha….. bisa aja. Lha, sebagian naskahnya kan sudah kukirim tempo hari itu. Tapi menurut panjenengan kan nggak pas diterbitin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: