Arsip untuk Juni 10th, 2010

10
Jun
10

“Wolek? Wolomi…Wolomi…!”

SORE itu, pertengahan Mei lalu, kami sudah berada di antara ribuan orang yang menyesaki Tung Choi Street, di kawasan Mongkok. Para turis mengenal jalan ini sebagai Ladies Market, meski tak ada hubungannya dengan perbedaan gender, sebab cuma seruas jalan yang disesaki pedagang kaki lima.

Ruas jalan selebar sekitar delapan meter ini membelah areal pertokoan.
Lapak dan tenda-tenda pedagang memadati sisi kiri dan kanannya menghalangi deretan toko, menyisakan sedikit ruang di tengah jalan untuk orang berlalu-lalang berdesak-desakan.

Sama seperti kawasan pedagang jalanan di kota-kota besar di tanah air, di sini pun faktor paling penting saat transaksi adalah kepandaian dan keberanian menawar. Barang yang dijaja sangat beragam. Boleh dikata, apa pun barang yang kita cari, ada di sini.

“Kalau mau belanja, tawar sampai 30 persen dari harga yang mereka ajukan,” saran seorang teman yang sudah sering ke Hong Kong. Kami tak berniat belanja, cuma ingin melihat-lihat saja memuaskan rasa ingin tahu.

Bisa dipastikan, semua barang yang dijual di sini produk China. Meski ada satu dua toko yang menyatakan hanya menjual barang asli, yang diimpor dari negara pembuat. Tapi, siapa bisa menjamin?

Apalagi China terkenal sebagai sorga para pembajak dan penjiplak. Amerika paling berang pada aktivitas penjiplakan negeri Panda ini. Produk palsunya tidak saja dijual di dalam negeri tapi disebar ke berbagai negara di dunia. Mulai dari barang elektronik, garmen, furnitur, susu formula, hingga piranti lunak, semua dipalsukan China.

Menurut Bea Cukai dan Patroli Perbatasan AS, selama  2004-2009, China (termasuk Hong Kong) menyumbang 84 persen pengumpulan nilai barang palsu yang disita di Amerika Serikat. Amrika dirugikan miliaran dolar (triliunan rupiah) karenanya. Kelompok antarpemerintah yang berbasis di Paris juga menganggap China sebagai pelanggar nomor wahid dalam memalsukan produk.

Logikanya, jika di barang palsu yang masuk ke Amerika saja, 84 persen dari China, apalagi di Hong Kong yang notabene adalah bagian dari China. Apalagi di kaki limanya! Jadi jangan heran kalau pelancong menemukan tas Gucci, Coach, atau Longchamp dengan harga amat miring.

Longchamp, misalnya. Tas tangan perempuan, aslinya buatan Perancis dan hari-hari ini sedang ‘ngetren’ di kalangan perempuan modis, harganya (yang asli) antara Rp 1,3 juta sampai Rp 2 jutaan. Di Ladies Market, dengan uang sebanyak itu Anda bisa mendapatkan sepuluh tas Longchamp! Tentu saja palsu. Tapi sekilas tak kentara bedanya.

Tas Dior model terbaru (tentu palsu juga) dibuka dengan harga 400 dolar Hong Kong (sekitar Rp 460.000). Setelah ditawar habis-habisan sampai 100 dolar. Pedagang itu mematok harga mati 150 dolar.

Begitu pula barang-barang lain bermerek terkenal. Iseng- iseng teman kami menanyakan jam tangan Rolex kepada seorang pedagang di sana, dengan cara menunjuk jam asli yang dikenakan rekan seperjalanan kami.

Perempuan muda penjaga lapak ini bicara cepat kepada temannya, lalu berpaling lagi ke arah kami sambil bicara, mungkin dalam bahasa Inggris dengan dialeknya sendiri. Bicaranya mrepet tak kalah cepatnya dengan tadi.
“Wolek..?” kata dia sambil matanya melihat lengan rekan seperjalanan kami yang menenakan Rolex asli.

Teman saya mengangguk-angguk. Seketika perempuan pedagang itu bangkit, “Wolomi..wolomi!” katanya sambil beringsut. Rupanya dia mengajak kami mengikutinya. Dalam dialek dan artikulasinya, kata follow me, jadi terdengar wolomi…!

Ia berjalan cepat sekali, zigzag melawan arus pengunjung yang berjejalan. Kami mengikutinya menyuruk-nyuruk di bawah tenda dan lapak-lapak, menyusuri lorong sempit di sela lalu lalang orang.

Di suatu tempat kami dipertemukan dengan seorang pria yang duduk di lapaknya, yang cuma terdiri atas sebuah meja, kipas angin, kalkulator, dan setumpuk buku katalog.

Penjual jam tiruan ini tak berani menggelar dagangannya secara terang-terangan. Mau cari Rado, Tissot, Tag Heuer, Tewie? Tinggal bilang saja. Saat kami menunjuk potret jam pada katalognya, ia manggut-manggut lalu mengajak kami memasuki lorong kecil di antara bangunan, serasa dalam adegan film Jackie Chen…!

Diambilnya sebuah kotak sebesar laptop, yang ternyata merupakan tempat memajang Rolex yang dimaksud. Ia menunjuk jam tangan bermerk Rolex jenis submariner lalu mengangsurkannya. Jam ini sangat mirip. Permukaannya sangat halus, hampir tak bisa dibedakan dari yang asli.

Lelaki ini mengambil kalkulator, lalu mengetikkan angka- angka dan menunjukkannya. Kalau dirupiahkan, ia memasang harga 3,8 juta rupiah. Harga Rolex asli tentu saja seratus kalinya. Yang paling murah saja, harganya di atas 300-an juta rupiah.

Dia menyorongkan kalkulator agar saya mengetikkan angka penawaran. Saya tak tertarik, karena memang tak gemar mengoleksi jam tiruan. Apalagi yang asli. Kalau sekadar untuk bergaya, cari “Rolex”  di Cengkareng saja, hehehehe…..! (*)

10
Jun
10

Jadi Ingat Pasar Terapung

SATU negara tiga mata uang. Mungkin Cuma satu-satunya di dunia, ya di China. Jika di daratan –demikian warga Hong Kong menyebut negara induknya– berlaku mata uang yen (RMB), di Macau, petacas (MOP) adalah mata uang yang sah, maka Hong Kong pun punya dolar (HK$).

Di Macau, dolar Hong Kong diterima dan berlaku sebagai alat transaksi. Sebaliknya, di Hong Kong hampir tak ada yang menerima uang Macau. Meski nilai nominalnya disebut sama, toh saat kita menukarnya, tetap saja uang Macau lebih rendah.

Saat jalan-jalan di sekitar Time Square, iseng-iseng saya tukar uang receh yang tersisa dari Macau (di Hong Kong, tempat penukaran uang tersebar di berbagi penjuru, nyaris seperti pedagang pulsa di kota kota kita). Empat puluh MOP ternyata dihargai 33 dolar Hong Kong.

Sangat boleh jadi, keangkuhan masing-masing dengan identitas ‘negara’-nya ini merupakan sisa kejayaan kolonial yang kemudian dipelihara melalui otonomi khusus. Portugis menguasai Macau lebih dari lima abad, hingga 20 Desember 1999. Hong Kong baru lepas dari Inggris 1 Juli 1997 setelah 156 tahun dijajah.

Sebagian peninggalan yang baik dari masa penjajahan di kedua wilayah ini masih dipertahankan dan disempurnakan serta disesuaikan dengan kebutuhan modern. Trem, contohnya. Angkutan yang menggunakan rel ini masih menjelajahi rute-rute penting kota dengan akurasi waktu yang terjaga.

Selain itu, trem yang semula digunakan untuk mengangkuti orang, material dan aneka keperluan pembangunan di puncak gunung Victoria, kini dioperasikan sebagai kereta wisata yang memberikan sensasi tersendiri bagi para penggunanya.

Puncak gunung Victoria, biasa cukup disebut The Peak adalah gunung di bagian barat Hong Kong. Ia adalah titik tertinggi (552 meter di atas muka laut), di Pulau Hong Kong. Dikunjungi sekitar 6 juta orang –dari total rata-rata 21 juta turis yang masuk– setiap tahun, kini ia merupakan objek wisata paling populer di Hong Kong.

The Peak bisa dicapai lewat jalan raya biasa dan trem. Kami memilih keduanya. Dari kota naik bus wisata sampai terminal trem
lalu membeli tiket sekali jalan sampai ke puncak. Nanti, bus menjemput kami di sana.

Jangan bayangkan seperti terminal bus atau stasiun kereta api di negeri kita, stasiun trem The Peak yang terletak di seberang Konsulat Jenderal Amerika Serikat ini tak jauh berbeda dengan mal.

Sensasi mendaki di dalam trem yang sudah dioperasikan sejak dua abad lalu inilah yang ditawarkan pengelola wisata Hong Kong. “Tak perlu khawatir, tiap saat kondisi kereta dan rel diperiksa dengan cermat. Kabel bajanya diganti setiap lima tahun…” kata pemandu wisata kami.

Dengan 22 dolar Hong Kong per orang sekali berangkat (33 dolar untuk bolak balik), kami pun bergabung dengan ratusan pelancong lain. Betul saja! Kereta ini melaju mulus mendaki gunung batu. Di sisi kiri, tebing bebatuan yang tampak pejal dihiasi tetumbuhan.

Di sisi kanan, nah ini dia! Entah berapa derajat kemiringan tebing yang didaki trem ini. Yang jelas, jendela trem jadi seperti pigura yang membingkai gambar bergerak puncak-puncak runcing gedung pencakar langit yang miring, nyaris diagonal memotong sudut-sudut bingkai.

Sampai di puncak kita bisa melihat kota Hong Kong dari ketinggian. Saya membayangkan, jika malam hari tentu pemandangannya lebih mengagumkan karena akan melihat taburan kerlip lampu dari gedung-gedung tinggi yang bersitonjolan menonjoki awan malam.

Peak Tower adalah sebuah menara di Victoria Peak, sekaligus sebagai terminal akhir trem. Perancangnya menginginkan desain yang secara jelas menarik perhatian namun tak mengganggu pemandangan sekitar. Arsiteknya, Terry Farrell merancang menara ini dengan bentuk wajan dan memiliki tujuh lantai dengan total luas 10,400 meter persegi.

Seperti di stasiun keberangkatan, di sini pun suasana persis seperti di mal paling modern di tengah kota. Bayangkan, di puncak gunung batu ada mal! Ramai dan lengkap pula. Mau makan, tinggal pilih restoran apa apa saja sesuai selera.

Mau belanja, ya konter-konter produk khas Hong Kong sampai gerai-gerai produk bermerek internasional, tersedia di sini. Mau bertemu dan foto bersama ortang-orang terkenal? Singgahi saja museum lilin Madame Tussaud’s.

Pulang ke Banjarmasin, saya jadi teringat di sini pun tak kurang lokasi wisata yang eksotis. Tapi kita tidak bisa merawat dan mengelolanya dengan baik. Jangankan menikmati sarana transportasi dan jalan yang memadai, mencari rambu-rambu untuk memandu orang ke Pasar Terapung saja sama sulitnya dengan mencari jarum dalam jerami! (*)

10
Jun
10

Disiplin ala Hong Kong

COTAI Jet, feri yang membawa kami secara gratis dari Macau merapat di Hong Kong menjelang sore, Sabtu 15 Mei 2010. Kami bertiga sama butanya tentang negara-kota bekas koloni Inggris ini.

Saya bersama Pemimpin Umum Banjarmasin Post Group H Gusti Rusdi Effendi dan Pemimpin Perusahaan Wahyu Indriyanta, sama-sama belum pernah melawat ke sini. Jadi ya mengikuti saja rekan dari jakarta yang membawa kami dalam lawatan mendadak ini.

Masuk Hong Kong dari Macau, kami harus lewat konter imigrasi lagi. Lucu juga sih, Macau dan Hong Kong di bawah satu pemerintahan, China. Tapi masing-masing  menerapkan aturan sendiri.

Ya, sebagaimana halnya Macau, sebagai daerah administratif khusus, Hong Kong memiliki otonomi sendiri, baik dalam sistem hukum, mata uang, bea cukai, imigrasi, maupun peraturan lalu lintas. Pemerintah pusat di Beijing hanya mengelola masalah pertahanan nasional dan hubungan diplomatik. Otonomi ini berlaku di Hong Kong minimal 50 tahun sejak penyerahan dari Inggirs.

Selesai urusan imigrasi, kami melanjutkan perjalanan naik taksi. Berbeda dengan Jakarta, di Hong Kong kita tak bisa mencegatnya di sembarang tempat, melainkan di selter-selter khusus yang telah tersedia. Itu pun sesuai antrean.

Hotel yang kami tuju berada di kawasan Causeway Bay, kira- kira 15 menit dengan taksi dari pelabuhan. Letaknya hanya selemparan batu dari Victoria Park, taman yang sangat populer di Hong Kong dan tempat ribuan orang Indonesia berkumpul tiap Minggu.

Jika di Macau terasa lapang, hotel-hotelnya berkamar lebar dengan areal prakir luas, Hong Kong sebaliknya. Di sini terasa amat sesak oleh bangunan menusuk langit. Saling-silang jalan layang –dan bawah tanah– dialiri kendaraan yang melaju cepat.

Hebatnya, selama tiga hari kami di kota ini tak sekali pun disiksa kemacetan arus lalu lintas. Semua berjalan sesuai aturan. Bus melaju di jalurnya, demikian pula kendaraan yang lebih kecil. Selama di sana, saya tak sekali pun melihat polisi di jalan raya, juga di tempat lain.

Di sini ruang betul-betul sudah sangat ‘langka’. Bangunan saling berimpit. Hotel berlantai 33 tempat kami menginap pun, tak berpekarangan. Areal parkir sempit terletak di sisi kiri agak menjorok di sela deretan toko, lebih tepat jika disebut sekadar tempat menurunkan penumpang.

Namun di antara belantara beton itu, publik bisa mendapatkan ruang yang cukup memadai baik itu untuk sekadar duduk, menikmati udara terbuka, olah raga santai, juga fasilitas olah raga prestasi.

Hong Kong yang luasnya sedikit lebih kecil dari luas  Jakarta, dihuni sekitar 6,8 juta orang, termasuk di dalamnya sekitar 140 ribu orang Indonesia. Namun penataan infrastrukturnya jauh lebih teratur dan efisien dibanding Jakarta.

Jika dirunut dari era kolonial, sangat boleh jadi sejarah dan usia dua kota ini tak jauh berbeda, pertumbuhkembangannya sebagai habitat metropol mungkin juga nyaris bersamaan, namun suasana keduanya terasa jauh sekali bedanya.

Soal sistem dan sarana transportasi, misalnya. Terasa betul bahwa otoritas setempat memberikan perhatian dan komitmen yang luar biasa serius. Masyarakat diberi kemudahan untuk menggunakan sarana yang nyaman dan modern. Silakan pilih, mau naik kereta api, bus, trem, feri, atau taksi.

Jaringan kereta bawah tanah dikelola MTR Corporation Limited yang mengelola MTR dan Kowloon Canton Railway Corporation yang mengelola KCR. Angkutan umum yang jadi tulang punggung mobilitas warga kota ini, dioperasikan dengan standar tinggi dan ketepatan waktu yang akurat.

“Saya sudah dalam bus, Mas. Tujuh menit lagi sampailah…!” tulis Ria Susanti dalam pesan singkatnya. Jurnalis Indonesian yang sudah lebih tiga tahun bertugas di Hong Kong ini berjanji mengantar kami santap malam.

Tempat tinggalnya sekitar 15 kilo meter dari hotel tempat kami menginap. Dan, betul saja. Tujuh menit setelah pesan singkat itu, dia sudah muncul di lobi hotel. Bukan cuma bus, taksi yang kita tumpangi pun sopirnya bisa dengan tepat memperkirakan berapa lama perjalanan yang akan ditempuh ke suatu lokasi.

Tentu saja, di sini tak ada cerita sopir taksi yang membawa penumpangnya berkeliling agar putaran angka pada argonya kian banyak. Sopir macam begini di Hong Kong bisa langsung masuk penjara. Jangankan menipu seperti itu, merokok di tempat yang tak semestinya pun, langsung dihukum denda 1.500 dolar!

Malam itu, diantar Santi, kami jalan kaki menuju Times Square, satu di antara ikon metropol Hong Kong. Boleh di kata, sepanjang perjalanan, beberapa kali kami ‘terperangkap’ dalam kemacetan arus lalu lintas manusia.

Satu lagi yang membedakan Hong Kong dengan kota besar di tanah air. Di sini, manusia betul-betul dihormati dan hak-haknya dimuliakan di jalan raya. Sebaliknya, orang-orang di sini pun patuh dan disiplin pada aturan yang ditetapkan untuk kepentingan bersama. (*)