10
Jun
10

Disiplin ala Hong Kong

COTAI Jet, feri yang membawa kami secara gratis dari Macau merapat di Hong Kong menjelang sore, Sabtu 15 Mei 2010. Kami bertiga sama butanya tentang negara-kota bekas koloni Inggris ini.

Saya bersama Pemimpin Umum Banjarmasin Post Group H Gusti Rusdi Effendi dan Pemimpin Perusahaan Wahyu Indriyanta, sama-sama belum pernah melawat ke sini. Jadi ya mengikuti saja rekan dari jakarta yang membawa kami dalam lawatan mendadak ini.

Masuk Hong Kong dari Macau, kami harus lewat konter imigrasi lagi. Lucu juga sih, Macau dan Hong Kong di bawah satu pemerintahan, China. Tapi masing-masing  menerapkan aturan sendiri.

Ya, sebagaimana halnya Macau, sebagai daerah administratif khusus, Hong Kong memiliki otonomi sendiri, baik dalam sistem hukum, mata uang, bea cukai, imigrasi, maupun peraturan lalu lintas. Pemerintah pusat di Beijing hanya mengelola masalah pertahanan nasional dan hubungan diplomatik. Otonomi ini berlaku di Hong Kong minimal 50 tahun sejak penyerahan dari Inggirs.

Selesai urusan imigrasi, kami melanjutkan perjalanan naik taksi. Berbeda dengan Jakarta, di Hong Kong kita tak bisa mencegatnya di sembarang tempat, melainkan di selter-selter khusus yang telah tersedia. Itu pun sesuai antrean.

Hotel yang kami tuju berada di kawasan Causeway Bay, kira- kira 15 menit dengan taksi dari pelabuhan. Letaknya hanya selemparan batu dari Victoria Park, taman yang sangat populer di Hong Kong dan tempat ribuan orang Indonesia berkumpul tiap Minggu.

Jika di Macau terasa lapang, hotel-hotelnya berkamar lebar dengan areal prakir luas, Hong Kong sebaliknya. Di sini terasa amat sesak oleh bangunan menusuk langit. Saling-silang jalan layang –dan bawah tanah– dialiri kendaraan yang melaju cepat.

Hebatnya, selama tiga hari kami di kota ini tak sekali pun disiksa kemacetan arus lalu lintas. Semua berjalan sesuai aturan. Bus melaju di jalurnya, demikian pula kendaraan yang lebih kecil. Selama di sana, saya tak sekali pun melihat polisi di jalan raya, juga di tempat lain.

Di sini ruang betul-betul sudah sangat ‘langka’. Bangunan saling berimpit. Hotel berlantai 33 tempat kami menginap pun, tak berpekarangan. Areal parkir sempit terletak di sisi kiri agak menjorok di sela deretan toko, lebih tepat jika disebut sekadar tempat menurunkan penumpang.

Namun di antara belantara beton itu, publik bisa mendapatkan ruang yang cukup memadai baik itu untuk sekadar duduk, menikmati udara terbuka, olah raga santai, juga fasilitas olah raga prestasi.

Hong Kong yang luasnya sedikit lebih kecil dari luas  Jakarta, dihuni sekitar 6,8 juta orang, termasuk di dalamnya sekitar 140 ribu orang Indonesia. Namun penataan infrastrukturnya jauh lebih teratur dan efisien dibanding Jakarta.

Jika dirunut dari era kolonial, sangat boleh jadi sejarah dan usia dua kota ini tak jauh berbeda, pertumbuhkembangannya sebagai habitat metropol mungkin juga nyaris bersamaan, namun suasana keduanya terasa jauh sekali bedanya.

Soal sistem dan sarana transportasi, misalnya. Terasa betul bahwa otoritas setempat memberikan perhatian dan komitmen yang luar biasa serius. Masyarakat diberi kemudahan untuk menggunakan sarana yang nyaman dan modern. Silakan pilih, mau naik kereta api, bus, trem, feri, atau taksi.

Jaringan kereta bawah tanah dikelola MTR Corporation Limited yang mengelola MTR dan Kowloon Canton Railway Corporation yang mengelola KCR. Angkutan umum yang jadi tulang punggung mobilitas warga kota ini, dioperasikan dengan standar tinggi dan ketepatan waktu yang akurat.

“Saya sudah dalam bus, Mas. Tujuh menit lagi sampailah…!” tulis Ria Susanti dalam pesan singkatnya. Jurnalis Indonesian yang sudah lebih tiga tahun bertugas di Hong Kong ini berjanji mengantar kami santap malam.

Tempat tinggalnya sekitar 15 kilo meter dari hotel tempat kami menginap. Dan, betul saja. Tujuh menit setelah pesan singkat itu, dia sudah muncul di lobi hotel. Bukan cuma bus, taksi yang kita tumpangi pun sopirnya bisa dengan tepat memperkirakan berapa lama perjalanan yang akan ditempuh ke suatu lokasi.

Tentu saja, di sini tak ada cerita sopir taksi yang membawa penumpangnya berkeliling agar putaran angka pada argonya kian banyak. Sopir macam begini di Hong Kong bisa langsung masuk penjara. Jangankan menipu seperti itu, merokok di tempat yang tak semestinya pun, langsung dihukum denda 1.500 dolar!

Malam itu, diantar Santi, kami jalan kaki menuju Times Square, satu di antara ikon metropol Hong Kong. Boleh di kata, sepanjang perjalanan, beberapa kali kami ‘terperangkap’ dalam kemacetan arus lalu lintas manusia.

Satu lagi yang membedakan Hong Kong dengan kota besar di tanah air. Di sini, manusia betul-betul dihormati dan hak-haknya dimuliakan di jalan raya. Sebaliknya, orang-orang di sini pun patuh dan disiplin pada aturan yang ditetapkan untuk kepentingan bersama. (*)

Iklan

0 Responses to “Disiplin ala Hong Kong”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: