14
Okt
09

O, Anak-anak…….!!

kiddi

DUA peristiwa mengejutkan dan menarik perhatian terkait dengan anak-anak dan perlindungannya, terjadi dalam selang sehari di dua tempat terpisah. Peristiwa itu menyentuh sekaligus menggugah kembali kesadaran tentang bagaimana sesungguhnya bangsa ini memperlakukan anak-anak.

Menurut berita, seorang anak lelaki berusia 10 tahun membunuh ibu angkatnya. Anak itu yatim piatu korban gempa dan tsunami 2004 yang dirawat sebuah keluarga di Jakarta. Diceritakan, akhir-akhir ini ia selalu rindu kampung halamannya di Nias. Selama ini ia memperopleh perlakuan kasar dari orangtua angkatnya.

Sehari sebelumnya, perhatian masyarakat tertuju ke Semarang Jawa Tengah. Majelis hakim pengadilan negeri setempat membebaskan lelaki berusia 44 tahun yang digelandang ke meja hijau atas tuduhan melakukan eksploitasi seksual terhadap anak perempuan berusia 12 tahun (di bawah umur). Jika merujuk pada undang-undang yang berlaku, lelaki itu terancam hukuman penjara setidak- tidaknya 15 tahun.

Tokoh pembela hak anak dan para penggiat di Komisi Perlindungan Anak Indonesia langsung bereaksi terhadap peristiwa tersebut. Mengenai pembunuhan yang –mnenurut pengakuan sang anak– dilakukan bocah di bawah umur, kalangan psikolog menyatakan polisi agar berhati-hati dalam menanganinya.

Selain harus melakukan pemeriksaan psikologis secara komprehensif, hendaknya juga memperhatikan latar belakang dan kemungkinan lain terkait dengan masalah tersebut. Para psikolog berpendapat, tipis kemungkinan seorang anak seusia itu bisa membunuh orang dewasa, meskipun ia dalam tekanan.

Perlu diteliti kemungkinan lain, di samping terus mengusahakan perlindungan dan pendampingan mengingat usianya masih kanak-kanak dan masih harus di bawah pengampuan orang dewasa.

Mengenai pembebasan lelaki dewasa yang terang-terangan memamerkan kedigdayaan dan kekayaannya untuk memperlakukan anak perempuan di bawah umur sekehendak hatinya dengan berkedok mengawininya, para penggiat hak anak juga berontak.

Selain protes melalui media massa, mereka juga mengadukan proses peradilan itu ke Komisi Yudisial. Mereka menilai, keputusan majelis hakim membebaskan lelaki berpoligami yang mengawini anak kecil itu, menunjukkan bahwa majelis hakim tidak peka dan tidak memiliki perspektif perlindungan anak.

Pasal 81 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan tegas menyebutkan bahwa pelaku pencabulan terhadap anak tidak harus dengan kekerasan, tapi juga dengan tipu muslihat dan bujuk rayu.

Hal itu sudah cukup diterapkan pada kasus di Semarang, di mana sang anak –atas persetujuan orangtuanya– bersedia dikawini lelaki kaya yang seusia ayahnya. Para penggiat hak anak menilai, pada kasus itu majelis hakim tidak memperjuangkan kepentingan terbaik bagi anak melalui perwujudan keadilan.

Melihat perjalanan kasus itu dan pro-kontra yang mengiringinya, patut pula dipertimbangkan mengenai upaya di luar hukum yang mungkin dilakukan pihak terkait untuk membelokkan hukum sesuai dengan kepentingannya.

Bukankah sebelumnya dia juga berusaha menyelesaikan masalah itu dengan menggelontorkan uang bermiliar rupiah melalui pengacaranya?

Dua peristiwa di atas dengan jelas menggambarkan bahwa sejauh ini kita masih belum bisa atau bahkan mungkin belum rela memberikan dan menyelenggarakan perlindungan yang menjadi hak mutlak anak. Masih ada anggapan, anak-anak adalah anak-anak yang harus berada di bawah subordinasi orang dewasa.

Banyak di antara kita yang belum rela memandang dan menempatkan mereka sejajar sebagai manusia yang memiliki otoritas penuh atas hak-hak kemanusiaannya. Padahal, manusia dewasa tak akan bermakna tanpa keberadaan anak- anak. Begitu pula sebaliknya. ***

Iklan

0 Responses to “O, Anak-anak…….!!”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: