Posts Tagged ‘danny setiawan

15
Jun
08

Angka 13 dan Gedung Merdeka

KEBETULAN atau tidak, Danny Setiawan – Nu’man Abdul Hakim, dan Ahmad Heryawan – Dede Yusuf, dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur pada hari dan tanggal yang sama, di tempat yang sama, pada jam yang juga hampir sama.

Jumat 13 Juni 2003, Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno, melantik Danny-Nu’man di Gedung Merdeka Jalan Asia Afrika Bandung, sekitar pukul 09.00. Lima tahun kemudian, Jumat 13 Juni 2008 Ahmad-Dede dilantik Mendagri Mardiyanto, pada pukul 09.13, juga di Gedung Merdeka.

Saya masih ingat betul, saat melantik Danny-Nu’man, Mendagri sempat berkelakar dalam pidatonya. Kala itu ia menyampaikan terima kasih kepada tiga wakil gubernur (boleh jadi cuma Jabar yang wagubnya sampai tiga!) yang habis masa jabatannya dan digantikan oleh satu wakil gubernur satu paket dengan gubernrur pilihan rakyat, eh pilihan DPRD setempat.

Kepada wagub yang berasal dari sipil, ia sampaikan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Khusus kepada wagub yang berasal dari angkatan darat, katanya, dia ucapkan terima kasih yang seluas-luasnya.

Lho, kok?

“Ya, angkatan darat kan semangatanya teritorial. Jadi, seluas-luasnya. Kalau kepada angkatan udara, saya akan ucapkan terima kasih setinggi-tingginya. Kalau untuk angkatan laut, terima kasih sedalam-dalamnya,” kata dia.

Kalau polisi? “Ya, terima kasih sebesar-besarnya. Kalau nggak ada, ya… seadanya saja deh,” katanya sambil terkekeh, disambut tawa hadirin.

Betul, mungkin ia cuma bercanda. Tapi canda politik itu sangat boleh jadi menyiratkan realitas yang diam-diam terjadi, atau setidaknya menggejala, di dalam pelaksanaan politik kekuasaan di negara kita.

Di balik candanya itu, tersirat pembenaran, pengakuan, sekaligus mungkin megingatkan bahwa semangat keterkotak-kotakan seperti itulah yang selama ini terjadi. Saking perseginya kotak itu, bahkan ucapan terima kasih pun harus berbeda.

Dan, sangat boleh jadi, sebagai wakil dari pemerintah pusat, hari-hari itu Hari Sabarno menyampaikan ucapan terima kasih kepada banyak orang yang telah menjabat –setidaknya dalam lima tahun terakhir– sebagai kepala daerah.

Maklum, saat itu adalah ‘musim’ pergantian kepala daerah, tingkat satu, maupun tingkat dua. Mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara (Barat dan Timur).

Iklim politik di berbagai daerah kini sedang panas-panasnya oleh aneka manuver dan taktik para politisi mulai pencalonan sampai pengegolannya pada pemilihan. Bersamaan dengan itu publik bisa pula menilai dengan cermat, partai mana sajakah yang tampak siap dan canggih bermain politik.

Mencuatnya isu-isu politik duit di beberapa tempat, tampaknya boleh dikelompokkan ke dalam salah satu dari aneka macam taktik politik itu. Penyelesaiannya pun, kadang merupakan jurus lain yang dipraktekkan para pendekar politik, entah di daerah entah di pusat. Nyaris sama.

Akibatnya, ada ketua DPRD yang dijebolskan ke penjara. Ada gubernrur terpilih yang dicokok dan diadili. Ada juga yang ramai- ramai dilengeserkan oleh DPRD-nya, namun ternyata para wakil rakyat itu kalah awu, dan sang gubernur tetap pada singgasananya.

Di Jawa Barat, irama politik lokal sempat gonjang-ganjing -belum sampai tahap ngebor, heh!– oleh meledaknya skandal pembagian dana kavling bagi 100 anggota dewan.

Orang jadi ribut karena DPRD sudah punya 100 lebih rumah dinas bagi para anggotanya. Belakangan ujug-ujug ada lagi dana kavling masing-masing 250 juta rupiah per kepala. Yang lebih parah lagi, duit itu digelontorkan dari pos anggaran dana APBD yang dicadangkan untuk bencana alam, kegiatan sosial, dan sejenisnya.

Nah, saat itu calon gubernur yang kemudian terpilih –dan akhirnya dilantik juga oleh Mendagri–  disebut-sebut ikut berperan dalam pencairan dana tersebut. Maklum, saat itu yang bersangkutan masih menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda).

Ada atau tidak keterkaitan antara terpilihnya yang bersangkutan dengan proses pencairan dana –yang mulai dikucurkan sejak tahun 2000– itu? Entahlah. Yang jelas, urusannya kemudian ditangani Kejaksaan Tinggi. Yang pasti, gubernur dan wakilnya sudah terpilih dan sudah dilantik dan sudah pula menyelesaikan masa baktinya. Ia sempat mencalonkan lagi sebagai gubernur pada Pilkada 2008, tapi kalah.

Kini, kasus itu sudah berlalu. Tak begitu jelas, apakah memang dianggap sudah berlalu dan tidak ada masalah lagi, atau tergilas oleh isu-isu lain yang lebih panas dan lebih menyita perhatian publik.

Yang jelas, sejak 13 Juni 2008, Jawa Barat dipimpin dua tokoh muda yang dipilih langsung pada 13 April 2008. Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf. Keduanya baru saja melewati usia 40.  (*)

Iklan
21
Feb
08

Bertemu Dua Iwan

kiri-iwan-ridwan-sulanjana-kanan-iwan-ridwan-abdulrachman.jpg

PERTAMA datang ke kantor kami, Januari 2005, untuk pamit. Tiga tahun kemudian, Rabu 20 Februari 2008, datang untuk sampurasun. Dulu, ia pamit karena jabatannya sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) III Siliwangi habis. Kini, ia “datang lagi” sebagai calon wakil gubernur Jawa Barat. Ia mendampingi Danny Setiawan –gubernur Jabar 2003-2008– diusung koalisi partai Golkar dan Partai Demokrat.

Disebut “datang lagi” karena ia sebenarnya memang bukan orang luar. Sunda pituin pelahiran tanah Pakuan Pajajaran (Bogor) tahun 1951. Ia adalah sosok prajurit bersahaja dan rendah hati. Saat jadi Panglima Siliwangi, rumah dinasnya tak pernah sepi, terutama tiap Kamis malam. Pintunya terbuka lebar menerima warga, sambil ia menggelar pengajian.

Jika pada kedatangan pertama ia hanya didampingi seorang sopir dan ajudan, maka kedatangannya yang kedua “dikawal” agak istmewa. Setidaknya, pendampingnya adalah orang-orang istimewa di bidang masing-masing.

Ada Tjetje Hidajat Padmadinata, politikus ulung, dan boleh dibilang tokoh besar Jawa Barat lintas generasi, progresif. Ada Herman Ibrahim, tentara kritis yang lebih dikenal sebagai analis dan penulis. Ada Budi Radjab, sosiolog. Terus, Ipong Witono, tokoh muda, pengusaha yang lebih komit pada aktivitas budaya dan politik.

Lalu, ada lagi Iwan Ridwan Abdurrachman. Komponis yang memberi warna kokoh pada Trio Bimbo di masa-masa awal. Pencipta Melati dari Jayagiri dan Hymne Siliwangi , pendiri Wanadri –perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunug pertama di Indonesia– dan “guru” Kopassus.

Iwan Abdurrachman tentu bukan orang asing. Setidaknya, ia sudah dikenal gubahan-gubahannya sejak saya remaja (SMP-SMA dulu) juga pada masa-masa gerakan mahasiswa tahun 1977/1978 di Bandung. Kini, ia jadi satu di antara think tank tim sukses Danny-Iwan.

“Saya jadi pendukung Iwan (–dan Danny) bukan karena apa-apa. Lebih karena nama kami sama. Ya, sama-sama Iwan Ridwan. Sama-sama berkumis,” katanya berseloroh. Namun, kata dia, ada yang lebih penting lagi yang tampak dari munculnya pasangan Danny-Iwan ini, yakni kesungguhan dan kesediaan militer berada di bawah pemerintahan sipil. Ya deh!

Kedatangan “dua Iwan” dan para tokoh Jabar di kantor kami tentu saja dimanfaatkan untuk berdiskusi. Maka, hampir tiga jam kami terlibat perbincangan hangat diselingi canda di sana-sini. Suasana pun jadi cair dan santai, sehingga pernyataan-pernyataan Iwan sabagai cawagub terlihat mengalir apa adanya, meskipun ada hal-hal yang masih dirahasiakannya.

Iwan tidak ragu saat mengungkapkan soal alasannya bersedia mendampingi Danny Setiawan dalam Pilgub Jabar 2008.

“Saya sejak dulu hanya ingin jadi pendamping. Dan sekarang ini jelas, Pak Danny membutuhkan pendamping yang bisa mengawasi agar arah kebikajannya tidak melenceng. Karena kalau pengawasnya orang partai lagi, Pak Danny menilai tidak akan bisa berlari cepat. Karenanya Pak Danny memilih mantan militer,” papar Iwan Sulandjana. Ya deh! Lagi.

Namanya juga tebar pesona menjelang pemilihan.***