26
Jul
09

Siapa meneror siapa?

BANYAK orang akan sepakat jika ada yang mengatakan, bahwa tahun ini memberi harapan besar terhadap kententeraman dan kedamaian. Pesta politik paling masif –pemilihan anggota lagislatif dan pemilihan presiden– sejauh ini dilalui tanpa ketegangan berarti. Tanpa kerusuhan.

bomberAda harapan baru yang tumbuh dan makin berkembang, bahwa hari-hari berikut akan lebih baik. Kehidupan akan makin tenteram dan damai sehingga warga akan lebih tenang lagi menjalani kehidupannya, menjalankan aktivitasnya dengan kegairahan baru ke arah yang lebih maju.

Ketika tiba-tiba harapan indah itu tercerai-berai oleh dua ledakan bom di jantung Kota Jakarta, kita pun tersentak. Ada apa dengan negeri ini? Kita juga tersengat oleh kesadaran yang tibatiba muncul, apakah kita terlalu cepat lupa sehingga melalaikan hal-hal dasar yang seharusnya dilakukan?

Dan, itu berakibat fatal. Sembilan orang tewas. Puluhan lain cedera. Nama Indonesia yang selama tahun-tahun terakhir berusaha kita perbaiki, tercoreng lagi. Beberapa negara langsung mengingatkan warganya agar tidak ke Indonesia.

Insiden Marriott ‘Jilid II’ seolah meneguhkan anggapan sejumlah pihak (asing) selama ini, bahwa Indonesia adalah sarang yang nyaman bagi kaum teroris. Pengelola negara pun menerima teror balik dari pemerintahan mancanegara, berupa tekanan untuk membongkar habis teroris.

Orang yang meyakini teori persekongkolan, mungkin menganggap insiden itu adalah satu mata rantai dari persekutuan jahat tingkat global yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu sasaran.

Di lain pihak, orang juga makin yakin bahwa ternyata ada saja orang Indonesia yang rela mati bunuh diri sambil membunuh siapa saja dan sebanyak apa pun demi sesuatu yang diyakininya. Tak jelas mana yang lebih tepat.

Yang jelas, korban telah jatuh. Kita sadar, ternyata selama ini bertetangga dan bahkan berada di dalam kancah ‘republik teror’. Sebab, teror tetap terjadi meski orang-orang yang disebut sebagai pelaku peledakan sudah ditangkapi dan dihukum. Beberapa di antaranya dihukum mati.

Apalagi seperti luas diketahui, sejak insiden Bali I, aparat keamanan menjadi sedemikian siaga dan ekstra sensitif. Kini pengunjung mal, pusat perbelanjaan, dan hotel-hotel, sudah tak merasa terganggu lagi oleh pemeriksaan rinci sejak mereka memasuki areal parkir. Tapi, teror toh tetap terjadi.

Teror dalam bentuk lain pun, tetap marak. Kalau tidak di jalan raya, ya di pasar-pasar, di pelabuhan, di terminal, di hutan dan di tambang liar. Teror bisa muncul dari penjahat, bisa juga dari pejabat. Bagaimana –misalnya– mereka saling serang dan saling menjatuhkan. Tindakan mereka kadang meneror dan melecehkan akal sehat rakyat yang mereka pimpin dan mereka wakili.

Pemimpin, politisi dan pejabat tampaknya telah gagal menyelenggarakan komunikasi politik, baik di antara mereka sendiri maupun antara mereka dengan rakyatnya. Justru yang terjadi adalah, cara berkomunikasi mereka membuat rakyat terteror.

Bagaimana rakyat tidak terteror oleh pernyataan mereka yang demikian terbuka, telanjang, dan tanpa tedeng aling-aling tentang perkara-perkara yang semestinya hanya menjadi ‘domain’ mereka sendiri, bukan urusan rakyat awam?

Bagaimana mereka mengesankan diri menjadi subjek yang dizalimi dan dikeroyok lawan politiknya, sedangkan soal paling mendesak adalah bagaimana mengatasi kegiatan teroris yang senantiasa lolos. Padahal –konon– kegiatan intelijen sudah mampu mengendus gerakan sekecil apa pun yang mengancam keselamatan (calon) kepala negara?

Demikianlah, setelah dilibatkan untuk berpartisipasi penuh dalam pesta politik, rakyat masih diberi pekerjaan rumah yakni menata kembali perasaan dan kesabaran serta kebesaran hati untuk menghadapi sendiri kenyataan hidupnya. Termasuk menghadapi teror dalam aneka bentuk dan wajahnya. **

Iklan

0 Responses to “Siapa meneror siapa?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: