Posts Tagged ‘sopi

21
Okt
07

Pendekar Mabuk

 

kupang.jpgSabtu 20/10/07 malam, guru saya Romo Dion DBP menelepon dari Kupanng. Beliau minta komentar saya yang akan disertakan timnya ke dalam buku 15 Tahun Pos Kupang. Aduh! Saya memang pernah di Kupang (1995/1996), berguru kepada Romo Dion dan Pater Damyan Godho, namun untuk berkemontar tentang Pos Kupang tentulah saya bukan maqom-nya. Saya tak pernah memberikan apa-apa kepada Pos Kupang, kecuali menyerap ilmu yang dengan murah hati mereka tebar dan semai di sanubari saya. Selain ilmu, saya juga memperoleh banyak kenangan. Misalnya, kisah di bawah ini:

“PASANGAN” itu selalu datang bersama-sama, setidaknya dua kali dalam sepekan. Keduanya sama-sama tampak tua meski umurnya mungkin masih paro baya, antara 40-50-an. Keduanya selalu berjalan sejajar –jarang sekali beriringan– menyusuri jalan kecil agak menanjak di depan kantor kami, menuju pasar di pusat kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Biasanya mereka muncul antara pukul 07.00 sampai pukul 09.00 dan selalu kembali melintas untuk pulang pada lepas tengah hari ketika matahari memanggang demikian teriknya, membuat isi kepala seperti mendidih.
Beberapa kali saya berpapasan dengan “pasangan” ini, atau melihatnya dari balik kaca pintu. Menurut teman saya, Dion, Mereka dari dusun, di hutan sana. Datang untuk jualan hasil bumi, dan uangnya mereka belikan beras serta sepotong-dua lauk pauk dan kebutuhan lain, kata teman saya sekantor.
Yang luar biasa di mata saya adalah, setiap pulang dari pa¬sar itu keduanya selalu berjalan sempoyongan. Kaki mereka seperti kehilangan belulang. Goyah.
Keduanya pasti berjalan terseok-seok ke kiri dan ke kanan. Sesekali, sambil berjalan dua orang ini saling bertumpu pundak, baku sangga. Yang satu miring ke kiri, pundaknya bertumpu pada rekannya yang doyong ke kanan. Kali lain, keduanya ambruk, menggelosor begitu saja di emperan kantor kami. Lalu mendengkur.
“Wah, drunken master baru pi tidur…!” kata satpam di kantor kami sambil terkekeh. Ia tak bisa berbuat banyak untuk menghalau dua lelaki yang hanya “bercelana” lilitan kain tenun ikat –tanpa kolor– itu. Sekitar satu atau dua jam kemudian, barulah ia bisa membangunkan pasangan pendekar mabuk ini dan dengan mudah menyuruhnya pergi.
Dari rekan-rekan sekantor, saya dapat gambaran bahwa kedua lelaki paro baya itu warga kampung yang cukup jauh dari kota. Mereka pergi dini hari membawa ha¬sil bumi dan hasil hutan untuk dijual di pasar.
Dengan uang yang diperolehnya dari ‘bisnis’ itu mereka belanja kebutuhan sehari-hari, dan pasti membeli sopi di warung pasar. Minuman keras dari fermentasi air lontar itulah yang membikin mereka sempoyongan. Minuman yang diproduksi secara tradisional itu memang relatif murah, bahkan dibanding bir.
Sukar dibayangkan, bagaimana rasanya menggelontori perut dengan bergelas-gelas minuman berkadar alkohol sampai lebih dari 45 persen itu di bawah udara terik sengangar, di atas lahan kering karang berdebu yang jadi ciri khas kota di ujung barat Pulau Timor itu.
Absurd, memang. “Sudah miskin, cari uang susah, eh setelah dapat dipakai mabuk. Bagi kita, mungkin aneh. Tapi hanya itulah cara yang mereka tahu untuk berusaha melarikan diri dari tekanan hidup sehari-hari,” kata seorang rekan.
Minuman keras memang nyaris jadi minuman sehari-hari –selain air– bagi sebagian penduduk di daerah itu. Di samping secara tradisional sudah merupakan kebiasaan turun temurun, juga karena relatif murahnya harga minuman yang kadar alkoholnya bisa menyambar api geretan itu. Kalau pun tak punya duit, orang toh bisa mengolah sendiri melalui proses yang tak terlalu rumit.
Boleh jadi, dengan mabuk, lantas tertidur, mereka melupakan sejenak kesulitan hidupnya. Tapi kebiasaan itu juga menyeret dampak buruk lain, yakni tingginya angka kriminalitas. Kalau orang itu mabuk untuk diri sendiri, dan langsung mendengkur begitu teler, tak jadi soal.
Yang repot dalah para drunken tanggung yang gentayangan lalu ngoceh sana-sini dan tindakannya kurang terkontrol. “Kacau sudah, bisa-bisa perang antarkampung, gara-gara orang mabuk berantem,” ujar rekan saya.
Nah, di kota tempat saya tinggal saat ini pun, mulai banyak drunken “tanggung” master gentayangan di jalanan, terutama di simpang-simpang jalan tengah kota yang ramai kendaraan. Apalagi di malam liburan, seperti malam tahun baru misalnya. Bahkan di malam lebaran, di sela-sela orang berpawai menabuh bedug.
Mereka gentayangan dengan langkah goyah, mendekati mobil-mobil yang terhenti oleh lampu merah. Kadang sambil membawa ecek-ecek dari tutup botol yang dirangkai, atau sekadar bermodalkan tepuk tangan. Maksudnya mungkin mengamen. Para pengemudi biasanya ngeri berhadapan dengan teror macam itu, sehingga dengan terpaksa menyodorkan sekeping dua keping uang.
Boleh jadi, mereka sengaja mabuk –atau setidaknya tampil seperti sedang mabuk– karena tak cukup punya keberanian untuk menekan orang lain itu dalam keadaan sadar, sehingga perlu menyetengahsadardirikan. Yang jelas, para pengemudi mobil apalagi kaum perempuan, akan dengan mudah merasa diteror. Dan, keping-keping uang logam pun menggelinding dari balik jendela mobil.
Begitulah. Jika drunken master yang saya temukan di Kupang itu cari uang untuk mabuk agar melupakan kenyataan betapa sulitnya cari uang, maka di kota tempat tinggal saya saat ini para anak muda itu justru mabuk (setengah mabuk, ‘kali) dahulu, untuk mencari uang. Dua hal yang tampaknya bertolak belakang.
Mana yang lebih terhormat? Entahlah, sebab kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, kita juga bisa dengan mudah menemukan drunken master yang lain.
Orang-orang ini tidak berasal dari kalangan miskin seperti di Kupang atau para pemuda sempoyongan di jalanan kota, melainkan dari kalangan yang secara intelektual, sosial, dan ekonomi relatif lebih ‘tinggi’ sehingga minuman keras yang dikonsumsinya pun boleh dikata “berkelas”.
Minuman jenis ini tentu harus dibeli dengan bergepok-gepok uang yang sekali duduk minum bisa menghanguskan senilai dua atau tiga kuintal beras kelas satu.
Sepanjang duduk minum itu, bisa berkembang aneka percakapan, mulai dari soal bisnis, saham terlaris, sampai urusan esek-esek dengan selingkuhan atau bahkan siapa saja. Selesai minum, bisa langsung pulang, atau meneruskan ‘bisnis’ lain sambil rehat di hotel mana saja yang bisa dijangkau dalam tempo serba kebelet.
Anehnya, makin banyak saja tempat untuk kongkow mcam itu dibuka meski dengan kedok rumah makan, resto, kafe, dan sebangsanya. Dan, pengunjungnya tetap ramai, bahkan makin meriah saja tampaknya. Artinya, saban malam jutaan rupiah mengalir ke tempat-tempat macam ini.
Para drunken master dari kelas ini jelas tidak sedang melupakan sulitnya hidup dan mencari, atau perlu topeng keberanian untuk mencari uang. Tampaknya para master ini termasuk pada kalangan orang-orang yang sudah kehabisan cara menghabiskan uang.
Tentang bagaimana cara mereka mendapatkannya, itu lain soal.
Kadang, hidup memang tampak absurd.* (yusranpare, Bandung, 291201)
19
Okt
07

Pasar Airmata

pasarwadai

pasarMAGRIB masih hampir satu jam lagi, saya gopoh-gapah turun dari kantor Banjarmasin Post. Saya ajak seorang rekan untuk ‘berburu’ kue di Pasar Wadai, di sepanjang jalan tak jauh dari depan Mesjid Raya Sabilal Muh­tadin, tepi Sungai Martapura. Hari-hari ini , untuk kesekian kalinya saya mengalami suasana Ramdan di Banjarmasin, Kota Seribu Mesjid.

BOLEH jadi, paduan antara hasrat mengumbar nafsu (makan) de-ngan suasana eksotis Pasar Wadai, telah membuat suasana depan mesjid terbesar Banjarmasin itu jadi sangat spesifik.

Riuh rendah orang menawarkan dagangannya bercampur dengan padatnya lalu-lalang –untuk belanja atau sekadar cuci mata buang waktu me-nunggu buka — sementara udara disesaki karbon monoksida dari ra-tusan knalpot mobil dan sepeda motor. Di sisi lain, raungan mesin klotok, sesekali ikut meningkahi senja yang penuh warna itu.

kuejajan1Bagi saya, suasana inilah yang menarik. Bahwa sambil jalan-jalan kemudian mampir ke satu dua kedai penjual wadai, itulah yang barangkali diharapkan oleh para pedagang. Berkat Pasar Wadai, saya mengenal dan menikmati rasa putri selat dan bingka kentang serta bingka tapai. Karena perburuan di pasar itu pula, saya sempat mencicipi nangka susun bahkan sari muka yang menurut saya, rasanya gimana … gitu.

Suasananya persis seperti yang saya rasakan ketika untuk pertama kalinya mengalami Bulan Ramadan di Palembang. Hampir tiap menjelang magrib, saya mengajak –lebih tepat minta diantar– teman untuk berburu makanan di Pasar Beduk.

Sama dengan Pasar Wadai yang pernah –entah apa sebabnya– diinggriskan jadi Ramadhan Cake Fair, maka Pasar Beduk (ini sih nggak diterjemahkan ke bahasa Inggris) digelar di tanah lapang juga di sekitar komplek Mesjid Sultan Badaruddin II, Palembang.

Situasinya mirip, mulai dari aneka makanan tradisional yang langka, hingga ayam goreng ala Kolonel Sanders dari Kentucky lengkap dijaja.

kuejajan4Empek-empek sudah pasti ada. Tapi, makanan ini sudah terlalu populer dan dengan mudah bisa kita dapat di kota sendiri, meski memang –setelah diicip-icip betul– rasanya jauh berbeda dengan yang asli Palembang.

Toh, lewat Pasar Beduk saya kenal apa yang disebut burgo yang gurih, lembut dan nyaman di perut. Atau kue model, bahkan cincau kucur yang ternyata tak jauh berbeda dengan es cincau.

Makanan-makanan khas macam ini, di kota tempat tinggal saya kini, di Bandung, juga ada. Tapi tidak dijaja di pasar khusus di sekitar Mesjid Agung sebab tempatnya memang sudah habis oleh pedagang kaki lima. Sementara di Yogya, saya memburu makanan-makanan khas ini di sekitar komplek Kauman.

Namun perburuan yang paling terasa menantang adalah perburuan makanan khas buka puasa di Kupang, Pulau Timor. Di samping makanan-makanan khas itu memang sangat jarang didapatkan pada hari lain, suasana kota itu sendiri sangat ‘menggoda’ mereka yang menjalankan ibadah puasa.

kuejajan2Selain udara kota yang panas sengangar –pada pukul 17:00 pun matahari masih terasa melotot garang dan sinarnya menusuki ubun-ubun– secara umum komunitas Muslim amatlah sedikit sehingga tidak cukup mewarnai suasana Ramadan.

Toh, seperti di Banjarmasin dan Palembang, di Kupang pun ada pekan kue selama Ramadan. “Pasar” ini berpusat di sekitar Mesjid Raya Baitul Qadim. Mesjid pertama — didirikan tahun tahun 1806– dan terbesar di Kupang ini terletak di Kampung Airmata. Karena itu, pasar wadai –eh, bursa kue Bulan Ramadan– di sini pun kemudian dikenal sebagai Pasar Airmata.

Pasar, sengaja saya beri tanda kutip (“) karena memang berdiri begitu saja di beranda atau di depan rumah-rumah penduduk. Mungkin hanya dengan memajang satu meja kecil, atau bahkan kursi, sebagai tempat kue-kue dan makanan dijajakan. Belakangan, sudah banyak orang menggunakan gerobak dorong, dan lokasi penjualan meluas ke tepi jalan raya depan kediaman Walikota.

Teman saya, Dion, bilang, Airmata diambil sebagai nama kampung dari sungai kecil (lebih tepat disebut kali) yang bermuara di Teluk Kupang. Konon sih, daerah itu dahulu merupakan tempat pembuangan para tahanan politik yang sering memberontak terhadap penjajah. Bahkan seorang pejuang asal Kalimantan, Sultan Abdurrachman Al Qadri dari Pontianak, disebut-sebut dibuang hingga wafat di sini.

Berkat Pasar Airmata inilah saya mencicipi kalesong, lopis, dan serabi kua. Atau, kue bendera, dan bajongko. Tapi, tentu saja tak ada orang jual sopi atau moke, sebab minuman khas setempat ini mengandung alkohol yang kadarnya relatif tinggi. Setidaknya, langsung menyambar jika disodori korek api yang menyala.

kuejajan3Seperti biasa, begitu menjelang mag-rib, saya ajak seorang teman ke Airmata untuk berburu. Seperti di Pasar Wadai dan di Pasar Beduk, sambil menyusuri jalan yang di kiri kanannya ada kedai-kedai dadakan itu, kami mencari makanan-makanan tradisional yang menurut saya aneh untuk dimakan pada saat berbuka puasa kelak.

Namanya orang puasa, pada jam-jam kritis –antara lepas tengah hari hingga menjelang senja– itu rasanya segala makanan hendak ditampung, disiapkan untuk berbuka. Nafsu purba begitu serakah memandu tangan memilih aneka kue, makanan kecil, sampai ‘makanan berat’ seolah semua akan bisa ditampung lambung yang sudah tipis digosok sakit maag ini.

Tampaknya begitu pula yang dilakukan oleh banyak pemburu wadai lain. Oleh kita semua. Kita cenderung kemaruk pada suatu saat, misalnya pada saat berpuasa, sehingga seolah-olah hanya kita sendirilah yang lapar, dan kelaparan itu akan tuntas ditutup oleh jejalan aneka makanan yang kita cari dan kita siapkan, kalau perlu bahkan sejak matahari terbit.

Puasa, juga menunjukkan, bahwa pada kala tertentu orang tampil sebagaimana aslinya dengan kerakusan purbakalanya, sehingga bukan dirinya yang mengendalikan hawa nafsu –sebagaimana dimaksudkan oleh nilai puasa– melainkan nafsunyalah yang mengendalikan dia sehingga menyebabkannya jadi serakah. Lupa pada sesama di sekitarnya. Lupa bahwa orang lain juga menderitakan hal sama, merasakan kelaparan yang sama, merasakan kesakitan dan kesedihan yang sama dengan yang bisa kita rasakan.

Mungkin karena keserakahan macam itu pula bangsa kita tak juga kunjung reda dirundung masalah. Belum selesai satu persoalan, muncul soal baru yang lebih rumit dan menyengsarakan rakyat kecil.

Kita menikmati buka puasa dengan hidangan dan kue-kue yang berlimpah yang dibeli di Pasar Wadai, di Pasar Beduk dan di Pasar Airmata, di Food Court di mall-mall, di restoran cepat saji, dan sejenisnya, sementara banyak anggota masyarakat kita yang justru sahur pun tak sempurna karena makanan mereka tak cukup.

Seakan memang sudah lazim bahwa kita cenderung lebih mencitnai harta benda duniawi dan bernafsu untuk menguasainya sendiri tanpa peduli orang lain. Kita cenderung ingin menikmati sendiri kelezatan-kelezatan duniawi macam itu, sehingga macam-macam pasar tetap ramai. Pusat-pusat belanja tetap sesak dikunjungi meski –kata orang– bangsa kita sedang dilanda krisis.

Puasa memberi pelajaran sangat berharga pada saya, bahwa sebanyak apa pun wadai dan kue yang saya beli dengan penuh hasrat di Pasar Wadai, Pasar Beduk dan Pasar Airmata, ternyata tak pernah bisa saya habiskan sendiri.

kuejajanLapar dan dahaga –yang tampaknya membuat nafsu terangsang untuk berbuat tamak– sepanjang siang hingga senja pada bulan puasa, ternyata sudah cukup dipenuhi hanya oleh segelas air hangat dan sepotong kecil kue. Sesudah itu, makanan-makanan lain tampaknya tidak lagi menarik.

Setiap menyantap hidangan berbuka, saya selalu gelisah dan diam-diam memaki diri karena belum juga bisa berbuat banyak pada orang lain.

Saya sadar, sementara saya bersukacita menikmati buka puasa, di tempat lain ada banyak saudara saya yang dirundung duka dan berlinangan airmata karena hidup mereka demikian sengsara. Apakah dilanda bencana, diharu-biru amuk massa, dinodai, dilecehkan dan diintimidasi sesama.  (yusran pare))