01
Sep
16

Mengeroyok Ahok

 ahok

MAKIN berderet tokoh-tokoh yang namanya disebut-sebut sebagai layak dimajukan sebagai calon Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Percaturan terutama di kalangan elite politik di tanah air –lebih tepat di Jakarta– seolah hanya terfokus pada bagaimana caranya mekanisme demoksrasi digunakan untuk “menggulingkan” Basuki Tjahaya Purnama, alias Ahok, dan menggantikannya dengan tokoh yang mereka anggap sesuai.

Percaturan kian memanas setelah Ahok memutuskan maju melalui partai-partai yang telah menyatakan bersedia mengusungnya. Sebelum ini ia selalu meyakinkan publik hendak maju melalui jalur perseorangan atas dukungan para relawan “Teman Ahok”.

Sejauh ini popularitas dan kemungkinan keterpilihan Ahok memang masih tetap tinggi dibanding orang-orang yang namanya disebut-sebut. Selain karena memang belum ada tokoh lain yang secara tegas menyatakan diri maju ke arena pemilihan, calon yang disodorkan (disebut-sebut) oleh partai pun belum meyakinkan.

Belakangan malah muncul nama tokoh-tokoh dari Jawa Tengah yang konon akan sepadan jika dipertandingkan “melawan” Ahok. Bahkan nama Ganjar Pranowo, Hendrar Prihadi, dan Yoyok Riyo Sudibyo –mereka adalah Gubernur Jateng, Walikota Semarang, dan Bupati Batang– pun masuk “bursa” bersama Budi Waseso, Kepala Badan Nasrkotika Nasional.

Nama-nama itu melengkapi nama yang sudah disebut-sebut terdahulu, mulai dari Sjafrie Sjamsudin, Sandiaga Uno, Yusril Ihza Mahendra, Rizal Ramli, Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini. Kecuali Sandiaga, Yusril, Sjafrie, dan Rizal, semua nama yang disebut itu adalah tokoh-tokoh muda dan pembaharu di daerah yang dipimpinnya.

Sebuah survei yang dihela Juni lalu menunjukkan Ahok masih unggul dibanding nama 17 tokoh lain yang dicantumkan. Berdasarkan hasil survei itu, elektabilitas –kemungkinan keterpilihan– Ahok mencapai 49,3 persen, ia masih di atas Ridwan Kamil (Walikota Bandung) dengan elektabilitas sebesar 9,3 persen. Tokoh-tokoh lain berkisar antara 0,2 sampai 6,8 persen.

Survei politik seperti ini tentu saja belum bisa jadi patokan utama dan tidak mungkin memotret aspirasi segenap warga DKI, bahkan dalam beberapa kasus pernah terjadi sebaliknya, apa yang digambarkan survei ternyata berbanding terbalik pada hasil pelaksanaan pemilihan. Apalagi perilaku pemilih Indonesia demikian cair, tidak bisa ditebak dan tidak selalu konsisten.

Hiruk-pikuk politik di Jakarta mungkin tidak terlalu penting bagi publik di daerah, namun ia tetap menarik dicermati terutama ketika belakangan ini justru nama-nama tokoh dari daerah yang disebut-sebut dan “dibetot-betot” untuk maju ke pemilihan gubernur.

Hal lain yang menarik adalah, hampir semua perbincangan, percakapan, diskusi, dan latar belakang serta alasan mengajukan nama-nama itu semata untuk menandingi, melawan, menggulingkan, dan mengalahkan Ahok, seakan ia adalah “musuh” bersama yang demikian kuat hingga perlu ramai-ramai dijatuhkan. Apa pun caranya.

Nyaris tak ada yang menyatakan bahwa, nama “X” diajukan karena akan mampu melayani lebih baik lagi warga Jakarta yang demikian heterogen, membangun berbagai kebutuhannya dan menyejahterakannya. Bersamaan dengan itu disorongkan bukti-bukti dan gagasan serta visinya yang diyakini akan bisa lebih baik dari apa yang sudah dilakukan pejabat sebelumnya.

Di luar itu semua, dinamika politik Jakarta tetap menarik bagi daerah karena Jakarta adalah miniatur paling lengkap negeri ini dari berbagai aspeknya, termasuk dari aspek politik. Apa yang terjadi sekarang ini adalah gambaran, seperti itulah proses dan dinamika politik di negeri ini hari-hari ini.

Ia merefleksikan kian terkikisnya kepercayaan dan loyalitas terhadap partai politik, bersamaan dengan makin samarnya peran mereka bagi kehidupan keseharian masyarakat. Situasi ini bisa saja terjadi karena tidak adanya atau sangat kurangnya kader-kader partai politik yang dekat dan dicintai rakyat karena kiprahnya memang nyata.

Namun proses ini tetap harus dijalani karena sudah jadi kesepakatan bersama bahwa demokrasi adalah jalan terbaik saat ini bagi bangsa ini yang baru lahir kembali melalui pembedahan total reformasi enam belas tahun silam. Pemilihan kepala daerah di Jakarta betul-betul menjadi cermin atas realitas politik mutakhir di tanah air.

Jika berlangsung tepat sesuai dengan semangatnya, momentum ini tentu merupakan peningkatan kualitas demokrasi. Apalagi rakyat masa kini di mana pun sudah tidak sudi lagi terus menerus dikibuli. Mereka pasti akan memilih pemimpin yang paling sesuai aspirasinya, dan tidak akan menjatuhkan pilihan pada orang yang cuma berkoar-koar mengobral janji dan sibuk memoles diri. (***)

31
Agu
16

(Gatot) Brajamusti, Fuah…..!!!

Gatot-Brajamusti

SUN matek

aji-ajiku Brajamusti,

Terap-terap, Awe-awe, Kuru-kuru,

Griya gunting drijiku,

Watu item ing tanganku

Sun tak antem…

TAK usah pusing menerjemahkannya. Bukan lirik tembang, bukan pula sajak. Kalimat-kalimat di atas konon adalah (satu di antara banyak versi) mantra yang biasa dirapal para pemburu ilmu kanuragan. Orang menyebutnya ajian brjamusti. Senjata gaib para pendekar. Keampuhannya tiada tara.
Selain bisa membuat kebal –terhadap aneka jenis senjata tajam, entahlah kalau terhadap peluru– ajian ini pun mampu bikin tawar segala macam mantra ampuh lain. Pokoknya, semacam senjata pamungkas lah.
Karenanya, orang yang menguasai ilmu ini, tidak boleh menggunakannya bila tak terpaksa. Kalau sembarangan, bisa membahayakan lawan yang mungkin tingkat kesalahannya tidak sepadan jika harus ditebus nyawa.
Konon (lagi) tak sembarang orang bisa menguasai ilmu ini, sebab perysaratannya sangat berat. Selain harus betul-betul bersih, orang yang hendak menguasainya harus pula lulus uji fisik dan mental. Misalnya, selama setahun, setiap bulan harus berpuasa tujuh hari tujuh malam. Bisa pula, tiap tahun, berpuasa terus menerus 40 hari.
Hari pertama, mandi keramas dengan bunga tujuh rupa. Nah selama dalam puasa, lima kali dalam sehari merapal mantra itu 100 kali, termasuk pada tengah malam menjelang –hingga– pergantian hari. Setelah selesai puasa, mantera itu dirapal lalu ditiupkan bersama napas pada kedua tangan. Fuah! Maka saat itulah –konon– kekuatan gaib mengalir dalam tubuh dan tangan yang bersangkutan.
Jika brajamusti sudah mengaliri tubuh, maka urat jadi kawat dan balung mendadak sekuat besi. Hanya sekali hantam, lawan akan klenger. Malah busa-bisa langsung “lewat”. Tapi, kata Mbah Dukun, jangan sekali-kali menggunakan tangan kiri untuk melancarkan brajamusti, sebab itulah pantangannya. Di tangan kiri, brajamusti tak ada tulah sama sekali. Sekali lagi, konon.
Mengapa dinamai barajamusti? Alkisah di dunia pewayangan, Brajamusti adalah salah satu raksasa sakti. Tapi raksasa ini ditaklukan Raden Gatotkaca. Karena terkagum-kagum pada keperwiraan Sang Gatot, maka ruh Brajamusti pun menjalari jasadnya dan jadi kekuatan luar biasa di tubuh ksatria Pringgodani ini.
Jika Gatotkaca sudah merapal ajian Brajamusti, musuh sekuat apa pun akan lebur dalam sekali sapu. Versi lain menyebutkan, Brajadenta –bersama Brajamusti dan Brajamikalpa serta Brajalamatan — adalah saudara kandung Gatotkaca. Ketiga-tiganya memberontak keputusan sang ibu, Dewi Arimbi, yang menyerahkan tahta Pringgodani kepada Gatotkaca.
Brajadenta merasa paling berhak karena selama ini dialah yang memegang tampuk pemerintahan mewakili Dewi Arimbi yang turut suami, Bima, tinggal di negara Jodipati. Gatotkaca tak sendirian, dua saudara kandung lainnya, Prabakesa dan si bungsu Kalabendana berada di pihak dia.
Pemberontakan ditumpas. Brajalamatan dan Brajawikalpa tewas, sedangkan Brajadenta dan Brajamusti buron. Ini versi Gatotkaca Winisuda. Versi mana pun yang akan dipakai, dua-duanya sesuai dengan kanuragan, kelelakian, perang, dan kekuasaan. Dua-duanya juga berkait erat dengan sang kesatria sakti mandraguna Gatotkaca.
Sebagai sama-sama kesatria Pringgodani, baik Gatotkaca maupun Brajamusti jelas-jelas sakti. Satu Gatotkaca saja sudah bisa bikin porak-poranda pasukan lawan. Apalagi kalau gabungan keduanya, Gatotkaca dan Brajamusti. Pasti ampuh luar biasa.
Mungkin itu sebabnya, dulu, Reza Artamevia melesat kabur –seperti Brajadenta dalam versi lain– lalu menyuruk-nyuruk mencari perlindungan, ketenangan dan kedamaian di villa milik Gatot Brajamusti. Lho, apa hubungannya?
Hehehe… memang kagak ada. Kecuali dua nama yang disatukan itu tadi. Gatotkaca dan Brajamusti, jadi Gatot Brajamusti. Nama terakhir ini, hari-hari belakangan kembali disebut setiap tayangan infotainment semua televisi dan portal berita di negeri Pringgodani, eh di tanah air.
Seperti brajamusti tak akan disebut tanpa Gatotkaca, maka Gatot Brajamusti pun tak akan disebut tanpa Reza Artamevia, karena kepada Gatot lah akhirnya Reza yang tengah dirundung macam-amcam soal itu mencari perlindungan dan berharap memperoleh ketenangan dari Sang Gatot yang kini lebih suka disapa Aa itu.
Tentang Reza Artamevia, rasanya agak jangggal jika ada yang bilang tidak tahu. Siapa Gatot Brajamusti? Sebelum bersinggungan dengan perkara Reza, nama urang Cikiray Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi ini jaranglah disebut kecuali oleh kalangan sangat terbatas.
Di Sukabumi sendiri, nama ini tak begitu dikenal. Kecuali kalau yang dimaksud adalah Gatot sebagai pemusik. “Ya dulu sih dia pemusik country. Sekarang mah katanya punya ilmu dan sering mengobati orang,” kata seorang rekan asli Sukabumi.
Jadi, ke situlah Reza –yang kala itu sedang berseteru dengan suaminya, dituduh berselingkuh, dan sangat rindu pada dua anaknya– mencari kedamaian, dan menyesap ilmu entah apa…heuheu.
Kini, nama Gatot Brajamusti meledak lagi di cakrawala infotainment dan berita beneran. Musisi yang kemudian jadi dukun lalu tiba-tiba dipilih sebagai ketua Persatuan Artis Film Republik Indonesia (PARFI), ini diciduk saat pesta narkotika di sebuah hotel di Mataram, Lombok. Nama Reza, disebut-sebut pula. ……
Ingsun amatek ajiku si Brajamusti Kang aneng Pringgondani. Purubaya, Purubaya, Purubaya! Ototku kawat, balungku wesi, kulitku tembaga.  Ajur mumur katiban tanganku. Heh iyo aku Purubaya ratuning wesi kabeh. Sakabehing braja nglumpruk kadi kapuk. Tan ana tumama ing badanku!
Fuah! Fuah! Fuah!
Mungkinkali ini ia lupa keramas dan mandi tujuh rupa kembang, sehingga ajiannya tak lagi ampuh, makanya kena tangkap. Fuah! ***
—-
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/yusranpare/parodi-gatot-brajamusti_57c3fad0f19673de494948e7
31
Agu
16

Kebiri!!

alat untuk-operasi-kebiriPARA pemerkosa masih gentayangan. Di Kotawaringin Timur, Kalteng, seorang remaja putri diculik, disekap sejak awal Agustus lalu. Selama itu berulang kali ia diperkosa. Anak perempuan berusia belasan di Pangkalpinang, Bangka, diseret ke rimbunan gelagah sepulang nonton konser, lalu dinodai. Di Mataram, Nusa Tenggara Barat, seorang perempuan pelajar sekolah dasar jadi korban birahi gila seorang gaek!

Masih ada beberapa peristiwa serupa sepanjang “bulan kemerdekaan” ini, termasuk sekawanan lelaki muda –14 orang– yang mabuk minuman opolsan, kemudian menggagahi seorang remaja belia. Ini mengingatkan kembali pada wacana penerapan hukuman “kebiri” bagi para pemerkosa. Wacana itu, entah mengapa, surut dari percakapan publik, tergeser oleh isu-isu baru.

Kata ‘kebiri’ sempat mendadak populer beberapa waktu lalu. Pemilik hewan yang tak mau piaraannya beranak pinak, biasanya membawa binatang itu ke dokter hewan untuk mengebirinya. Ya, kebiri! Atau kastrasi, yakni tindakan untuk menghilangkan fungsi testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina. Pengebirian bisa dilakukan terhadap hewan maupun manusia.

Di masa silam, orang yang dikebiri –biasanya lelaki– disebut orang kasim. Mereka sudah kehilangan kesuburan karena buah zakarnya telah dibuang, sengaja atau karena kecelakaan, jadi korban dalam peperangan, atau karena sebab lain.

Di masa depan, bisa jadi akan “banyak” orang kasim di tanah air. Setidaknya jika para penegak hukum menerapkan pasal-pasal pada Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Pemerintah memandang perlu menerbitkan peraturan ini menyambut kegelisahan, kegeraman dan tuntutan banyak pihak, menyusul kian marak dan kejamnya kejahatan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Bahkan ada bayi di bawah lima tahun yang jadi korban kekejaman para penjahat kelamin ini.

Catatan-catatan paling awal tentang pengebirian bisa dilacak jauh ke belakang. Pada suatu masa di abad ke 21 sebelum Masehi penguasa kota Lagash di Sumeria menerapkan “peraturan pemerintah” mengenai pengeberian atas para lelaki.

Selama ribuan tahun kemudian, orang kasim –lelaki terkebiri– melakukan berbagai fungsi di pelbagai kebudayaan. Pelayan istana atau pelayan rumah tangga, penyanyi laki-laki dengan suara tinggi, petugas-petugas keagamaan khusus, pejabat pemerintah, komandan militer, dan pengawal kaum perempuan ataupun pelayan di harem, biasanya dilakukan para kasim ini.

Karena itu orang Inggris menyebutnya eunuch, dari kata dalam bahasa Yunani, eune (tempat tidur) dan ekhein (menjaga) alias “penjaga tempat tidur”. Para hamba atau budak biasanya dikebiri untuk menjadikan mereka pelayan yang “aman”di istana. Aman, karena mereka dianggap tak lagi punya birahi manakala melayani permaisuri, para selir, atu harem.

Catatan lain menyebutkan, oang kasim pertama disebutkan di Kekaisaran Asyur sekitar 850-620 SM. Mereka disebut-sebut jadi pelengkap istana para kaisar Akhemenid dari Persia maupun firaun dari Mesir.

Di Tiongkok kuno, pengebirian adalah salah satu bentuk hukuman tradisional dan sarana untuk mendapatkan pekerjaan di kalangan istana. Pada akhir Dinasti Ming konon ada 70.000 orang kasim di istana kaisar. Jabatan seperti itu demikian berharga, bahkan orang-orang kasim tertentu berhasil mendapatkan kekuasaan yang demikian besar sehingga melampaui kekuasaan perdana menteri, sehingga acap menimbulkan ketegangan.

Di India kaum hijra adalah para lelaki yang kehilangan penis maupun testisnya. Mereka biasanya mengenakan sari, atau pakaian tradisional yang biasa dikenakan kaum perempuan, dan riasan wajah yang tebal. Mereka dianggap membawa peruntungan baik dan karena itu diundang untuk memberkati pengantin pada hari pernikahan.

Kaum Galli, para pengikut Dewi Cybele, mempraktikkan ritual pengebirian diri sendiri, atau sanguinaria. Bahkan pada masa Kristen praktik ini tetap berlanjut; namun Gereja tidak mengikuti teladan dari teolog awal, Origenes, yang mengebiri dirinya sendiri berdasarkan pemahamannya tentang ayat-ayat pada kitab suci.

Sekte Skoptzi di Rusia pada abad ke-18 adalah sebuah contoh tentang penyembahan pengebirian. Anggota-anggotanya menganggap pengebirian sebagai cara untuk menolak dosa-dosa jasmani. Beberapa anggota dari sekte Pintu Gerbang Sorga juga dikebiri, dan tampaknya hal ini dilakukan dengan suka rela dan dengan alasan-alasan yang sama.

Nah, jika dilacak pada jejaknya, jelas sebagian besar tindakan kebiri atau pengebirian tidak bersangkut paut dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya. Sebagian di antaranya menunjukkan, kebiri sebagai tindakan sukarela demi pengabdian, bahkan penghambaan terhadap para dewa dan bagian dari pengamalan tentang apa yang diyakininya.

Zaman berganti, manusia berubah. Kini pengebirian jadi hukuman atas tindak kriminal buas, seolah dengan cara itu sang pelaku bisa jera dan tidak melakukan tindakannya lagi. Mungkin betul jika pemerkosaan hanya dilihat sebagai kejahatan bersenjatakan alat kelamin. Pemerkosaan jauh lebih luas dan rumit dari sekadar itu.

Ketika orang melampiaskan kemarahan, kebencian, penguasaan (hasrat mendominasi lawan) maka “senjata” apa pun bisa digunakan untuk menyerang dan merusak lawannya meski dia sudah kehilangan “alat utama sistem kejahatan birahi”-nya.

Jadi, sebaiknya pengebirian bukanlah akhir atau hukuman maksimum. Seorang pemerkosa, apalagi perusak anak-anak, harus dihukum seberat mungkin, dan kebiri sebagai “bonus” alias hukuman tambahan. Negara tak mungkin menjamin bahwa seorang penjahat kelamin tidak akan melakukan kejahatan serupa meski “alat kejahatannya” sudah disita! (***)

20
Mei
15

Bang Hers

her-suganda_20150519_083435

“YUS, masih ingat Sancang, Rimba Raya Keangkeran ?” kata Bang Her Suganda di awal tahun 2000. Saat itu kami minta beliau memberi materi pada pelatihan calon wartawan Metro Bandung (kini Tribun Jabar).

Saya tercenung sejenak. Serasa akrab sekali dengan kalimat yang ditanyakannya itu. Astaga! Itu judul tulisan saya di Bandung Pos, awal tahun 80-an. Berselang 20an tahun!!. Itu features mengenai leuweung Sancang di Garut Selatan.

“Klipingnya masih ada di perpusatakaanku, tuh! Juga tulisan-tulisanmu yang lain,” katanya sambil menyebut beberapa judul tulisan saya yang kata dia ada di koleksi klipingnya di rumahnya. Masyaallah, betapa tersanjung, sekaligus malu saya waktu itu.

Bayangkan, wartawan besar sekaliber Her Suganda, mendokumentasikan tulisan ecek-ecek karya wartawan boloho seperti saya. Sambil terkekeh, dia pun menunjuk hidung saya, “kamu sendiri pasti gak punya kliping tulisan sendiri, ya? Pasti itu!!” dan saya makin menciut.

Saya yakin, beliau menyimpan berbagai tulisan karya para penulis dan karya para jurnalis lain yang menurutnya patat disimpan. Pernah pula dia mencari-cari saya hanya untuk minta berkas-berkas makalah dari sebuah seminar. “Jangan buang apa pun bahan tulisan. Suatu saat pasti berguna,” katanya.

Perkenalan saya dengan Bang Hers, terjadi di lapangan. Terus terang, sebagai orang yang sedang magang, belajar jadi jurnalis, saya menjadikan Kompas sebagai patokan. Saya mengagumi berita dan tulisan-tulisan Bang Hers karena kekuatan fakta dan caranya menyampaikan.

Sebelum berjumpa dengan sosoknya, saya sudah mengagumi wartawan kompas berinisial “hers” itu. Pertama, karena inisialnya berbeda sendiri. Rata-rata, inisial wartawan Kompas ditulis dalam tiga huruf. Nah, ini empat huruf.

Kedua, ragam berita dan features yang ditulisnya, luar biasa luas dan kaya. Selain itu, saya menilainya sebagai wartawan yang sangat produktif. Pernah, suatu hari saya baca, ada lima berita berinisial hers, dalam satu halaman (daerah) sekaligus.

Tak istimewa kalau hanya dari satu daerah. Tapi hari itu saya baca date-line beritanya dari empat daerah. Indramahyu, Cirebon, Subang, dan Karawang! Rentang jarak yang amat panjang dari timur ke barat di pantai utara Jawa Barat.

Kalau hari-hari ini, ketika komunikasi kian mudah, tentu tidak terlalu aneh. Saat itu, boro-boro internet, faksimil saja masih belum begitu populer. Sambungan telepon, di beberapa tempat malah belum ada.

Belakangan diketahui, Bang Hers menyusuri jalur itu dengan vespa tuanya. Saat naik vespa itu pula beliau pernah keserempet bus di Cadaspangeran, Kabupaten Sumedang.

Sekali waktu ada jumpa pers di Gedung Sate. Saya hadir. Seorang teman berbisik sambil menunjuk ke arahnya. “Tuh, itu yang namanya Her Suganda, dari Kompas,” katanya. Beu! Ternyata orangnya biasa saja, malah perawakannya termasukl “kecil”. Saya kira sosoknya tinggi besar, brewokan, sangar.

Saya ragu untuk mendekat. Wartawan Kompas gitu lho! Saya ini apalah. Sebelum jumpa pers usai, dia sudah beringsut duluan. Menyelinap keluar. Maka saya pun mengikutinya. Dan dengan perasaan tak karuan, saya memberanikan diri mengejar dan memperkenalkan diri.

Belakangan saya menyadari, Bang Hers seringkali meninggalkan arena jumpa pers sebelum selesai, lebih untuk memelihara integritas tanpa menyinggung orang lain. Ya, hampir dipastikan, tiap selesai konferensi pers, penyelenggara akan bagi-bagi amplop!

Sejak itu, saya selalu mencari kesempatan untuk sekadar berbincang jika kebetulan bertemu di tengah peliputan. Tapi, mobilitasnya dan kecepatan bergeraknya memang sulit dikejar. Seringkali, begitu ada kejadian, dia paling dulu mencapai dan mengeksplorasi lokasi.

Saya merasa bangga sekali, ketika suatu saat selesai dari sebuah liputan ditawari dia untuk membonceng motornya. Kami singgah di kantornya, nyelip di belakang toko buku Gramedia di Jalan Merdeka, Bandung (kini jadi Gramedia “mall” yang ramai dan megah).

Sekali waktu, pernah saya lihat dia dengan vespanya meluncur di jalan Merdeka Bandung, ia membonceng seorang pria berpantalon warna gelap, kemeja lengan panjang warna khaki, berkacamata lebar berdasi motif garis-garis diagonal, memangku sebuah tas echolac. Pak Jakob Oetama!

Saat Galunggung meletus 5 April 1982, misalnya. Saya merasa sudah sampai ke perkampungan yang paling dekat dengan titik letusan. Eh baru saja masuk ke kampung yang sudah ditinggalkan penduduknya itu, muncul Bang Hers dari dalam kampung yang sebagian tinggal puing itu.

“Payah lu, kalah sama orang tua…!” ejeknya sambil memberi petunjuk apa-apa saja yang masih tersisa di dalam sana, dan rute mana yang relatif lebih aman. Sementara kami berbincang, tiba-tiba dari arah kampung berderap seekor kerbau, diikuti seorang lelaki yang gopoh-gapah menggapai talinya.

Jalan yang kami pijak berdua hanya pematang yang sudah berlapis pasir. Bang hers mendorong saya agar tidak terlanggar kerbau. Dia sendiri jatuh terperosok ke sawah di bawah kami. Sang kerbau melintas dengan sentausa,

Masih di tengah liputan bencana, suatu kali, saya sedang beristiriahat di sebuah kedai, selesai meliput dan dalam perjalanan pulang ke Bandung. Bang Hers muncul kemudian di kedai yang sama, tampak lelah dan wajahnya penuh debu jalanan. “Wah kamu ngebut, saya sampai repot mengejar. Ini kayaknya notes kamu ya…?”

Hah! Saya menerima notes berisi aneka catatan hasil liputan di lapangan. “Kalau gua buang, mati kau!!” katanya sambil terkekeh. Lagi-lagi astaga! Seorang wartawan besar yang dikagumi dan disegani begitu banyak orang, begitu punya perhatian pada “wartawan kencur” kayak saya, cuma dari media lokal yang kecil.

Saya sudah “magang” membantu redaktur mengelola halaman remaja dan budaya di Bandung Pos, ketika suatu hari Bang Hers menelpon. Intinya mengabari saya tentang sebuah proyek koran daerah. Jika tertarik, dia menyarankan saya membawa lamaran ke sebuah alamat di Jakan Gatot Subroto Bandung.

Pada hari yang sudah ditetapkan, saya dimita datang. Rupanya, hari itu proses rekrutmen, wawancara. Saat tiba di tempat itu, ternyata sudah ada beberap yang saya kenal, yakni mereka yang biasa mengirim esai, cerpen, dan sajak, ke halaman yang saya bantu mengasuhnya di Bandung Pos, di antaranya Agus Hadisujiwo Tedjo, Giyarno Emha, Djahar Muzakir Saad dan Taufik Abriansyah.

Akhirnya kami sekantor, di harian Mandala, yang waktu itu pengelolaannya diserahkan ke Kompas Gramedia lewat PT Indopersda Primamedia (Persda – kini Tribun). Sayang sekali, kerja sama itu pendek. Sekitar sembilan bulan saja. Bubar.

Kami pun berpisah lagi. Bang Hers tetap di Bandung, saya dan teman-teman beredar ke berbagai tempat dan media. Juga ada yang beralih ke profesi lain. Sebagian di antaranya masih berkarya di media.

Tanggal 16 Mei 2015, kang Cecep Burdansyah, Pemimin Redaksi Tribun Jabar, mengirim pesan singkat mengabarkan bahwa Bang Hers dirawat di RS Immanuel, Bandung. Dua hari kemudian, kabar itu datang. Bang Hers telah pergi.

Innalillahi wainnailaihi rojiun.

22
Okt
13

Senggol Dikit, Dor!!

Gambar
SEORANG pria ditangkap saat menjual senjata api rakitan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis awal September 2013. Penangkapan dilakukan polisi yang menyamar sebagai pengusaha batu bara yang hendak membeli senjata api genggam. Ini bukan pertama kali terjadi, pertengahan Agustus polisi menangkap seorang pria di sebuah rumah makan di Banjarmasin, juga dengan cara menyamar sebagai pembeli. Peristiwa serupa, juga terjadi beberapa waktu sebelumnya.

Di Jakarta, polisi juga membongkar peredaran senjata api ilegal dengan menggerebek lokasi perakitannya di Cipacing, Sumedang, Jabar. Tim Polda Metro Jaya Jakarta yang melakukan perburuan menyita 19 pucuk senjata api rakitan dan 348 butir peluru berbagai ukuran. Penyandang dana perakitan sekaligus penjual senjata-senjata itu mengaku sudah menjual 52 pucuk, harga jual antara Rp 20 juta sampai Rp 50 juta.

Sebagaimana disiarkan koran ini, pada peristiwa-peristiwa itu polisi menciduk para penjual senjata api setelah melakukan penelusuran dan pengembangan informasi yang mereka peroleh mengenai ada orang atau agen yang memasarkan senjata api. Tentu saja ini menghawatirkan, karena menunjukkan makin mudahnya orang memperoleh senjata api, rakitan maupun pabrikan.

Kepemilikan senjata api di tangan warga sipil di tanah air diatur undang-undang dan plaksanaannya diawasi secara ketat. Ada sejumlah dasar hukum yang mengatur mengenai hal ini, mulai dari undang-undang yakni UU Darurat No 12 Tahun 1951,dan Perpu No 20 Tahun 1960. Lalu ada peraturan yang dietapkan melalui Surat keputusan (SK) Kepala Polri Nomor 82 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Pengawasan dan Pengendalian Senjata Non-Organik.

Selain itu, hukuman terhadap kepemilikan senjata api tanpa izin juga cukup berat. Dalam UU Darurat No12 Tahun 1951 disebutkan hukuman masksimal terhadap kepemilikan senjata api tanpa izin adalah maksimal hukuman mati,hukuman seumur hidup dan 20 tahun penjara. Namun, penangkapan-penangkapan itu menunjukkan binsis senjata api di Indonesia terus meningkat.

Kepemilikan senajata api di kalangan warga sipil, baik secara sah maupun gelap tak terlepas dari makin mudahnya mengakses sumber-sumber benda mematikan. Informasi terbuka melalui internet, berupa toko online yang menyajikan katalog, harga, tata cara pengiriman dan pembayaran, bahkan ada yang menjanjikan sekaligus membantu menguruskan perizinan.

Aturan izin senjata api tercantum dalam UU No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian. Sementara biaya pengurusan izin diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 50 tahun 2010 tentang jenis dan tarif atas penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada kepolisian negara Republik Indonesia. Sejak awal tahun 2012, Polri mencatat ada sekitar 18.030 izin kepemilikan senjata api pada warga sipil.

Data itu menunjukkan, secara formal ada lebih dari 18 ribu warga sipil di tanah air kita yang menguasai senjata api. Itu yang resmi, yang berizin dan selalu memperbaharui izinnya secara berkala. Lalu, bagaimana yang tidak sah? Pasti jumlahnya jauh lebih dari yang diperkirakan. Mereka yang memiliki uang dan pengaruh besar, dengan mudah bisa membeli senjata-senjata itu dengan motif apa pun.

Fakta menarik terkait penguasaan senjata api dirilis Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), awal September lalu. Institusi ini mencatat selama 45 hari antara Juli dan Agustus telah terjadi 20 kasus penembakan misterius dan hanya satu pelakunya yg berhasil ditangkap polisi, yakni di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Aksi penembakan itu terjadi mulai dari Aceh hingga Papua. Dari 20 penembakan tersebut, 10 kasus terjadi di wilayah hukum Kepolisian Daerah Metro Jaya. Sasarannya adalah 10 mobil, tiga halte bus Trans Jakarta, dan sebuah rumah polisi. Selain itu ada beberapa polisi ditembak dan satu penembakan terhadap anggota TNI. Akibatnya tiga orang luka dan lima tewas, tiga di antaranya adalah polisi.

Tentu saja berbagai kejadian itu merupakan sebuah ironi di tengah harapan warga terhadap penegakan hukum. Bisa jadi, warga memang merasa kurang mendapat jaminan keamanan dari negara, sehingga dia memerlukan senjata. Bisa pula karena kemampuan finansial, warga membeli apa pun yang diinginkannya termasuk senjata sekaligus “membeli” legalitasnya. Akibatnya, acap kali publik dikejutkan peristiwa orang sipil pamer senjata, atau bahkan main tembak seperti di negeri tanpa hukum.

Aksi ini terjadi akibat beberapa hal, yakni pemerintah sangat memberi kelonggaran terhadap keberadaan senjata api di kalangan sipil dan tidak ada kebijakan untuk memberantasnya secara total. Ini diperparah dengan sikap pemerintah yang memungut pendapatan negara bukan pajak (PNBP) bagi warga sipil yang memegang senjata api.

Akibatnya, keinginan warga sipil memiliki senjata api makin tinggi sehingga aksi penyelundupan senjata api ke Indonesia kian deras dan produksi senjata api rakitan juga kian diminati orang. Sikap permisif pemerintah terlihat pula dari pembiaran pada peredaran replika senjata atau yang biasa dikenal airsoft gun, sehingga senjata-senjata replika itu marak digunakan di luar arena olahraga rekreasi.

Kondisi seperti ini seharusnya tidak dibiarkan berlarut dan menjadi liar. Negara harus betul-betul tegas menegakkan peraturan mengenai kepemilikan senjatra apim oleh warga sipil, dan dengan sangat ketat mengawasinya, bukan justru menjadikannya sebagai binsis sampingan yang menghasilkan pendapatan di luar pajak. Publik berharap pemerintah betul-betul serius menangani persoalan ini sebelum jatuh korban lebih banyak. ***

22
Okt
13

Korupsi, dan Politik yang Nepotik

Gambar
PENANGKAPAN Ketua Mahamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka banyak hal. Selain menunjukkan betapa dahsyatnya virus korupsi menjalari sendi-sendi kehidupan bernegara, ia juga mengungkap betapa rentannya sturuktur kekuasaan yang dibangun melalui politik kekerabatan (nepotik) terhadap praktik-praktik kolutif  yang berujung pada korupsi dan pula.
Sebagiamana ramai diberitakan, selain menangkap Ketua MK, komisi juga lima orang lainnya termasuk Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, adik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Akil ditangkap saat menerima suap terkait putusan MK atas peradilan sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Wawan diciduk atas dugaan penyuapan terahadap Akil dalam kasus sengketa Pilkada Kabupaten Lebak, Banten. Komisi juga mencegah Ratu Atut bepergian ke luar negeri,

Banten dengan “imperium” kekerabatan yang berporos pada Ratu Atut adalah realitas menarik dalam perkembangan politik demokrasi di tanah air pascareformasi. Amanat reformasi menyingkirkan pola-pola nepotisme yang selalu jadi bagian tak terpisah dari praktek persekongkolan (kolusi) yang hanya beroirentasi pada keuntungan pribadi dan kelompok dengan cara menggerogoti keuangan negara dan hak-hak publik (korupsi).

Kasus Banten menjadi penting dalam dinamika politik Indonesia karena ia seperti menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain. Provinsi baru hasil “pemerkaran” dari Jawa Barat ini lahir 13 tahun lalu. Gubernur pertama,  Djoko Munandar hanya menjabat tiga tahun. Ia dinonaktifkan tahun 2005 karena terkait kasus korupsi, Atut yang saat itu wakil gubernur, langsung naik jadi pelaksana tugas gubernur. Ia memenangti  Pilkada 2006 berpasangan dengan Mohammad Masduki sebagai wakil gubernur. Mereka dilantik pada 11 Januari 2007.

 Sejak itu kekerabatan kekuasaan di eks Karesidenan Banten ini mulai terbangun. Melalui garis ayahnya, almarhum Tb CHasan Sochib –tokoh jawara yang kemudian jadi penguasaha besar– jejering keluarga Atut menancap seantero Banten. Selain Atut (Gubernur), Ratu Tatu Chasanah (Wakil Walikota Serang), dan Tb Chaeri Wardana (pengusaha/Ketua AMPG Banten), yang juga suami Airin Rachmi Diany, Walikota Tangerang Selatan.

Suami Atut, Hikmat Tomet jadi anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar. Anak kandung Atut, Andika Harzumi tercatat sebagai anggota DPD RI yang akan maju jadi caleg dari Partai Golkar dalam Pemilu 2014. Istri Andika tercatat sebagai anggota DPRD Kota Serang. Saudara Atut dari lain ibu, yakni Tb Haerul Jaman sebagai Wakil Walikota Serang dan Ratu Lilis Karyawati (Ketua DPD II Partai Golkar Kota Serang). Suami  Lilis, Aden Abdul Khaliq adalah anggota DPRD Provinsi Banten.

Gejela kekerabatan seperti di Banten muncul pula di daerah-daerah lain. Publik bisa melihat fenomena bangunan politik keluarga ini dalam politik lokal, Yasin Limpo di Sulawesi Selatan, Sjachroedin di Lampung, Narang di Kalteng, Sarundayang di Sulawesi Utara. Dalam skala lebih kecil lagi, ada contoh istri Walikota Bekasi, yang sempat berlaga di Pemilihan wali kota Bekasi. Atau, Iriani Irianto yang menggantikan suaminya di Kabupaten Indramayu.  Sebut pula Widya Kandi Susanti yang jadi Bupati Kendal, Jawa Tengah menggantikan Hendy Boedoro, yang kini mendekam di penjara akibat menyelewengkan APBD. Lalu istri Idham Samawi, Sri Suryawidati yang jadi bupati Bantul. Idham terjerat kasus korupsi dana hibah untuk Komisi Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Dalam beberapa kasus di negara lain, faktor utama  yang memberikan kontribusi atas maraknya politik nepotik ini adalah sistem partai yang lemah. Para pemimpin partai dan kandidat untuk jabatan publik direkrut tidak melalui proses kaku seleksi dalam partai politik, tetapi melalui jaringan kekerabatan tradisional. Pelembagaan partai yang lemah telah menyebabkan munculnya beberapa “dinasti” di daerah-daerah. Keluarga politik bisa dengan mudah menangkap struktur organisasi cabang partaiatau menggunakan politik uang untuk mendapatkan dukungan partai. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika seorang kerabat pejabat lokal berkuasa dipilih sebagai calon dari partai politik meskipun rekam jejaknya dipertanyakan.

Pemilihan umum yang didominasi oleh keluarga politik berduit akan menunjukkan bagaimana sifat liberal sistem demokrasi suatu negara. Salah satu efek sampingnmya terlihat dari dari pilkada-pilkada yang melahirkan politik nepotik di daerah, sebagaimana tampak pada contoh-contoh di atas, ketika  istri, anak, menantu, paman, sepupu, menggantikan keluarga mereka memimpin daerah.

Fenomena seperti ini layaknya politik kartel yang tak lepas dari politik balas budi, politik uang untuk melanggengkan kekuasaan. Kebebasan politik yang semakin terbuka ini, telah dimanfaatkan betul oleh aktor-aktor politik yang punya segala akses untuk menggapai kapitalisasi dan kekuasaan. Berkaca pada kasus Banten, yang ternyata sarat oleh praktek-praktek kolutif dalam jejaring nepotisme keluarga Atut, tak heran jika publik mempertanyakan berbagai aliran dana negara dalam bentuk hibah kepada lembaga-lembaga dan isntitusi yang dikuasai orang-orang mereka.

Memasuki Pemilu 2014, publik juga melihat kecenderungan politik kekerabatan ini masih tetap muncul. Dari daftar para calon anggota legislatif bisa ditelusuri apa, siapa, dan apa keterkaitan seseorang dengan tokoh-tokoh sebelumnya. Maraknya praktek politik kekerabatan akan terus berlanjut selama proses rekrutmen dan kaderisasi di partai politik tidak berjalan sebagaimana mestinya alias macet. Sebuah gugatan bagi para elite partai. ***

22
Okt
13

Tragedi Para Pencari “Genesis”

Gambar

POLISI Sukabumi, Jawa Barat, menangkap empat lelaki, yang diduga merupakan anggota jaringan penyelundupan manusia ke Pulau Australia. Orang-orang itu diduga kuat yang akan menyeleundupkan 88 imigran asal suku Rohingnya, Myanmar. Orang-orang Rohingnya ini keluar dari negerinya, untuk menghindarkan diri dari ancaman dan tekanan kaum mayoritas.

Dua pekan sebelumnya, sebah tragedi kemanusiaan terjadi di (lagi) di perairan Indonesia, di selatan Pulau Jawa. Sebuah kapal imigran berpenumpang 79 orang tenggelam di sekitar Pantai Cikole Desa Sinar Laut Kecamatan Agrabinta Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat, Jumat (27/9/13).

Kapal yang mengangkut pengungsi dari Timur Tengah itu kandas, remuk menabrak hamparan karang. Data terakhir menunjukkan setidaknya 22 orang ditemukan tewas, 35 selamat dan sisanya masih dalam pencarian.

Bahtera itu sejatinya merupakan kapal nelayan, namun diubah fungsi jadi kapal penumpang untuk mengangkut para imigran asal Suriah, Iran, Irak, Afganistan, Yordania dan Afrika. Mereka berangkat dari negeri masing-masing untuk menghindari perang saudara, teror, atau semata untuk menuju hidup baru yang mereka impikan bisa diperoleh di negara lain.

Mereka bertolak dari negerinya, memulai perjalanan menempuh ribuan mil menuju tanah harapan, Australia. Kapal kecil sarat penumpang ini membelah keganasan laut, menyusuri pesisir selatan Jaw Barat semeblum disambut gelombang dahsyat Samudera Hindia, yeng kemudian menghempaskannya tanpa ampun.

Hanya satu keinginan kuat yang mendorong para eksodan ini untuk meninggalkan negerinya, membebaskan diri dari kemelut politik yang menyengsarakan mereka. Begitu besar dan kejamnya kesengsaraan itu, telah membulatkan tekad orang-orang ini meninggalkan tanah airnya. Rombongan ini, hanyalah satu di antara puluhan, mungkin ratusan “manusia perahu” sejenis yang satu persatu menempuh samudera, meninggalkan negerinya.

Warga Indonesia yang hidup dalam suasana tenteram dan damai mungkin tak akan bisa membayangkan, kekejaman dan kekacauan macam apa yang mendera orang-orang ini, sehingga mereka menyatukan tekad menempuh bahaya –yang boleh jadi-tak kalah ganasnya dengan yang mengancam mereka di dalam negeri– dengan mengarungi lautan, seperti mencari Genesis.

Daripada jadi korban saudara sebangsa, daripada dibunuh oleh bangsa sendiri, lebih baik mereka mati oleh tinakan sendiri menempuh masa depan. Setidaknya, mereka telah berusaha meraih cita-cita, kalau kemudian kandas juga seperti yang terjadi di Cianjur Selatan itu, ya lain perkara.

Kita hanya bisa menduga-duga, mungkin rombongan yang kemudian nahas itu, mengalami nasib seperti yang dialami saudara-saudaranya di negara lain. Mereka jadi korban kebuasan kekuasaan, jadi taruhan ambisi para politisi, jadi korban pertentangan ideologi, atau bahkan jadi tumbal perseteruan suku.

Megarungi ribuan mil, menempuh keganasan ombak, menuju suatu tempat yang mereka sendiri tidak tahu apakah akan tiba atau tidak, apakah akan diterima atau tidak orang ‘tuan rumah’ baru, adalah tindakan yang memang nekad.

Peristiwa seperti yang terjadi di Pantai Selatan Cianjur itu bukanlah satu-satunya. Sebelumnya telah berulang kali terjadi insiden serupa. Manusia-manusia perahu kandas di pesisir-pesisir perairan Indonesia, di Sumatera, Pulau Jawa, atau di Nusa Tenggara barat dan Timur. Hampir semuanya merujuk pada kasus yang sama, yakni eksodus dari tanah airnya menuju tanah harapan.

Australia, pulau benua tetangga paling selatan Indonesia selalu menjadi tujuan. Dan, Indonesia yang persis berada di tengah perlintasan itu selalu jadi batu loncatan para imigran yang bermimpi mengubah hidup di negara harapan.

Gelombang terbesar “manusia perahu” yang meladan Indonesia terjadi di pertengahan tahunn 70-an sampai akhir 80-an, menyusul perang Vietnam dan konflik selanjutnya. Bangsa Indonesia yang tidak sedang berada dalam kemelut seperti yang dialami orang-orang yang mengungsi itu, dengan tangan terbuka dan keramahan serta penuh cinta kasih khas menampung mereka, melindungi, dan menyantuni mereka yang terlunta-lunta dan terusir dari negerinyna.

Dengan terbuka dan ketulusan pula, pemerintah Indonesia menyediakan Pulau Galang di Kepulauan Riau, untuk selama belasan tahun dimukimi para pengungsi Vietnam. Kini,dalam konteks yang hampir sama di tengah geopolitik yang terus berubah, gelombang manuisa perahu itu mulai melanda lagi. Bedanya, Indonesia semata dijadikan tempat persinggahan atau transit, sebelum menuju Australia.

Apa yang terjadi pada para manusia perahu itu, sebenarnya pernah pula dialami sebagian saudara-saudara kita. Bedanya, pengungsi bernenek-moyangkan bangsa pelaut ini terbirit-birit bukan karena perang, jecuali –mungkin– dalam kasus pengusngi Timor Timur dan Aceh. Mereka terusir kerena pertikaian yang entah bagaimana bisa meledak dan mengoyakkan sendi-sendi kerukunan yang selama ini terjalin erat bak saudara sedarah.

Peristiwa Ambon, Poso, Aceh, Sampit, dan terakhir di Madura ketika kaum Syiah dihakimi sebagai sesat dan diusir, dipaksa mengungsi. Kita mungkin bisa membayangkan, kira-kira bagaimana rasanya jika diri kita sendiri adalah bagian dari mereka yang kehilangan sanak saudara dan harus menyelamatkan nyawa dari saudara sendiri yang tengah kalap hanya kerana perbedaan keyakinan.

Ya. Memang absurd. Kita meletakkan ketuhanan dan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai dasar-dasar falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara. Tapi bersamaan dengan itu kita juga menyaksikan orang dengan mudah mencabut nyawa orang lain. Boleh jadi, saat-saat ini banyak manusia kehilangan kemanusiaannya, sehingga naluri kebinatangan yang dibakar rasa bencilah yang jadi panglima. ***