Arsip untuk November, 2008

30
Nov
08

Cermin Teror “Tuan Takur”

terorTEROR kembali menampakkan wajah kerasnya. Kali ini di Negeri “Tuan Takur” India, menutup akhir pekan pamungkas November 2008. Lebih 120 orang tewas dalam serangan yang oleh media dilukiskan sebagai brutal di Mumbay.

Para teroris menyerang antara lain dua hotel kelas internasional yang biasa dihuni orang asing. Sebuah permukiman Yahudi juga diserbu dan diduduki. Terlepas dari apapun motifnya, tindakan macam itu yang telah menewaskan orang-orang tak bersalah, patutlah dikutuk.

India berkabung. Dunia berduka. Panik merajalela bersamaan dengan menjalarnya ketakutan dan kengerian, bahwa peristiwa seperti itu bisa terkadi di mana pun. Orang marah, tapi tak tahu harus melampiaskan ke mana.

Ya. Ketakutan, kengerian, kepedihan, kejaman, yang bercampur kemarahan, adalah efek yang dilahirkan dan dijalarkan teror. Amerika sedih, marah, dan ketakutan setelah kehilangan ribuan warganya dalam sekali sentak dalam tragedi World Trade Center. Sama halnya dengan perasaan yang dialami Jepang ketika Nagasaki-Hiroshima dibom- atom Amerika.

Tak jauh pula bedanya dengan bangsa Yahudi yang kehilangan sanak-saudara di kamp- kamp pembunuhan massal Jerman, sebagaimana kepedihan bangsa Palestina yang kehilangan sanak-anak, suami dan istri mereka dalam pembantaian sistematis oleh kaum Yahudi. Kengerian yang sama, pasti dialami bangsa Bosnia di bawah rezim teror Slobodan Milosevic.

Dari segi ini, sang mencipta teror telah berhasil dengan aksinya. Hanya saja, mengapa selalu orang sipil -warga biasa yang tak ada sangkut paut dengan perkara- yang jadi korban pertama dalam insiden-insiden macam ini?

Kita juga punya pengalaman pedih berada di bawah penindasan yang meneror tidak saja perasaan, tetapi sekaligus pikiran. Selama 30 tahun lebih, bangsa kita diteror penguasa sendiri yang kadang meminjam tangan sesama kita.

“Pelajaran teror” yang diserap dari rezim lalim itu, hingga kini masih sering dipraktekkan oleh siapa saja yang berkepentingan menekan pihak lain.

Kita dicabik-cabik kepedihan ketika ribuan putra-putri Aceh dibunuhi, ketika perempuan-perempuan Tionghoa diperkosai, ketika orang-orang Madura dipenggali, ketika bom-bom berledakan di Bali, Jakarta, Poso, Ambon, Papua. Teror terbukti efektif untuk memaksakan kehendak dengan cara menyebarkan ketakutan.

Kelompok tertentu dengan jaringan besar menetaskan teror dengan cara meledakkan “peluru kendali” pesawat besar penuh penumpang dan sarat bahan bakar ke gedung jangkung sebagaimana dalam insiden WTC, atau bom di Bali. Kelompok yang lebih kecil lagi meledakkan teror lewat pembantaian massal suku yang dianggap lawan.

Lainnya, mungkin perorangan, cukup dengan memamerkan rajah di sekujur tubuh, sambil jalan sempoyongan dan mata mengantuk, menadahkan tangan di simpang-simpang jalan.

Apa pun alasan di balik semua kejadian ini, korban yang sudah jatuh dan tak bisa bangkit lagi. Mereka jadi korban peradaban baru yang membangun tabiat manusia-manusianya kian hari ternyata bukan makin membaik, melainkan berbalik.
Ya, tabiat hasil peradaban baru ini seperti membalikkan manusia ke masa-masa pra-peradaban ketika spesies kita masih mengedepankan kebrutalan dan kekerasan, tanpa perikemanusiaan.

Bahasa kemarahan seolah satu-satunya alat komunikasi antara pihak yang berbeda pandangan dan keyakinan. Perseteruan antarsesama seakan hanya bisa diselesaikan dengan teror, kekerasan, dan … darah.

Kita boleh mati-matian menolak anggapan ini. Tapi itulah yang selalu terjadi dan terjadi lagi. Entah sampai kapan. (*)

lihat juga curah
26
Nov
08

Laskar Terheboh

crew_tribun_1manado50pct

SEJAK tahun 1990 terlibat dalam rekrutmen dan pelatihan calon wartawan untuk koran-koran Persda, baru kali ini –setelah “kelas” awal Tribun Jabar- – saya menemukan lagi kelas yang luar biasa. Penuh gairah dan dinamis, sering kali kocak. Personelnya pun berasal dari kultur dan subkultur yang cukup beragam. Rame abis!!

Ya, dua belas hari sejak 7 November 2008, saya bergabung bersama mereka. Belajar bersama. Mereka adalah guru-guru yang luar biasa. Kaya raya pengetahuan dan rasa ingin tahu, berlimpah keceriaan serta keanekaragaman karakter.

Setidaknya, itulah yang terasa selama hampir dua pekan saya belajar bersama mereka. Entah hari-hari ini, ketika latihan-latihan lapangan sudah memasuki tahap sesungguhnya, dan hasil karya mereka (individual maupun kelompok) sudah mulai dipublikasi, via online dan koran-koran satu grup.

Sehari-hari, kelas ini dikelola Richard Nainggolan (Tribun Batam, Tribun Jabar, Pos Kupang), dengan Satya Krisna Sumargo (Tribun Jabar, Bernas). Dari segi komposisi “asal-usul” 30 peserta ini boleh dibilang komplet. Disiplin ilmunya juga beragam. Selain itu, ada yang sudah berpengalaman sebagai jurnalis sampai delapan tahunan, ada yang baru satu-dua tahun, ada yang sebulan-dua, ada yang polos …lossss!

Di situlah dinamikanya. mereka yang polos-polos, penuh gairah menyerap pengetahuan dan pengalaman dari para senior . Ada Alvy dan Aswin serta Lody, misalnya — yang betul-betul “senior”. Saking senior-nya sampai- sampai ada yang tak diizinkan bawa mobil oleh orang rumahnya, hehehehehe….

Ada Berlin “Tora” Sinaga, anak Batak yang nyunda banget, sebagaimana Nuraini “Ussy” dara peranakan Bima-Sunda yang kini malah terdampar di Tanah Kawanua. Ada pula Samuel yang “kinyis-kinyis” dan seringkali terlambat masuk setelah rehat karena makan siang dengan pacaranya. Saya juga bertemu Lucky “Sogi” yang ternyata tak terlalu pintar melawak.

Ada yang sedang jatuh cinta pada dunia jurnalistik, seperti Fernando, Rine, Defri, Yudith, Gina, David dan lain-lain yang berasal dari Manado dan sekitarnya. Saya juga bertemu dengan sastrawan semacam Harvi, dan pakar linguistik Adam “Elang” yang sempat pusing tujuh keliling ketika bertabrakan dengan ragam bahasa jurnalistik.

Saya juga bertemu dengan Budi yang betul-betul tampak sabar dan budiman. Lalu ada “frater” Aco yang mirip Sang Juru Selamat tapi mengaku lebih sering memerankan Yudas dalam drama-drama Natal. Ada juga “romo” Anton yang mengaku sebagai jebolan “teknologi ketuhanan” tapi kebingungan saat berhadapan dengan kasus yang melibatkan Hamid dari keluarga Budha…

Pokoknya, saban hari ramai terus oleh dinamika dan seringkali diselingi canda. Entah di kelas, entah di halaman saat rehat, entah di lapangan saat meliput. Dan, di antara seabrek karakter itu, yang paling menonjol dan selalu jadi pusat perhatian adalah Adi.

Anak muda asal Cianjur yang mirip Afgan ini selalu jadi bulan-bulan, tapi dengan cerdik ia senantiasa memantulkan bulan-bulan itu kepada siapa pun yang melontarkannya. Suasana selalu jadi meriah.

Apalagi jika secara demonstratif sang Afgan –yang sulit membedakan lafal f, p, dan v ini– berebut dengan Wawan RT (Yogya, dengan aksen medhok buanget) mencuri perhatian Gina yang lebih cantik dari Miss Celebrity-nya versi SCTV itu. Akibatnya, saban waktu heboh terus.

Begitulah, suasana tiap hari senantiasa ramai. Tidak saja oleh celoteh dengan nada dan lafal yang masih sangat kental bahasa ibu masing-masing, tapi juga oleh gairah yang meletup-letup untuk belajar menjadi jurnalis.

Bisa dibayangkan, mereka yang berasal dari Manado dan sekitarnya, berbicara dengan dialek khas mereka. Begitu pula yang berasal dari Yogya dan Jawa Tengah, sebagaimana mereka yang dibesarkan di lingkungan kultur Jakarta seperti “Uya”, El, Reza, dan Budi.

Mereka yang berasal dari Jawa Barat juga membawa warna kelembutan dan kecengengannya (ada yang masih suka nangis pada malam hari, ingat emak… hehehe!!). Mungkin karena baru pertama kali ngumbara jauh pisan ti lembur. Mungkin juga mereka lahir tidak dari orang yang mewarisi gen perantau.

Di antara seluruh peserta, memang ada juga dua-tiga orang yang tampak tetap culun dan masih kebingungan di tengah siatuasi itu, tapi siapa tahu waktu dan dinamika di dalam kelompok akan bisa mengubahnya.

Yang jelas, saban pagi, setelah memulai aktivitas dengan doa bersama, serempak mereka menggelorakan ikrar untuk menjadi wartawan yang baik. Jujur, disipilin, cermat, dan tangguh.
Hidup Tribun! ***

anak-bandung-manadoCatatan:
– Khusus untuk rekan-rekan anggota kelas edun asal Jawa Barat: Awas, mun ngerakeun uing!
– Saya masih terkenang khotbah religius “Pdt” Alvy mengenai Sopir dan Matius 7:7, serta tentang Bu’ (maaf saya tak tahu cara mengejanya) Sang Nelayan. Ntar deh ditulis terpisah.
– Saya harus berterima kasih kepada Bung Dahlan, (Tribun Timur), yang membagi pengetahuan baru yang mencerahkan serta pengalamannya. Juga Bung Achmad Subechi (Tribun Kaltim), yang luar biasa. Begitu pula Pak Ronald Ngantung (pertemuan kedua setelah di Tribun Pontianak). Tenu saja pada sang Kepala Sekolah, Febby Mahendra Putra (Tribun Batam) yang memungkinkan kami larut dalam dinamika itu. Hebat, bro!!
– Nah, tak boleh saya lupakan juga Gilbert tanpa Lumoindong atas perhatian dan cap tikusnya, Jerry tanpa Tom, Nyong Tomohon yang guanteng, serta Dedi yang luar biasa telaten serta sabar dengan celana panjangnya yang selalu berkibar!
tondano_awak_tribun

25
Nov
08

Republik Para Pembantu

pembantuDI tengah krisis yang mengguncang seluruh bangunan ekonomi, Indonesia harus berterima kasih kepada para buruh migran. Sementara para buruh di tanah air mulai kehilangan pekerjaan akibat gelombang pemecatan besar-besaran, para pekerja di luar negeri (TKI) mengalirkan uang mereka ke kampung halamannya di tanah air.

Data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BPN2TKI) menunjukkan, tahun 2006 para buruh migran ini mengalirkan Rp 60 triliun ke kampung halaman mereka di tanah air. Ini sama dengan tiga kali lipat dari nilai investasi langsung negara maju ke Indonesia, sebagaimana disitir Kepala BPN2TKI, Jumhur Hidayat belum lama ini.

Selain menunjukkan gairah investasi asing di Indonesia masih rendah, fakta itu juga menggambarkan betapa besar sumbangan para buruh terhadap perekonomian nasional.

Menurut survei Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI) Jabar dan Kantor Bank Indonesia Bandung, para buruh itu rata-rata mengirimkan 80 persen pendapatan mereka ke tanah air. Artinya, mereka hanya menikmati bagian sangat kecil (20 persen) dari hasil banting tulangnya di negeri orang.

Bayangkan, bagaimana saudara-saudara kita itu hidup dengan mengetatkan ikat pinggang mereka di lingkungan asing, demi mengihidupi keluarganya di kampung halaman. Dan, tanpa mereka sadari, dana yang mereka alirkan itu telah memperkuat neraca pembayaran sekaligus menopang cadangan devisa negara.

Sebagian besar (sekitar 85 persen) dari para pahlawan devisa itu bekerja di sektor rumah tangga. Entah itu pembantu, pengasuh anak, atau sopir. Penghasilan mereka -jika dikonversi ke Rupiah- berkisar antara dua sampai5 juta per bulan.

Sementara ini, keringat para pembantu rumah tangga itu bisa menjadi penyangga ekonomi negara. Namun, situasi ini tentu tak boleh dibiarkan berlarut. Perlu dilakukan langkah-langkah serius agar di kemudian hari tenaga kerja kita di luar negeri tidak melulu sebagai pembantu rumah tangga dan sejenisnya. Dengan peningkatan kemampuan serta keterampilannya, mereka bisa mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik lagi.

Namun yang kita lihat hari-hari ini, jangankan menyiapkan tenaga kerja terampil yang punya “daya jual” tinggi di luar negeri, mengurusi dan melindungi para buruh migran yang sudah ada saja seringkali masih compang-camping.

Jangankan mengupayakan peningkatan keterampilan, melindungi mereka pun kadang kita tak mampu. Jangan cerita bagaimana melindungi mereka di negeri orang, di alam negeri saja mereka seringkali diperlakukan bak sapi perah dan objek pemerasan, resmi maupun tidak. Mulai dari para makelar, hingga para preman.

Kerancuan proses penempatan, minimnya mutu dan perlindungan serta kerentanan posisi buruh merupakan titik lemah program penempatan buruh kita ke luar negeri. Posisi tawar menawar kita dalam penempatan buruh ini tetap lemah ketika dihadapkan pada kelangkaan kesempatan kerja di dalam negeri di satu pihak, dan peningkatan devisa di pihak lain.

Sejauh ini kita kita belum melihat langkah-langkah konkret dan radikal dari negara -pemerintah dan lembaga wakil rakyat- untuk mengelola mereka dengan lebih baik lagi, lebih canggih dan lebih manusiawi, sehingga mereka mampu mengisi sektor-sektor yang lebih beragam, tidak melulu sebagai pembantu rumah tangga. (*)

lihat: made in indonesia

buruh migran

tribunjabar

18
Nov
08

Tribun versi Nielsen

tribunrankingHarian Pagi Tribun Jabar naik peringkat ke posisi kedua koran di Jawa Barat, berdasarkan hasil survei lembaga riset media AC Nielsen pada Wave (Triwulan) III tahun 2008. Market share iklan yang diraih pun naik menjadi 26 persen pada Wave III tahun 2008.

Survei yang dijadikan acuan para pemasang iklan baik di Bandung maupun Jakarta ini berlangsung setiap triwulan. Adapun cara Nielsen mengajukan pertanyaan saringan adalah “Apakah Anda membaca koran dalam satu tahun terakhir?”

1. Jika ya, ditanyakan kapan terakhir kali baca Koran: 2. Jika jawabannya kemarin, ditanyakan koran apa yang dibaca (jika jawabannya bukan kemarin maka tidak dianggap sebagai reader): 3. Koran yang dibaca adalah koran yang secara fisik dipegang, dibolak-balik, minimal dua menit.

Sebenarnya materi pertanyaan tersebut menimbulkan duplikasi antarkoran karena pertanyaan yang diajukan adalah “Koran apa saja yang Anda baca?” Ini mengabaikan unsur urutan koran (koran utama). Koran yang disebut pertama tentu koran yang diingat dan usianya tertua meski kenyataannya responden sudah lama membaca Tribun Jabar.

Meski demikian, survei ini menegaskan bahwa Tribun Jabar, yang baru terbit pada 18 Februari 2005, berpotensi untuk terus berkembang dan beredar luas di Bandung khususnya dan kota-kota lain di Jawa Barat umumnya, seiring dengan bertambahnya oplah Harian Tribun Jabar.

Kue iklan yang diperoleh pun terus bertambah. Pertumbuhan iklan naik 8 persen selama Januari-September 2008, market share iklan menjadi 26 persen. Pada 2007, Tribun Jabar menguasai market share iklan sebesar 18 persen. Berdasarkan data AC Nielsen, pertumbuhan itu diperoleh dengan mengurangi dua persen kue iklan koran kriminal di Bandung dan sisanya diperoleh dari pengikisan jatah kue iklan koran terdahulu di Bandung.

Prestasi yang kami peroleh ini tentu tak lepas dari hasil kerja sama yang baik Tribun Jabar dengan klien iklan dan kolega dari berbagai lembaga di Jawa Barat. Tribun Jabar, dengan slogan Spirit Generasi Baru, akan bekerja lebih keras lagi untuk mewujudkan tekad menjadikan Tribun Jabar sebagai referensi utama pembaca dan pengiklan di Jawa Barat. Semoga.(Tribun Jabar/ear)

10
Nov
08

Terbang Tegang Bersama Batavia

bataviaair_foto_wikan_tribun_kaltimENTAH sudah berapa puluh kali saya menggunakan jasa maskapai penerbangan tanah air sejak 1984, tapi baru kali ini memperoleh pengalaman mencekam. Merasakan sendiri ketegangan, sekaligus menyaksikan bagaimana orang-orang lain yang saat itu berada dalam kabin pesawat yang sama, bereaksi atas ketegangan yang mereka alami.

Hari itu Jumat, 7 September 2008. Pesawat Airbus A320 milik maskapai penerbangan Batavia Air dengan nomor penerbangan 7P-631 tujuan Manado via Balikpapan, terpaksa kembali ke areal parkir setelah bersiap lepas landas, di Bandara Soekarno Hatta.

Semula, saya –mungkin juga penumpanbg lain—lega setelah menunggu hampir satu jam dari jadwal yang ditetapkan, akhirnya dipersilakan memasuki pesawat. Saya berada di antara lebih dari seratus penumpang pesawat itu.

Semua persiapan sudah dilakukan. Seluruh penumpang duduk dengan sabuk pengaman terkunci. Pramugari sudah mengumumkan dan memperagakan tata-tertib di dalam pesawat, sementara pesawat bergerak lambat-lambat menuju landas pacu.

Di sinilah teror perasaan itu dimulai. Di sela gemuruh jet, terdengar bunyi yang ganjil. Bunyi itu berupa deritan panjang dan kontinyu dalam interval tertentu. Bunyinya mirip suara gerinda yang menggerus logam berkarat, sekaligus mirip bunyi seperti tali kipas mobil yang tidak normal, tapi lebih tinggi. Menjerit, berderit, menusuk kuping.

Saya melirik ke sebelah kiri, seorang penumpang menekankan dahinya ke punggung kursi di depannya. Mulutnya komat-kamit. Di sebelahnya lagi, seorang perempuan, menunduk tepekur, tangan kanannya mengelus-elus perut buntingnya. Pria di sebelah saya bergumam tak jelas. Ketegangan terasa mencekam seantero kabin.

Kurang lebih 10 menit, kami terperangkap dalam jebakan kegelisahan, sampai akhirnya bunyi mesin terdengar agak mengendur, suara menderit masih muncul sesekali. Sejurus kemudian, Kapten Pilot Anjar Sulistyaji mengumumkan menunda keberangkatan sekitar 20 menit.

Padahal sebelumnya keberangkatan sudah molor 35 menit. Jadwal lepas landas pukul 15.10 WIB namun penumpang baru boarding pukul 15.45 WIB. Para penumpang yang gelisah, agak sedikit lega. “Dari pada dipaksakan terbang, tapi celaka….” ujar lelaki di sebelah kiri saya. Hiyyyy… langsung terbayang berbagai kecelakaan pesawat, mulai dari musibah Garuda di Adisutjipto, sampai Hercules pengangkut Paskhas!

Peristiwa-peristiwa mengenai kecelakaan pesawat terbang yang sering jadi topik berita media, jelas sangat berpengaruh. Setidaknya, jadi pelembek nyali.

Setelah kembali ke areal parkir, dan penerbangan ditunda lebih dari 20 menit, pesawat kembali bergerak menuju landasan. Namun sudah 10 menit di landasan, tidak juga lepas landas.

Penumpang mulai gelisah, dan kepanasan. Bayi-bayi menangis. Mesin pesawat dalam kondisi hidup, namun sesekali suara gesekan masih terdengar sedangkan penjelasan lebih lanjut tidak ada dari awak kabin.

Akhirnya, pesawat keluar dari areal parkir dan memasuki landas pacu. Kami lepas landas dengan ketegangan masih mencekam. Syukurlah penerbangan lancar hingga mendarat dengan mulus di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur pukul 19.07 Wita.

Penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Balikpapan memakan waktu tempuh sekitar satu jam 50 menit. Saat penumpang tujuan Balikpapan turun di Kota Minyak ini, penumpang tujuan Manado tetap berdiam, menunggu di dalam pesawat.

Tiga puluh menit kemudian, pesawat bergerak lagi menuju landas pacu Sepinggan. Saya dan pria di sebelah kiri saya saling tatap sambil berusaha mendengar sesuatu. Astaga!! Bunyi derit itu terdengar lagi di antara gemuruh jet. Terdengar raungan mesin lebih tinggi lagi, makin tinggi dan makin kuat.

Bunyi derit seperti gerinda menggesek logam berkarat itu sirna. Entah memang tidak ada masalah lagi, atau tertimpa tingginya raungan mesin. Sesaat kemudian, pesawat bergerak ke landas pacu. Para penumpang hening, seperti kembali dicekam ketegangan, meski terasa seperti antiklimaks.

Syukurlah, penerbangan lancar dan airbus Batavia Air ini mendarat mulus di Bandara Internasional Sam Ratulangi, satu setengah jam setelah lepas landas dari Balikpapan. Saya beringsut turun. Rongga mulut dan kerongkongan terasa kering. (*)

10
Nov
08

Giyarno dan Reni

RAPAT kerja di Jakarta kali ini betul betul-betul membuat saya terlontar ke masa lalu. Selain bertemu teman-teman yang dulu jadi “aktivis” Gema-Bernas, saya juga bertemu Reni Rohmawati. Teman lama semasa saya jadi bagian proyek “akuisisi” koran daerah oleh Kompas-Gramedia.

Hari Rabu, 5 November, lepas magrib, Giyarno Emha sudah kontak. Ia menunggu di ruang tamu hotel. Saya paham, dia sudah jengkel betul menunggu karena saya tak juga turun menemuinya. Dua jam kemudian, rapat hari itu baru selesai.

giyarno-reniSaya buru-buru turun ke ruang tamu hotel di Jalan Palmerah Barat itu. Giyarno mencak-mencak –seperti biasa, dengan bahasa khasnya— jengkel karena lama menunggu. Eh, selain Giyarno ternyata ada Reni yang kini Redaktur Pelaksana majalah Idea.

Ini betul-betul kejutan. Sejak “pisahan” dari proyek Mandala yang gagal, baru kali ini saya betemu lagi dengan Reni. Beberapa tahun lalu, memang pernah sih berjumpa –ketika ia masih kerja untuk majalah Angkasa— tapi itu pun cuma sekilas.

“Reuni” jadi lebih lengkap karena ada Mas Pramono BS (kini Pemred Banjarmasin Post), Agus Nugroho (Batam/Pontianak/Balikpapan), dan Mas Daryono (Batam). Tahun 1990, kami tinggal di mess yang sama di Tompeyan, Yogya. Ketika itu, kami sama-sama terlibat dalam pengelolaan Bernas.

Dari ruang tamu, kami pindah ke restoran hotel itu melanjutkan reuni istimewa. Tentu saja menggali lagi kisah-kisah lama, mulai dari yang serius sampai hal-hal konyol dan lucu. Giyarno dan Mas Daryono lah yang paling seru. Keduanya saling buka lagi “luka lama” yang membuat kami tak berhenti tertawa.

Mulai dari serunya pengelolaan halaman budaya dan halaman opini Bernas yang digawangi Emha Ainun Nadjib, Butet Kartarajasa, Giyarno Emha, Indra Tranggono, dan Rizal Mallarangeng, hingga ke kisah-kisah kocak seputar petualangan malam mereka.

Selesai ngobrol, perut terasa sakit karena tak henti tertawa. (*)

09
Nov
08

Dari Emmy hingga Yudit

INI momen istimewa di Jakarta. Dua hari berturut-turut bertemu teman-teman yang dulu bakudesak di “gudang” pengap berukuran 2 kali 3 meter di Jalan Sudirman Yogya, markas anak-anak GEMA-Bernas .

valens-kris-luki

tak bertemu muka, foto pun jadilah! valens, kristupa, luki aulia, "ikutan" reuni via foto yang dikirim kristupa.


Minggu malam, 2 November, Hengky datang menjemput setelah dikontak. Katanya, kebetulan malam itu dia tidak sedang sibuk. Lalu coba menghubungi Mas Abi –yang  jadi “pengasuh” anak-anak GEMA setelah saya. Kebtulan dia juga tidak sedang sibuk di di kompas.com.

Kami pun meluncur. Makan malam di Bebek Ginyo, di Tebet. Aduh… setelah lama tak mengecap gurihnya bebek, malam itu betul-betul terpuaskan oleh bebek bakar bumbu hijau pedas olahan kerabat kerja Mas Kardjono.


Eh, selang sesaat Mas Kardjono datang dan memperkenalkan gagasannya yang –mungkin tidak terbersit di kepala orang lain—menurut saya orisinal dan inovatif. Dari hobinya mengurus tanaman, ia mengembangkannya jadi sesuatu yang berbeda dan bermakna luas.


Ia membuat terobosan, yakni “suvenir hijau” cantik berupa anakan antharium yang dikemas dalam kotak mungil berjendela. Cocok sekali untuk cenderamata aneka acara yang mengundang massa. Pesta pernikahan, seminar, pesta pisah sambut pejabat, akan jadi lebih bermakna hijau jika para tamu dihadiahi cenderamata ini.


Setidaknya, anakan antharium itu bisa ditanam di rumah dan berkembang biak jadi tanaman hias yang rimbun. Cocok untuk orang-orang yang peduli pada kerusakan lingkungan, di tengah gelombang pemanasan global akhir-akhir ini.


Hari berikut, 3 November, seolah melanjutkan kontak-kontak via milis dan SMS, Hengky menjemput dengan Mercedez-nya. Tentu saja jauh lebih nyaman dibanding Taruna keluaran 2002, hehehehee….


Kami meluncur ke Setiabudi Building. Di Starbuck, Retno –veteran GEMA setelah Hengky— sudah menanti. Bersamanya, ada Ruri (aktif di GEMA seteah angkatan Retno) yang sempat jadi wartawan Tribun Batam dan kini bekerja untuk Soccer. Sesaat kemudian muncul Emmy Kuswandari.(http://yusranpare. wordpress.com/gema/)


Nah, kejutan malam itu adalah kemunculan Yudit. Dokter ahli kebidanan dan kandungan ini sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnhya di Cibubur ketika dikontak Hengky. Dia langsung putar balik menyusul kami di Setiabudi. Bagi saya, ini pertemuan pertama setelah Yudit pulang dari Jepang. Tiga tahun dia menuntaskan studi keahliannya di sana.


Hebatnya –mungkin ini kesan saya saja— tak banyak perubahan fisik yang tampak pada “anak-anak” veteran Gema ini. Hengky tetap masih kinyis-kinyis, dan kalau pun dipasangi seragam SMA, masih seperti anak-anak ABG. Begitu pula Yudit, jika tidak sedang berpraktek (dengan jas putih dan statekopnya), saya yakin orang tak akan menduga ia seorang dokter ahli.


Emmy dan Retno juga begitu. Memang, Emmy tampak lebih dewasa tapi kenesnya masih seperti ketika di SMA Santa Maria Yogya. Saya tak terlalu ingat Retno semasa di GEMA, sebab ia masuk setekah saya pindah tugas ke Palembang. Hanya saja saya memperoleh kesan ia pasti lebih ”berkembang” daripada saat remaja.


Yang jelas, malam itu asyik banget, dijemput pake Mercy, ditraktir Emmy di Starbuck, dijamu Hengky di kedai sate Jalan Sabang…..


Kapan bisa saling bertemu lagi, ya???