11
Jun
10

Terjerumus ke “Bordil Cyber”

SEPANJANG pekan ini publik disentak oleh gempa digital porno menyusul beredarnya rekaman amat pribadi pasangan artis terkenal. Dua perempuan pesohor, satu pria penyanyi dari grup band terkenal jadi bulan-bulanan pemberitaan. Salinan rekaman adegan intim mereka, dengan cepat menjalar berkat kemudahan akses informasi.

Heboh pun meledak-ledak karena diperkuat pula melalui forum pembahasan di televisi yang menghadirkan tokoh-tokoh publik, pengamat, ahli teknologi informatika, polisi, bahkan perempuan yang pernah jadi “korban” musibah digital ketika rekaman adegan intimnya dengan anggota parlemen muncul di ruang maya dan kontan jadi santapan publik.

Tiap kurun seolah menghadirkan gejala serupa dalam takaran yang berbeda. Awal 80-an heboh meledak menyusul beredarnya foto perempuan penyanyi Bandung dalam pose-pose tanpa busana. Saat itu, kamera video dan lensa digital belum populer. Internet, apalagi! Jadi, gelombang hebohnya tidak menjalar secepat dan sebesar sekarang.

Periode berikutnya, publik tentu masih ingat kasus yang melibatkan dua mahasiswa di Bandung beberapa tahun lalu. Kemudian rekaman panas Ayu Azhari, Yuni Shara, mendiang Sukma Ayu, rekaman bugil peserta casting iklan sabun, heboh rekaman panas anggota parlemen dengan penyanyi dangdut dan geger adegan intim anak seorang bupati dengan pasangannya.

Mudah ditebak, segera saja rekaman adegan suami istri dari artis terkenal yang bukan suami istri ini pun dengan cepat menjalar. Ada saja yang  mengunduh dan menyebarkannya, atau merekamnya, memasukkannya ke dalam telepon selular, dan seterusnya bahkan ada yang menjadikannya sebagai komoditas laris di pasar cakram digital video. Dan, publik melahapnya dengan rakus. Tanpa ampun!

Di satu sisi, peristiwa ini kian membuka mata tentang betapa kian terbuka dan makin bebas perilaku sebagian di antara para selebritas atau pesohor itu. Gonta-ganti pasangan –apalagi jika betul masih ada rekaman sejenis dari pria sang artis itu dengan 30-an perempuan berbeda– seolah bukan lagi aib, melainkan justru jadi semacam kebanggan.

Pada sisi lain, ia juga makin menyadarkan publik mengenai bagaimana seharusnya kita berada di tengah kemajauan teknologi dan keserbagampangan mengakeses informasi. Ini mengandung arti bahwa sesungguhnya, cepat atau lambat, jutaan pasang mata siap melahap mentah-mentah segala apa pun yang kita lakukan.

Betul bahwa polisi bisa saja melacak orang yang pertama mengirim rekaman-rekaman macam itu ke internet, untuk menjeratnya sebagai pihak yang turut serta melakukan perbuatan pidana me nyebarluaskan pornografi. Namun perlu waktu amat lama untuk menemukan para pengelola “bordil cyber” seperti itu.

Lagi pula, rasa-rasanya perangkat hukum kita yang terbaru pun belum secara maksimal bisa menjangkau ruang maya publik (public-cyberspace) yang tidak saja sudah menggantikan sebagian fungsi toko buku, pasar, koran, bahkan prostitusi dan segala tetek-bengeknya, melainkan sudah seperti rimba raya digital yang demikian ruwet.

Begitu Anda sendiri, atau seseorang “memasukkan” Anda ke rimba itu, habislan. Ditelan atau dicabik-cabik tanpa ampun sebagaimana yang dialami artis-artis itu. Kita yakin, mereka tak sebodoh itu untuk secara sengaja mengirim rekaman adegan intimnya ke rimba maya. Pasti ada orang ketiga yang melakukannya, dan jutaan pasang mata melahapnya.

Jika apa yang menimpa para artis ini boleh disebut musibah, maka sangat bisa jadi masih akan terus berulang di kemudian hari dengan korban lain. Yang jelas, teknologi makin mempermudah semua orang. Jaringan internet memberi ruang terbuka publik yang nyaris tanpa batas bisa menampung dan menyediakan informasi apa saja, termasuk gambar-gambar yang paling pribadi sekali pun.

Peristiwa yang menimpa –sementara ini– tiga pesohor itu juga patut jadi peringatan bagi siapa saja, entah itu pejabat atau tokoh publik, entah itu seseorang anonim, bahwa tekonologi masa kini yang makin canggih, kian murah serta makin mudah penggunaannya mengandung risiko semakin mudah pula menyalahgunakannya.

Tanpa kearifan dan kedewasaan, maka keserbamudahan yang dihasilkan teknologi itu juga memberi celah yang amat besar untuk menghadirkan kesulitan alias ketidakmudahan. Artinya, pesatnya perkembangan teknologi, mutlak disertai pesatnya perkembangan pikiran, perilaku, dan akal budi.
Jika tidak, ya pasti jadi korban. ***

Iklan

3 Responses to “Terjerumus ke “Bordil Cyber””


  1. Juni 12, 2010 pukul 12:22 am

    Ternyata dalam menulis, kita memiliki kemiripan Mas Yusran. saya kalau misal sudah menulis di Kompasiana atau bahkan di koran, setelah dimuat di sana, pasti saya arsipkan kembali di blog pribadi.

    Saleuem

    • 2 yusranpare
      Juni 13, 2010 pukul 1:25 pm

      Ha! Iya, Mas Fikar…. saya sih alasan praktis saja, lebih semata untuk menyimpan dan mendokumentasikannya. Salam menulis.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: