Arsip untuk November 16th, 2009

16
Nov
09

Bincang-bincang Gigo Gigo

bincang-bincang donny

choiruman bincang gigo 05BANJARMASIN, BPOST – Santai, serius dan penuh keakraban. Itulah suasana dalam talkshow buku Gigo-gigo bersama penulis buku yang juga pemimpin redaksi (Pimred) Banjarmasin Post Group, Yusran Pare di Toko Buku (TB) Gramedia Jalan Veteran, Minggu (15/11) siang.

Para undangan dan pengunjung toko buku terbesar di Banjarmasin  itu, terlihat antusias mengikuti pemaparan isi buku langsung dari sang penulis.  Dipandu Diana Rosianti yang juga Manajer Area Smart FM Banjarmasin, acara yang bertajuk Bincang-bincang Bersama Yusran Pare, banyak diimbuhi guyon-guyon  segar.

Gelak tawa pun membahana, ketika sang pemandu acara melontarkan pertanyaan terkait judul buku yang mendekati penjualan lima ribu eksemplar tersebut. “Kenapa judulnya Gigo-gigo, kok tidak sekalian Gigolo biar jelas. Anehnya, isi dalam buku ini lebih banyak mengulas perempuan,” kata Diana.

bincang1Sambil tersenyum, Yusran Pare menjelaskan, buku tersebut merupakan kumpulan dari esai yang penah diterbitkan di Tabloid BëBAS.  Tulisan tersebut, mengupas sisi lain dari peristiwa besar yang terjadi saat itu. Namun, dari peristiwa besar itulah banyak hal-hal kecil yang sering terlena dari perhatian masyarakat. Padahal memiliki nilai lebih.

“Misalnya persoalan prostitusi mudah dijumpai di setiap daerah, selain perkembangan pembangunan. Sering kali hal itu terabaikan oleh masyarakat,”  terangnya.

Selain itu persoalan hukum, seperti yang terjadi sekarang ini. Menurut mantan Pemred Tribun Jabar ini, persoalan tersebut pernah mewarnai dunia hukum di Banjarmasin.  Masyarakat disuguhi ketidakpastian dan “rekayasa” mengenai penegakan hukum.

“Dalam tulisan Negeri Sakau, itu pernah terjadi enam tahun lalu di Banjarmasin. Artinya, sebelum Jakarta geger dengan persoalan hukum itu, di Banjarmasin sudah pernah terjadi,” tegasnya.

Menurut pakar komunikasi Unlam Banjarmasin Fachriannoor, buku Gigo-gigo tidak ketinggalan zaman. Artinya, isinya sesuai dengan perkembangan zaman meskipun tulisan itu dibuat sekitar enam tahun lalu.

Kelebihan buku tersebut sangat dekat dengan pembaca, karena memberikan gambaran tentang hal-hal yang kerap ditemui di masyarakat.   “Apalagi buku tersebut dengan bahasa yang lugas disertai fakta-fakta dengan gaya dialog. Itulah yang menjadi kekuatan buku ini,” terangnya sambil mengangkat buku Gigo-gigo. (coi)

Ngobrol Gigo-Gigo Bersama Yusran Pare

DOKUMENTASI

Selasa, 9 Februari 2010 | 00:31 WIB

BANDUNG, TRIBUN – Mantan Pemimpin Redaksi Harian Pagi Tribun Jabar yang kini menjabat Pemimpin Redaksi Harian Umum Banjarmasin Post, Yusran Pare, akan hadir dalam acara bincang- bincang mengulas bukunya Gigo-Gigo di Toko Buku Gramedia Bandung Supermal, Rabu (10/2) pukul 14.00.

Selain diulas penulisnya, akan hadir pembahas pakar ilmu komunikasi dari Universitas Islam Nusantara (Uninus) Dr Yosal Iriantara. Buku Gigo-Gigo, yang diterbitkan oleh PT Grafika Wangi dan diberi pengantar oleh Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Trias Kuncahyono, merupakan kumpulan tulisan Yusran Pare yang menyoroti isu-isu aktual yang terjadi di tanah air. Gigo-Gigo berisi 61 judul tulisan yang dikupas mulai dari politisi, pelacur, pelawak, santri, rahib, penyanyi, semuanya hadir dalam bahasa yang renyah.

Gigo-Gigo terbit pertama kali pada Agustus 2009, diluncurkan di Kota Banjarmasin dan langsung diserbu para kutu buku, termasuk artis yang saat itu hadir di Banjarmasin. Hingga Februari 2010 ini Gigo-Gigo sudah cetak ulang. (cep)

Gigo Gigo, Buku Wajib Bagi yang Ingin Berubah

Foto: Agung Yulianto Wibowo
Penulis Buku Gigo Gigo, Yusran Pare (kanan) didampingi Dosen Fikom Uninus, Dr Yosal Iriantara, saat bedah buku Gigo Gigo di Bandungsupermal (BSM) pada Rabu (10/2).

Rabu, 10 Februari 2010 | 21:10 WIB

GILA dan cerdas! Itulah komentar yang diungkapkan seorang pakar komunikasi, Soni Sonjaya, seusai menjadi pembawa acara bedah buku Gigo Gigo karya Yusran Pare, di Toko Buku Gramedia, Bandung Supermal, Rabu (10/2). Menurutnya, buku itu lahir dari seorang penulis yang berpenampilan apa adanya, sesuai dengan karyanya.

“Tulisannya itu juga disajikan lebih kepada personal, apalagi bisa memungkinkan seseorang mengubah cara pandangnya. Pokoknya buku luar biasa yang mengangkat realita masyarakat sesuai fakta,” ujarnya. Karena bersifat sentilan secara personal, buku ini patut untuk dijadikan referensi bagi yang ingin berubah secara pola pikir dan perilaku.

Soni juga mengatakan, selain tulisan yang dikemas ringan agar mudah dimengerti dan dipahami, kumpulan fakta itu juga menyentil karut-marut politik dan sosial yang ada di negara ini, yang terkadang malu untuk diungkapkan pemerintah.

Lain halnya komentar dari Dr Yosal Iriantara dari Fikom Universitas Islam Nusantara (Uninus). Menurutnya, hanya ada beberapa buku yang menyerupai kumpulan tulisan fakta yang dijadikan buku oleh Yusran, yakni Catatan Pinggir karya Gunawan Muhammad dan Kompasiana karya PK Ojong.

“Gigo Gigo bisa disandingkan dengan kedua buku tersebut. Namun, yang menyajikan fakta dengan derajat perenungan hanya ada di karya Yusran Pare,” ujarnya. Yosal juga menegaskan, Gigo Gigo bisa memiliki kekuatan untuk mengubah nilai yang paling dasar, yang berhadapan dengan manusia itu sendiri.

Komentar pun datang mantan rekan sekantor Yusran Pare, Ummy Latifah. Menurut perempuan yang mengenakan jilbab ini, buku ini menceritakan unsur budaya lokal di beberapa tempat di Indonesia. Ada yang dari Kupang, Aceh, Banjarmasin, dan Bandung. “Kata-katanya ringan, tetapi tidak vulgar,” ujar Ummy. Namun, kata karyawan sebuah penerbitan ini, tulisan itu belum sepenuhnya mendeskripsikan Yusran yang jahil.

Gigo Gigo adalah kumpulan tulisan Yusran Pare, mantan Pemimpin Redaksi Harian Pagi Tribun Jabar, yang kini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post. Tulisan itu menyoroti isu-isu aktual, dari kehidupan sosial hingga bencana alam yang terjadi, seperti gunung sampah Leuwigajah dan tsunami Aceh.

Buku ini menyajikan 61 judul tulisan yang mengupas mulai soal politisi, pelacur, pelawak, santri, rahib, hingga artis. Semuanya dikemas dengan tulisan yang bermakna sekaligus menghibur.

Pria kelahiran Sumedang 5 Juli 1958 ini mengatakan, ia hanya mengumpulkan fakta yang pernah diberitakan, yang juga merupakan karya jurnalisme.

“Saya hanya mengumpulkan dari perspektif yang baru,” ujarnya. Gigo Gigo diterbitkan PT Grafika Wangi pada Agustus 2009, dengan harga Rp 40 ribu. (zz)

16
Nov
09

Sekarang!!

keadilan

KEPALA Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri menyatakan, citra, harga diri, dan kehormatan polisi di Tanah Air sedang diuji. Opini negatif yang terus berkembang di masyarakat seakan mengubur pengabdian Polri kepada negara selama 64 tahun dan menutup segala prestasi yang telah dicapai.

Saat menyampaikan amanat pada peringatan HUT ke-64 Korps Brimob Sabtu (14/11/09), Kapolri mengemukakan bahwa hari-hari ini tiap gerak langkah polisi mendapat sorotan publik. Mereka menyangsikan profesionalisme polisi dalam menjalankan tugas penegakan hukum.

Apa yang dikemukakan kapolri tentu erat kaitannya dengan perkembangan yang terjadi dan sedang membelit institusi peradilan. Masyarakat sedang merasa mendapat konfirmasi dan peneguhan atas apa yang selama ini berlangsung dalam proses penegakan hukum, yang hanya dibicarakan melalui bisik-bisik, rumor, dan desas desus.

Setidaknya, saat ini polisi menghadapi tudingan melakukan rekayasa kasus dalam mengusut petinggi komisi pemberantasan korupsi (KPK). Tudingan serupa muncul pula dalam kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnain. Bahwa, petinggi polisi mengondisikan untuk menjerat Antasari Azhar.

Tentu saja pihak kepolisian membantah. Namun segera timbul kesan di masyarakat bahwa bantahan itu justru memperkuat dugaan bahwa hal yang dibantah itulah yang sebenarnya terjadi. Ada kesangsian, keraguan, bahkan ketidakpercayaan terhadap apa yang dikemukakan polisi.

Berbeda –misalnya– dengan ketika polisi mengumumkan keberhasilannya membongkar sindikat narkotika, dan melumpuhkan dua gembong teroris. Meski semula ada keraguan, polisi berhasil meyakinkan bahwa memang seperti itulah adanya. Bahwa gembong narkoba itu ada. Gembong teroris itu nyata.

Timbul pertanyaan, mengapa dalam kasus KPK dan Antasari Azhar, masyarakat justru cenderung tidak percaya kepada polisi. Publik merasa ada yang tidak beres dalam kedua kasus itu sejak awal. Klarifikasi, bantahan, dan penjelasan dari pihak kepolisian terhadap opini yang berkembang, seolah tak ada artinya.

Sangat boleh jadi, sikap masyarakat itu sangat dipengaruhi oleh pengalaman nyata tiap mereka berurusan dengan aparat penegak hukum. Pengalaman demi pengalaman itu terekam dalam ingatan kolektif dan jadi latar belakang cara pandang ketika menghadapi persoalan yang sama. Padahal, publik sangat berharap terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik.

Demikian pula dalam melihat dua kasus di atas. Publik merasakan dan membaca bahwa pola yang lebih kurang sama, pasti akan dipertontonkan oleh pihak yang terkait masalah tersebut. Jadi ketika pola itu dipertontonkan, publik menerimanya sebagai peneguhan terhadap apa yang mereka pikirkan.

Masyarakat terikat dan terhubungkan oleh kesadaran kolektif. Mereka akan melakukan hal sama secara serentak ketika terjadi peristiwa yang mencederai rasa keadilannya. Keprihatinan bersama atas situasi yang melanda dunia peradilan itulah yang kemudian membangkitkan gerakan massa yang demikian besar.

Mereka menyuarakannya melalui berbagai cara dan media. Masyarakat tidak lagi tidur dan dapat dikelabui. Sebagai warga negara, mereka makin sadar akan hak dan kewajibannya. Kesadaran itu mendorong mereka untuk menunjukkan sikap, keinginan, serta harapannya. Dan, kian hari gerakan itu makin matang.

Saat seperti itu sebenarnya merupakan momentum untuk mereformasi dan melakukan perubahan. Ini adalah waktu yang tepat untuk membuat perubahan substansial pada dunia peradilan yang arahnya adalah pemenuhan rasa keadilan publik dan pemenuhan hak dasar warga negara. ***