Posts Tagged ‘pemilih

25
Agu
08

Parade Politisi Culun

SAMPAI akhir pekan lalu, hampir 12.000 orang telah mendaftarkan diri — atau didaftarkan– sebagi calon anggota lembaga legislatif untuk Pemilihan Umum 2009. Secara nasional, mereka akan berebut 560 kursi Dewan Perwakilan Rakyat yang tersebar di 77 daerah pemilihan di tanah air.

Di Kalimantan Selatan, menurut data sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU), setidaknya sudah 978 orang untuk 55 kursi DPRD bagi enam daerah pemilihan. Jumlah ini masih sangat mungkin berubah karena parpol masih diberi kesempatan mengubahnya.

Sejauh ini publik belumlah mengenal betul para calon yang akan mewakili mereka itu. Jika pun ada, tentu sebatas yang diumumkan media atau yang beredar di kalangan terdekat. Di antaranya tentu saja nama-nama yang memang sudah dikenal publik, tapi tak kurang pula merupakan tokoh baru yang belum jelas rekam jejaknya.

Kemunculan dan bertambahnya partai baru peserta pemilu, telah membuka kemungkinan dan peluang bagi banyak orang untuk jadi kader partai atau sekadar belajar mengembangkan diri di pentas politik.

Tak perlu heran jika hari-hari ini publik melihat ada orang yang tanpa latar belakang memadai, mendadak jadi penggiat partai, pengurus, atau bahkan tiba-tiba namanya tercantum pada daftar calon anggota legislatif.

Di samping politisi ‘culun’ seperti itu, banyak pula politisi instan yang dicomot oleh partai dari panggung hiburan lebih karena keterkenalannya. Ketenaran ini dibayangkan bisa berpengaruh pada sikap politik para pemilih.

Selain politisi ingusan dan artis yang dikenai seragam partai, tentu tetap ada calon wakil rakyat yang memang sudah karatan sebagai politisi di partai tertentu. Ada pula politisi ‘kutu loncat’ yang tiap menjelang pemilu hinggap di partai berbeda atau membentuk partai baru.

Hadirnya sosok-sosok baru tentu menerbitkan harapan baru berkenaan dengan terjadinya regenerasi. Publik sangat berharap bahwa wakil mereka di parlemen nanti, lebih baik dibanding dengan sebelum-sebelumnya.

Persoalannya kemudian, apakah parlemen hasil Pemilu 2009 nanti benar-benar menghasilkan para wakil yang betul-betul mampu memenuhi harapan dan aspirasi rakyat? Apakah para wakil itu betul-betul berperan sebagaimana mestinya? Atau semata mengulangi dan sekadar melanjutkan patron yang sudah ada?

Jawaban atas pertanyaan ini tentu ada pada mereka yang nanti terpilih. Terbongkarnya skandal korupsi dan kolusi yang melibatkan wakil rakyat baik di tingkat pusat maupun di sejumlah daerah telah menunjukkan betapa rapuhnya basis moral mereka.

Rakyat sangat tidak menghendaki hal itu terjadi lagi terhadap wakil-wakil mereka di kemudian hari. Rakyat sangat berharap akan terjadi perubahan ke arah yang lebih baik dari hari-sebelumnya.

Rakyat tak akan percaya pada orang yang gembar-gembor akan membabat habis korupsi kolusi dan nepotisme, jika yang bersangkutan merupakan bagian dari sistem yang korup dan ia sendiri turut menjalankannya selama ini.

Soal janji tak berbeda jauh, sebab hampir di setiap kampanye, masalah pendidikan, kesehatan, kesejahteraan rakyat, selalu jadi tema para juru kampanye. Namun kenyataannya, hingga hari ini menunjukkan sekolah tetap mahal. Layanan kesehatan adalah kemewahan. Kemiskinan tak juga tuntas.

Rakyat sudah sangat kritis dan cerdas. Mereka akan tahu siapa sesungguhnya orang-orang yang layak mewakilinya duduk sama tinggi dengan pemerintah nanti.

Jadi, mumpung belum memasuki ingar-bingar kampanye, sebaiknya para politisi kembali menatap diri dahulu. Berkaca pada diri sendiri, benarkah ia akan sanggup jadi wakil rakyat sejati. Jika menilai diri saja belum mampu, apalagi mengukur getar aspirasi rakyat. (*)

11
Agu
08

Bandung, 10-08-08

MINGGU, tanggal 10 Agustus 2008 warga Kota Bandung untuk pertama kalinya memilih langsung wali kota dan wakil walikotanya. Ada tiga pasang calon yang maju dalam pemilihan umum di ibu kota provinsi Jawa Barat ini.

Sebagaimana disiarkan Tribun Jabar, pasangan calon wali kota/wakil wali kota Bandung Dada Rosada-Ayi Vivananda meraup suara terbanyak dan unggul telak berdasarkan hasil penghitungan cepat Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Jaringan Informasi Publik (JIP).

Jumlah pemilih tetap di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Bandung 1.537.074 orang, dengan rincian pemilih laki-laki 773.557 orang dan perempuan 763.517 orang. Jumlah tempat pemungutan suara (TPS) 3.865. Jumlah penduduk Kota Bandung 2,7 juta jiwa.

Pasangan nomor urut satu yang diusung Partai Golkar-PDIP ini meraup 64,37 persen suara berdasar penghitungan cepat di 320 TPS di semua kecamatan Kota Bandung. Di urutan kedua pasangan Taufikurahman-Deni Triesnahadi (Trendi), yang diusung PKS, meraih 26,07 persen suara.

Posisi ketiga ditempati pasangan dari jalur perseorangan, HE Hudaya-Nahadi (Hadi), dengan raihan 9,56 persen suara. Tingkat partisipasi pemilih sekitar 66,61 persen. Sisanya, atau 33,4 persen, tidak menggunakan hak pilih dengan

Berdasarkan tabulasi suara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung, hingga pukul 20.00 baru masuk 63.815 suara. Menurut Ketua Divisi Sosialisasi KPU Kota Bandung Heri Sapari, pasangan Dada-Ayi memimpin dengan perolehan suara 40.381 (63 %). Pasangan Trendi meraih 17.781 (28%), dan pasangan Hadi memperoleh 5.653 (9 %).

Desk Pilkada Pemkot Bandung juga ikut menghitung hasil pemilihan kepala daerah. Hingga  pukul 20.00, menurut Kepala Badan Infokom Bulgan Alamin, total suara yang masuk 785.042. Pasangan Dada-Ayi di urutan pertama dengan raihan 512.422 (65,25 %), disusul Trendi 200.455 (25,52 %), dan Hadi 72.165 (9,23).

Adapun menurut penghitungan internal DPD PKS Kota Bandung hingga pukul 17.00 selisih persentase suara Trendi dengan Dada-Ayi tak begitu jauh. Menurut Ketua Tim Kampanye Trendi, Tedi Rusmawan, dari 20 persen sampel TPS, perolehan sementara 49,5 persen untuk Dada-Ayi, 38,5 persen untuk Trendi, dan 12 persen untuk Hadi. Ketua DPD PKSKota Bandung Haru Suandharu menyatakan siap memberi selamat ke pasangan pemenang.

Mengenai pilkada ini, rekan sekaligus guru saya Kang Cecep Burdansyah bilang, dalam sebuah kompetisi, menang kalah itu biasa. Untuk kandidat yang menang, ia harus membuka mata dan hati bahwa ia diberi jalan oleh pesaingnya yang kalah untuk mengemban amanah. Maka kemenangan itu jangan disia-siakan karena rakyat akan menilainya lima tahun kemudian.

Sebaliknya, untuk kandidat yang kalah, tidak perlu merasa putus harapan karena jalan untuk menjadi wali kota tidak berarti tertutup. Justru kekalahan itu harus dijadikan pelajaran untuk meraih kemenangan di masa datang. Bukankah pemeo mengatakan, kekalahan itu merupakan pelajaran terbaik dalam hidup seseorang.

Jabatan wali kota memang jabatan politik, tetapi tak berarti jabatan politik itu harus diraih dengan intrik. Jabatan wali kota itu jabatan yang penuh amanah karena harus mendarmakan baktinya bagi sekitar dua juta warganya di Kota Bandung, dengan cara menyejahterakannya. Tentunya ini bukan pekerjaan ringan. Butuh keuletan, kesabaran, ketegaran, dan kecerdasan.

Bagi warga Kota Bandung,  pada akhirnya siapa pun yang terpilih jadi wali kota, hanya satu yang diharapkannya, bisakah masyarakat Kota Bandung menjadi lebih sejahtera,segala kebutuhan terpenuhi, serta aman dan nyaman hidup di kota kembang ini.

Ya, akhirnya Bandung kembali dipimpin Dada Rosada. Kini ia didampingi Ayi Vivananda sebagi wakil. Selama periode sebelumnya, Dada memimpin “sendiri” karena wakilnya, Jusep, meninggal karena sakit beberapa saat setelah dilantik.

Saya tak ikut memilih, karena sedang bertugas di Banjarmsin!! Wakakakakakak…

15
Apr
08

Berkat Sebatang Paku

RIAK mulai muncul. Seseorang hendak membakar Sekretariat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Katapang Kabupaten Bandung, Senin lalu. Bersama Partai Amanat Nasional. partai ini mengusung Ahmad Heryawan dengan Dede Yusuf ke arena pemilihan gubernur.

Hari Selasa, sekelompok orang menurunkan dan membakar spanduk-spanduk pro-Hade. Spanduk itu berisi ucapan selamat atas hasil sementara penghitungan suara atas Pemilihan Gubernur Jawa Barat, 13 April lalu.

Hingga Selasa malam, perolehan suara untuk pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (Hade) –yang hari-hari ini masih dalam penghitungan– lebih unggul dibanding dua pasang pesaingnya, yakni Agum Gumelar – Nu’man Abdul Hakim, dan Danny Setiawan – Iwan Sulanjana.

Pemberian suara kepada para calon gubernur dan wakil gubernur itu dilakukan di bilik-bilik tempat pemungutan suara (TPS). Caranya, pemilih tinggal menusuk satu di antara gambar tiga pasangan.
Kalau dua gambar atau ketiga-tiganya yang ditusuk, tidak sah. Tidak menggunakan paku yang tersedia di bilik itu untuk menusuk, juga dianggap tidak sah.

Ya, paku. Cuma sebatang pula (di tiap bilik). Bagi para kontraktor dan tukang bangunan, benda ini biasanya digunakan untuk menguatkan sesuatu, menyambungkan tiang, dan sebagainya. Di tangan narapidana, paku bisa ditempa dan jadi sebilah pisau yang bisa digunakannya untuk macam-macam hal. Di TPS, benda ini bisa mengubah sejarah.

Hasil secara keseluruhan tusukan itu, di samping menentukan pasangan calon mana yang diamanati untuk memimpin, juga menunjukkan perilaku dan partisipasi politik masyarakat daerah ini.

Boleh jadi, para pemilih puas karena sudah menggunakan suaranya. Atau malah bangga karena melepaskan haknya, tapi satu suara terbuang sudah. Padahal, suara itu turut memberi warna dan ikut menentukan sejarah warga ini dalam berdemokrasi. Sejuta suara tak akan genap jika kekurangan satu coblosan paku pada kertas suara.

Ternyata, paku –apa sih arti sebatang paku– jadi alat pengubah jalannya pemerintahan. Di pusat maupun di daerah. Dengan sebatang paku, empat tahun lalu, rakyat memilih wakil-wakilnya. Dengan tusukan paku pula, presiden dan wakil presiden, gubernur, bupati, dan wali kota dipilih langsung oleh rakyat.

Sangat boleh jadi, hanya sedikit orang yang pernah membayangkan bahwa sebatang paku mampu melemparkan calon-calon presiden dan wakil presiden, gubernur dan wakil gubenur, bupati dan wakil bupati, wali kota dan wakil wali kota, ke luar arena pemilihan meski sebelumnya mereka merupakan tokoh-tokoh yang dianggap –atau menganggap diri– mampu memimpin.

Kini suara yang dinyatakan melalui tusukan paku itu masih terus dihitung. Para pemilih sudah kembali menjalani agenda kehidupannya seperti sedia kala sambil –ada yang berharap-harap cemas– menanti dan mengikuti hasil akhir penghitungan.

Untuk ukuran warga yang baru pertama pertama kali melaksanakan pemilihan gubernur secara langsung, bolehlah kita bangga karena ternyata bisa melakukannya dengan baik tanpa ada gejolak berarti.

Bahwa ada sedikit riak, tentu saja harus dilihat sebagai ungkapan ketakpuasan yang seseorang atau sekelompok orang, sepanjang ia masih dalam koridor kepatutan. secara umum sudah tampak bahwa rakyat sudah cukup dewasa dan menunjukkan kedewasaannya dengan melaksanakan pemilihan secara aman serta damai.

Hasilnya? Perhitungan sementara menunjukkan Pasangan Ahmad Heryawan – Dede Yusuf masih unggul. Jika tak ada aral melintang, Juni nanti warga Jawa Barat akan mencatat sejarah, yakni untuk pertama kali ini punya gubernur hasil pilihan sendiri.

Dan, warga memilihnya dengan sebatang paku! ***

yusran pare