Posts Tagged ‘jagal

18
Jan
10

Hasrat Berkuasa

HOROR itu tiba-tiba menyentak kembali. Lima potongan tubuh manusia ditemukan bercecer di tempat terpisah di Jakarta. Ibu kota geger.  Jika para juru berita televisi tidak sedang ‘menggoreng’ skandal Bank Century, sudah bisa dipastikan berita horor itu akan jadi topik besar dan menasional, yang akan terus menerus disajikan kepada publik sebagaimana kasus serupa yang terjadi dua tahun lalu.

Saat itu publik dikejutkan berita penemuan mayat terpotong tujuh di dua lokasi di Jakarta. Belakangan terungkap, ia adalah korban pembunuhan yang diikuti mutilasi. Pelakunya, Veri Idham Heniansyah alias Ryan, ternyata pula telah membunuh 10 korban lain. Semua mayat korban dikubur di pekarangan belakang rumah orangtua pelaku di Jombang, Jawa Timur.

Peristiwa terbaru di Jakarta juga menampilkan pola yang mirip, yakni keberuntunan. Korban bukanlah yang pertama, sebab sebelumnya sang pelaku telah menghabisi tujuh korban lain. Berbeda dengan kasus Ryan yang korbannya orang-orang dewasa, pada kasus terakhir korbannya adalah anak-anak berusia 9-12 tahun. Selain dibunuh dan kemudian dicincang, anak-anak lelaki itu juga mendapat kekerasan seksual, sebagaimana yang pernah terjadi pada kasus Robot Gedek beberapa tahun lalu.

Merujuk pada catatan yang ada, pembunuhan yang diikuti mutilasi mulai jadi berita di Tanah Air sejak 1960-an. Pelakunya, Aminah akhirnya mendekam di LP Bukit Duri. Ia membunuh korban kemudian menyembunyikannya di bawah tempat tidur dan dipotong sedikit demi sedikit dijadikan bahan dasar sayur sop yang dijual di kedainya. Satu dasawarsa kemudian, Nurdin Kotto, seorang pejabat swasta jadi korban pembunuhan dan mutilasi.

Pada 1980, seorang perempuan dicincang jadi 13 bagian. Potongan tubuhnya ditemukan di Jalan Sudirman Jakarta. Setelah itu, hampir tiap tahun terjadi horor serupa di berbagai tempat di Tanah Air.

Kian hari,  peristiwa serupa makin sering terjadi, dari lima kasus (2007) menjadi 12 kasus (2008). Dan, awal tahun ini dibuka oleh horor keji yang menimpa delapan anak. Pelakunya juga lelaki jalanan yang sangat boleh jadi, tiap hari jadi ‘pelindung’ atau bapak jalanan bagi anak-anak tersebut.

Fakta-fakta di atas tampaknya sekadar gambaran permukaan,  bahwa diam-diam sesungguhnya kita semua memiliki naluri keji yang bisa saja tiba-tiba terpancar tak terkendali di tengah suatu situasi.

Dari rangkaian peristiwa itu kita melihat kecenderungan, jika tidak karena dipicu orientasi materi, maka peristiwa itu dipicu oleh keinginan balas dendam atas masa silam dan hasrat untuk menunjukkan kekuasaan tak terhingga atas pihak lain.

Bagi sebagian orang, orientasi yang demikian tinggi atas materi bisa membuatnya tidak lagi menghargai (nyawa) orang lain. Bagi sebagian lain,  balas dendam atas kekalahan masa lalu bisa saja menjadi pemicu utama tindakannya menghalalkan segala cara, termasuk membunuh, untuk mengekspresikan bahwa dirinya mampu berkuasa atas pihak lain.

Peristiwa-peristiwa itu seakan meneguhkan keyakinan, bahwa kekejaman bisa muncul begitu saja dan menjalari karakter seseorang di antara sekelompok manusia. Perilaku macam itu bisa diidap siapa pun. Orang boleh saja bergidik, ngeri dan jijik. Bisa pula takut, jangan-jangan ada juga orang di dekatnya yang berperilaku seperti pembunuh kejam itu.

Tapi kalau ditelusuri ke belakang dan mencoba menatap realitas kekinian, rasanya kita tak perlu kaget benar. Apalagi takut. Bukankah di dalam diri tiap manusia pun ada unsur genetik yang mewarisi kecenderungan hewani seperti itu? Hanya saja, kekejian dan spirit membunuh tidak dipraktikkan langsung dengan mencincang sesama, melainkan dengan ‘membunuh’ peluang dan ‘memakan’ pihak lain.

Kenyataan sehari-hari menunjukkan dengan jelas, bahwa makin hari kita melihat kian banyak saja orang yang rakus dan buas. Mereka tak segan-segan ‘membunuh’ kawan, menipu teman, memeras orang lain, dan mengisap hak mereka.

Jadi, para pembunuh dan pelaku mutilasi itu mungkin belum apa-apa dibanding sebagian di antara kita yang kadang ternyata lebih keji dan kejam. Di gedung parlemen, misalnya, hari-hari ini kita menyaksikan bagaimana para politisi mencecar, menguliti, mencincang, dan –kalau perlu– menghabisi lawan politik atau pihak lain yang menurut mereka layak dihabisi.

Kita juga masih menyaksikan kekejaman serupa, entah itu di kamar-kamar birokrasi, gedung bursa, kantor penegak hukum, jalan, pelabuhan, pasar, dan di tempat lain.

Sebagian di antara kita yang bertabiat jagal itu seringkali tampil sedemikian elegan di balik jas dan dasi berkelas, bermobil mengkilap, beristri (dan selingkuhan) cantik, molek, dan seksi. Lebih hebat lagi, seringkali orang-orang macam itu merasa tidak sedang melakukan kekejaman dan kekejian, meski hampir tiap waktu ‘memakan’ sesama. ***

29
Jul
08

The Silence of Ryan

BISA dipastikan Verry Idam Henyansyah alias Ryan tak punya hubungan apa pun dengan Francis Dolarhyde, Jame Gumb, dan Doktor Hannibal Lecter. Kecuali kalau dia mengikuti trilogi karya Thomas Harris, Red Dragon, The Silence of the Lambs, dan Hannibal.

Hannibal adalah gabungan dari semua ‘kekejaman yang dingin dan cerdas’. Ia ditiru, dijadikan panutan, dipelajari, dan jadi patron bagi orang semacam Dolarhyde. Ia pun jadi rujukan bagi Clarice Starling dan Will Graham, agen FBI yang ketiban tugas memecahkan kasus pembunuhan berantai yang disertai kanibalisme Dolarhyde (Red Dragon), dan Gumb (The Silence of the Lambs).

Ya, Hannibal adalah ikon kekejaman modern.

Itu dalam novel dan di film.

Di dunia nyata, orang pun bertanya-tanya, benarkah ada sosok kriminal yang sedemikian kejam, keji, dingin, cerdas, dan suka memakan sesama seperti Lecter, Gumb, dan Dolarhyde?

Ternyata memang ada. Hannibal Lecter adalah gambaran dari tokoh seperti William Coyne. Pembunuh berantai ini melarikan diri dari penjara berpengamanan maksimum di Claveland tahun 1934. Coyne dikenal sebagai penjagal yang bahkan tak segan-segan menyantap korban yang dibunuhnya.

Dari sisi lain, karakter Lecter juga ada miripnya dengan Jaffrey Dahmer, pembunuh berantai yang suka mencicipi daging korbannya. Atau dengan dengan Tsutomu Miyazaki dari Tokyo yang antara tahun 1988-1989 menculik, membunuh, dan menyantap anak-anak prasekolah.

Di tempat terpisah pada masa yang berbeda, Ted Bundy menghabisi perempuan-perempuan yang jatuh iba kepadanya –karena cacat (pura-pura). Kadang, ia mengenakan ‘wig’ dari kulit kepala dan rambut asli korbannya. Dua karakter ini seperti mengilhami Harris menciptakan Jame Gumb dalam The Silence of the Lambs dan Dolarhyde dalam Red Dragon.

Coyne, Bundy, dan Dahmer dan tokoh-tokoh penjagal itu hanyalah sebagian di antara ratusan, mungkin ribuan orang yang tercatat dalam arsip kriminal dunia sebagai pembunuh berantai dengan kekejaman tingkat tinggi.

Melalui buku-bukunya Harris seolah ingin mengatakan, kekejaman bisa muncul begitu saja dan menjalari karakter seseorang di antara sekelompok manusia. Perilaku macam itu bisa diidap siapa pun yang dalam kehidupan sehari-hari adalah sosok manusia normal menurut pandangan umum.

Sangat boleh jadi, di sinilah “persinggungan” Ryan dengan tokoh-tokoh fiktif dan tokoh-tokoh nyata di atas. Lelaki asal Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang ini seakan jelmaan Dahmer, dan mirip Gumb dalamthe Lambs.

Masyarakat pun geger. Publik seakan bertemu dengan monster, makhluk aneh yang dengan dingin menghabisi sesama lalu menanamnya di halaman belakang rumah. Atau mencincangnya dan memasukkannya ke dalam koper lalu meletakkannya begitu saja di sembarang tempat. Orang boleh saja bergidik, ngeri dan jijik. Bisa pula takut. Jangan-jangan ada juga orang di dekatnya yang berperilaku seperti Ryan.

Tapi bila coba menelusuri agak ke belakang dan mencoba menatap realitas kekinian, rasanya kita tak perlu kaget benar. Apalagi takut. Bukankah di dalam diri tiap manusia pun ada unsur genetik yang mewarisi kecenderungan hewani seperti itu? Hanya saja, kekejian dan spirit membunuh tidak dipraktekkan langsung dengan mencincang sesama, melainkan dengan “membunuh” peluang dan memakan hak-haknya.

Kenyataan sehari-hari menunjukkan dengan jelas, bahwa makin hari kita melihat kian banyak saja orang yang rakus dan buas. Mereka tak segan-segan “membunuh” kawan, menipu teman, memeras orang lain, dan menghisap hak- hak mereka.

Jadi, Ryan mungkin belum apa-apa dibanding sebian di antara kita yang kadang ternyata lebih keji dan lebih kejam. Entah itu di kamar-kamar birokrasi, di gedung bursa, di kantor penegak hukum, di gedung wakil rakyat, di jalan, di pelabuhan, di pasar, dan tempat-tempat lain.

Sebagian di antara kita yang bertabiat jagal itu seringkali tampil sedemikian elegan di balik jas dan dasi berkelas, bermobil mengkilap, beristri (dan selingkuhan) cantik, molek, dan seksi. Lebih hebat lagi, seringkali orang-orang macam itu merasa tidak sedang melakukan kekejaman dan kekejian, meski hampir saban waktu dia “memakan” sesama.

Hiyyy!!! ***