Posts Tagged ‘intim

12
Apr
09

“Say No to ….”

KAMIS 9 April 2009, sejak pagi hingga lepas tengah hari, pemilih menentukan pilihannya di bilik suara. Ada juga yang tidak, baik karena hambatan administratif maupun mereka yang memang secara sengaja tidak menggunakan haknya.

sayno2Sampai menjelang detik-detik pemilihan umum, situasi relatif tenang. Suhu politik pun sejuk-sejuk saja tidak ekstrem sebagaimana dikhawatirkan banyak pihak. Bahwa ada riak-riak hangat, sejauh ini masih dalam konteks kewajaran di tengah pesta akbar demokrasi.

Ada beberapa peristiwa cukup menarik yang kali ini turut menambah semarak hura-hura politik, yang membedakannya dari pemilu di masa lalu. Pertama, berita menyangkut putra presiden yang disiarkan media online yang kemudian berdampak hukum. Kedua, hujatan dan dukungan terhadap tokoh tertentu melalui internet. Ketiga, tokoh yang diam-diam menggunakan internet untuk tetap berkampanye di masa tenang.

Tiga cuplikan peristiwa itu sengaja diambil sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa media alam maya telah betul-betul menjadi bagian dari kehidupan –sosial, politik, ekonomi, budaya– di Tanah Air. Ia juga sekaligus memperlihatkan bahwa ruang maya publik (internet) itu besar dan ampuh pengaruhnya.

Kemajuan teknologi informatika yang membawa lompatan jauh –dan kepraktisan– dalam pola komunikasi di dunia maya, telah mengambil alih fungsi yang selama ini diemban ruang publik konvensional, entah itu mall, pasar, gedung parlemen, atau taman kota.

Perbincangan, diskusi atau sekadar bergosip, keintiman atau bahkan kemarahan, sebagian kini telah berpindah saluran ke alam maya. Wacana kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan politik, tak lagi hanya di gedung parlemen dan kampus, malainkan juga di dinding percakapan ruang maya.

Internet telah jadi ruang yang betul-betul terbuka dan bebas — dimasuki atau ditinggalkan– siapa pun. Bebas bicara dan tidak bicara apa pun. Bebas digunakan –dan tidak digunakan– untuk keperluan apa pun, termasuk kepentingan politik.

Ibarat agora (pasar) dalam sistem demokrasi di Athena, internet tidak saja merupakan tempat berjualan, melainkan berfungsi ganda sebagai wahana masyarakat untuk bertemu, berdebat, mencari berbagai, membuat konsensus atau menemukan titik-titik lemah gagasan politik dengan cara memperdebatkannya.

Dalam wacana politik, kondisi itu memberikan optimisme bahwa peran besar teknologi dunia maya tersebut merupakan alternatif kekuatan baru yang dapat menciptakan iklim demokrasi yang lebih baik. Jelas, ia pun merupakan saluran komunikasi yang potensial dalam menyalurkan berbagai opini dan gagasan politik yang seringkali tersumbat atau terkendala kesungkanan.

Penyaluran informasi yang baik dan jernih adalah satu di antara syarat utama demokrasi yang sehat, karena informasi yang terang dan baik, pasti berasal dan dialirkan lewat kejernihan pikiran dan ketulusan hati. Tanpa pikiran jernih dan ketulusan, demokrasi hanya akan bermakna sebagai kebebasan mutlak yang mendorong anarkisme.

Lebih sepuluh tahun lalu, Wakil Presiden Amerikan Serikat, Al Gore meyakinkan warganya bahwa teknologi informatika membuat warga negara bisa terlibat langsung dalam berbagai keputusan politik. Tahun lalu, Barack Husein Obama membuktikan keampuhan internet dalam perjalanannya menuju Gedung Putih.

Tiga contoh yang dicuplik di atas, yakni penyebaran berita mengenai dugaan kecurangan politik yang dilakukan anak presiden, dan kemurkaan ketua partai besar atas munculnya kelompok jejaring “Say No to …” dan “Say Yes to …” di dinding facebook hanyalah  petunjuk kecil tentang seberapa jauh bangsa kita memanfaatkan keterbukaan informasi itu secara bijak dan cerdas dalam proses demokratisasi.

Makna yang bisa ditangkap adalah: pemanfaatan ruang maya publik untuk komunikasi politik seyogyanyalah disertai persyaratan, di antaranya membangun sikap politik yang matang dan budaya politik yang dewasa.

Komunikasi politik tidak dapat dipisahkan dari berbagai aspek budaya politik seperti sikap mental, etika politik, dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat.

Apa yang terjadi dengan penggunaan kecanggihan teknologi dengan proses politik di tanah air, masih seperti atau sebatas itulah budaya dan sikap mental politik kita.

Mudah-mudahan pemilu kali ini menjadi awal kehidupan demokrasi yang lebih baik lagi.

Contreng!***

03
Jan
08

Mata, Telinga, Maya

malaysia.jpgMENTERI Kesehatan Malaysia Datuk Seri Dr Chua Soi Lek mundur, Rabu (2/1/08), menyusul terkuaknya rekaman hubungan intim antara dia dengan pasangan selingkuhnya. Videonya tersebar Malaysia beberapa bulan terakhir. Belakangan juga muncul di internet. Sang Datuk sudah mengakui secara terbuka, dirinyalah yang ada di rekaman tersebut.

Skandal yang menggemparkan Tanah Melayu itu mirip yang terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu. Seorang tokoh parpol sekaligus anggota DPR RI, berselingkuh dengan teman separtainya, dan rekaman video seksnya tersebar ke seantero jagat melalui koneksi internet. Karir politiknya pun ambruk.

yz.jpg

Lima tahun lalu, seorang senator di Amerika, mengundurkan diri setelah rangkaian rekaman perselingkuhannya di sebuah kamar hotel muncul dalam situs internet, dan aibnya terkuak ke halayak ramai tanpa bisa dia bantah.

Tiga keping peristiwa ini makin memperkuat pandangan bahwa di era kemajuan teknologi informatika yang sedang berlangsung hari-hari ini, dunia semakin terbuka lebar. Dunia cyber telah membuka babak baru, ruang publik baru, pada masyarakat sekaligus menawarkan berbagai kemungkinan yang semula dianggap tak masuk akal, mustahil atau tabu.

Kemajuan teknologi yang antara lain diwujudkan melalui revolusi informatika ini secara tidak langsung banyak mengambil alih fungsi yang selama ini diemban ruang‑ruang publik konvensional selama ini. Hal itu karena cyberspace lebih menjanjikan kemudahan‑kemudahan dalam wacana kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan bahkan politik.

Sejalan dengan itu, ia juga membukakan makin banyak mata dan telinga untuk dengan mudah melihat dan mendengar apa saja yang ingin — bahkan juga yang tidak ingin– dilihat dan didengar.

Kini bukan hanya ruang publik yang bisa diamati secara bebas, bahkan ruang paling pribadi pun bisa saja disaksikan dan dicermati pihak lain dari tempat yang tidak lagi dibatasi ruang dan waktu. Makin banyak mata menatap apa yang dilakukan penghuni bumi, diketahui atau tidak. Tersamar maupun terang-terangan.

lift.jpgArtinya, di masa kini nyaris tak ada lagi tempat tersembunyi, bahkan mungkin di rumah sendiri. Teknologi telah membantu orang-orang –entah iseng, entah untuk kepentingan intelijen– bisa melihat, mendengar, dan merekam, hal-hal yang mungkin sama sekali tak pernah kita duga.

Dengan sedikit modal dan keterampilan, orang bisa mencuri gerak-gerik –yang paling pribadi sekali pun– siapa saja. Kemudian menikmatinya sendiri atau menyebarkannya ke dunia maya, atau malah untuk pemerasan. Lensa dan kamera super mini dengan kemampuan maksimum, bisa dengan mudah diperoleh di pasaran.

ba500001.jpg

Desember 2007 lalu seorang polisi di Bali ditindak setelah rekaman vidoenya beredar di internet. Ia memeras dua turis yang melanggar lalu lintas. Satu di antara turis itu diam-diam merekamnya lewat telepon selular berlensa, kemudian mem-posting rekaman itu. Dunia tahu. Indonesia (seharusnya) malu.

Apa yang tampak dari kasus di Malaysia, skandal anggota DPR-RI, kasus senator di Amerika, dan polisi di Bali, adalah peneguhan pendapat bahwa tenkologi telah berkembang demikian cepat, makin canggih, kian murah, makin mudah, dan makin gampang pula disalahgunakan.

Ini juga sebagai peringatan bagi siapa saja, entah itu pejabat atau tokoh publik, entah itu seseorang yang anonim. Bahwa di zaman ini, hidup lurus saja tidak cukup. Bahkan hajat halal antara suami-istri yang sah pun, bisa tiba-tiba jadi malapetaka ketika ada orang yang mencuri-curi adegan dan melemparkannya ke internet.

Apalagi perilaku yang menyimpang.***