Arsip untuk Agustus, 2009

20
Agu
09

Partai dan Mas Tommy

BANYAK pihak tak menduga Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto tiba-tiba muncul kembali. Kali ini, ia meramaikan perebutan kursi orang pertama di Partai Golongan Karya, partai peninggalan rezim mendiang ayahnya itu sedang dalam proses suksesi.

mastommyKemunculannya di bursa pergantian pemimpin partai beringin itu meramaikan kandidat yang hari-hari belakangan ini disebut-sebut dan dianggap lebih berpeluang, dan tentu saja diikuti kontroversi.

Selain karena pengalamannya di organisasi partai belum terlihat, ia juga dibayang-bayangi status sebagai mantan narapidana dalam kasus pembunuhan terhadap seorang hakim agung.  Namun di luar itu, sesungguhnya tak ada yang luar biasa.

Ini negara bebas. Demokratis, kata orang. Jadi siapa mau jadi apa, ya bebas. Bahkan kemunculan Tommy sempat menyita perhatian, barangkali karena banyak pihak tidak menyangka putra penguasa orde baru yang sudah ditumbangkan itu ‘berani’ tampil lagi.

Keberanian yang –tentu saja– bukan tanpa latar belakang dan dukungan. Sokongan pertama, tentu dari orang-orang partai yang mencalonkannya. Berikutnya, pasti dari jaringan Keluarga Cendana yang sudah terbentuk sedemikian rupa sejak Soeharto berkuasa.

Mungkin saja Tommy sekadar digunakan sebagai kendaraan politik elite yang dekat dengan Soeharto untuk kembali berkuasa dengan cara ikut dalam prosesi partai yang pernah berpengaruh itu.

Namun bisa pula Tommy sendiri muncul tanpa membawa pesan tertentu, melainkan semata mewarnai kebebasan dan demokrasi karena siapa pun boleh mencalonkan diri jadi apa saja. Bahkan kalau perlu langsung mendirikan dan memimpin partai.

Dalam hal peluang, mungkin masih tipis. Setidaknya masih ada tokoh yang kiprah kepartaiannya sudah jelas seperti Aburizal Bakrie dan Surya Paloh, atau tokoh muda seperti Ferry Mursyidan dan Yuddy Chrinandi. Belum lagi ketentuan internal partai, yang mungkin saja tidak bisa mengakomodasi kiprah ‘orang baru’ seperti Tommy.

Sangat  boleh jadi, sebagaimana dikemukiakan pengamat politik, bahwa hasrat Tommy Soeharto menjadi ketua umum DPP Partai Golkar merupakan langkah awal atau ancang-ancang untuk ikut larut dalam kegiatan politik di kemudian hari. Bisa saja dia mempersiapkan diri atau dipersiapkan untuk meramaikan pemilihan presiden di masa berikutnya.

Sebagai anak mantan penguasa, wajar dia punya ketertarikan terhadap kerja politik. Fenomena itu juga berlaku bagi keluarga- elite politik lainnya. Apakah target Tommy hanya ingin menjadi ketua umum atau menjadi calon presiden. Insting itu sama dengan yang dimiliki keluarga elite politik lainnya, termasuk keluarga Bung Karno yang sejak dini sudah menyiapkan Puan Maharani.

Ketertarikan Tommy untuk menjadi orang pertama di Partai Golkar tampaknya didasari alasan yang realistis. Selain sebagai partai yang amat loyal pada mendiang ayahnya, Golkar adalah satu-satunya partai yang sejauh ini memiliki infrastruktur, jaringan paling solid dan masif sampai ke daerah terpencil. Meski suara Golkar cenderung turun, namun tidak sulit untuk menjalankan mesin politiknya.

Terlepas apakah Tommy akan bisa masuk ke dalam kancah pemilihan Ketua Umum Partai Golkar atau sekadar penggembira, yang pantas disesalkan adalah jika pencalonan pemimpin bangsa masih dikaitkan dengan latar belakang orangtua dan seberapa besar pengaruh atau seberapa besar hartanya.

Gejala itu menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih sulit menemukan sosok pemimpin yang benar-benar memiliki kemampuan dari dirinya sendiri. Inilah pekerjaan besar yang seharusnya diambil alih oleh partai yang ada sekarang ini, yakni bagaimana menyiapkan kader terbaiknya ke depan menjadi pemimpin bangsa. Itu penting, karena rakyatlah yang menentukan pemimpin mereka nanti.

Iklan
20
Agu
09

Merdeka atau “merdeka”

meredekaMERDEKA. Kata itu kembali disebut, diingat, diresapi, atau sekadar dipekikkan. Tujuh belas Agustus 64 tahun silam, pasangan Soekarno-Hatta mengumumkan kepada dunia bahwa negeri ini merdeka. Lepas dari belenggu kolonial.

Saban tahun, peristiwa itu diperingati sampai ke pelosok negeri. Bahkan di beberapa tempat, kemeriahan dan kesemarakannya kadang melebihi keramaian lebaran. Semua bersukacita. Bergembira. Bersorak. Memekik. Merdeka!

Boleh jadi, banyak yang tak lagi peduli dengan kata itu, kecuali pada saat-saat seperti sekarang, musim agustusan. Yang jelas, merdeka menjadi semacam kata mukjizat, wasiat, dan mungkin seperti mantera, atau malah kata tanpa makna sama sekali.

Kini, kata-kata itu kembali dipekikkan, sambil kadang diikuti pertanyaan dalam hati, betulkah kita sudah merdeka? “Kata siapa kita sudah merdeka? Merdeka itu artinya bebas dari penindasan, dari tekanan dan pengaruh yang tidak sesuai, mandiri, dan bebas berkembang untuk maju,” ujar seorang sosiolog.

Betul juga, di zaman penjajahan Belanda dulu bangsa Indonesia tertindas, terdiskriminasi dan miskin. Sekarang, apakah sudah terbebas dari ketertindasan, diskriminasi dan kemiskinan itu?

Kalau dulu kita masih dikurung kebodohan dan keterbelakangan, apakah setelah 64 tahun merdeka kita sudah bebas dari kebodohan dan keterbeklakangan itu. Bukankah sekadar untuk bisa sekolah pun masih banyak warga kita yang dibelenggu ketakberdayaan membayarnya, tak mampu membeli buku paketnya?

Bersamaan dengan itu, kita juga sedang terjajah arus globalisasi. Negara yang kuat –meski tanpa persenjataan– bisa dengan mudah mencengkeram dan menghisap sumber daya negara lemah, termasuk menguasai informasi dan memaksakan budayanya demi kepentingannya.

Akibatnya, bangsa kita –diakui atau tidak– sedang dijajah budaya hedonis, pikiran konsumtif barang-barang yang diciptakan negara kuat, dan membelinya dengan mengeruk sumber daya alamnya termasuk dengan utang.

Lalu apa arti kemerdekaan yang sudah 64 tahun kita nikmati itu? Tanya saja kepada warga di seluruh pelosok Tanah Air. Mereka bisa merasakan betul betapa setiap hari tak pernah terbebas dari belenggu ketakutan dan kengerian. Rasa aman telah lama harus ditebus dengan kewaspadaan terus menerus.

Ya, ribuan jiwa telah melayang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Demikian selalu diajarkan dalam buku sejarah dan di utarakan kembali dalam pidato resmi. Tapi, berapa ratus ribu jiwakah yang telah mati tanpa proses hukum selama perjalanan bangsa ini menapaki kemerdekaannya?

Seberapa besar pula peran para pengelola negara ini untuk memerdekaan warganya dari rasa takut dan tak nyaman karena saban  hari dihadapkan pada praktik korup, ancaman kriminalitas, narkotika, kejahatan kerah putih, dan ancaman terorisme?

Kini kata ‘merdeka’ dipekikkan lagi di pojok-pojok gang, di panggung perayaan karang taruna, hingga di ruang sidang parlemen. Mengapa kemerdekaan itu harus selalu dijunjung tinggi? Karena itu hak paling asasi segala bangsa.

Tapi, coba tanyakan kepada saudara kita di Aceh yang telah kehilangan ribuan putra terbaiknya. Tanyakan pula kepada 3.000-an janda dan anak yatim di Tanah Rencong itu. Tanya juga warga Dayak dan Amungme yang cuma bisa termangu, menyaksikan bumi mereka dikuras dan hasilnya dialirkan ke segenap penjuru bumi, menggetarkan kabel-kabel jaringan bursa dunia. Sementara mereka tetap terbelenggu kemiskinan dan keterbelakangan.

Kemerdekaan yang sudah 64 tahun dihirup ini ternyata juga belum memberikan banyak arti kepada penduduk yang saban hari berbondong antre di kantor eksportir tenaga kerja –kata lain dari buruh– menyusul jutaan saudara mereka yang coba menadah hujan emas di negeri orang.

Di negeri sendiri, boro-boro hujan emas. Cadangan emas yang tersisa di bumi kita pun nyaris tak pernah dinikmati dengan utuh, karena kita belum juga bisa memerdekakan diri dari jaringan bisnis asing yang sudah lebih dahulu menjarahnya habis-habisan.

Merdeka!!

atau

“Merdeka”??

07
Agu
09

Wajah-wajah Top Markotop

noordintoppBuronan  paling dicari saat ini, Noordin M Top dikabarkan tertangkap. Noordin ditengarai terlibat dalam pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton. Anehnya, yang pertama merilis berita itu justru situs berita  Al Jazeera.net, Jumat (7/8/2009).

Jumat malam, televisi lokal terus menyiarkan liputan mnereka  dari lokasi perburuan di sebuah desa di Temanggung, Jawa Tengah. Merebak kabar, Noordin M Top tewas tertembak dalam penggerebekan tersebut.  Memang ada yang tertembak dalam operasi itu, namun polisi belum memastikannya.

Penggerebekan  dilakukan terhadap rumah  Mohzari (70) di Desa Beji, RT 01/07, Kelurahan Kedu, Kecamatan Kedu, Temanggung. Sebelumnya, Densus 88 Mabes Polri menangkap dua pria bernama Indra (35) dan Aris (38) di Pasar Parakan Temanggung. Kedua laki-laki itu merupakan keponakan Mohzari.

noordin-mochammad-top1Densus 88 menggerebek sebuah rumah di Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, yang diduga tempat persembunyian Noordin M Top. Polisi sudah menangkap lima orang. Namun tiga orang belum diketahui identitasnya.

Menurut kabar yang beredar, pukul 10.30 WIB Densus 88 Polda Jateng dibantu Densus Mabes Polri menangkap Indra (35) dan Aris (38) di Perakan, Temanggung. Mereka diduga menyembunyikan Noordin. Salah seorang dari tiga orang yang diamankan dan belum diketahui identitasnya itu diperkirakan adalah Noordin M Top.

noordin-mochammad-top3Noordin Mohamed Top yang merupakan Warga Malaysia disebut-sebut merupakan tokoh utama dibalik pemboman Bali tahun 2002 dan 2005. Hingga kini dia adalah orang yang paling dicari pihak berwenang di Asia. Pihak berwenang yakin mantan akuntan ini menjadi otak serangkaian serangan di Indonesia.

Nordin diduga berperan sebagai pencari anggota baru utama dan juga penyandang dana untuk kelompok militan Islam regional, jemaah Islamiyah, namun pengamat mengatakan dia kini membentuk kelompok milita sendiri.

NurdinmtopaPemerintah Indonesia berhasil membungkam serangan militan sejak bulan September 2005 – sejak serangan bom Bali II yang menewaskan 23 orang.  Tokoh yang diduga sebagai sekutu terdekat Noordin, Azahari Husin yang juga warga Malaysia, tewas dalam operasi polisi tahun 2005. Dua orang yang menyatakan diri sebagai pemimpin Jemaah Islamiyah dipenjara bulan April 2008 dan tiga pelaku serangan bom Bali dieksekusi mati bulan November tahun 2008.

Namun, serangan bunuh diri di dua hotel Jakarta bulan Juli 2009, yang menewaskan sembilan orang termasuk dua orang yang diduga pelaku bom bunuh diri ini, menimbulkan kekhawatiran bahwa kegiatan militan Noordin kembali dimulai. Kepala desk anti teror kantor menteri politik dan keamanan mengatakan ada “indikasi kuat” kelompok Noordinlah yang bertanggungjawab atas serangan itu.

noordin-mochammad-top4Noordin lari ke Indonesia bersama Azahari Husin setelah pemerintah Malaysia menghancurkan gerakan Islamis setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. Azahari tewas di Batu, Malang, Jawa Timur bulan November tahun 2005. Di Indonesia dia menikah dan memakai nama lain, Abdurrachman Aufi.

Istrinya, Munfiatin, dipenjara bulan Juni 2005 karena dinyatakan bersalah menyembunyikan informasi keberadaan suaminya. Kedua warga Malaysia ini diduga bekerja sama dalam merencanakan serangan, dengan Noordin bertindak sebagai penyandang dana sementara Azahari sebagai pembuat bom.

Selain dua serangan bom di Bali, keduanya juga diduga terlibat dalam dua serangan besar lain – pemboman hotel JW Marriot tahun 2003 yang menewaskan 12 orang dan kedutaan besar Australia tahun 2004 yang menewaskan 11 orang.

NurdinmtopPolisi Indonesia akhirnya berhasil mengepung Azahri, seorang insinyur yang meraih gelar Doktor dari Universitas Reading Inggris, di sebuah rumah di Jawa Timur November 2005. Ayah dua anak ini tewas akibat peluru polisi atau bom yang diledakkan oleh seorang anak buahnya, namun Noordin selalu berhasil lolos dari penangkapan.

article-noordin-420x0Bulan Januari 2006, polisi mengatakan Top menyatakan diri sebagai pemimpin kelompok baru bernama Tanzim Qaedat al-Jihad, yang berarti Kelompok untuk Dasar Jihad. Para pengamat berspekulasi dia meninggalkan struktur inti Jemaah Islamiah akibat perbedaan pendapat mengenai serangan pada “sasaran empuk”, yang seringkali memakan korban warga sipil.

Bulan April 2006 polisi menggerebek satu rumah di desa Binangun, Jawa Tengah, setelah muncul laporan Noordin Top tinggal di sana. Dua orang yang diduga militan Jemaah Islamiyah tewas dan dua lagi ditangkap dalam aksi tembak menembak yang terjadi dini hari.

noordin-mochammad-top2Sejumlah bahan peledak kemudian ditemukan di dekat lokasi. Namun, Noordin Top tidak berada di rumah itu dan dia tetap menjadi sasaran pengejaran utama polisi Indonesia.  Jumat (7/8/09) malam polisi menggerebek sebuah rumah di Temanggung.  Benarkah  kali ini Noordin M Top tak berkutik? ***

06
Agu
09

WS Rendra, RIP

rendra_RIP

SETELAH sempat sakit-sakitan akibat serangan jantung koroner, akhirnya penyair WS Rendra meninggal dunia. Budayawan yang dijuluki Si Burung Merak tersebut meninggal setelah sempat keluar dari RS yang merawatnya.

Rendra meninggal pada Kamis (6/8/2009) sekitar pukul 22.00 WIB di RS Mitra Keluarga, Depok. Gara-gara sakit, Rendra tidak bisa menghadiri prosesi pemakaman sahabat karibnya, Mbah Surip di komplek pemakaman Bengkel Teater, Citayam, Depok, Selasa (4/8/2009) lalu.

Penyair bersuara serak ini sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading. Rendra masuk rumah sakit akibat jantung koroner yang dia alami.

Sebelumnya pria kelahiran Solo tahun 1935 itu sempat dirawat di RS Cinere sejak Kamis, 25 Juni. Namun karena kondisinya tidak membaik, Rendra lantas dirujuk ke RS Harapan Kita, lalu dirujuk lagi ke RS Mitra Keluarga, demikian dilaporkan media.

Hingga kini, saya masih tergetar jika membaca sajak-sajaknya. Mungkin karena ia betul-betul mampu menyuarakan apa yang ingin disuarakan masyarakat, terutama di tengah situasi sosial- politik yang selalu tidak menentu seperti di tanah air kita. Misalnys, sajak-sajak ini:

Doa Orang Lapar

kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam
o Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran
o Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin
o Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca
o Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam
o Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu

WS Rendra (Kumpulan Puisia “Sajak-sajak Sepatu Tua”  – Pustaka Jaya – 1995 )

atau ini:

Sajak Seonggok Jagung

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.
Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar ………

Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja

Tetapi ini :
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.

Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :

“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”

WS Rendra TIM 12 Juli 1975 – Potret Pembangunan dalam Puisi

atau  ini:

Sajak Sebotol Bir

Menenggak bir sebotol,
menatap dunia,
dan melihat orang-orang kelaparan.
Membakar dupa,
mencium bumi,
dan mendengar derap huru-hara.
Hiburan kota besar dalam semalam,
sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa !
Peradaban apakah yang kita pertahankan ?
Mengapa kita membangun kota metropolitan ?
dan alpa terhadap peradaban di desa ?
Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,
dan tidak kepada pengedaran ?
Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,
Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing
akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam
Kota metropolitan di sini,
adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,
Australia, dan negara industri lainnya.
Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ?
Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa ?
Kini telah terlantarkan.
Menjadi selokan atau kubangan.
Jalanlalu lintas masa kini,
mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,
adalah alat penyaluran barang-barang asing dari
pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan
bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.
Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,
tidak untuk petani,
tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.
Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.
Di mana kita hanya mampu berak dan makan,
tanpa ada daya untuk menciptakan.
Apakah kita akan berhenti saampai di sini ?
Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ?
Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik
yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan..
harus senantiasa menghasilkan..
Dan akhirnya memaksa negara lain
untuk menjadi pasaran barang-barang kita ?
…………………….
Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ?
Apakah pemikiran ekonomi kita
hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ?
Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ?
Apakah kita akan hanyut saja
di dalam kekuatan penumpukan
yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan
terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?
…………………….
Kita telah dikuasai satu mimpi
untuk menjadi orang lain.
Kita telah menjadi asing
di tanah leluhur sendiri.
Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,
dan menghamba ke Jakarta.
Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi
dan menghamba kepada Jepang,
Eropa, atau Amerika.

Pejambon, 23 Juni 1977 (Potret Pembangunan dalam Puisi)


04
Agu
09

mBah Surip, Aduh!!

surippJUMAT 24 Juli 2009, secara kebetulan saya berpapasan dengan Mbah Surip, di lobby hotel Java Paragon, Surabaya. Saya hendak ke luar untuk merokok, mBah Surip baru saja turun dari mobil, bersama  rombongannya.

“Ha! Apa kabar, Mbah? Dari mana, kok tampak buru-buru…?” Dia menyorongkan tangan menyambut jabat tangan saya. “Biasa, Mas! He..he..he..he..he..” kataya sambil kemudian tangnnya menunjuk ke arah dalam, dan bergegas berlalu.

Selasa (4/8/09), penyanyi fenomenal ini meninggal dunia,  pada pukul 10.30 WIB.  Ia sempat dilarikan ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur.  “Iya benar tadi meninggal pukul 10.30 WIB,” kata Mega, petugas pendaftaran RS Pusdikkes saat dikonfirmasi detikcom.

Mbah Surip memiliki nama asli Urip Ariyanto. Menurut KTP, dia lahir pada 1963. Mbah Surip mendulang uang miliaran rupiah dari ring back tone (RBT) ‘Tak Gendong’.

Penyanyi bergaya Bob Marley yang terkenal dengan ‘I Love You Full’ ini berencana membuat album Ramadan tak lama lagi. Dia juga berniat menggandeng Manohara untuk berduet. Tak gendong ke mana-mana… Selamat jalan, Mbah Surip….

Mbah Surip meninggal dunia di rumah Mamiek ‘Srimulat” di kawasan Kampung Makassar, Jakarta Timur. Mamiek tahu persis kondisi penyanyi berambut gimbal itu, termasuk kata terakhir yang diucapkan oleh Mbah Surip. “Berulang-ulang dia bilang I love you full,” kata Mamiek Prakoso seperti dikutip  detikcom, Selasa (4/7/2009).

Mamiek menceritakan, dia sempat dipanggil kerabatnya agar masuk ke dalam karena didapati kondisi Mbah Surip tengah meracau ‘I Love You Full’ dengan mulut mengeluarkan air liur.

Selamat jalan, mBah!