Posts Tagged ‘banjarmasin

23
Sep
08

“Cepat-cepat…..!”

stafford ward

stafford ward

“HA? Cepat-cepat!!” Stafford A. Ward terpekik. “Cepat-cepat…. ya, cepat-cepat!” gumamnya berulang-ulang sambil tak henti mengamati surat kabar “edisi cepat” Tribun Jabar yang sudah dibingkai dan baru saja diserahkan kepadanya sebagai tanda mata.

Ward adalah wakil Atase Pers Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Jumat 19 September 2008 dia bersilaturahmi ke kantor kami di Jalan Malabar, Bandung. Ia didampingi sataf lokal Kedubes AS, Adhitya Chandra Maas.

Sebagai “orang pers” di Kedubes, Ward tampaknya memang wajib berkenalan dengan para pemimpin media terutama di Jakarta, Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah, juga Kalimantan, (Wilayah Sumatera dan Indonesia Timur, diserahkan kepada Konsul di Medan dan di Surabaya).

Ward tampak terpesona oleh liputan kilat wartawan Tribun mengenai kunjungan kerjanya itu. Meski bukan hal yang luar biasa –apalagi sekarang era digital– tetap saja ia merasa mendapat kejutan ketika melihat fotonya saat berdiskusi di ruang rapat terpampang sebagai master berita utama Tribun edisi khusus itu.

Dalam kunjungan sekitar setengah jam itu, kami ngobrol dan berdiskusi mengenai beberapa hal. Mulai dari keberadaan Tribun di tengah dinamika pers di Jawa Barat, sampai masalah-masalah seputar kebebasan pers pascareformasi.

Selain itu ia juga sedikit menjelaskan tentang pemilihan umum di tanah airnya, terutama tentang “pertarungan” singa tua McCain dengan jagoan muda Obama. Bagi publik Indonesia, nama Obama juga tak kalah populer oleh selebritas maupun politikus.

Wilujeng sumping, tuan Stafford! (*)

Giliran Banjarmasin Dikunjungi

Atase Pers ASDARI sekian banyak warga negara asing yang pernah bertandang ke kantor    Banjarmasin Post Group di Jalan AS Musyafa 16 Banjarmasin, Paul Belmont yang bertamu pada Kamis (5/11), termasuk yang paling istimewa.

Pasalnya dia adalah Atase Kedutaan Besar Amerika Serikat Bidan g Pers. Kedatangannya ke Kalsel, khususnya BPost Group, merupakan bagian dari agenda tugasnya di Indonesia tahun ini.
Meski diterima Pemimpin Redaksi BPost Group, Yusran Pare, Pemimpin Perusahaan A Wahyu Indriyanta dan Manajer Redaksi, Irhamsyah Safari lewat sebuah acara sederhana, namun Belmont langsung terkesan.

“Wow, kue apa ini? Rasanya enak dan manis sekali,” katanya dengan rona wajah keheranan, saat mencicipi hidangan ringan yang telah disediakan di ruang pertemuan di lantai IV.
“Ini namanya bingka mister. Kalau Anda lama tinggal di Kalsel, akan sering menikmati kue seperti ini,”  jelas Yusran Pare.

Pertemuan yang berlangsung sekitar 1 jam tersebut diawali dengan pemutaran film dokumenter tentang sejarah berdirinya  Banjarmasin Post.  Belmont antusias merespons dan beberapa kali bertanya dengan bahasa Indonesia yang terdengar kaku.

Tak hanya aktif bertanya, Belmont sempat menanyakan apakah masyarakat Banjar mengenal Presiden AS, Barack Obama yang dikenal dekat dengan masyarakat Indonesia.  Pada bagian lain dia meminta informasi mengenai aktivitas masyarakat Kalsel. Termasuk tentang kebudayaan yang berkembang di Bumi Lambung Mangkurat ini.

“Mata pencaharian warga Kalsel itu mayoritas apa ya? Kok kehidupannya tenang sekali,” katanya.
Belmont juga sempat menanyakan mengenai kerusakan lingkungan, khususnya hutan yang menjadi isu internasional.  (coi)

Atase Pers AS

Atase Pers AS

12
Jun
08

Tung, dan Fenomena Lihan

HARGA bahan bakar meroket. Rakyat menjerit. Pemerihtah bagi-bagi bantuan langsung tunai. Banyak yang protes, tak setuju. Tapi para penerima tetap antre. Demontrasi nyaris tanpa henti, setiap hari, menolak kenaikan harga BBM. Seiring dengan itu meledak pula heboh “temuan” energi alternatif, blue energy, bahan bakar berbahan baku air!

Di Bandung, muncul Ahmad Zaini yang tiba-tiba jadi perbincangan banyak kalangan. Tokoh ini tanpa tedeng aling-aling mengaku memiliki harta warisan yang nilainya brpuluh kali lipat dari nilai anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Harta itu dalam bentuk emas lantakan tersimpan di sejumlah bank di luar negeri. Dia merelakan hartanya untuk dijadikan modal usaha. Syaratnya para pengusaha harus mengajukan proposal proyek, dia akan mengucurkan dana.

Maka orang pun berbondong-bondong mengajukan proposal, lalu menanti penjelasan teknis yang kemudian disampaikan dalam sebuah forum di sebuah kawasan wisat di Cihideung, Bandung. Berita pun meluas, diikuti pro-kontra yang ramai. Tapi belakangan surut sendiri, seperti berlalu begitu saja. Mungkin melanjutkan mimpi memperoleh dana secara cepat dan mudah.

Di Kalimantan Selatan, dalam dua tahun terakhir ini kalangan pebisnis sedang terkaget-kaget oleh munculnya seorang pengusaha muda (baru 32-an tahun), yang namanya berkibar sebagai pengusaha lintas-bidang.

Pria asal Martapura ini, mulai berbisnis dalam perdagangan permata, intan, dan berlian. Belum lama ini dia membeli tunai sebutir intan temuan penambang di sana, dengan harga tiga milyar, tanpa proses berbelit, seperti orang beli sepotong pisang goreng saja layaknya.

Kini dia mengklaim menguasai jaringan bisnis tidak saja di Kalsel, melainkan juga di Jawa dan Sumatera. Disebut-sebut dia memiliki persewaan helikopter di Jakarta, menguasai bisnis perkapalan di Tanjungpriok, perkebunan di Lampung, properti di Yogyakarta.

Belakangan, dia mengejutkan kalangan bisnis kelas tinggi Kalimantan, ketika mendadak ikut menanamkan modal di Merpati Nusantara Airlines yang sedang megap-megap. Keinginanya sederhana saja, agar Merpati bisa lagi mengisi rute Jakarta-Banjarmasin-Jakarta.

Tidak –atau setidaknya, belum– ada yang tahu persis profil dan anatomi bisnis yang dikelola Lihan ini. Yang jelas,  banyak orang turut berinvestasi dan menyerahkan modalnya untuk dibiakkan Lihan. Ia juga tergolong sangat dermawan. Aneka kegiatan sosial, selalu disokongnya.

Di tengah hiruk-pikuk ini, muncul pula Tung Desem Waringin, seorang praktisi pemasaran yang mengundang orang pada seminarnya dengan cara menabur uang dari atas langit Jakarta. Untung saja, loksi tabur duit itu digeser ke kawasan Banten. Kalau tidak, tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.

Soalnya, pada hari yang dijadwalkan itu, di kawasan Monas dan sekitarnya sedang berlangsung unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM, juga aliansi kebebasan kehidupan beragama (AKBB) yang kemudian dikepruk massa gabungan Komando Laskar Islam yang dipimpin Munarman.

Mantan ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) ini memobilisasi massa untuk bertindak keras terhadap kelompok lain yang hari itu berhimpun, berkumpul untuk merenung, menyatukan diri dalam spirit perdamaian.

Begitulah, negeri ini memang aneh. Absurd! (*)

11
Jun
08

Kopi Wortel Johan Lee

SENIN, 26 Mei 2008 saya diajak teman-teman Banjarmasin Post bertandang ke Bati-bati (Tanahlaut), kira-kira 30 kilo meter dari Banjarmasin ke arah Pelaihari. Hari itu rombongan dari kantor sengaja mengunjungi pabrik Indofood Sukses Makmur. Semacam kunjungan balasan atau apalah.

Lagipula, mereka punya bos baru. Johan Lee, baru lima bulan menggantikan kepala cabang (branch manager) Indofood Banjarmasin yang pabriknya di Bati-bati itu. Orangnya energik, ramah dan terbuka. Perbincangan selama kunjungan itu jadi menarik dan hidup.

Saat menjelaskna bagaimana seharusnya bagian dari sebuah industri multi nasional berada di tengah lingkungan masyarakat, Johan mengutip amsal wortel, telur, dan kopi. “Wortel itu kan keras, tapi begitu digodok dalam air mendidih, dia jadi lunak. Sebaliknya, telur itu lunak, cair, tapi kala digodok di dalam air mendidih, dia jadi beku,” katanya.

Setelah proses godok menggodok itu, wortel dan telor tetap terpisah dari air. Dia memang berubah, melunak atau mengeras. Tapi tidak bias melebur. “Lain dengan kopi. Coba didihkan air lalu taburkan kopi. Kopi larut dan mengubah air yang berwarna bening jadi sewarna dengan kopi,” jelasnya.

Dengan amsal itu Johan ingin mengilustrasikan, seperti kopi itulah seharusnya sebuah institusi bisnis berada di tengah masyarakat. Bukan seperti wortel atau telur. “Ini juga saya kutip dari bacaaan-bacaan yang saya dapat di internet,” kata Johan.

Eantahlah, yang jelas Indofood memang produsen terdepan dan terbesar mi instan di tanah air.Kini malah sudah membangun pabrik di beberapa negara. Hingga kini, mi (terutama instan) seakan telah jadi kebutuhan hidup berjuta-juta orang tanpa mengenal kelas.

Di tengah situasi krisis seperti yang dialami sebagian besar rakyat kita hari-hari ini, mi instan mungkin malah jadi pilihan sementara sebagai pengganti, karena harganya relatif terjangkau dan prakrtis.

Johan mengatakan, di tengah melabungnya harga bahan baker, pihaknya juga masih bisa melakukan efisiensi, pabrik makanan instan ternama di Indonesia itu, telah menggunakan batu bara sebagai bahan bakar mesin produksi.

Dari pabrik Indofood cabang Banjarmasin ini jutaan bungkus mi instan tiap hari disalurkan ke pasaran di tiga provinsi, yakni Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur. Pabrik ini tiap hari memasok 60-70 ribu dus mi instant. Tiap dus berisi 40 bungkus.

Tak jelas, apakah Indofood sudah seperti kopi, atau seperti wortel dan telur? (*)

16
Mar
08

Lima Menit, Satu Miliar

ivanda_ramadhani_grafis_perampokan_bank_mandiri_banjarmasin.jpg

KETENANGAN Kota Banjarmasin Jumat, 14/3/2008, disentak oleh peristiwa perampokan di kantor Kas Pembantu Bank Mandiri di kawasan Trisakti. Insiden di siang bolong yang dilukiskan para saksi sebagai dramatis –mirip adegan dalam film laga– itu juga menorehkan catatan buram sebagai tindak kriminal paling brutal yang terjadi di wilayah santun ini.

Sebelumnya, memang pernah terjadi aksi perampokan dengan tingkat kekerasan yang cukup mencengangkan bagi warga Banjarmasin. Misalnya, perampokan atas kantor distributor rokok yang menyebabkan kerugian hampir satu miliar rupiah, pada tahun 2007. Sebelumnya lagi, pada 2005, perampok beraksi di kantor Pegadaian dan menggondol sekitar dua miliar rupiah. Polisi belum berhasil mengungkap kedua kasus tersebut, sampai terjadi lagi perampokan yang lebih brutal.

Dari apa yang dilukiskan para saksi di tempat kejadian, insiden di kantor Bank Mandiri di Jalan Barito Hilir itu menunjukkan aksi para bajingan ini lebih berani dan lebih brutal lagi. Mereka memilih waktu manakala orang-orang berhenti meninggalkan pekerjaan mereka sesaat untuk salat Jumat.

Kawanan ini menyerang menggunakan metode pendadakan, sehingga ketika para korban belum menyadari betul apa yang terjadi, mereka sudah beraksi dengan cepat. Sementara para korban masih terkejut oleh sentakan ancaman kematian, kawanan ini sudah menggondol uang lalu kabur.

Selain menggondol uang dan meninggalkan trauma ketakutan pada para korban, sebenarnya para bandit juga meneror masyarakat sambil sekaligus merampas lagi sebagian rasa aman yang kian hari telah semakin tipis karena terkikis oleh makin sering terjadinya tindak kriminal.

Polisi bergerak cepat, menelisik, menyelidiki, dan mengendus petunjuk-petunjuk apa pun yang mengarah pada pelaku. Mereka juga sudah menyebar sketsa para pelaku. Sketsa yang didasarkan pada ingatan orang-orang yang melihat, dituturkan kepada pelukis, tentu sekadar panduan kasar. Berbeda dengan –misalnyha– gambar hasil rekaman kamera tersembunyi.

Adalah agak janggal jika ternyata kantor kas dari sebuah bank nasioanl berjaringan luas dan termasuk satu di antara bank papan atas ini, tidak dilengkapi alat standar keamanan itu. Apalagi piranti seperti ini kini sudah sangat mudah diperolah dan relatif murah untuk ukuran keamanan industri perbankan.

Alasan bahwa transaksi di kantor bank tersebut tidak terlalu ramai, dan lalu lintas uang tidak terlalu besar, tampaknya tidak bisa diterima nalar. Sebab untuk satu lokasi mesin tunai otomatis (ATM) saja, bank-bank lain selalu menempatkan minimal satu kamera tersembunyi. Gunanya tidak saja untuk merekam orang-orang yang berinteraksi di sekitar mesin itu, melainkan juga merekam aktivitas sejauh daya jangkau kamera tersebut.

Ingat peristiwa pengeboman di Kedubes Australia, bukankah rekaman kamera pengaman dari yang dioperasikan sebuah toko di sebelah Kedubes itu yang menangkap mobil pembawa bom yang melintas nun di seberang jalan, beberapa detik sebelum bom itu meledak?

Besar kemungkinan, ketiadaan alat pantau ini pula titik lemah yang jadi perhatian para bandit, sehaingga mereka memutuskan untuk menyerang. Terbkuti pula, kantor yang tidak “terlalu ramai” transaksi itu “memberi” para bandit satu miliar lebih. Jumlah yang tentu saja cukup besar di masa-masa sulit seperti ini.

Belajar dari kasus-kasus perampokan sebelumnya –ditributor rokok dan kantor pegadaian– semestinya aparat keamanan dan masyarakat bahu membahu saling mendukung dan menjalankan cara apa saja untuk mencegah terjadinya tindak kejahatan. Setidaknya, jika ada kejadian lagi, agak lebih cepat bisa mengenali parta pelakunya dan dengan demikian lebih memudahkan lagi pengungkapan.

Peristiwa Jumat kemarin itu selayaknyalah menyentakkan lagi kesadaran segenap pihak, bahwa keamanan adalah tanggungjawab bersama. Rasa aman adalah milik hakiki setiap warga dalam menjalankan segala aktivitasnya. Memang, ada polisi yang bertugas melayani masyarakat memenuhi kebutuhan rasa aman itu. Namun adalah tugas bersama pula mendukung dan memeliharanya. ***

halaman-1.jpg

http://www.banjarmasinpost.co.id