Posts Tagged ‘palestina

16
Jan
09

Bimbo dan Palestina

bimbo_gaza_palestina

PALESTINA, demikian judul lagu yang digubah Bimbo. Sudah beberapa hari terakhir, lagu itu jadi –semacam theme song— yang melatari narasi awal penyiar televisi nasional saat menyampaikan berita-berita kegansan Israel atas bangsa Palestina di Gaza.

Lirik yang pedih dibawakan Samsudin Hardjakusumah (Sam) lewat vokalnya yang tipis tinggi terasa mengiris. Melodinya mengantarkan imaji memperkuat tayangan gambar-gambar hidup dari lokasi peristiwa. Sedih, marah, geram, berkecamuk jadi satu menyaksikan betapa Israel sama sekali tak layak disebut manusia.

Anak-anak, perempuan, orangtua, pasien rumah sakit, pengungsi, wartawan, petugas kemanusiaan yang sedang bekerja, semua jadi sasaran keganasan serdadu-serdadu yang menggerakkan mesin-mesin perang Yahudi.

Mendengar lagu “Palestina” Bimbo –musisi idola kami sekeluarga– saya teringat lirik yang pernah saya tulis di tahun 1988 untuk Lingga Binangkit (pelopor kasidah modern dari Bandung). Lirik itu lalu dibuatkan komposisinya oleh komponis senior –seangkatan Mus Mualim– Djuhari. Lantas, Purwatjaraka mengisi musiknya.

Lagu itu saya juduli Yerusalem. Ia merupakan satu di antara delapan lagu yang dibawakan Lingga Binangkit dalam penampilannya di TVRI (satu-satunya televisi masa itu), untuk mengisi siaran nasional peringatan Isra Miraj.

Andai saja TVRI masih menyimpan dokumentasi rekamannya, saya ingin sekali punya kesempatan untuk mengaksesnya. Sukur-sukur sampai bisa memperoleh salinan rekaman siaran- siaran Lingga Binangkit (masa itu, dalam setahun bisa tiga sampai empat kali kami mengisi acara di TVRI). Barangkali ada yang bisa membantu saya?

___________

palestina1

Yerusalem

VERA sengaja dipilih untuk tampil solo membawakan intro sekaligus kemudian sebagai lead vocal, dan solo pada chorus, tentu de-ngan beberapa alasan.

Pertama, tentu vokalnya yang tipis dan tajam bagai pedang akan cocok untuk `menjeritkan’ dramatika derita para korban perang. Kedua, wajahnya yang cantik dengan hidung bangir -mirip wajah khas Timur Tengah- dan resam tubuhnya yang jangkung, pas untuk membawakan lagu dengan tema inti pada konflik Timur Tengah itu.

Betul saja. Saat itu saya sempat merinding ketika menyaksikan kembali tayangan Lingga Binangkit ini pada siaran televisi nasional untuk menyemarakkan peringatan Isra Miraj.

Adegan klimaks dengan Vera (dan terutama vokalnya) sebagai titik utama betul-betul menancapkan kesan yang mendalam.

Iringan Purwatjaraka lewat orkestra `tunggal’nya yang nyaris tak kalah dengan sebuah simponi lengkap, memperkokoh bangunan suasana haru-biru kemelut zona perang yang hendak diekspresikan.

Yerusalem

Berabad-abad sudah, kisah terjadi
Jibril datang perintah Allah Menjemput Nabi
Perjalanan yang jauh lalu ditempuh
sekejap mata tibalah di Palestina

Yerusalem, kota suci masa silam
Yerusalem, di sinilah Baitul Aqsha
di sini Rasul sembahyang
sebelum memulai Miraj
mjenembus langit semesta
menghadap (Sang) Maha Kuasa

Yerusalem, Kota Suci Masa Silam
Yarusalem, Seolah damai telah tiada.
Kisah panjang sebuah bangsa
terusir dari tanahnya,
berkelana penuh derita
entah kapan kan berakhir

Di Tepi Barat, menjerit berjuta umat
Siksa ganas membara di sepanjang Jalur Gaza.
Seperti Sabra dan Shatila, saat insan lupa sesama.
Hidup dalam dendam membara,
antara darah darah dan ama-rah.

Yerusalem…,
Yerusalem…,
Yerusalem…!

( 1988 )

ITULAH syair yang saya gubah pada 1988 untuk lagu Yerusalem, yang notasinya ditulis Djuhari -seorang komponis tua Bandung yang lagunya, Seuntai Manikam, pernah sangat terkenal di tahun 60-an dan aransemennya disusun Purwatjaraka, insinyur jebolan ITB yang `tersesat’ di belantika musik.

Itu tahun 1988. Boleh jadi, saat itu Rami Aldurra dan Mohammed An-Najjra, baru -atau bahkan belum- dilahirkan. Dan Vera, saat itu pasti belum jadi nyonya Elfa Secioria.

Saya teringat kembali penampilan Vera dalam Yerusalem itu, ketika menyaksikan tayangan televisi Perancis awal Oktober 2000. Rami -bocah 12 tahun- tersuruk tewas di pangkuan ayahnya yang meringkuk, berusaha berlindung dari hujan peluru.

Tubuh ringkih bocah itu dikoyak-koyak peluru yang daitabur serdadu Yahudi di Yerusalem, (sekuen foto yang diambil dari rekaman videonya ini kemudian disiarkan secara luas oleh media cetak).

Sedangkan An-Najjra, tewas dengan lubang di kening dan belakang kepalanya. Peluru yang dilepas serdadu Israel, dengan mudah menembus tulang muda batok kepala anak itu di Khan Yunis, selatan Jalur Gaza, dua minggu setelah Rami gugur dan dimakamkan lewat proses yang emosional.

Aldurra dan An-Najjra serta bocah-bocah tanggung lainnya yang bergelimpangan itu, hanyalah sebagian di antara lebih 120 (sampai pekan ketiga Oktober 2000) warga Palestina yang tewas ditembaki serdadu Yahudi. Sejak konflik meletus lagi menyusul provokasi bekas Menteri pertahanan Israel Ariel Sharon, Yarusalem kembali diperciki darah para syuhada.

Ya, Yerusalem. Kota Suci sepanjang masa, tonggak miraj Muhammad menuju Sidratul Muntaha, melanjutkan Isra dari tepi Kabah di bawah bimbingan Jibril. Disebut tempat suci, karena pada titik di mana kini berdiri Masjidil Aqsha inilah, Muhammad sembahayang sebelum `bertolak’ menemui Sang Khalik, menyempurnakan kerasulannya.

Karena itulah, sangat bisa dipahami jika umat Islam marah ketika Ariel Sharon ujug-ujug petantang-petenteng ke Baitul Maqdis. Sejak beberapa lama nama Sharon yang tenggelam, hampir tiap hari sepanjang tahun 2000 disebut-sebut lagi di media massa seluruh dunia, menyusul lawatannya Kamis 28 September yang menyulut amarah dan kemudian membangkitkan kembali intifada yang berdarah-darah itu.

Sharon diberhentikan oleh Menachem Begin –ketika itu Perdana Menteri Israel– dari jabatannya selaku Menteri Pertahanan berkaitan dengan trgedi Sabra dan Shatila, kamp pengungsi Palestina di barat Beirut, Lebanon.

Itu pun atas tekanan dunia internasional. Orang tak akan per-nah lupa pembantaian 16 September 1982 oleh pasukan milisi Falangis dukungan Sharon. Sedikitnya 300 warga Arab, umumnya wanita dan anak-anak, tewas berkuah darah di barak pengungsian Sabra dan Shatila.

Sharon mengomandokan penyerbuan besar-besaran ke Libanon Selatan tahun 1982 dengan dalih mengusir pejuang Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinan Yasser Arafat. Katanya sih, instruksi penyerbuan ini disusun secara rahasia oleh Sharon tanpa konsultasi ke Knesset, parlemen Israel.

Makanya setelah korban bergelimpangan, dan dunia mengecam, kalangan anggota Knesset menentang keras penyerbuan ke Lebanon. Tapi akhirnya mereka toh menyetujui pencaplokan atas wilayah Lebanon Selatan.

Sejak Israel memproklamasikan kemerdekaannya tahun 1948, setidaknya tercatat empat peperangan dahsyat antara bangsa Arab dan Yahudi, yakni perang tahun 1948, 1956, 1967, dan tahun 1973. Perang tahun 1967 Israel berhasil mencaplok Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza di Mesir; Jerusalem; Tepi Barat Sungai Yordan di Yordania; dan Dataran Tinggi Golan di Suriah.

Sedangkan pada Perang Oktober 1973 yang bertepatan dengan Yom Kipur, Hari Suci dalam kalender Yahudi, dan Bulan Suci Ramadan bagi umat Islam, giliran bangsa Arab (Mesir) mengungguli perang besar yang mereka analogikan dengan `Perang Badr Jilid II’. Tak kurang dari 2.700 serdadu Israel tewas. Dan, Bar Lev, kawasan Mesir di semenanjung Sinai yang dicaplok Israel tahun 1967, kembali ke pangkuan Mesir.

Nah, `keunggulan’ Arab dan `kekalahan’ Israel pada perang 1967 ini-lah yang akhirnya memaksa Israel bersedia maju ke meja perundingan damai. Namun, itu pun memerlukan proses yang lama dan ber-belit -sekitar 12 tahun- sehingga baru diteken di Camp David (AS), tahun 1979.

Meski, kita tahu semua, sesungguhnya Israel tak pernah konsisten. Akibatnya, konflik berdarah terus melumuri Yerusalem serta kota-kota lain di jazirah itu.

Itu pula yang bikin gregetan pihak mana pun yang selama ini menjunjung tinggi perdamaian dan penghormatan penuh atas hak asa-si manusia. Di antara bangsa Yahudi sendiri, banyak yang lebih cinta kerukunan hidup dengan bangsa Arab ketimbang terus-menerus baku serang.

Demikian halnya di kalangan bangsa Arab. Sosok Yasser Arafat dan Shimon Perez bisa mewakili dua kutub yang bertemu pada titik kepentingan sama itu: perdamaian.

Semangat itu pula yang menggerakkan para tokoh politisi, agamawan, dan ilmuwan dunia, bergabung dalam yayasan untuk perdamaian yang diprakarsai Shimon Perez. Termasuk dalam barisan ini adalah KH Abdurrahman Wahid yang ketika itu sebagai cendekiawan Islam terkemuka dari Indonesia, sekaligus pemimpin jutaan Nahdliyin.

Namun di Indonesia, situasinya bisa lain lagi. Kedudukan Gus Dur pada yayasan itu belakangan dipersoalkan, malah dijadikan amunisi untuk memberondong kedudukannya pada kursi presiden.

Dengan mengambil momentum kebiadaban Israel atas bangsa Palestina yang dipicu insiden di Yerusalem, orang mendesaknya untuk keluar dari yayasan itu sebagai pernyataan sikap keberpihakan Indonesia kepada penderitaan rakyat Palestina.

Orang lupa, bahwa yayasan itu didirikan dengan tujuan menggalang upaya-upaya perdamaian. Keluar dari organisasi itu, atau bahkan membubarkan sekaligus lembaga tersebut, tidaklah menjamin bangsa Palestina akan bebas dari penindasan Israel.

Begitu pun jika ditakdirkan Palestina memenangkan pertikaian ini atas dukungan dan keberpihakan negara-negara lain, tak ada yang bisa menjamin bangsa Israel bebas dari penindasan bangsa Arab. Atau, bahkan mungkin upaya pemunahan karena d-anggap jadi biangkerok kekacauan, sebagaimana per-nah dilakukan rezim Hitler dahulu akan terulang lagi.

Jika ini yang terjadi, maka keadaan akan terus demikian, sebab hidup tidak lagi dilandasi cinta kasih sejati sebagai sesama mahluk cipataan Tuhan. Perdamaian tak akan pernah terwujud selama hubungan antarumat manusia dilandasi kebencian dan balas dendam, seperti yang tengah terus berkecamuk di Palestina-Israel hari-hari ini:

Di Tepi Barat, menjerit ribuan umat.
Siksa ganas membara di sepanjang Jalur Gazza
eperti Sabra dan Shatila, saat insan lupa sesama
Hidup dalam dendam membara,
antara darah darah dan ama-rah.

Yerusalem..,
Yerusalem..,
Yerusalem..!

Bandung, 25 Oktober 2000

07
Jan
09

(Mendiang) Anak-anak Gaza

anak-gaza

LEBIH dari 100 anak tewas oleh gempuran dahsyat Israel ke Jalur Gaza sepanjang sepekan terakhir serangan brutalnya. Ini melengkapi daftar korban warga sipil yang sampai akhir pekanlalu mencapai hampir 500 orang. Ribuan lain cedera. Dan, tekanan dunia tidak juga mampu menghentikan napsu serdadu Yahudi itu untuk memerangi bangsa Palestina.

Insiden ini makin melengkapi kekejaman kaum Zion yang telah melakukan berbagai cara untuk memberangus Palestina. Gaza yang mereka tuding sebagai sarang pemberontakan para pejang Hamas telah berulangkali dihujani bom.

anakgaza2Bahkan pada 2007 mereka menggempur wilayah itu setelah berbulan- bulan memblokadenya sehingga warga Palestina terisolasi. Sejak belokade itulah, warga Palestina menggali terowongan-terowongan agar memperoleh akses ke “dunia luar” di tanah airnya sendiri. Jalur bawah tanah itu pun kini jadi sasaran gempuran bom-bom Israel.

Penutupan Gaza pada 2007 membuat 1,5 juta warga menderita. Selain menipisnya stok kebutuhan pokok, mereka juga tidak menikmati pasokan listrik memadai. Pemblokiran Gaza sebagai hukuman kolektif yang menyengsarakan warga entah itu muslim, maupun pemeluk agama lain yang tinggal di wilayah tersebut.

Bukan hanya kali ini Israel memblokade dan menggempur Gaza. Tahun 2004, blokade yang sama menyebabkan 3.000-an perempuan hamil terpaksa aborsi karena tidak memperoleh akses ke rumah sakit, 40 persen dari 3 juta warga Palestina hanya makan sekali sehari dan 70 persen penduduk kehilangan lapangan pekerjaan. Sementara 5.000-an orang tewas, 8.000 rumah rusak, dan 950 madrasah hancur. Sedangkan 300 sekolah dijadikan markas militer Israel sehingga 9.000-an pelajar tidak bisa bersekolah.

anakgaza3Tekanan internasional, sebagaimana biasa, tampaknya tak pernah diharaukan. Perdana Menteri Israel Ehud Olmert seperti juga pendahulu-pendahulunya, kukuh pada pendirian bahwa satu-satunya “jalan tengah” untuk mencapai perdamaian adalah memerangi –dan kalu perlu– memusnahkan Palestina.

Tak cuma dunia luar, warga Israel sendiri sudah banyak yang bosan dengan perseteruan dari generasi ke generasi ini. Sebuah jajak pendapat menunjukkan 64 persen warga Israel berharap pemerintahnya menempuh jalur dialog dengan pihak Palestina (Hamas) untuk menghentikan konflik. Sekitar 28 persen menolak, dan sisanya abstain.

Di kalangan bangsa Palestina apa lagi. Lebih banyak yang menginginkan perdamaian ketimbang selalu jadi korban. Kelompok ini melakukan berbagai aksi, termasuk bekerja sama dengan kaum Yahudi yang cinta damai melakukan langkah-langkah tanpa senjata.
Bahwa tetap bermunculan kelompok-kelompok yang memilih perjuangan bersenjata, itu pun harus dibaca sebagai refleksi dari apa yang dilakukan Israel terhdap Palestina. Dan terbukti, blokade serta gempuran tak pernah menyurutkan perlawanan.

Israel tetap pada karakternya yang sejati. Ia justru seperti sengaja menghapus jejak-jejak semangat perdamaian yang dipancarkankan warganya bahkan pernah juga digalang pada masa Rabin dan Peres. Israel menempatkan diri sebagai puncak kebenaran dan keadilan itu sendiri. Bangsa lain, tidak. Karena itu mereka tak peduli seluruh bangsa di dunia mengutuknya.

Dengan arogansi dan keganasan itu, tampaknya kita dan bangsa- bangsa di dunia tidak cukup hanya dengan mengutuk Israel, melainkan harus segera melakukan tindakan konkret. Apa yang mereka lakukan sudah sampai pada bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan. **

anakgaza41

01
Jan
09

Duka Cita Palestina

palestina_gaza

DARAH kembali mengalir, merembesi padang tandus Jalur Gaza. Menutup tahun 2008 dengan kepedihan, membuka 2009 dengan air mata dan amarah! Lebih dari 350 orang tewas dilumat keganasan serdadu Israel.

Makian, kutukan dan tekanan dunia internasional seakan tak ada artinya. Dan, saban hari, daftar korban semakin panjang, seolah kematian tak berarti apa-apa di sana. Sebelumnya, sudah ribuan orang kehilangan nyawa disambar kekejian peluru, roket, bahkan rudal, serdadu Yahudi.

Mereka yang bertumbangan itu sebagian besar –remaja, anak-anak, dan kaum prempuan– bukanlah orang-orang yang oleh Israel disebut pemberontak atau mereka yang bergerak di bawah tanah untuk melawan kekuasaan kaum Zion.

Jika pun mereka terlibat dalam intifadah, lebih karena terpaksa harus melawan –setidaknya mengusir– para serdadu Yahudi yang dengan keangkuhannya seolah berkuasa atas seluruh jengkal tanah di jazirah Palestina.

Sejak Israel memproklamasikan kemerdekaannya tahun 1948, yang diikuti perang besar 1956, 1967, dan tahun 1973, kawasan itu nyaris tak pernah reda dari pertumpahan darah. “Perdamaian” yang ditandatangani kedua belah pihak pada 1979 seperti tak bermakna sama sekali. Dunia internasional tahu Israel tak pernah konsisten, namun mereka tak pernah mampu menghentikannya. Akibatnya, konflik berdarah terus melumuri Tanah Terjanji itu di tahun-tahun berikutnya, hingga kini.

Kali ini, dunia internasional kembali hanya bisa mengecam dengan mengutuk Israel. Indonesia, juga sejumlah negara lain, mendesak Perserikatan Bangsa Bangsa untuk segera bertindak, menekan Israel agar berhenti mencabik perdamaian dan merobek- robek rasa kemanusian banyak bangsa di dunia.

Namun bisa pula dipastikan, PBB adalah macan kertas ketika berhadapan dengan Israel. Kita ingat, bagaimana ia tak mempedulikan hasil pemungutan suara sidang darurat Majelis Umum PBB yang menunjukkan bahwa mayoritas negara anggota PBB mendukung resolusi yang mengharuskan Israel mematuhi keputusan Pengadilan Internasional bahwa pembangunan tembok pengaman di Tepi Barat, Palestina, adalah ilegal. Artiya, Israel harus membongkarnya.

Atas dukungan penuh Amerika Serikat –yang punya hak veto di PBB– Israel menentang resolusi itu. Boro-boro menghentikan dan membongkar beenteng, mereka malah melanjutkan pembangunannya. Artinya, 150 negara yang mendukung resolusi ternyata kalah ‘suara’ hanya oleh Israel dan Amerika!

Seperti biasa, Zionis selalu mengklaim bahwa segala tindakannya atas Palestina semata-mata merupakan pembalasan atas apa yang dilakukan Palestina. Sebaliknya, dunia pun tahu persis bahwa para syuhada Palestina bergerak justru karena hak-hak mereka dirampas. Siapa pun tahu belaka bahwa Israel memburuk-burukkan Palestina di mata dunia semata untuk menutupi keborokan perilakunya sendiri.

Memang perilaku Yahudi seperti itu memang tak cuma monopoli Israel. Di lingkungan kita sendiri, masih sering ditemukan orang-orang macam itu. Selalu akan kita jumpai orang yang memburukkan pihak lain demi menutupi borok dirinya di mata umum.

Mungkin betul kata Akram Adlouni, masalah Palestina sebenarnya bukan hanya milik rakyat Palestina dan urusan bangsa Arab. “Masalah Palestina adalah urusan umat Islam di seluruh dunia,” ujar Sekretaris Jenderal Yayasan Al-Quds yang berbasis di Beirut.

Ya. Dan –konon– lebih dari 90 persen penduduk Indonesia ini adalah muslim, yang sudah sepatutnya melakukan tindakan konkret untuk membela sesama yang sedang dizalimi. Tidak sekadar mengutuk dan memaki-maki di jalanan.

Di luar itu, tanpa embel-embel agama pun, sebagai manusia berhati dan bernurani, tentu kita harus melakukan sesuatu untuk meghentikan penindasan dalam bentuk apa pun terhadap manusia lain. Semoga tahun-tahun mendatang kita jalani dalam kedamaian. ***

dukapalestina

___________________________________________________________________________________

lihat curah

linggabinangkit

02
Mar
08

Gaza, darah, dan amarah

gaza.jpg

LEBIH dari 50 warga sipil, termasuk empat anak kecil, tewas oleh gempuran dahsyat Israel ke Jalur Gaza, Kamis dan Jumat akhir Februari 2008. Serangan brutal untuk kesekian kali sejak Juni 2007 itu, juga mencederai puluhan warga lain dan menghancurkan sejumlah bangunan.

Israel mengklaim serangan ini untuk membasmi milisi Palestina yang kerap menembakkan roket ke Israel. Serangan roket Palestina terakhir menghantam sebuah kawasan di Sderot dengan korban tewas satu orang.

Beberapa hari sebelumnya, Parlemen Uni Eropa (UE) menyetujui resolusi yang mendesak Israel menghentikan serangan dan mencabut blokade ke Jalur Gaza yang mereka lakukan sejak sebulan silam. Dan, dalam keadaan terisolasi itulah, warga Palestina dihujani bom.

Sebelumnya, Tel Aviv menolak membuka akses ke Gaza yang mereka anggap sebagai sarang milisi Palestina. Bagi Israel, pembukaan akses tersebut mengancam keselamatan warga Yahudi.

Penutupan Gaza membuat 1,5 juta warga menderita. Selain menipisnya stok kebutuhan pokok, mereka juga tidak menikmati pasokan listrik yang memadai. Uni Eropa menyatakan, pemblokiran Gaza sebagai hukuman kolektif yang menyengsarakan rakyat kecil.

korbangaza.jpgBukan hanya kali ini Israel memblokade Gaza. Tahun 2004, blokade yang sama menyebabkan 3.000-an perempuan hamil terpaksa aborsi karena tidak memperoleh akses ke rumah sakit, 40 persen dari 3 juta warga Palestina hanya makan sekali sehari dan 70 persen penduduk kehilangan lapangan pekerjaan. Sementara 5.000-an orang tewas, 8.000 rumah rusak, dan 950 madrasah hancur. Sedangkan 300 sekolah dijadikan markas militer Israel sehingga 9.000-an pelajar tidak bisa bersekolah, (http://curahbebas.wordpress.com)

Tekanan internasional, sebagaimana biasa, tampaknya tak pernah diharaukan. Perdana Manteri Israel Ehud Olmert, seperti juga pendahulu-pendahulunya, kukuh pada pendirian bahwa satu-satunya jalan tengah untuk mencapai perdamaian adalah memerangi –dan kalu perlu– memusnahkan Palestina.

Tak cuma dunia luar, warga Israel sendiri sudah bosan dengan perseteruan dari generasi ke generasi ini. Sebuah jajak pendapat yang hasilnya diumumkan akhir pekan lalu menunjukkan 64 persen warga Israel berharap pemerintahnya menempuh jalur dialog dengan pihak Palestina (Hamas) untuk menghentikan konflik. Sekitar 28 persen menolak, dan sisanya abstain.

Di kalangan bangsa Palestina apa lagi. Lebih banyak yang menginginkan perdamaian ketimbang selalu jadi korban. Kelompok ini melakukan berbagai aksi, termasuk bekerja sama dengan kaum Yahudi yang cinta damai melakukan langkah-langkah tanpa senjata.

Bahwa tetap bermunculan kelompok-kelompok yang memilih perjuangan bersenjata, itu pun harus dibaca sebagai refleksi dari apa yang dilakukan Israel terhdap Palestina. Dan terbukti, blokade serta gempuran tak pernah menyurutkan perlawanan.

Israel tetap pada karakternya yang se­ja­ti. Ia justru seperti sengaja menghapus jejak-jejak semangat perdamaian yang dipancarkankan warganya bahkan pernah juga digalang pada masa Rabin dan Peres. Israel menempatkan diri sebagai puncak ke­­benaran dan keadilan itu sendiri. Bangsa lain, ti­dak. Karenaya, mereka tak peduli seluruh bangsa mengutuknya.

Kini suasana yang sempat berangsur mendingin justru seperti kembali jadi bara kebencian yang makin hari kian berkobar menyalakan kekejaman demi kekejaman dengan rakyat Palestina sebagai korban dan memunculkan tunas-tunas pembalas dendam.

Sampai kapan Israel dan Palestina bisa rukun? Tak seorang pun tahu. Perdamaian tak akan pernah terwujud selama hu­bungan antarumat manusia dilandasi kebencian dan balas dendam, seperti yang terus berkecamuk di Palestina-Israel.

Dan, masalah Palestina sebenarnya bukan hanya urusan rakyat Palestina dan bangsa Arab. Tapi harus juga persoalan bagi warga dunia, termasuk umat Islam di mana pun. Indonesia pun seharusnya segera bersikap. Selain (klaim) sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, juga sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB).

Meski terbukti PBB pun tak pernah berdaya –apalagi “cuma” anggota tidak tetap DK– mengatur Israel, setidaknya kita harus menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki komitmen terhadap perdamaian di Timur Tengah dan perdamaian dunia, sebagaimana selama ini dikampanyekan. ***

Banjarmasin, 030308
http://www.banjarmasinpost.co.id