13
Jun
10

Menanti Masjid

SETIDAKNYA ada 120 ribu warga Indonesia di Hong Kong, dan mayoritas beragama Islam. Hari-hari ini mereka sedang bermimpi memiliki masjid sendiri yang tidak saja bisa digunakan untuk beribadah, melainkan juga aktivitas dakwah secara luas, dan pendampingan bagi kaum pekerja di rantau ini.

Selama ini, kebanyakan dari mereka lebih sering menggunakan musala di Konsulat Jenderal (Konjen) RI Hong Kong kalau hendak menunaikan salat Jumat. Sedangkan kegiatan yang lebih besar terpaksa dilakukan di lapangan terbuka.

Timbul persoalan ketika mereka mau melaksanakan salat wajib pada saatnya. “Untuk berwudu saja terpaksa kucing-kucingan dengan penjaga toilet gedung karena dianggap bikin kumuh dengan mencecerkan air terlalu banyak di lantai,” kata Ria Susanti, seorang jurnalis Indonesia yang sudah tiga setengah tahun mukim di sana.

Saat ini di Hong Kong, ada empat masjid besar yang cukup populer, baik karena bangunannya yang luas maupun karena catatan historisnya. Keempatnya adalah Masjid Jamiah di Shelley Street Mid-Levels, Masjid Ammar di Wan Chai, Masjid Kowloon di Tsim Sha Tsui, dan Masjid Cape Collinson di Chai Wan.

Masjid Jamiah adalah yang tertua. Ia dibangun pada 1890 dan direnovasi 1905, dan tercatat sebagai masjid tertua. Pemerintah Hong Kong sudah menetapkannya sebagai cagar budaya.

Masjid yang juga dinilai cukup bersejarah adalah Masjid Kowloon yang sekaligus dijadikan Pusat Keislaman. Masjid ini didirikan pada 1896 dan dibuka kembali pada 1984 setelah dilakukan renovasi besar-besaran.

Masjid Kowloon dibangun dengan mengadaptasi gaya arsitektur tradisional, empat menara dan satu kubah. Masjid ini terdiri atas empat lantai dan gagah berdiri di sebelah Kowloon Park.

Masjid-masjid tersebut dipenuhi komunitas Muslim Pakistan, Nepal atau China jika salat Jumat digelar. Sedangkan orang Indonesia rata-rata memilih menunaikan salat Jumat di musala kantor Konjen RI.

Saat lebaran lalu, Konsulat Jenderal RI untuk Hong Kong Ferry Adamhar menyatakan dalam waktu dekat pihaknya membangun masjid yang cukup memadai. Kini, pihaknya sedang melakukan pendekatan kepada otoritas Hong Kong.

Jika pendekatan berhasil, maka masjid yang akan berlokasi di daerah Chai Wan tersebut terealisasi pada 2013. “Mungkin akan dibangun empat atau lima lantai,” ujar Ria, mengutip keterangan pengurus Musala Al-Falah, Abdul Ghofur yang juga pengurus Dompet Dhuafa Hong Kong.

Ghofur menyatakan, selepas Ramadhan lalu memang ada pembicaraan soal pembangunan masjid ini dan pihak KJRI mendukung gagasan tersebut.

Menurut Ria, beberapa waktu lalu malah sempat muncul pula gagasan di kalangan kaum perempuan Indonesia yang bekerja di sana, untuk memiliki masjid yang dikelola sendiri

Maklum, dari seluruh tenaga kerja Indonesia yang mencari nafkah di Hong Kong, boleh dikata 90 persen adalah perempuan. Ini tampak kalau pas Idul Fitri atau Idul Adha. “Banyak yang akhirnya batal ikut salat karena keterbatasan tempat. Padahal hampir seluruh jemaah laki-laki kebagian tempat,” ujarnya.

Ide untuk mendirikan masjid yang dikelola sepenuhnya oleh kaum perempuan ini bersambut gayung dengan organisasi perempuan muslim terbesar di Tanah Air, Fatayat-Nahdlatul Ulama. “November tahun lalu Ketua Umum Fatayat, Maria Ulfa Anshor, bahkan menyempatkan diri datang ke Hong Kong untuk membicarakan ide ini,” tutur Ria.

Namun imam Masjid Tsim Sha Tsui sudah menyatakan penolakannya terhadap ide tersebut. Dia menilai, keberadaan masjid perempuan itu terlalu eksklusif. Padahal, yang dimaksud adalah masjid yang dikelola perempuan bukan hanya untuk perempuan.

Hari-hari ini masjid khusus yang dibangun oleh dan untuk warga Inonesia di Hong Kong itu belum terwujud. Karenanya, kegiatan peribadatan yang melibatkan massa terpaksa masih “nebeng” di areal terbuka, misalnya di lapangan Indiana Club. (*)

Tersudut di Sarang Judi

BAGI sebagian orang, Macau sama artinya dengan sarang kemaksiatan. Perjudian legal telah menumbuhkan kawasan peninggalan Portugis ini jadi kota yang sangat maju secara ekonomis, dan gemerlap dalam segala hal.

Di sela-sela kegemerlapan kota dengan berbagai riuh- rendahnya, tentu agak sulit mencari tempat ibadah yang representatif. Karenanya, keberadaan masjid di sini jadi istimewa.

Masjid Macau atau Mosquita de Macau, terletak jauh dari pusat keramaian. Di ujung kota. Suasana sehari-harinya sepi, dan gerbangnya selalu digembok dari dalam. Di balik gerbang inilah  masjid ini terletak. Ukuran kira-kira 6,5 m x 12 m. Rasanya, lebih cocok disebut musala.

Menariknya, masjid ini biasanya ramai pada Minggu, bukan Jumat seperti di Tanah Air. Maklum, sebagian besar di antara jemaah itu adalah pekerja asing di Macau yang terikat jadwal waktu kerja yang amat ketat.

Seperti di Hong Kong, Minggu adalah hari “kemerdekaan” mereka, sehingga bisa leluasa pergi ke mana saja sampai Senin dini hari. Nah, tiap Minggu, di masjid ini diadakan pengajian untuk para pekerja Indonesia di Macau. (*)

Iklan

0 Responses to “Menanti Masjid”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: