Posts Tagged ‘herman darmo

01
Jan
09

Enam Tahun Empat Bulan

karikaturpakpram

HAJI Pramono Barontaksono. Rekan-rekanya di Kompas mengenal dia sebagai pbs. Sedangkan di Banjarmasin, awak redaksi dan karyawan Banjarmasin Post Group biasa menyapanya Pak Pram. Dia lah yang selama enam rahun terakhir menjadi pucuk komando redaksi empat media yang berada di bahwa naungan BPost Group — Banjarmasin Post, Metro Banjar, Serambi Ummah.

Tak terasa 25 Desember 2008 merupakan tahun keenam lebih empat bulan Pak Pram berada di keluarga besar BPost Group sebagai pemimpin redaksi. Tepat tanggal itu Pak Pram yang genap berusia 60 tahun memasuki masa pensiun, yang berarti harus meninggalkan ‘keluarga besarnya’ di BPost Group.

Seribu kenangan bersama Pak Pram, secara khusus digelar jajaran BPost Group di Hotel Rodhita Banjarmasin, Sabtu (27/12). Selain sejumlah karyawan, tribute untuk Pak Pram itu dihadiri Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin, Wakil Bupati Barito Kuala Sukardhi, Kepala Kepolisian Kota Besar (Kapoltabes) Banjarmasin Kombes Wasito Hadi Purnomo, juga para pengusaha dan relasi.

Pempimpin Umum Bpost, HG Rusdi Effendi AR mengatakan, acara tersebut sengaja dikemas guna memberikan kenangan kepada Pak Pram demikian Pramono biasa disapa.

Setengah bercanda gubernur berkomentar, “Kalau saja Pak Pram dua tahun lagi menjabat sebagai pemimpin redaksi, mungkin bisa mengantarkan saya kembali untuk jabatan ke dua.”

Menurutnya, peran serta BPost juga menjadi manfaat dalam memberikan kritik yang membangun bagi pemerintahan di Kalsel. “Media BPost Group menjadi salah satu pendukung untuk membangun pemerintahan yang lebih baik di Kalsel,” katanya

Selanjutnya, Rusdi Effendi didampingi Pemimpin Perusahaan BPost Group A Wahyu Indrianta, Pempimpin Redaksi BPost Group yang baru Yusran Pare, serta Wakil Pemimpin Perusahaan Fahmy Noor, memberikan cendera mata kepada Pak Pram berupa cincin berlian.

tetapceriaSiang harinya, acara perpisahan Pak Pram khusus untuk para karyawan dilaksanakan di Aula Palimasan Gedung HJ Djok Mentaya lantai V.

Dalam kesempatan itu tak henti-henti Pak Pram memuji jajaran BPost Group yang sudah seperti keluarga bagi dirinya. Keakraban dan keramahan yang diberikan seluruh karyawan, membuatnya betah sehingga waktu enam tahun empat bulan yang ia jalani sepertinya baru kemarin dilalui.

Di akhir kata-kata perpisahannya, Pak Pram mengakui dirinya sebagai manusia dan pimpinan pastilah ada kekeliruan dan kekhilafan. “Kepada seluruh karyawan, saya mohon maaf…,” ucap Pak Pram, lalu terdiam sambil menundukkan kepala.

hd_pbsDirektur Kelompok Persda Kompas Gramedia, Herman Darmo menyatakan salut dan bangga atas kerja keras yang ditunjukkan Pak Pram. Dari catatan Herman, belasan tahun Pak Pram rela terpisah dari keluarga, demi pengabdiannya tak pernah ada kata mengeluh.

Sementara itu, Pemimpin Umum BPost Group HG Rusdi Effendi AR juga memiliki kenangan tersendiri dengan Pak Pram. “Kami sering ngotot-ngototan dalam beberapa hal. Tetapi semua itu masih dalam batas untuk pekerjaan dan kemajuan lembaga,” ujarnya.

Meski demikian, ujar Rusdi, setelah itu mereka kembali akrab bekerja bahu-membahu dan saling dukung.

Dalam kesempatan itu, selain dari jajaran pimpinan, salam perpisahan disampaikan Redaktur Pelaksana BPost, Harry Prihanto, mewakili jajaran redaksi.

Harry mengungkapkan, selama ini peran Pak Pram sangat besar dalam memberikan semangat kepada para karyawan khususnya kru redaksi.

“Pak Pram mendampingi kami bekerja terutama yang sesi malam sampai pukul 01.00 Wita. Pada saat-saat itu kami selalu berdiskusi bahkan berdebat menyangkut hal-hal yang akan disajikan di BPost esok,” ujarnya.

Semangat Pak Pram itulah, kata Harry, yang akan menjadi teladan bagi seluruh karyawan. Karena, walaupun sudah berumur, namun memiliki semangat tak kenal lelah demi menyajikan berita dan tampilan yang terbaik kepada pembaca.

Kedekatan Pak Pram dengan para karyawan tampak jelas di saat semua bersalaman mengucapkan salam perpisahan. Pak Pram yang saat itu didampingi istri, tak segan-segan memeluk satu per satu karyawan seperti seorang ayah kepada anak.

Diiringi paduan suara BPost Group yang menyanyikan lagu perpisahan, membuat suasana makin haru. Hampir seluruh karyawan tak kuasa menahan air mata saat berjabat tangan dan berpelukan dengan Pak Pram.

“Nanti kalau jalan-jalan ke Jawa, mampir ke Semarang ya…,” ucap Pak Pram kepada setiap karyawan yang disalaminya. (Edward Pah/Ernawati – Banjarmasin Post)

tetapsemangat2

Iklan
23
Feb
08

Delapan Tahun

delapan-tahun.jpg

LAHIR dengan nama Metro Bandung. Edisi perdana harian pagi ini diluncurkan 23 Februari 2000 dengan semangat sebagai koran kota. Tak terasa, delapan tahun sudah usia surat kabar yang kami kelola di tengah sesaknyanya pasar media di Bandung dan Jawa Barat.

Ada kebahagian melihat teman-teman larut dalam sukacita pesta kecil memotong satu tumpeng dan merecah kue tart sederhana, sekadar simbol. Saya jadi teringat ketika peryama kali Mas Herman Darmo, Bang Syamsul Kahar, Mas Agus Nugroho dan seabreg rekan berdesak-desak di garasai rumah kontrakan di Jalan Malabar 7 Bandung, yang kami sulap jadi kantor.

Sebagian di antara teman-teman yang turut bersama sejak itu, hingga kini masih berkiprah bersama. Sebagian lagi, sudah memilih jalan sendiri-sendiri di luar kami. Ada yang masih di bidang pers, ada pula yang di bidang lain.

Peringatan ulang tahun kedelapan, kami rayakan sangat sederhana, seperti biasa. Tempatnya di halaman kantor, di Jalan Malabar No 5, geser satu nomor dari bangunan yang pertama kali kami tempati.

Di tempat ini pun, kami masih mengontrak. Tapi, perayaan kali ini membangkitkan kegairahan baru karena sebagaimana diumumkan H Pitoyo, pemimpin perusahaan Tribun Jabar kini, dipastikan tahun depan kami akan menempati kantor milik sendiri di kawasan Jalan Riau (RE Martadinata).

Betapa pun besar/kecilnya, inilah hasil kerja keras teman-teman selama ini. Ini juga sekaligus menunjukkan, apa yang kami lakukan, apa yang kami kerjakan mulai menampakkan hasil. Bahwa rentang waktu yang kami tempuh begbitu lama, ya karena itulah kenyataannya.

Bisa bertahan di tengah situasi pasar yang demikian rapat dan kejam saja sudah merupakan anugerah. Karenanya, apa yang kami peroleh hari-hari ini, tentu saja merupakan anugerah yang lebih besar lagi.

Karena itu meluncurkan Metro Bandung setiap hari, perlu perjuangan yang ekstra keras. Tahun demi tahun, Metro menembus rimba raya pasar surat kabar di kota Bandung –dan sekitarnya. Perlahan-lahan, Metro Bandung mulai ikut mewarnai pasar.

Melihat respon pasar yang positif, maka sejak 18 Februari 2005, atau lima tahun sejak Metro terbit, manajemen memutuskan mengganti namanya menjadi Tribun Jabar.

Format penyajian pun disempurnakan, dan perubahan nama serta penyempurnaan format penyajian serta penyempurnaan distribusi menunjukkan hasil yang signifikan. Setidaknya jika dilihat dari oplah yang mencapai 300 persen dari oplah Metro dan persebaran yang lebih luas lagi.

Ini menunjukkan, apa yang kami lakukan –sedikit-banyak—bisa diterima halayak. Ini juga sekaligus memberikan peringatan dini bahwa kami harus bekerja lebih keras lagi agar memperoleh hasil yang terus membaik dan lebih baik lagi dari masa ke masa.

***

KENANGAN – Dari Metro Bandung ke Tribun Jabar

awak redaksi awal metroinilah-sebagian-pasukan-yang-melahirkan-metro-bandung.jpgpara-srikandi-meto-tinggal-hasanahduduk-belakang-paling-kanan.jpgsebagian-awak-metro-sebagian-masih-bertahan-zelphi.jpggarasi-jadi-ruang-redaksi.jpgbuka-bukaan-salingkritik-saling-beri-masukan-di-pangalengan.jpgbegitu-terpilih-sebagai-walikota-dada-rosada-kunjungi-metro.jpgmaha-patih-kanjeng-raden-mas-ngabehi-sujarwo-bersedekap-mendampingi-sri-sultan.jpgmachmud-membacakan-doa-menjelang-edisi-perdana-tribun-terbit.jpgsebagian-di-antara-awak-tribun-jabar-bersama-keluarganya-tahun-2007.jpg

Tanpa terasa, delapan tahun kami bersama-sama. Sebagian di antara anggota pasukan yang turut merintis kelahiran Metro Bandung/Tribun Jabar masih bertahan hingga kini. Sebagian sudah memilih jalannya sendiri. Di antara mereka, ada yang sudah tidak bersama lagi, antara lain: Firly Firlandi, Yogi Ardhi, Budi Winarno, Mariatul Kiptiah, Irna Febri Herawati, Ester Perangin-angin, Isni Hindryati, Rudyanto Pangaribuan, Yuyun Yumiati, Wasis Wibowo, Arie Sanjaya, Dian Hendrayana.