Posts Tagged ‘agum gumelar

23
Apr
08

Hade Versus Golput

AKHIRNYA saling berpelukan. Air mata haru pun menitik menghiasi kebahagiaan anggota dan staf Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat menyusul selesainya penghitungan hasil pemilihan gubernur secara manual.

Padahal di luar gedung KPU Jabar di Jalan Garut Bandung, suasananya penuh gejolak. Massa pendukung Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim (Aman) berdemo memprotes hasil pemilihan yang dimenangkan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade).

Terhitung mulai Selasa (22/4), duet Hade bukan lagi sekadar gubernur dan wakil gubernur quick count. Jago Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) ini dinyatakan resmi memenangi pemilihan gubernur yang digelar 13 April lalu.

Dalam pengumuman yang disampaikan Ketua KPU Jabar, Setia Permana, pasangan Hade meraup 7.287.647 suara. Sementara dua pesaingnya, Aman meraih 6.217.557 suara, dan pasangan Danny Setiawan dan Iwan Sulandjana (Dai) hanya mendapat 4.490.901 suara.

Total suara pesaing tak bisa mengalahkan Hade. Namun Hade harus mengakui keunggulan jumlah pemilih yang tak menggunakan hak pilihnya, biasa disebut golput. Golongan ini mencapai 9.130.594 dari total jumlah pemilih hampir 28 juta orang.

Ketua KPU Jabar Setia Permana mengaku bangga atas kinerja anggota dan stafnya. “Saya tahu betul bagaimana mereka bekerja. Tidak sedikit mereka yang harus tidur di kantor kelurahan. Ini tidak pantas kalau diganti dengan materi. Ini sangat membuat saya terharu, dan saya senang akhirnya penghitungan suara selesai,” tutur Setia.

Menanggapi adanya pasangan calon yang tidak mau menandatangani berita acara penghitungan suara, Setia mengatakan hal ini menjadi koreksi bagi pihaknya agar ke depannya tidak lagi terjadi.

“Yang jelas, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja. Memang dalam setiap pilkada, kalau ada yang salah, pasti KPU yang dijadikan sasaran. Kalau mau protes silakan lapor ke panwas, dan mengenai suara, silakan melapor ke Mahkamah Agung,” ujar Setia, sembari mengatakan hasil penghitungan selanjutnya akan disampaikan ke DPRD Jawa Barat.

Di luar gedung, ratusan pendukung Aman mendesak agar KPU Jabar menetapkan jago koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai pemenang.

Koordinator demonstran, Setyowekti dari Forum Penyelamat Lingkungan Hidup Jawa Barat menyatakan menolak hasil rapat pleno terbuka KPU tersebut.

Para demonstran tetap bersikukuh bahwa pasangan Aman sebagai pemenang. Perwakilan ormas diikuti massa pendukung Aman lainnya dengan tangan mengepal mengacungkan tangan sambil mendeklarasikan bahwa gubernur dan wakil gubernur Jabar adalah Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim.

“Kami tidak akan pernah menganggap Hade sebagai gubernur dan wakil gubernur, kami tetap akan patuh pada Agum dan Nu’man sebagai gubernur dan wakil gubernur,” seru Setyo.

Dalam orasinya Setyo pun menyerukan akan membawa pasangan Aman ke Gedung Sate. “Mari kita bawa Agum dan Nu’man ke Gedung Sate sekarang,” tegas Setyo.

http://www.banjarmasinpost.co.id

29
Feb
08

Bangun Soegito

gitorollies.jpg

SAYA ”bertemu” terakhir dengan Gito Rollies awal Februari 2008 di Cicalengka, Kabupaten Bandung. Hari itu tokoh Jawa Barat, H Nanang Iskandar Masoem menikahkan putrinya. Nanang berbesan dengan Arifin Soehara, teman seangkatan saya di fakultas, cuma beda kelas –dia kelas karyawan, saya kelas reguler.

Bangun Soegito alias Gito Rollies adalah sahabat Nanang. Mereka satu kelas di SMAN 2 Bandung. Dan, kata Gito, persahabatan mereka terus berlanjut. Sementara saya, mengenal rocker yang bermetamorfosis jadi juru dakwah ini sejak sering meliput pentas-pentas musik di awal tahun 1980-an.

Di Cicalengka, hari itu Gito sebagaimana tampilannya belakangan ini, mengenakan gamis warna pucat, peci putih, dan sorban. Ia didapuk panitia untuk naik panggung. Sebelum menyanyi, ia mengkilas balik pershabatannya dengan Nanang –satu di antara sembilan anak Haji Ma’some– kiai yang sukses mengembangkan pesantren, lembaga pendidikan modern, dan jaringan bisnis amat besar di Jawa Barat.

“Saya ini betul-betul bersahabat dengan Pak Nanang. Sahabat dalam arti sebenarnya. Tapi sahabat yang bertolak belakang. Saya …badung dan nakal, Pak Nanang saleh luar biasa. Sejak remaja ia tak pernah tinggal salat. Sementara saya? Tahu sendiri lah…?” kata Gito terkekeh. Ia pun mencuplik sejumlah tingkah nakal-nya di masa remaja.

Akhirnya Gito memanggil satu lagi teman satu SMA-nya. Agum Gumelar, yang juga hadir pada resepsi akbar pernikahan anak-anak Nanang dan Arifin itu. “Nah, Pak Agum juga sahabat saya. Kami sama-sama dari sekolah yang sama. SMAN 2 Bandung,” kata Gito. Maka, hari itu, Agum yang sudah berduet dengan Nu’man –dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat—berganti pasangan dulu. Mereka pun bernyanyi.

Tadinya saya –dan istri—ingin menemui dulu Gito, ya sekadar bertanya apa kabar atau apalah. Maklum sudah 20 tahunan tak bertemu muka. Namun, hari itu tamu begitu banyak. Entah berapa ribu. Lagi  pula, panggung tempat Gito tampil,  dibatasi kolam. Dari tempatnya, Gito sempat melambai lalu mengacungkan jempol dan mengangguk saat saya memberinya isyarat bahwa kami pamit.

Kamis (28/02/2008) malam, datang berita, Gito sudah pergi. Perjuangannya melawan kanker getah bening sudah berakhir. Inna lillahi wainna ilaihi rojiun. Segala yang berasal dari-NYA, semua kembali kepada-NYA.

Satu lagi, tokoh yang jadi ikon perkembangan musik di tanah air pergi. Sebelumnya Harry Roesli –musisi eksentik—pergi setelah bergelut dengan penyakitnya, (http://curahbebas.wordpress.com). Gito, dengan teman-temannya Uce F Tekol, Jimmy Manoppo, Benny Likumahuwa, dan Teungku Zulian Iskandar menggebrak panggung musik dengan The Rollies-nya.

Kiprah musik anak-anak Bandung di tahun  70-80an itu tambah marak dengan terbitnya “Aktuil” yang terus mengulas perkembangan musik dan “memprovokasi” kawula muda untuk melahirkan gerkan-gerakan baru di bidang musik. Selain Rollies, saat-saat itu ada Rhapsodia (Soleh), Paramour (Djadjat), dan Giant Step (Benny Soebardja) yang tak kalah garang jika tampil di panggung.

Setelah malang melintang di pentas musik cadas, Gito hilang dari peredaran, dan muncul lagi dengan identitas baru. Ia telah bersalin baju, jadi seorang yang lebih religius dan lebih sering naik panggung sebagai juru dakwah. Dan dalam “busana” itulah dia pergi menghadap-NYA.

Selamat jalan, Bung! (*)