Posts Tagged ‘jurnalis

26
Nov
08

Laskar Terheboh

crew_tribun_1manado50pct

SEJAK tahun 1990 terlibat dalam rekrutmen dan pelatihan calon wartawan untuk koran-koran Persda, baru kali ini –setelah “kelas” awal Tribun Jabar- – saya menemukan lagi kelas yang luar biasa. Penuh gairah dan dinamis, sering kali kocak. Personelnya pun berasal dari kultur dan subkultur yang cukup beragam. Rame abis!!

Ya, dua belas hari sejak 7 November 2008, saya bergabung bersama mereka. Belajar bersama. Mereka adalah guru-guru yang luar biasa. Kaya raya pengetahuan dan rasa ingin tahu, berlimpah keceriaan serta keanekaragaman karakter.

Setidaknya, itulah yang terasa selama hampir dua pekan saya belajar bersama mereka. Entah hari-hari ini, ketika latihan-latihan lapangan sudah memasuki tahap sesungguhnya, dan hasil karya mereka (individual maupun kelompok) sudah mulai dipublikasi, via online dan koran-koran satu grup.

Sehari-hari, kelas ini dikelola Richard Nainggolan (Tribun Batam, Tribun Jabar, Pos Kupang), dengan Satya Krisna Sumargo (Tribun Jabar, Bernas). Dari segi komposisi “asal-usul” 30 peserta ini boleh dibilang komplet. Disiplin ilmunya juga beragam. Selain itu, ada yang sudah berpengalaman sebagai jurnalis sampai delapan tahunan, ada yang baru satu-dua tahun, ada yang sebulan-dua, ada yang polos …lossss!

Di situlah dinamikanya. mereka yang polos-polos, penuh gairah menyerap pengetahuan dan pengalaman dari para senior . Ada Alvy dan Aswin serta Lody, misalnya — yang betul-betul “senior”. Saking senior-nya sampai- sampai ada yang tak diizinkan bawa mobil oleh orang rumahnya, hehehehehe….

Ada Berlin “Tora” Sinaga, anak Batak yang nyunda banget, sebagaimana Nuraini “Ussy” dara peranakan Bima-Sunda yang kini malah terdampar di Tanah Kawanua. Ada pula Samuel yang “kinyis-kinyis” dan seringkali terlambat masuk setelah rehat karena makan siang dengan pacaranya. Saya juga bertemu Lucky “Sogi” yang ternyata tak terlalu pintar melawak.

Ada yang sedang jatuh cinta pada dunia jurnalistik, seperti Fernando, Rine, Defri, Yudith, Gina, David dan lain-lain yang berasal dari Manado dan sekitarnya. Saya juga bertemu dengan sastrawan semacam Harvi, dan pakar linguistik Adam “Elang” yang sempat pusing tujuh keliling ketika bertabrakan dengan ragam bahasa jurnalistik.

Saya juga bertemu dengan Budi yang betul-betul tampak sabar dan budiman. Lalu ada “frater” Aco yang mirip Sang Juru Selamat tapi mengaku lebih sering memerankan Yudas dalam drama-drama Natal. Ada juga “romo” Anton yang mengaku sebagai jebolan “teknologi ketuhanan” tapi kebingungan saat berhadapan dengan kasus yang melibatkan Hamid dari keluarga Budha…

Pokoknya, saban hari ramai terus oleh dinamika dan seringkali diselingi canda. Entah di kelas, entah di halaman saat rehat, entah di lapangan saat meliput. Dan, di antara seabrek karakter itu, yang paling menonjol dan selalu jadi pusat perhatian adalah Adi.

Anak muda asal Cianjur yang mirip Afgan ini selalu jadi bulan-bulan, tapi dengan cerdik ia senantiasa memantulkan bulan-bulan itu kepada siapa pun yang melontarkannya. Suasana selalu jadi meriah.

Apalagi jika secara demonstratif sang Afgan –yang sulit membedakan lafal f, p, dan v ini– berebut dengan Wawan RT (Yogya, dengan aksen medhok buanget) mencuri perhatian Gina yang lebih cantik dari Miss Celebrity-nya versi SCTV itu. Akibatnya, saban waktu heboh terus.

Begitulah, suasana tiap hari senantiasa ramai. Tidak saja oleh celoteh dengan nada dan lafal yang masih sangat kental bahasa ibu masing-masing, tapi juga oleh gairah yang meletup-letup untuk belajar menjadi jurnalis.

Bisa dibayangkan, mereka yang berasal dari Manado dan sekitarnya, berbicara dengan dialek khas mereka. Begitu pula yang berasal dari Yogya dan Jawa Tengah, sebagaimana mereka yang dibesarkan di lingkungan kultur Jakarta seperti “Uya”, El, Reza, dan Budi.

Mereka yang berasal dari Jawa Barat juga membawa warna kelembutan dan kecengengannya (ada yang masih suka nangis pada malam hari, ingat emak… hehehe!!). Mungkin karena baru pertama kali ngumbara jauh pisan ti lembur. Mungkin juga mereka lahir tidak dari orang yang mewarisi gen perantau.

Di antara seluruh peserta, memang ada juga dua-tiga orang yang tampak tetap culun dan masih kebingungan di tengah siatuasi itu, tapi siapa tahu waktu dan dinamika di dalam kelompok akan bisa mengubahnya.

Yang jelas, saban pagi, setelah memulai aktivitas dengan doa bersama, serempak mereka menggelorakan ikrar untuk menjadi wartawan yang baik. Jujur, disipilin, cermat, dan tangguh.
Hidup Tribun! ***

anak-bandung-manadoCatatan:
– Khusus untuk rekan-rekan anggota kelas edun asal Jawa Barat: Awas, mun ngerakeun uing!
– Saya masih terkenang khotbah religius “Pdt” Alvy mengenai Sopir dan Matius 7:7, serta tentang Bu’ (maaf saya tak tahu cara mengejanya) Sang Nelayan. Ntar deh ditulis terpisah.
– Saya harus berterima kasih kepada Bung Dahlan, (Tribun Timur), yang membagi pengetahuan baru yang mencerahkan serta pengalamannya. Juga Bung Achmad Subechi (Tribun Kaltim), yang luar biasa. Begitu pula Pak Ronald Ngantung (pertemuan kedua setelah di Tribun Pontianak). Tenu saja pada sang Kepala Sekolah, Febby Mahendra Putra (Tribun Batam) yang memungkinkan kami larut dalam dinamika itu. Hebat, bro!!
– Nah, tak boleh saya lupakan juga Gilbert tanpa Lumoindong atas perhatian dan cap tikusnya, Jerry tanpa Tom, Nyong Tomohon yang guanteng, serta Dedi yang luar biasa telaten serta sabar dengan celana panjangnya yang selalu berkibar!
tondano_awak_tribun

12
Mei
08

Pesta Besar, Reuni Kecil

PEREMPUAN itu menatap sekilas. Kemudian berlalu bersama rombongan kecilnya mencari-cari tempat duduk di antara ribuan tamu resepsi pernikahan agung di Keraton Yogyakarta, Jumat 9 Mei 2009 malam.

Bergaun kuning, anggun. Tampak feminin. Sekali lagi ia menatap sekilas seakan mengenal. Setelah kira-kira delapan langkah memunggungi kami di sela-sela tetamu yang sudah duduk nyaman, ia menoleh lagi. “Mas Yusran, ya?” begitu yang terbaca dari gelak bibirnya. Femiiiiii…..!!!

Dasar! Saya sendiri pangling. Lha, wong anak tomboy yang biasanya cuma berjins kumal dan kaosan tanpa rias wajah itu, kali ini tampil “normal”. Rupanya, dia sendiri pangling atau lebih tepat tak menduga bakal bersua dengan saya di tempat itu. Wakakakaka…

Dan, kami pun bercakaplah satu-dua jenak, sekaligus saya perkenalkan dia pada mamanya anak-anak. Begitulah, pesta besar dan kolosal yang dihadiri lima ribuan orang itu telah mempertemukan kami yang selama ini hanya berkomunikasi lewat internet.

Femi (http://femiadi.wordpress.com dan  http://kancutmerah.wordpress.com) adalah jurnalis dan penulis buku. Dua buku –satu di antaranya ditulis bersama seniornya di GEMA, AA Kunto A— laris di pasaran. Di tengah pesta akbar itu pula saya bertemu dengan Mas Ignatius Sawabi (Abi), Mas Trias Kuncahyono dan adiknya, Mas Probo (perjumpaan terakhir dengan Mas Probo, ya kira-kira awal tahun 1993 lah).

Kalau saja malam itu Kunto jadi ikut, mungkin pertemuan kecil itu akan lebih meriah lagi. Semula, Kunto yang ketiban sibuk menjemput saya dan mengantar ke hotel, saya ajak serta ke perhelatan raja Jawa itu. Namun rupanya ia sangat sibuk –atau malas—menghadiri pesta besar-besaran di tengah situasi yang mestinya disikapi dengan prihatin dan sederhana.

Reuni saya jadi tambah lengkap seusai pesta. Mas Agoes Widhartono bergabung, lalu kami ngariung sejenak di Jalan Suroto. Di situ ada Mas Trias, Mas Bambang Sigap Sumantri, Mas Bondan Nusantara, dan Mas Krisno “Inus” Wibowo dengan gayanya yang khas. Nah, yang istimewa, malam itu kami diajak Mas Sigap santap malam di Gudeg Pawon.

Saya pernah lama tinggal di Yogya, setidaknya dua kali dua tahun (1990/1993 – 1996/1998), tapi sungguh baru tahu malam itu ada tempat santap yang khas. Pelanggan mengambil santapan langsung dari dapur. Dan di dapur ini sang tuan rumah (penjual) sibuk mengolah dan menyiapkan makanan.

Jadi, suasananya seperti di rumah sendiri ketika kita sudah tak kuat lagi menunggu makanan tesaji di meja. Lapar, langsung ke dapur, ambil sendiri makanan yang kita inginkan. Lalu bersantaplah.

Karena rumah itu terlalu sempit (ruang tamu sekaligus ruang makan dan dapur), maka cari sendiri lah tempat nyaman untuk makan. Boleh di beranda –ada meja panjang dan sederet kursi di sana. Boleh, di lorong gang, lesehan di atas tikar. Bebas. Yang unik lagi, “kedai dapur” ini baru buka setengah dua belas malam!

Di sini, terjadi pula reuni tak terduga. Satu di antara penghuni ruma itu ternyata Mas Bambang Sukoco, satu di antara wartawan kami ketika saya bekerja di Harian Bernas. Saat itu, mas bbs –kami biasa memanggilnya begitu, sesuai insialnya—lebih banyak meliput peristiwa-peristiwa hukum dan kriminal. (**)

21
Jan
08

Selamat Jalan, Jenderal!

sunarko.jpg

TAK banyak pejabat yang begitu dekat dengan insan pers, terlebih di institusi kepolisian. Salah seorang yang memiliki hubungan istimewa dengan para wartawan itu adalah Kapolda Jabar Irjen Pol Sunarko Danu Ardanto. Hal ini tak lepas dari sikap Sunarko yang selalu memosisikan diri sebagai rekan para jurnalis.

Di manapun dan kapanpun, Sunarko siap memberikan informasi yang dibutuhkan wartawan. Sebagai kapolda tentu sikapnya ini sangat membantu tugas jurnalistik.  Kedekatan hubungannya pun bukanlah basa-basi tapi ditunjukkannya langsung dengan langkah konkret.

Orang nomor satu di Polda Jabar ini, Jumat (18/1) sore kemarin, mengunjungi kantor Harian Pagi Tribun Jabar di Jalan Malabar No 5 Bandung. Selain bersilaturahmi,  Sunarko sekaligus berpamitan karena memperoleh tugas baru sebagai salah satu  Deputi di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Jakarta.

Dalam kunjungannya Sunarko didampingi Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol  Dade Achmad, Kapolwiltabes Bandung Kombes Pol Bambang Suparsono,  Kapolresta Bandung Tengah AKBP Arief Ramdhani, Kasat Lantas Polwiltabes Bandung AKBP Heru Koco,  Wakapolresta Bandung Tengah Kompol Toni Binsar,  dan Kapolsekta Bandung Wetan AKP Reynold Hutagalung.

Rombongan Kapolda diterima Pemimpin Redaksi Tribun Jabar Yusran Pare dan  sejumlah awak redaksi. Dalam perbincangan santai di ruang rapat redaksi, Sunarko  mengaku terkesan dengan pemberitaan Tribun Jabar yang berimbang.

“Bagi polisi, media sebagai alat transformasi. Sedangkan bagi masyarakat, media  sebagai alat kontrol sosial terhadap sikap dan perilaku polisi. Kedua peran ini telah dijalankan dengan baik oleh Tribun Jabar. Saya mengucapkan terima kasih atas kerja  samanya selama ini,” tutur Kapolda.

Terkait kepindahan tugasnya, Sunarko berharap hubungan baiknya selama ini dengan  insan pers di Jawa Barat bisa terus dikembangkan. “Saya berharap meski telah pindah tugas ke Jakarta tapi bukan berarti hubungan kita terputus. Saya justru berharap hubungan kita bisa terus dikembangkan,” ujarnya.

Sunarko menambahkan, meski tidak lagi bertugas di Jawa Barat tapi ia akan tetap memantau perkembangan di provinsi ini. Melalui www.tribunjabar.co.id yang menyajikan berita secara real time Sunarko berharap, ia bisa terus mengikuti perkembangan yang terjadi di Jawa Barat.

Pemimpin Redaksi Tribun Jabar Yusran Pare mengaku salut dengan kultur yang dikembangkan Sunarko selama memimpin Polda Jabar, terutama hal yang berkaitan dengan tugas jurnalistik.

“Semoga apa yang dilakukan Pak Sunarko selama ini bisa diteruskan oleh kapolda baru maupun pejabat kepolisian lainnya di Jawa Barat,” ujar Yusran.

Pada kesempatan itu, redaksi Tribun memberikan kenang-kenangan berupa model halaman depan Tribun Jabar berisi foto Sunarko yang baru tiba di halaman kantor  Tribun Jabar.  “Lho ini kan foto yang barusan di depan, cepat sekali ya,” ujarnya sambil tersenyum dan meminta Yusran Pare membubuhkan tanda tangan di atas cendera mata khas Tribun itu.  (ichsan)