Posts Tagged ‘bandung

26
Nov
08

Laskar Terheboh

crew_tribun_1manado50pct

SEJAK tahun 1990 terlibat dalam rekrutmen dan pelatihan calon wartawan untuk koran-koran Persda, baru kali ini –setelah “kelas” awal Tribun Jabar- – saya menemukan lagi kelas yang luar biasa. Penuh gairah dan dinamis, sering kali kocak. Personelnya pun berasal dari kultur dan subkultur yang cukup beragam. Rame abis!!

Ya, dua belas hari sejak 7 November 2008, saya bergabung bersama mereka. Belajar bersama. Mereka adalah guru-guru yang luar biasa. Kaya raya pengetahuan dan rasa ingin tahu, berlimpah keceriaan serta keanekaragaman karakter.

Setidaknya, itulah yang terasa selama hampir dua pekan saya belajar bersama mereka. Entah hari-hari ini, ketika latihan-latihan lapangan sudah memasuki tahap sesungguhnya, dan hasil karya mereka (individual maupun kelompok) sudah mulai dipublikasi, via online dan koran-koran satu grup.

Sehari-hari, kelas ini dikelola Richard Nainggolan (Tribun Batam, Tribun Jabar, Pos Kupang), dengan Satya Krisna Sumargo (Tribun Jabar, Bernas). Dari segi komposisi “asal-usul” 30 peserta ini boleh dibilang komplet. Disiplin ilmunya juga beragam. Selain itu, ada yang sudah berpengalaman sebagai jurnalis sampai delapan tahunan, ada yang baru satu-dua tahun, ada yang sebulan-dua, ada yang polos …lossss!

Di situlah dinamikanya. mereka yang polos-polos, penuh gairah menyerap pengetahuan dan pengalaman dari para senior . Ada Alvy dan Aswin serta Lody, misalnya — yang betul-betul “senior”. Saking senior-nya sampai- sampai ada yang tak diizinkan bawa mobil oleh orang rumahnya, hehehehehe….

Ada Berlin “Tora” Sinaga, anak Batak yang nyunda banget, sebagaimana Nuraini “Ussy” dara peranakan Bima-Sunda yang kini malah terdampar di Tanah Kawanua. Ada pula Samuel yang “kinyis-kinyis” dan seringkali terlambat masuk setelah rehat karena makan siang dengan pacaranya. Saya juga bertemu Lucky “Sogi” yang ternyata tak terlalu pintar melawak.

Ada yang sedang jatuh cinta pada dunia jurnalistik, seperti Fernando, Rine, Defri, Yudith, Gina, David dan lain-lain yang berasal dari Manado dan sekitarnya. Saya juga bertemu dengan sastrawan semacam Harvi, dan pakar linguistik Adam “Elang” yang sempat pusing tujuh keliling ketika bertabrakan dengan ragam bahasa jurnalistik.

Saya juga bertemu dengan Budi yang betul-betul tampak sabar dan budiman. Lalu ada “frater” Aco yang mirip Sang Juru Selamat tapi mengaku lebih sering memerankan Yudas dalam drama-drama Natal. Ada juga “romo” Anton yang mengaku sebagai jebolan “teknologi ketuhanan” tapi kebingungan saat berhadapan dengan kasus yang melibatkan Hamid dari keluarga Budha…

Pokoknya, saban hari ramai terus oleh dinamika dan seringkali diselingi canda. Entah di kelas, entah di halaman saat rehat, entah di lapangan saat meliput. Dan, di antara seabrek karakter itu, yang paling menonjol dan selalu jadi pusat perhatian adalah Adi.

Anak muda asal Cianjur yang mirip Afgan ini selalu jadi bulan-bulan, tapi dengan cerdik ia senantiasa memantulkan bulan-bulan itu kepada siapa pun yang melontarkannya. Suasana selalu jadi meriah.

Apalagi jika secara demonstratif sang Afgan –yang sulit membedakan lafal f, p, dan v ini– berebut dengan Wawan RT (Yogya, dengan aksen medhok buanget) mencuri perhatian Gina yang lebih cantik dari Miss Celebrity-nya versi SCTV itu. Akibatnya, saban waktu heboh terus.

Begitulah, suasana tiap hari senantiasa ramai. Tidak saja oleh celoteh dengan nada dan lafal yang masih sangat kental bahasa ibu masing-masing, tapi juga oleh gairah yang meletup-letup untuk belajar menjadi jurnalis.

Bisa dibayangkan, mereka yang berasal dari Manado dan sekitarnya, berbicara dengan dialek khas mereka. Begitu pula yang berasal dari Yogya dan Jawa Tengah, sebagaimana mereka yang dibesarkan di lingkungan kultur Jakarta seperti “Uya”, El, Reza, dan Budi.

Mereka yang berasal dari Jawa Barat juga membawa warna kelembutan dan kecengengannya (ada yang masih suka nangis pada malam hari, ingat emak… hehehe!!). Mungkin karena baru pertama kali ngumbara jauh pisan ti lembur. Mungkin juga mereka lahir tidak dari orang yang mewarisi gen perantau.

Di antara seluruh peserta, memang ada juga dua-tiga orang yang tampak tetap culun dan masih kebingungan di tengah siatuasi itu, tapi siapa tahu waktu dan dinamika di dalam kelompok akan bisa mengubahnya.

Yang jelas, saban pagi, setelah memulai aktivitas dengan doa bersama, serempak mereka menggelorakan ikrar untuk menjadi wartawan yang baik. Jujur, disipilin, cermat, dan tangguh.
Hidup Tribun! ***

anak-bandung-manadoCatatan:
– Khusus untuk rekan-rekan anggota kelas edun asal Jawa Barat: Awas, mun ngerakeun uing!
– Saya masih terkenang khotbah religius “Pdt” Alvy mengenai Sopir dan Matius 7:7, serta tentang Bu’ (maaf saya tak tahu cara mengejanya) Sang Nelayan. Ntar deh ditulis terpisah.
– Saya harus berterima kasih kepada Bung Dahlan, (Tribun Timur), yang membagi pengetahuan baru yang mencerahkan serta pengalamannya. Juga Bung Achmad Subechi (Tribun Kaltim), yang luar biasa. Begitu pula Pak Ronald Ngantung (pertemuan kedua setelah di Tribun Pontianak). Tenu saja pada sang Kepala Sekolah, Febby Mahendra Putra (Tribun Batam) yang memungkinkan kami larut dalam dinamika itu. Hebat, bro!!
– Nah, tak boleh saya lupakan juga Gilbert tanpa Lumoindong atas perhatian dan cap tikusnya, Jerry tanpa Tom, Nyong Tomohon yang guanteng, serta Dedi yang luar biasa telaten serta sabar dengan celana panjangnya yang selalu berkibar!
tondano_awak_tribun

01
Nov
08

Teringat Tegallega, Don!

SOSOKNYA tak banyak berubah, kecuali kini lebih gendut. “Sayah eureun ngaroko!” katanya.Lebih 20 tahun tak bertemu dan tak pernah kontak, Jumat (31/10) malam kami bertemu lagi di Rattan Inn, hotel ternyaman saat ini di Banjarmasin.

Donny Suhendra masihlah Donny yang kalem, tak banyak cakap. Lebih banyak diam menyimak saat ngobrol, tapi manakala jari-jarinya menyentuh dawai….. busyet!!! Ibarat seribu jari yang serempak memainkan nada dalam dinamika tinggi dan kompleks!

Malam itu ia bersama geng-nya, Syaharani & Quinfireworks tampil di Le Bistro, resto di Rattan Inn.Sejak pukul sembilan malam, area seukuran lapangan squash itu sudah disesaki pengunjung. Praktis, sebagian besar dari mereka berdiri di sela meja-meja yang dikelilingi kursi bagi para tamu undangan.

Daripada ikut berdesak dan tidak bisa menikmati musik mereka, saya memilih tempat di lantai atas. Tak bisa menyaksikan mereka, tapi lebih leluasa mendengar sajian musik “Ratu Kembangapi” itu, sambil menyesap Baccardi.

Donny memang luar biasa. Bagi saya dia adalah musisi tulen sampai ke tulang sumsumnya. “Tunggu, ntar gua pancing dia untuk nge-blues, biar keluar gilanya…” bisik Syaharani, beberapa saat sebelum tampil. Dan, betul saja.

Cabikan jemari Donny –di tengah tingkahan rekan-rekannya pada instrumen lain— saat itu seperti mendadak menjalarkan histeria nada yang rumit, tapi encer dan indah. Kompleks tapi simpel dan begitu akrab. Setidaknya bagi orang seperti saya yang awam musik.

Ingatan telontar ke awal-awal 80-an, saat Donny dan kawan-kawan musisinya “magang” sebagai band pengiring pada setiap ada fetival penyanyi lagu populer di Bandung, dan saya baru tahun-tahun pertama jadi wartawan. Bagaimana dengan sabar ia mengiringi penyanyi-penyanyi culun, yang sedang bermimpi jadi bintang.

Tempatnya adalah panggung bobrok di pojok lapangan Tegallega yang dijadikan markas Himpunan Artis dan Musisi Indonesia (HAPMI) Kota Bandung yang dimotori Djadjat “Paramour” Kusumadinata. Atau Gedung Saparua –gelanggang olah raga yang lebih sering jadi arena pertunjukan musik- atau di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan tempat pertunjukan wayang golek tiap malam minggu, yang kemudian sering jadi tempat pentas musik.

Atau bahkan di Gedung Kesenian Rumentang siang, tempat sandiwara Sunda dan teater modern biasa dipentaskan. Karena Bandung miskin gedung pertunjukan musik (sampai saat ini), maka gedung-gedung itulah yang terpaksa jadi tempat para musisi mengekspresikan gairah musiknya.

Wararaas, nya Don! (*)

15
Okt
08

Suatu Malam di UGD

MALAM lebaran tahun ini rada istimewa. Bukan di mesjid, tidak pula di rumah, melainkan di Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Santo Yusup, Bandung. Ya, sudah empat hari menjelang lebaran Laras kambuh sakit asmanya. Pas malam lebaran tambah parah. Akhirnya, pukul 11 malam lewat dikit, kami boyong dia ke rumah sakit.

Ruang UGD relatif tenang. Ada tiga pasien yang mendahuli Laras. Seorang ibu meringkuk di tempat tidur di sebelah kiri Laras. Di seberang, dua perawat sedang sibuk menangani pemuda gempal. Mereka sedang berusaha menjahit dada kanan pemuda itu yang robek. Katanya sih, dibacok/ditusuk. Ia bersebelahan dengan seorang pemuda yang terbaring dengan cedera di kepala.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, suasana berubah jadi super sibuk. Seorang remaja digotong. Matanya membeliak. Badan kaku. “Tolong….. tolong. Tak bisa bernapas, sus…!” kata orang yang mengantarnya.

“Habis minum ya?” Kata suster yang dengan sigap menangani pasien baru ini. Tak terlihat perdarahan. Namun tampaknya cedera di dalam. Menurut pengantarnya, anak ini korban kecelakaan tunggal. Naik sepeda motor kencang, mau masuk halaman rumah, malah menabrak benteng. Bisa jadi, karena mabuk, pandangannya jadi nggak beres. Dinding beton, mungkin terlihat kosong…..

Baru saja para perawat mempersiapkan penanganan lanjut, raungan sirene di luar menandai tibanya ambulan. “Empat korban!!” pekik satpam dari luar UGD. Maka, kesibukan pun meledak bersamaan dengan tibanya empat pemuda di atas kereta dorong. Semua berdarah-darah. Dua di antaranya masih mengenakan helm. Tapi wajahnya sudah tertutup darah.

Kontan bau minuman keras bercampur dengan bau kreolin dan bau amis darah memenuhi ruang UGD. Rupanya, empat orang ini korban tabrakan sepeda motor yang mereka kendarai. “Adu bagong, keras sekali..” ujar seorang yang mengantar mereka. Maksudanya, tabrakan frontal antarsepeda motor.

“Waahh… kalian baru pada minum-minum ya…!” kata suster yang menangani satu korban. Ada luka menganga di jidatnya. Darah tampak merembes dari balik baju dan celana jinsnya.

“Tidak bu…. Ini kan malam lebaran, masa saya minum-minum” kata si korban dengan suara merintih. “Tidak? Oke, soalnya obatnya pun beda kalau kalian habis minum. Berapa botol…? Kata suster. “Tidak, bu….. Cuma dua botol..” katanya dengan suara engantuk. “Euhhhhhh……!” Dasar.

Belum selesai satu pasien, tiba-tioba muncul lagi seormbongn orang menggotong seorang remaja. Juga berdarah-darah. Sisi kanan belakang kepalanya meganga seperti bekas bacokan. Darah tak henti mengalir. “Dikeroyok dan dibacok…” kata lelaki paro baya yang mengantarnya.

Astaga, lagi! Suasana lebaran rupanya tak membuat orang riang gembira dan berhati lapang serta berkepala dingin. Amarah dan kekerasan dijadikan panglima untuk menyelesaikan persoalan.

Di sisi lain, entah apa pula makna lebaran bagi para pemuda yang kemudian bergelimpangan dengan luka-luka serius akibat kecelakaan lalu lintas, gara-gara memacu sepeda motor sambil mabuk minuman keras. Satu di antara pemuda yang tadi tabrakan itu, tampaknya gawat betul karena segera dirujuk ke ruang rawat intensif.

Selang sesaat ruang UGD bertambah sibuk oleh datangnya para polisi. Beberapa di antaranya berseragam. Selebihnya, berpakaian sipil. Dari percakapan mereka tertangkap kesan, para reserse ini sedang mengusut kasus kriminal, pengeryokan dan penusukan. Dan, di antara yang dirawat itu terdapat korban (mungkin juga di antara pelakunya)…

Malam lebaran, euy!!

26
Sep
08

Hidup Persib… Lah!

Persib vs Pelita

Persib vs Pelita

BANDUNG, TRIBUN – Maung Bandung meraih hasil sempurna saat menjamu Pelita Jaya di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Kamis (25/9) malam. Gol semata wayang Lorenzo Cabanas pada menit ke-65 bertahan hingga akhir pertandingan sehingga skor 1- 0 untuk Persib.

Gol menentukan itu berawal dari sebuah kerjasama apik Eka Ramdani, Hilton Moreira dari sektor kiri pertahanan Pelita Jaya. Lolos dari kawalan pemain belakang Pelita, Hilton Moreira menembak bola ke gawang Pelita yang dijaga I Made Wardana.

Tendangan keras Hilton diblok, bola muntah ke depan Cabanas yang langsung menyambar bola hingga merobek jala Pelita Jaya. Stadion Si Jalak Harupat yang jadi kandang Pelita Jaya bergemuruh seperti hendak runtuh.

Sorak sorai dan standing ovation dilakukan sekitar 30 ribu bobotoh yang menyesaki setiap sudut stadion kebanggaan warga Kabupaten Bandung itu. Beberapa penonton bahkan nekat menyulut petasan guna menyambut kemenangan prestisius pada tarung derbi kemarin.

Kemenangan dan nilai sempurna ini mendongkrak posisi Persib ke urutan 9 klasemen sementara Liga Super Indonesia (LSI) 2008. Sebelumnya klub kebanggaan Jabar ini menduduki peringkat 11, satu tingkat di atas Pelita Jaya.

Dari 10 kali bertanding, Persib kini mengumpulkan 16 poin. Grafik permainan Persib pun semakin membaik setelah dalam laga kandang Senin (22/9) menekuk tim tamu PSIS dengan skor meyakinkan, 3-1.

Tim Pangeran Biru akan kembali menjalani laga tandang di Bontang melawan Pupuk Kaltim pada 6 Oktober 2008. Pertandingan berikutnya akan dijalani di Samarinda pada 9 Oktober melawan Persiba Balikpapan. (Tribun Jabar)

11
Agu
08

Bandung, 10-08-08

MINGGU, tanggal 10 Agustus 2008 warga Kota Bandung untuk pertama kalinya memilih langsung wali kota dan wakil walikotanya. Ada tiga pasang calon yang maju dalam pemilihan umum di ibu kota provinsi Jawa Barat ini.

Sebagaimana disiarkan Tribun Jabar, pasangan calon wali kota/wakil wali kota Bandung Dada Rosada-Ayi Vivananda meraup suara terbanyak dan unggul telak berdasarkan hasil penghitungan cepat Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Jaringan Informasi Publik (JIP).

Jumlah pemilih tetap di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Bandung 1.537.074 orang, dengan rincian pemilih laki-laki 773.557 orang dan perempuan 763.517 orang. Jumlah tempat pemungutan suara (TPS) 3.865. Jumlah penduduk Kota Bandung 2,7 juta jiwa.

Pasangan nomor urut satu yang diusung Partai Golkar-PDIP ini meraup 64,37 persen suara berdasar penghitungan cepat di 320 TPS di semua kecamatan Kota Bandung. Di urutan kedua pasangan Taufikurahman-Deni Triesnahadi (Trendi), yang diusung PKS, meraih 26,07 persen suara.

Posisi ketiga ditempati pasangan dari jalur perseorangan, HE Hudaya-Nahadi (Hadi), dengan raihan 9,56 persen suara. Tingkat partisipasi pemilih sekitar 66,61 persen. Sisanya, atau 33,4 persen, tidak menggunakan hak pilih dengan

Berdasarkan tabulasi suara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung, hingga pukul 20.00 baru masuk 63.815 suara. Menurut Ketua Divisi Sosialisasi KPU Kota Bandung Heri Sapari, pasangan Dada-Ayi memimpin dengan perolehan suara 40.381 (63 %). Pasangan Trendi meraih 17.781 (28%), dan pasangan Hadi memperoleh 5.653 (9 %).

Desk Pilkada Pemkot Bandung juga ikut menghitung hasil pemilihan kepala daerah. Hingga  pukul 20.00, menurut Kepala Badan Infokom Bulgan Alamin, total suara yang masuk 785.042. Pasangan Dada-Ayi di urutan pertama dengan raihan 512.422 (65,25 %), disusul Trendi 200.455 (25,52 %), dan Hadi 72.165 (9,23).

Adapun menurut penghitungan internal DPD PKS Kota Bandung hingga pukul 17.00 selisih persentase suara Trendi dengan Dada-Ayi tak begitu jauh. Menurut Ketua Tim Kampanye Trendi, Tedi Rusmawan, dari 20 persen sampel TPS, perolehan sementara 49,5 persen untuk Dada-Ayi, 38,5 persen untuk Trendi, dan 12 persen untuk Hadi. Ketua DPD PKSKota Bandung Haru Suandharu menyatakan siap memberi selamat ke pasangan pemenang.

Mengenai pilkada ini, rekan sekaligus guru saya Kang Cecep Burdansyah bilang, dalam sebuah kompetisi, menang kalah itu biasa. Untuk kandidat yang menang, ia harus membuka mata dan hati bahwa ia diberi jalan oleh pesaingnya yang kalah untuk mengemban amanah. Maka kemenangan itu jangan disia-siakan karena rakyat akan menilainya lima tahun kemudian.

Sebaliknya, untuk kandidat yang kalah, tidak perlu merasa putus harapan karena jalan untuk menjadi wali kota tidak berarti tertutup. Justru kekalahan itu harus dijadikan pelajaran untuk meraih kemenangan di masa datang. Bukankah pemeo mengatakan, kekalahan itu merupakan pelajaran terbaik dalam hidup seseorang.

Jabatan wali kota memang jabatan politik, tetapi tak berarti jabatan politik itu harus diraih dengan intrik. Jabatan wali kota itu jabatan yang penuh amanah karena harus mendarmakan baktinya bagi sekitar dua juta warganya di Kota Bandung, dengan cara menyejahterakannya. Tentunya ini bukan pekerjaan ringan. Butuh keuletan, kesabaran, ketegaran, dan kecerdasan.

Bagi warga Kota Bandung,  pada akhirnya siapa pun yang terpilih jadi wali kota, hanya satu yang diharapkannya, bisakah masyarakat Kota Bandung menjadi lebih sejahtera,segala kebutuhan terpenuhi, serta aman dan nyaman hidup di kota kembang ini.

Ya, akhirnya Bandung kembali dipimpin Dada Rosada. Kini ia didampingi Ayi Vivananda sebagi wakil. Selama periode sebelumnya, Dada memimpin “sendiri” karena wakilnya, Jusep, meninggal karena sakit beberapa saat setelah dilantik.

Saya tak ikut memilih, karena sedang bertugas di Banjarmsin!! Wakakakakakak…

11
Mei
08

“Demokrasi Blangkon” Pelaihari


PETUGAS di tempat pemungutan suara (TPS) Desa Karang Taruna Pelaihari, Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mengenakan busana adat Jawa. Di TPS itu banyak pula pemilih yang secara khusus mengenakan busana Jawa ketika melaksanakan hak pilihnya. Sebagian penduduk daerah ini memang berasal dari Jawa dan bermukim sebagai transmigran. Banyak di antara mereka yang sudah berhasil secara ekonomi. foto: idda royani/BPost

JIKA di Jawa Barat, pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf menggunakan “taktik” tanpa peci untuk menandai penampilan mereka agar berbeda dengan dua pesaingnya dalam pemilihan gubernur (dan kemudian mereka menang), maka di Tanah Laut Kalimantan Selatan, ada praktek “demokrasi blangkon”.

Sejatinya, kabupaten beribukota Pelaihari (kira-kira 60 Km dari Banjarmasin) ini ada di Kalimantan dengan latar kultur banjar. Tapi sebagian di antara penduduknya lebih dekat dengan akar budaya Jawa karena memang dari sanalah mereka berasal. Program transmigrasi yang digalakkan sejak ordo soeharto berkuasa, telah membuahkan hasil berupa populasi etnis Jawa di luar Jawa, termasuk di Kalimantan.

Begitu pula di Tanah Laut. Proses akulturasi yang sudah berlangsung lama telah memberikan warna atau sekadar aksen budaya Jawa pada pola pergaulan warganya. Juga saat melaksanakan proses demokrasi seperti yang tampak pada hari Minggu 27 April 2008.

Suasana tempat pemungutan suara (TPS) 09 di Desa Karang Taruna terlihat lebih menarik, pasalnya para penjaga TPS memakai busana khas adat Jawa. Para pemilih yang mencoblos pun mengenakan busana serupa. Para lelaki, tak lupa melengkapi penampilan mereka dengan blangkon (penutup kepala ala Jawa Tengah).

Menurut Sukamto, warga setempat, ajang ini merupakan pesta pertama kalinya untuk menentukan kepala daerah sesuai keinginannya selama 43 tahun menetap di Tanah Laut. Warga berduyun-duyun memberikan hak suara mereka di berbagai TPS terdekat. Hari itu, suasana daerah yang biasanya sepi, jadi agak lebih semarak.

Apalagi di beberapa tempat pemungutan suara, ada warga yang mengisi kekosongan waktu menunggu penghitungan, dengan menggelar aneka atraksi. Dangdut, misalnya. Maka pilkada pun berlangsung dengan riang, tanpa otot-ototan tanpa panas memanasi. Setelah selesai penghitungan, pihak pememenang dan pecundang, menerimanya dengan lapang. Tak ada hiruk-pikuk, apalagi huru hara.

Tanah Laut yang berpenduduk 260.000 (setara dengan penduduk Kiaracondong dan Batununggal, Bandung, digabung) menetapkan pilihan mereka tanpa ribut-ribut. Ada empat pasang yang tampil sebagai kandidat, yakni Ardiansyah-Atmari; Ikhsanuddin-Asmiriyati; Danche-Iriansyah; dan Ali Rais-Abdi Rahman.

Hasil akhir penghitungan suara menunjukkan, pasangan Adriansyah dan Atmari unggul dengan mengantongi lebih dari 50 persen suara. Seusai pemilihan dan penghitungan suara, warga kembali menjalani rutinitas masing-masing. Damai, tenang, tenteram. Menyenangkan sekali jika proses politik di tiap daerah berlangsung seperti di Tanah Laut.

20
Feb
08

Aksi Sopir Taksi

recharge_20030422.jpgini_sih_taksi_di_amrik.jpg

BANDUNG, TRIBUN – Ketua Umum DPP Gabungan Solidaritas Pengemudi Seluruh Indonesia (GSPI) Asep Pratala, Rabu (20/2/08) memimpin seratusan sopir taksi Kota Bandung ke kantor Tribun Jabar. Sebelumnya, mereka juga menggeruduk kantor media cetak lain, Galamedia.

Menurut Asep, kedatangan mereka untuk menyampaikan klarifikasi terkait pemberitaan yang dinilainya merugikan sopir taksi. Selasa (19/2) media-media menyiarkan berita mengenai seorang warga yang melapor ke polisi bahwa ia dirampok saat naik taksi, Minggu (17/2) sekitar pukul 22.00.

Terkait kasus itu, Asep Pratala menegaskan, sejauh ini belum ada bukti maupun petunjuk yang final bahwa perampokan itu terjadi di taksi salah satu armada di kota ini. Menurut Asep, pemberitaan itu berdampak luas terhadap operasional taksi yang tergabung dalam GSPI.

“Omzet turun hingga lima puluh persen. Pemberitaan itu sangat memukul kami. Apalagi kami saat ini tengah berjuang meningkatkan pelayanan sehingga bisa memuaskan masyarakat,” kata Asep yang jadi juru bicara GSPI.

Dalam pertemuan kemarin, Asep dan para pengurus GSPI diterima Pemimpin Perusahaan Tribun Jabar H Pitoyo dan sejumlah redaktur. Menurut H Pitoyo, Tribun Jabar terus berusaha menjunjung tinggi pemberitaan yang benar dan berimbang tanpa menyudutkan pihak mana pun.

“Sesungguhnya kami tidak bermaksud mencederai siapapun dan pihak manapun,” kata Pitoyo dalam pertemuan yang juga dihadiri Wakapolresta Bandung Tengah, Kompol Toni Binsar.

Asep Pratala menambahkan terkait laporan perampokan itu, Polresta Bandung Barat telah memanggil dan mendata semua sopir taksi anggota GSPI yang bertugas pada hari itu. Polisi juga telah memeriksa lokasi kejadian.

“Tapi dalam pembicaraan dengan saya, dan juga ketika dibawa ke lokasi, pelapor tak bisa menunjukkan lokasi persisnya. Karena itu sejauh ini, saya menganggap laporan adanya sopir taksi yang merampok penumpangnya adalah bohong,” papar Asep.

Ia menambahkan, sejak armada taksi beroperasi di Kota Bandung tahun 1980-an lalu, belum pernah ada sopir taksi yang merampok penumpang. “Tapi, kalau sopir taksi yang dirampok, itu sudah berulang kali. Kami mencatat, sudah 11 sopir taksi yang tewas karena dirampok,” tegasnya.

Seperti diberitakan Tribun dan media-media lain Selasa (19/2), seorang warga yang mengaku tinggal di Jalan Karanglayung, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi melapor ke polisi jadi korban perampokan dalam taksi.

Ringkasan aduannya, malam itu Irnadi berada di Jalan Merdeka dan hendak pulang. Dia kemudian naik sebuah taksi. Kepada sopir taksi yang membawanya, ia berpesan agar melewati jalan yang cukup ramai.

Namun, saat melewati Jalan Cipaganti, sopir taksi membelokkan kendaraan ke Jalan Eyckman. Di jalan itulah taksi tersebut berhenti. Lalu, naik dua orang pria yang satu di antaranya membawa pisau. Keduanya naik dari pintu bagian belakang taksi.

Kedua lelaki itu mengapit Irnadi. Bahkan, seorang pelaku yang membawa pisau langsung menodongkannya ke tubuh korban. Korban pun tak berkutik di bawah ancaman senjata tajam.

Menurut Irnadi, sopir taksi yang membawanya hanya diam ketika dua orang tersebut masuk. Irnadi kemudian diperintahkan untuk menundukkan kepala. Sopir taksi lalu membawanya ke kawasan Cihideung, Lembang.

Di Cihideung dia diturunkan, dan tak sedikitpun dilukai. Perampok merampas satu unit laptop Acer, dua buah telepon genggam merk Nokia dan Samsung, jaket, jam tangan, dompet serta isinya uang tunai Rp 400 ribu. Total, kerugian materi yang diderita korban mencapai Rp 30 juta. (rif/xna)