Posts Tagged ‘kelamin

31
Agu
16

Kebiri!!

alat untuk-operasi-kebiriPARA pemerkosa masih gentayangan. Di Kotawaringin Timur, Kalteng, seorang remaja putri diculik, disekap sejak awal Agustus lalu. Selama itu berulang kali ia diperkosa. Anak perempuan berusia belasan di Pangkalpinang, Bangka, diseret ke rimbunan gelagah sepulang nonton konser, lalu dinodai. Di Mataram, Nusa Tenggara Barat, seorang perempuan pelajar sekolah dasar jadi korban birahi gila seorang gaek!

Masih ada beberapa peristiwa serupa sepanjang “bulan kemerdekaan” ini, termasuk sekawanan lelaki muda –14 orang– yang mabuk minuman opolsan, kemudian menggagahi seorang remaja belia. Ini mengingatkan kembali pada wacana penerapan hukuman “kebiri” bagi para pemerkosa. Wacana itu, entah mengapa, surut dari percakapan publik, tergeser oleh isu-isu baru.

Kata ‘kebiri’ sempat mendadak populer beberapa waktu lalu. Pemilik hewan yang tak mau piaraannya beranak pinak, biasanya membawa binatang itu ke dokter hewan untuk mengebirinya. Ya, kebiri! Atau kastrasi, yakni tindakan untuk menghilangkan fungsi testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina. Pengebirian bisa dilakukan terhadap hewan maupun manusia.

Di masa silam, orang yang dikebiri –biasanya lelaki– disebut orang kasim. Mereka sudah kehilangan kesuburan karena buah zakarnya telah dibuang, sengaja atau karena kecelakaan, jadi korban dalam peperangan, atau karena sebab lain.

Di masa depan, bisa jadi akan “banyak” orang kasim di tanah air. Setidaknya jika para penegak hukum menerapkan pasal-pasal pada Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Pemerintah memandang perlu menerbitkan peraturan ini menyambut kegelisahan, kegeraman dan tuntutan banyak pihak, menyusul kian marak dan kejamnya kejahatan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Bahkan ada bayi di bawah lima tahun yang jadi korban kekejaman para penjahat kelamin ini.

Catatan-catatan paling awal tentang pengebirian bisa dilacak jauh ke belakang. Pada suatu masa di abad ke 21 sebelum Masehi penguasa kota Lagash di Sumeria menerapkan “peraturan pemerintah” mengenai pengeberian atas para lelaki.

Selama ribuan tahun kemudian, orang kasim –lelaki terkebiri– melakukan berbagai fungsi di pelbagai kebudayaan. Pelayan istana atau pelayan rumah tangga, penyanyi laki-laki dengan suara tinggi, petugas-petugas keagamaan khusus, pejabat pemerintah, komandan militer, dan pengawal kaum perempuan ataupun pelayan di harem, biasanya dilakukan para kasim ini.

Karena itu orang Inggris menyebutnya eunuch, dari kata dalam bahasa Yunani, eune (tempat tidur) dan ekhein (menjaga) alias “penjaga tempat tidur”. Para hamba atau budak biasanya dikebiri untuk menjadikan mereka pelayan yang “aman”di istana. Aman, karena mereka dianggap tak lagi punya birahi manakala melayani permaisuri, para selir, atu harem.

Catatan lain menyebutkan, oang kasim pertama disebutkan di Kekaisaran Asyur sekitar 850-620 SM. Mereka disebut-sebut jadi pelengkap istana para kaisar Akhemenid dari Persia maupun firaun dari Mesir.

Di Tiongkok kuno, pengebirian adalah salah satu bentuk hukuman tradisional dan sarana untuk mendapatkan pekerjaan di kalangan istana. Pada akhir Dinasti Ming konon ada 70.000 orang kasim di istana kaisar. Jabatan seperti itu demikian berharga, bahkan orang-orang kasim tertentu berhasil mendapatkan kekuasaan yang demikian besar sehingga melampaui kekuasaan perdana menteri, sehingga acap menimbulkan ketegangan.

Di India kaum hijra adalah para lelaki yang kehilangan penis maupun testisnya. Mereka biasanya mengenakan sari, atau pakaian tradisional yang biasa dikenakan kaum perempuan, dan riasan wajah yang tebal. Mereka dianggap membawa peruntungan baik dan karena itu diundang untuk memberkati pengantin pada hari pernikahan.

Kaum Galli, para pengikut Dewi Cybele, mempraktikkan ritual pengebirian diri sendiri, atau sanguinaria. Bahkan pada masa Kristen praktik ini tetap berlanjut; namun Gereja tidak mengikuti teladan dari teolog awal, Origenes, yang mengebiri dirinya sendiri berdasarkan pemahamannya tentang ayat-ayat pada kitab suci.

Sekte Skoptzi di Rusia pada abad ke-18 adalah sebuah contoh tentang penyembahan pengebirian. Anggota-anggotanya menganggap pengebirian sebagai cara untuk menolak dosa-dosa jasmani. Beberapa anggota dari sekte Pintu Gerbang Sorga juga dikebiri, dan tampaknya hal ini dilakukan dengan suka rela dan dengan alasan-alasan yang sama.

Nah, jika dilacak pada jejaknya, jelas sebagian besar tindakan kebiri atau pengebirian tidak bersangkut paut dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya. Sebagian di antaranya menunjukkan, kebiri sebagai tindakan sukarela demi pengabdian, bahkan penghambaan terhadap para dewa dan bagian dari pengamalan tentang apa yang diyakininya.

Zaman berganti, manusia berubah. Kini pengebirian jadi hukuman atas tindak kriminal buas, seolah dengan cara itu sang pelaku bisa jera dan tidak melakukan tindakannya lagi. Mungkin betul jika pemerkosaan hanya dilihat sebagai kejahatan bersenjatakan alat kelamin. Pemerkosaan jauh lebih luas dan rumit dari sekadar itu.

Ketika orang melampiaskan kemarahan, kebencian, penguasaan (hasrat mendominasi lawan) maka “senjata” apa pun bisa digunakan untuk menyerang dan merusak lawannya meski dia sudah kehilangan “alat utama sistem kejahatan birahi”-nya.

Jadi, sebaiknya pengebirian bukanlah akhir atau hukuman maksimum. Seorang pemerkosa, apalagi perusak anak-anak, harus dihukum seberat mungkin, dan kebiri sebagai “bonus” alias hukuman tambahan. Negara tak mungkin menjamin bahwa seorang penjahat kelamin tidak akan melakukan kejahatan serupa meski “alat kejahatannya” sudah disita! (***)

Iklan
19
Okt
07

Untuk Laras

dunialelaki1.jpg

SAYA terusik pertanyan anak kedua, Laras Sukmaningtyas. Dalam sebuah tulisannya yang berapi-api membela kaum perempuan, ia menggugat “realitas kelelakian”. Mengapa, katanya, dunia ini seperti secara alamiah telah meminggirkan kaum perempuan? Nah, siapa tahu tulisan di bawah ini bisa menambah wacana diskusinya.

Perkakas, Perkasa

BOLEH jadi dunia ini dicipatakan untuk laki-laki. Bukan perem­puan. Atau, kaum lelaki menganggap dirinya sebagai sang pengu­asa dunia. Wanita tidak. Atau lagi, kaum lelakilah yang paling patut berkuasa atas bumi, karena lelakilah manusia pertama diciptakan, dan dibuang ke pla­net ini gara-gara skandal buah khuldi dengan perempuan pertama. Entahlah, mana yang paling tepat.

Sejak munculnya kesadaran akan diri dan ling­kungan per­­adaban, tam­paknya manusia memang menganggap lela­kilah yang paling menen­tu­kan. Lihat saja, mitos Yunani –yang disebut-sebut sebagai awal per­­a­daban– bahkan menganggap para dewa yang di atas manusia itu juga dikuasai dewa berkelamin pria. Zeus sang perkasa, dewa di atas dewa.

Bacalah semua kitab suci. Semuanya menempatkan perempuan selalu sebagai subordinasi. Malah ada yang jelas-jelas meminggirkannya. Simak pula aneka hukum dan undang-undang bikinan manusia, bah­kan dalam dogma-dogma yang dikenal manusia pun, peran lelaki selalu lebih me­nonjol, meski secara fisik –di mana pun– para perem­puanlah –kecu­ali lelaki semacam Ade Rai– yang lebih banyak me­miliki tonjolan.

Jika masih kurang yakin, lihat pula jejak-jejak sejarah pe­ning­­galan peradaban kuno mulai dari para Pharaoh, hingga raja-raja –satu dua saja ratu– Jawa. Dari Yunani dan Romawi hingga Aztek, dari Piramid hingga Borobudur, semua menggambarkan betapa lelaki didudukkan pada singgasana lebih tinggi.

Singkatnya, lelaki adalah simbol kekuasaan. Atau, lelaki harus me­re­­presentasikan kekuasaan. Mungkin karena itu pula, orang ribut ke­­tika ada prempuan yang akan marak jadi presiden. Kaum lelaki kha­watir akan terkepit di ketiak subordinasi sang wanita. Perem­puan berkuasa! Wah, itu membalikkan mitos.

Tak begitu jelas, apakah suratannya memang begitu, atau per­­­kembangan yang memperkembangkan dan diperkembangkan komunitas ma­nusia telah membentuk tatanan sedemikian rupa, sehingga seolah lelakilah warga bumi nomor wahid. Perempuan tidak. Bahkan ada yang menganggap perempuan tak lebih dari segumpal daging yang bisa di­per­jual belikan, dilecehkan, diinjak, dan dicampakkan.

Padahal, kecuali manusia pertama, lelaki-lelaki berikut yang menghuni planet ini ada karena ada perempuan yang melahirkannya. Toh, tetap saja, kaum lelaki selalu menepuk dada bahwa dirinyalah sang penguasa segalanya.

Kaum ini, sejak berhimpun dalam komunitas Neanderthal maupun sejak era Homo Soloensis, tampaknya memang sudah tampil sebagai sim­bol keperkasaan. Dengan keperkasaannya itu ia menciptakan aneka perkakas untuk memerkokoh dominasinya, baik atas kekuasaan maupun atas –siapa lagi kalau bukan– lawan jenis.

Perkakas, keperkasaan, kekuasaan dan lawan jenis, tampaknya tak bisa dipisahkan dari sosok seorang lelaki. Bahkan –seperti dalam mitos Yunani– sejak semesta ini masih dihuni para dewa dan dewi-dewi.

Entah mengapa pula, keperkasaan tak cuma diterjemahkan da­lam kemam­puannya mempergunakan perkakas perang untuk memperkukuh ke­kuasaan dan menaklukkan serta mengangkangi lawan, tetapi juga dalam memperlakukan kaum perempuan.

Boleh jadi, apa yang disimpulkan Foucault benar. Bahwa tingkah laku seorang lelaki dalam memperlakukan lawan jenis­nya, akan mem­beri cermin pada pola peri­laku­nya dalam menjalankan kekuasaan dan tingkah laku politiknya. Freud malah lebih dahulu me­lontar kesim­pulan, justru pada titik hubungan lawan jenis itulah motivasi segala pola perilaku manusia terletak.

Nah, mungkin karena di titik itu semua impuls tingkahlaku ber­mula, maka dengan cara itu pula sang lelaki merepresentasikan keku­asaannya.

Jika di medan perang atau di arena bisnis, keper­kasa­an di­ukur oleh sejauh mana dia mendayagunakan segala perkakasnya untuk meraih ke­menangan dan keuntungan, maka ia pun lantas meng­anggap pada ‘per­kakas’nya pula keperkasaannya tercermin.

Padahal, jika tidak waspada dan terlalu mudah menggunakan per­ka­kas pun risikonya bisa mencelakakan diri. Sudah ba­nyak contoh, bagaimana sang perkasa mengumbar perkakasnya secara mem­babibuta hingga ia kehilangan kekuasaan atau bahkan kena tulah se­perti Oedi­pus dari Thebes sebagaimana dilukiskan dengan dramatik oleh Sopho­cles. Atau Sangkuriang (Oedipus dalam versi mitologi Sunda).

Dalam dunia nyata, banyak pula contoh bagaimana para lelaki per­­kasa jatuh karena terlalu mengikuti kemauan daging, eh perkakas keperkasaannya. Raja-raja Jawa bisa berperang gara-gara berebut per­empuan. Segarang-garangnya Adolf Hitler, bertekuk lutut –mung­kin lebih tepat, bertekuk pinggang– pada Eva Braun. Begitu flamboyannya Clinton, toh terpeleset oleh kelicinan tubuh Monica Lewinsky.

Orang bilang, tahta bisa rontok karena wanita. Tapi yang se­be­narnya –mungkin– karena sang perkasa tak bisa mengen­dali­kan per­kakasnya dengan proporsional, sehingga perlu mencari-cari wanita untuk dijadikan media penguji keperkasaannya. Sekaligus media untuk menunjukkan betapa ia bisa menguasai sang lawan (jenis).

Soal ini pun tampaknya sudah berlangsung juga sejak komunitas manusia ini tumbuh. Pada peninggalan-peninggalan kuno, perkakas sang perkasa seringkali disimbolkan secara verbal dan terang-te­rangan, seolah untuk menunjukkan demikian pentingnya peran perkakas itu dalam kelangsungan hidup peradaban.

Lihat saja candi-candi peninggalan raja-raja purba. Relief atau patung-patung melukiskan secara khusus bagaimana perkakas itu digu­nakan dan dirawat demi kelangsungan hidup generasi berikut. Sementara ‘relief’ kontemporer muncul dalam bentuk buku teks sejenis Kama Sutra.

Lingga, demikian perkakas itu dinamakan. Patungnya, kadang cuma dalam bentuk sederhana –persis aslinya– tertancap menonjok langit di pelataran sekitar kompleks candi, atau di tempat khusus yang –mungkin dahulu– merupakan tempat ritus yang berkaitan dengan urusan itu.

Kalau pun ada kelompok kasidah bernama Lingga Binangkit di Jawa Barat –yang arti­nya, maaf… ereksi– ten­tulah karena grup itu berasal dari ke­lompok kesenian spesial peng­iring upacara per­kawinan Sunda. Upacara meng­antar lingga yang akan memasuki sarang­nya, yoni — media di mana ‘kehidupan’ manusia bermula.

Jadi, bisa dipahami jika kemudian banyak di antara para le­laki melakukan berbagai upaya untuk agar perkakasnya bisa tetap perkasa da­lam perang tanding dengan lawan jenis. Sebab pada perang je­nis inilah, mungkin, keperkasaannya dipertaruhkan dan dengan demi­kian ia bisa tetap dominan sebagai sang penguasa.

Tampaknya dalam upaya perburuan keperkasaan ini pula, kemudian para ahli farmasi AS menyusun formula Viagra, yang semula diniatkan un­tuk membantu mereka yang memang betul-betul terganggu secara fi­sik, tapi kenyataannya jadi komoditi pasar gelap sebagaimana ekstasi.

Dalam model lokal, para lelaki kita sudah lama mengenal pasak bumi (dan bangunan…. hehehe), kuku-bima, dan macam-macam ramuan ta­naman dan dedaunan yang diyakini bisa bikin greng. Bahkan lebih dari itu, mereka pun rela merawat perkakas perang ranjangnya ini secara khusus lewat tangan-tangan dukun, atau melalui resep-resep tradisional hingga cara modern.

Kita tak tahu persis, apakah dengan cara itu keperkasaan se­orang lelaki sungguh-sungguh diukur. Sebab, kecenderungan yang pa­ling terlihat dari gejala seperti ini adalah, seakan-akan sang lela­ki baru dianggap perkasa jika bisa ‘menaklukkan’ lawan jenisnya berkat kehandalan perkakas perangnya.

Lagi-lagi terlihat, betapa perempuan seakan memang cuma jadi objek penderita dalam proses ‘penegakkan kepercayaan diri’ para pria ini. Padahal, urusan keperkasaan tak melulu berkisar seputar selangkangan, melainkan juga terletak pada kepala alias otak.

Tapi tampaknya dunia — bahkan semesta ini memang telanjur diyakini diciptakan oleh dan merupakan milik para lelaki.

Mungkin itu terjadi karena tuhan pun berjenis kelamin lelaki.

Jika tidak, bagaimana mungkin Maria hamil!

***