Posts Tagged ‘quick count

11
Agu
08

Bandung, 10-08-08

MINGGU, tanggal 10 Agustus 2008 warga Kota Bandung untuk pertama kalinya memilih langsung wali kota dan wakil walikotanya. Ada tiga pasang calon yang maju dalam pemilihan umum di ibu kota provinsi Jawa Barat ini.

Sebagaimana disiarkan Tribun Jabar, pasangan calon wali kota/wakil wali kota Bandung Dada Rosada-Ayi Vivananda meraup suara terbanyak dan unggul telak berdasarkan hasil penghitungan cepat Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Jaringan Informasi Publik (JIP).

Jumlah pemilih tetap di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Bandung 1.537.074 orang, dengan rincian pemilih laki-laki 773.557 orang dan perempuan 763.517 orang. Jumlah tempat pemungutan suara (TPS) 3.865. Jumlah penduduk Kota Bandung 2,7 juta jiwa.

Pasangan nomor urut satu yang diusung Partai Golkar-PDIP ini meraup 64,37 persen suara berdasar penghitungan cepat di 320 TPS di semua kecamatan Kota Bandung. Di urutan kedua pasangan Taufikurahman-Deni Triesnahadi (Trendi), yang diusung PKS, meraih 26,07 persen suara.

Posisi ketiga ditempati pasangan dari jalur perseorangan, HE Hudaya-Nahadi (Hadi), dengan raihan 9,56 persen suara. Tingkat partisipasi pemilih sekitar 66,61 persen. Sisanya, atau 33,4 persen, tidak menggunakan hak pilih dengan

Berdasarkan tabulasi suara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung, hingga pukul 20.00 baru masuk 63.815 suara. Menurut Ketua Divisi Sosialisasi KPU Kota Bandung Heri Sapari, pasangan Dada-Ayi memimpin dengan perolehan suara 40.381 (63 %). Pasangan Trendi meraih 17.781 (28%), dan pasangan Hadi memperoleh 5.653 (9 %).

Desk Pilkada Pemkot Bandung juga ikut menghitung hasil pemilihan kepala daerah. Hingga  pukul 20.00, menurut Kepala Badan Infokom Bulgan Alamin, total suara yang masuk 785.042. Pasangan Dada-Ayi di urutan pertama dengan raihan 512.422 (65,25 %), disusul Trendi 200.455 (25,52 %), dan Hadi 72.165 (9,23).

Adapun menurut penghitungan internal DPD PKS Kota Bandung hingga pukul 17.00 selisih persentase suara Trendi dengan Dada-Ayi tak begitu jauh. Menurut Ketua Tim Kampanye Trendi, Tedi Rusmawan, dari 20 persen sampel TPS, perolehan sementara 49,5 persen untuk Dada-Ayi, 38,5 persen untuk Trendi, dan 12 persen untuk Hadi. Ketua DPD PKSKota Bandung Haru Suandharu menyatakan siap memberi selamat ke pasangan pemenang.

Mengenai pilkada ini, rekan sekaligus guru saya Kang Cecep Burdansyah bilang, dalam sebuah kompetisi, menang kalah itu biasa. Untuk kandidat yang menang, ia harus membuka mata dan hati bahwa ia diberi jalan oleh pesaingnya yang kalah untuk mengemban amanah. Maka kemenangan itu jangan disia-siakan karena rakyat akan menilainya lima tahun kemudian.

Sebaliknya, untuk kandidat yang kalah, tidak perlu merasa putus harapan karena jalan untuk menjadi wali kota tidak berarti tertutup. Justru kekalahan itu harus dijadikan pelajaran untuk meraih kemenangan di masa datang. Bukankah pemeo mengatakan, kekalahan itu merupakan pelajaran terbaik dalam hidup seseorang.

Jabatan wali kota memang jabatan politik, tetapi tak berarti jabatan politik itu harus diraih dengan intrik. Jabatan wali kota itu jabatan yang penuh amanah karena harus mendarmakan baktinya bagi sekitar dua juta warganya di Kota Bandung, dengan cara menyejahterakannya. Tentunya ini bukan pekerjaan ringan. Butuh keuletan, kesabaran, ketegaran, dan kecerdasan.

Bagi warga Kota Bandung,  pada akhirnya siapa pun yang terpilih jadi wali kota, hanya satu yang diharapkannya, bisakah masyarakat Kota Bandung menjadi lebih sejahtera,segala kebutuhan terpenuhi, serta aman dan nyaman hidup di kota kembang ini.

Ya, akhirnya Bandung kembali dipimpin Dada Rosada. Kini ia didampingi Ayi Vivananda sebagi wakil. Selama periode sebelumnya, Dada memimpin “sendiri” karena wakilnya, Jusep, meninggal karena sakit beberapa saat setelah dilantik.

Saya tak ikut memilih, karena sedang bertugas di Banjarmsin!! Wakakakakakak…

23
Apr
08

Hade Versus Golput

AKHIRNYA saling berpelukan. Air mata haru pun menitik menghiasi kebahagiaan anggota dan staf Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat menyusul selesainya penghitungan hasil pemilihan gubernur secara manual.

Padahal di luar gedung KPU Jabar di Jalan Garut Bandung, suasananya penuh gejolak. Massa pendukung Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim (Aman) berdemo memprotes hasil pemilihan yang dimenangkan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade).

Terhitung mulai Selasa (22/4), duet Hade bukan lagi sekadar gubernur dan wakil gubernur quick count. Jago Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) ini dinyatakan resmi memenangi pemilihan gubernur yang digelar 13 April lalu.

Dalam pengumuman yang disampaikan Ketua KPU Jabar, Setia Permana, pasangan Hade meraup 7.287.647 suara. Sementara dua pesaingnya, Aman meraih 6.217.557 suara, dan pasangan Danny Setiawan dan Iwan Sulandjana (Dai) hanya mendapat 4.490.901 suara.

Total suara pesaing tak bisa mengalahkan Hade. Namun Hade harus mengakui keunggulan jumlah pemilih yang tak menggunakan hak pilihnya, biasa disebut golput. Golongan ini mencapai 9.130.594 dari total jumlah pemilih hampir 28 juta orang.

Ketua KPU Jabar Setia Permana mengaku bangga atas kinerja anggota dan stafnya. “Saya tahu betul bagaimana mereka bekerja. Tidak sedikit mereka yang harus tidur di kantor kelurahan. Ini tidak pantas kalau diganti dengan materi. Ini sangat membuat saya terharu, dan saya senang akhirnya penghitungan suara selesai,” tutur Setia.

Menanggapi adanya pasangan calon yang tidak mau menandatangani berita acara penghitungan suara, Setia mengatakan hal ini menjadi koreksi bagi pihaknya agar ke depannya tidak lagi terjadi.

“Yang jelas, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja. Memang dalam setiap pilkada, kalau ada yang salah, pasti KPU yang dijadikan sasaran. Kalau mau protes silakan lapor ke panwas, dan mengenai suara, silakan melapor ke Mahkamah Agung,” ujar Setia, sembari mengatakan hasil penghitungan selanjutnya akan disampaikan ke DPRD Jawa Barat.

Di luar gedung, ratusan pendukung Aman mendesak agar KPU Jabar menetapkan jago koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai pemenang.

Koordinator demonstran, Setyowekti dari Forum Penyelamat Lingkungan Hidup Jawa Barat menyatakan menolak hasil rapat pleno terbuka KPU tersebut.

Para demonstran tetap bersikukuh bahwa pasangan Aman sebagai pemenang. Perwakilan ormas diikuti massa pendukung Aman lainnya dengan tangan mengepal mengacungkan tangan sambil mendeklarasikan bahwa gubernur dan wakil gubernur Jabar adalah Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim.

“Kami tidak akan pernah menganggap Hade sebagai gubernur dan wakil gubernur, kami tetap akan patuh pada Agum dan Nu’man sebagai gubernur dan wakil gubernur,” seru Setyo.

Dalam orasinya Setyo pun menyerukan akan membawa pasangan Aman ke Gedung Sate. “Mari kita bawa Agum dan Nu’man ke Gedung Sate sekarang,” tegas Setyo.

http://www.banjarmasinpost.co.id

14
Apr
08

Kejutan 13 April

BANYAK pihak terkejut melihat hasil (sementara) penghitungan cepat (quick count) empat lembaga survei terhadap hasil Pemilihan Gubernur Jabar 2008, Minggu (13/4), membukukan kemenangan untuk pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf yang diusung PKS-PAN.

Keempat lembaga itu adalah Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Dr Denny JA, Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Dr Saiful Mujani, Litbang Kompas, dan Pusat Studi Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis).

Pilgub Jabar 2008 diikuti lebih kurang 27,9 juta pemilih sesuai dengan daftar pemilih tetap dari sekitar 42 juta penduduk Jabar. Penghitungan resmi oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jabar dimulai kemarin, dan diperkirakan tuntas sepekan ke depan.

Yang menarik dari perhitungan cepat ke-4 lembaga itu, akhir perhitungan dengan metode berbeda, jumlah sampel TPS yang tidak sama, margin perbedaan hasilnya tidak terpaut jauh. LSI-nya Denny JA, misalnya, mencatat pasangan Hade meraup 39,97 persen.

LSI-nya Saiful Mujani mencatat 39,46 persen. Litbang Kompas menyatakan pasangan Hade membukukan 40,37 persen. Adapun Puskaptis melansir angka kemenangan 41,74 persen untuk pasangan yang uniknya kemarin tidak ikut mencoblos karena tak punya hak pilih di Jabar.

Da’i Center tadi malam sekitar pukul 21.00 merilis penghitungan versi mereka dengan hasil kemenangan tipis untuk Danny-Iwan atas Agum-Nu’man. Pasangan Da’i meraih 36,66 persen, Aman 36,40 persen, dan pasangan Hade jeblok di angka 27,20 persen.

KPU Jabar pada pukul 20.45 merilis hasil sementara rekapitulasi suara dari daerah-daerah dengan keunggulan untuk pasangan Hade. Dari 358.201 suara yang masuk, Hade mengumpulkan 140.435 (39,21 persen) suara. Disusul pasangan Agum-Nu’man dengan raihan 112.033 (31,28 persen) suara. Danny-Iwan meraup 105.735 (29,52 persen) suara. Jumlah ini akan terus berubah sesuai dengan pertambahan suara yang masuk dari daerah-daerah.

Para kandidat gubernur pascapengumuman hasil perhitungan cepat kemarin memberikan komentar beragam. Ada yang pesimistis dan sinis dengan hasil penghitungan cepat, ada yang datar-datar saja, dan ada yang optimistis hasil penghitungan cepat takkan berubah.

Pengamat politik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Cecep Darmawan melihatnya sebagai hal yang fenomenal. Menurutnya, kemenangan Hade dipengaruhi kecenderungan pemilih tidak melihat pada esensi visi misi yang disampaikan para kandidat pada saat kampanye.

Visi misi terlalu abstrak bagi para konstituen untuk melakukan penilaiannya. Bahkan mungkin juga publik tidak begitu paham akan visi misi calon. Kemenangan Hade juga dipengaruhi pilihan segmentasi politik dari generasi muda, ibu-ibu, kalangan kampus, kaum intelektual, pendidik, dan masyarakat menengah perkotaan.

Selain itu, bola liar sekitar 9 jutaan pemilih pemula (usia 17 sd 25 tahun) banyak menjatuhkan pilihan pada Hade. Dede Yusuf, yang memiliki ketampanan dan popularitas, menjadi faktor penentu pilihan kaum muda. Meski diakui bahwa Hade hanya didukung oleh dua partai (PAN dan PKS), infrastuktur politik PKS dan juga popularitas Dede Yusuf cukup menjadi daya tawar politik.

Seperti yang dialami oleh Rano Karno, popularitas Dede Yusuf yang muncul dari kalangan selebriti ternyata mampu membius para konstituen khususnya pemilih pemula dan kaum perempuan (muda). Jika di California, AS, seorang aktor Arnold Schwarzenegger menjadi gubernurnya, maka Jabar sebentar lagi memiliki wagub yang juga aktor, Dede Yusuf.

Becermin dari kemenangan Hade, pilgub Jawa Barat telah mengindikasikan bahwa rakyat adalah sentral bagi kedaulatan. Rakyat merupakan bagian penting dalam proses berdemokrasi. Dengan demikian, setidaknya kesadaran berdemokrasi masyarakat Jabar pada umumnya telah sedang memasuki tahap kemandirian (kematangan).

Setidaknya, dengan bermodalkan dana yang tidak begitu besar, pasangan ini bisa meyakinkan publik bahwa tanpa iming-iming, amang-amang, dan omong-omong, Hade telah meluluhkan hati sebagian besar rakyat Jabar untuk memilihnya.

Sesuai dengan jargon politiknya “Harapan Baru Masyarakat Jabar”, semoga Hade menjadi figur-figur yang tumbuh dan besar dari dan bersama rakyat. Mereka mesti tahu dan paham kebutuhan, keinginan, kegalauan, dan berbagai masalah rakyat Jawa Barat. (*)