13
Jun
10

Pssst… Ada Pak Dhe!

MINGGU pagi di Victoria Park. Ini bukan judul film yang dibuat dan dibintangi Lola Amaria tentang tenaga kerja Indonesia di Hong Kong, tapi betul-betul suasana pagi hari Minggu 16 Mei 2010. Rasanya seperti di tanah air. Tepatnya, seperti di Jawa.

Orang Hong Kong bilang, Minggu adalah hari Indonesia karena saat itulah orang-orang asal Indonesia yang bermukim di Hong Kong datang ke taman yang luasnya kira-kira dua kali luas Alun-alun  Bandung ini.

“Sialan! kowe rak bilang-bilang wis bebe-an. Ayo mana PIN- nya, gabung ke grup awak dhewek ya.. wis rolas ki! (sialan, kamu tidak bilang sudah punya BlackBery. Ayo mana PIN-nya, gabung ke grup kita. Sudah dua belas orang,” celoteh seorang perempuan yang baru turun dari bus. Ia berjalan memasuki taman. Tangan kirinya menekankan telepon ke kuping. Tas tercangklong di lekukan siku kanan, sementara tangan kanannya menggenggam BlackBerry.

Ia bergegas menuju kursi taman di bawah kerindangan pohon, berteduh dari gerimis tipis. Tak jauh dari tempatnya, 20-an orang usia lanjut, laki-perempuan, sedang merapal jurus-jurus pelan taichi diiringi musik lembut yang mengalun lambat.

Perempuan tadi mengaku bernama Marni. Katanya berasal dari Ngawi, Jatim. Katanya sudah empat tahun bekerja di Hong Kong. “Ya kalau dirupiahkan, rata-rata sekitar tujuh juta (rupiah) sebulan,” katanya mengenai upahnya  sebagai pembantu rumah tangga. Dia menyebut sebuah tempat di Kowloon, tempatnya bekerja.

Sebagian pendapatan dikirim ke kampung halaman. “Untuk biaya sekolah. Tahun ini anak pertama saya masuk SMP,” katanya. Sebagian lagi ditabung dan untuk keperluan pribadi seperti untuk ongkos dan beli makanan di taman Victoria itu.

Pagi itu sekitar pukul tujuh. Banyak warga Hong Kong yang berolah raga. Ada yang taichi, tenis, lari, atau sekadar joging. Bersamaan itu warga asal Indonesia mulai berdatangan.

Beberapa di antara mereka dalam kelompok kecil yang kemudian bergabung dengan kelompok yang lebih besar sebelum berkumpul di pojok-pojok strategis bahkan sampai ke trotoar luar taman, persis di tepi jalan raya atau di bawah keteduhan jembatan penyeberangan.

Seorang perempuan berusia pertengahan dua puluhan, tampak tak hirau kiri-kanan. Ia bersolek sambil bersandar ke pagar besi pembatas antara trotoar dengan jalan raya. Tangan kirinya mementang cermin kecil di balik tutup kotak bedak, tangan kanannya sibuk menata alis. Di sebelahnya, tiga perempuan sibuk menata barang- barang yang baru dibongkarnya dari tas.

“He..psst…pssst, ada pak dhe. Ada pak dhe..!” seru seorang perempuan di belakang kami, saat kami melintas. Perempuan yang mengemasi barang itu dengan takut-takut menatap ke arah kami. Saya menoleh ke arah penyeru tadi, “Apa mbak…?”

“Oalahhh….jebule sedulur (ternyata saudara). Dari Indonesia ya Pak? Kami kira polisi, lha wong bapak itu (dia melirik ke arah rekan seperjalanan saya) mirip pak dhe, je..!”

Rupanya, pak dhe adalah sebutan warga Indonesia bagi polisi Hong Kong. Rekan jalan saya, memang bermata sipit berklulit kuning, asli kelahiran Bangka. Mereka mengira kami polisi berpakaian sipil.

Sejatinya, taman Victoria dan sekitarnya terlarang bagi aktivitas perdagangan. Apalagi jual beli makanan yang berpotensi mencecerkan sampah. Namun sulit mengawasi secara ketat saat lebih dari dua ribu orang tumplek di satu tempat.

Hari-hari ini ada sekitar 120 ribu warga Indonesia di Hong Kong. Sebagian besar di antara mereka adalah perempuan sebagai pembantu rumah tangga. Minggu adalah ‘hari merdeka’ buat mereka, dan ke Victoria Park, mereka berlibur. Bertemu dengan saudara setanah air.

Berbagai kegiatan dilakukan di taman ini. Mulai dari sekadar kongkow dan ngobrol-ngobrol, bertemu pacar, arisan, hingga pengajian dan persekutuan doa. Dari taman ini, biasanya mereka lalu menyebar dan bergabung ke hiruk-pikuk megapolitan Hong Kong.

“Nah, orang-orang ini kan perlu makan dan minum. Maka kami jualan makanan. Lumayanlah untuk menambah tabungan,” kata perempuan mengaku bernama Sulis. Katanya sih dari Klaten, Jateng. Pagi itu ia berjualan kue-kue basah khas Indonsia. Sekotak plastik kelelepon, getthik jiwel dan sejenisnnya, dia jual lima dolar Hong Kong.

Rekannya, Ida, sedang sibuk menyiapkan dagangan. Bakso dan sop serta soto. Ia menggodok kuah-kuah itu pada sebuah panci di atas  kompor gas kecil yang disamarkan di dalam kardus yang disamarkan lagi dalam tas bepergian.

‘Dapur berjalan’ ini sangat membantu kalau pas ada razia. Tinggal buang kuahnya, matikan api, tarik risleting tas, lalu cabut!

Suasana Indonesia di Taman Victoria ini berlangsung dari pagi buta hingga tengah malam menjelang pergantian hari. Di sinilah warga Indonesia yang sehari-harinya terikat tugas rutin dan jam kerja yang ketat, bisa melepaskan diri dan tampil sebagai diri sendiri untuk bertemu dan bergabung ke dalam komunitas asal-mula.

“Ya, untuk yang baru-baru, taman itu memang menyenangkan. Setidaknya, bisa bertemu dengan saudara-saudara setanah air. Tapi kalau sudah dua tiga bulan, kita baru tahu ada yang cocok, ada juga yang hmmm… nggaklah,” kata Dwie yang ditemui di bandara Hong Kong sehari berselang. Ia tak bersedia menjelaskan lebih jauh, apa yang dimaksudnya itu.

Ia mengaku sudah tujuh tahun bekerja di Hong Kong, sejak lulus SMA. Ia juga mengaku kini diberi keleluasaan majikannya untuk sekolah lagi. “Saya sedang sekolah komputer,” katanya. (*)

Iklan

2 Responses to “Pssst… Ada Pak Dhe!”


  1. 1 tjontong
    Juni 13, 2010 pukul 10:50 pm

    dan untuk menyebut nyonyah majikan biasanya: “mbok’e….” dialog ini juga ada dalam film MPdVP, tonton ya, sudah tayang kok.

    tgl 5 – 10 Nov 2009 saya sempat ngelayap di sekitaran Kingstone Street, sekitar 500 meter dari Victoria Park, bahkan nyasar2 di kereta MTR.

    salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: